Jumat, 20 Januari 2017

Merah Putih

Merah Putih
Goenawan Mohamad ;  Esais;  Mantan Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO
                                                INDONESIANA, 18 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Bendera, termasuk Merah Putih, bukan sesuatu yang suci. Ia tak untuk disembah.

Tapi bendera lebih dari sekedar hiasan.

Merah Putih adalah lambang yang dipilih dan dijaga -- melalui ikhtiar yang panjang -- untuk menandai bahwa Indonesia satu bangsa yang merdeka.

Kita ingat 10 November 1945. Seorang pemuda yang tak dikenal mendaki ke atap Hotel Yamato, di mana bendera Belanda dikibarkan. Bendera Merah Putih Biru itu menandai kembalinya kekuasaan kolonial di negeri ini, tiga bulan setelah proklamasi. Sang pemuda memotong warna biru -- hingga bendera pun menjadi Merah Putih.

Keberaniannya mengagumkan. Ia salah satu inspirasi yang membuat rakyat Surabaya, disertai pemuda dari daerah lain, bertempur siang malam melawan pasukan Inggris yang mendukung orang-orang Belanda yang datang kembali. Entah berapa yang gugur dan luka-luka. Merah Putih adalah tanda "merdeka atau mati".

Dengan contoh itu, Merah Putih adalah bagian dari sejarah Indonesia yang penuh jerih payah. Maka ia juga penanda kehormatan dan harga diri. Ia dikibarkan ketika olahragawan kita menang bertanding dalam kompetisi internasional atau ketika sejumlah orang Indonesia berhasil menaklukkan puncak gunung tinggi. Bendera itu uang kadang-kadang kita cium sebelum aksi demonstrasi menentang keditaturan; bendera itu pula yang kita kadang-kadang kita pandang dari bawah dengan mata basah.

Merah Putih bukan barang sakral. Tapi ia bagian penting dari kenangan kolektif tentang sesuatu yang berharga dan indah --seperti potret keluarga yang merekam kejadian bersama yang tak terlupakan dan kita simpan dalam album.

Bayangkan jika ada orang yang mencoret-coret foto itu...

Ketika dalam demonstrasi FPI diarak Merah Putih yang dicoret-coret dengan huruf Arab -- katakanlah mirip huruf dalam bendera Al Qaedah -- kita pantas melihatnya sebagai sikap kurang-ajar. Penanda identitas kita bersama dirusak untuk digantikan dengan bendera yang bukan bendera bangsa kita -- semacam isyarat bahwa Indonesia kita sedang akan diganti dengan "Indonesia" lain yang asing, yang tak ada hubungannya dengan sejarah dan kebanggaan bersama.

Kita tak bisa diam saja. Mereka yang telah mengorbankan diri untuk menegakkan Merah Putih sedang dihapus dari catatan. Sulit untuk merelakan hal itu. ●