Senin, 02 Januari 2017

Media Sosial dan Gerakan Politik

Media Sosial dan Gerakan Politik
Noor Huda Ismail  ;   Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, LSM yang Melakukan Pendampingan atas Eks Narapidana Terorisme di Indonesia
                                                    KOMPAS, 31 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kesigapan Densus 88 menggulung jaringan teroris yang berserakan di Tangerang, Payakumbuh, dan Batam layak diapresiasi. Sejak bom Hotel JW Marriott tahun 2009, tidak kurang dari 50 rencana serangan teror telah digagalkan oleh Densus 88. Namun, satu hal yang paling penting untuk disikapi bersama, seperti diungkapkan Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, sebaran ideologi, taktik serangan, pendanaan—juga perekrutan—kali ini dilakukan secara online (daring), terutama melalui media sosial.

Bagaimana media sosial mengubah dinamika terorisme di Indonesia?

Dalam buku The Logic of Connective Action (2011), Bennett dan Segerberg mengingatkan bahwa nalar kerja tradisional sebuah gerakan politik, termasuk terorisme, yang menekankan collective action (aksi kelompok) akan tergerus dengan nalar kerja baru gerakan politik yang bersifat connective action’(aksi yang dilakukan karena kesamaan ide).

Dalam pola baru ini, keterlibatan dalam gerakan politik menjadi lebih cair dan bersikap sangat personal. Pada pola lama, mengharuskan adanya pengorganisasian yang tersusun rapi. Dalam pola ini, identitas diri melebur jadi identitas kelompok. Sementara dalam pola baru, untuk jadi pelaku kekerasan, orang tak harus repot terlebih dahulu menjadi anggota sebuah kelompok jihad yang selama ini sudah dikenal, seperti Jamaah Islamiyah, Jamaah Anshorut Tauhid, dan Jamaah Anshorut Daulah. Kelompok-kelompok ini hanya dijadikan ”batu loncatan” oleh mereka untuk membentuk kelompok baru yang lebih ganas.

Dalam skenario pola baru, selama orang itu connect atau ”nyambung” secara ideologi, mereka akan dengan mudah tergerak untuk menjadi bagian dari kelompok tersebut meski mereka tidak pernah bertemu sama sekali. Barangkali, ini yang menjelaskan kenapa calon ”pengantin” (pelaku bom bunuh diri) Dian Yulia Novi (27), yang hanya ”mengaji” lewat Facebook itu, kemudian ”nyambung” dengan jaringan Bahrun Naim yang berada di Suriah bersama ISIS/NIIS.

Lebih menarik lagi, pola baru ini ditandai munculnya kecerdikan mereka dalam memberikan gaya hidup dan harapan baru, meskipun secara daring, ketika ada calon anggota yang mengalami kepedihan hidup, seperti sulitnya mendapatkan jodoh. Celah inilah yang dipakai sebagai modus para ISISers—julukan bagi pendukung NIIS di Indonesia, seperti Sholihin. Ia memberikan jebakan asmara berkedok jihad kepada Dian, TKW asal Cirebon yang menjadi tulang punggung keluarganya itu.

Meski kedua mempelai maut ini mengaku bergerak atas perintah Bahrun Naim, sejatinya mereka tak pernah bertemu secara langsung dengannya. Bagi Sholihin, sarjana agama yang terlahir dari keluarga NU di Jawa Timur ini, berbaiat atau sumpah setia kepada pemimpin tertinggi NIIS, Abu Bakar al-Baghdadi, itu cukup dilafalkan dalam hati. Sudah merasa ”nyambung” dengan ideologi sang khalifah itu, menurut Sholihin, adalah syarat minimal menjadi bagian dari NIIS.

Peleburan identitas

Oleh karena itu, dengan memakai cara pandang The Logic of Connective Action milik Bennett dan Segerberg, media sosial itu akan berpengaruh secara efektif kepada tiga kelompok.

Pertama adalah group of interest, yaitu kelompok yang memang sejak awal sudah tertarik dan memimpikan lahirnya sebuah alternatif sistem politik baru yang tidak sekuler. Mereka setuju dan mendukung konsep khilafah, tetapi belum menjadi bagian dari khilafah secara resmi dengan berbaiat misalnya.

Jangan dibayangkan mereka yang masuk dalam kelompok ini adalah kaum pinggiran seperti santri yang sarungan dan atau lelaki bercelana ngatung dan berjenggot atau perempuan yang bercadar. Tidak sedikit dari kalangan menengah, bahkan menengah-atas, yang sudah belajar di luar negeri pun tergoda dengan pesona khilafah ini. Bagi mereka, sistem sekuler neoliberal kapitalis telah menjauhkan mereka dari fitrah seorang manusia yang punya hubungan vertikal kepada Tuhannya.

Kedua adalah community of practice atau memang mereka yang sudah mempraktikkan ide mereka itu dengan jadi bagian dari gerakan yang menolak sistem sekuler ini. Di Indonesia, gerakan ini tidak tunggal dan terkadang bermusuhan satu dengan lainnya.

Misalnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) secara terbuka selalu mengatakan bahwa permasalahan sosial politik dan ekonomi di Indonesia ini akan terselesaikan jika Indonesia meninggalkan Pancasila dan beralih ke sistem khilafah. Namun, HTI pun secara tegas menolak cara-cara kekerasan, termasuk cara teror yang dilakukan para ISISers di Indonesia. Tidak bisa dimungkiri pula, ada sekelompok kecil kalangan penganut mazhab Syiah di Indonesia yang memimpikan lahirnya sistem Syiah ala negara Iran. Sebagian dari mereka sudah berhasil masuk ke dalam sistem parlemen melalui sistem demokrasi yang resmi. Dukungan, terutama dana dari negeri para Mullah ini, mengucur kepada gerakan ini.

Ketiga, activism atau para praktisi yang secara aktif merekrut anggota baru untuk mendukung gerakan mereka melalui media sosial. Di sinilah peran Bahrun Naim, yang melalui telegram bersandi khusus menginspirasi, mengatur dan mendanai gerakan teror di Indonesia.

Media sosial menjadi arena pembentukan identitas diri yang secara bertahap melebur menjadi identitas kelompok. Mereka tergabung dengan jaringan Bahrun Naim ini dengan pola sel terputus dan tidak saling mengenal satu dengan yang lainnya. Media sosial mempercepat proses peleburan identitas individu menjadi identitas kelompok baru.

Pola baru ini lebih mengerikan. Menurut Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, dari pola ini akan memungkinkan lahirnya fenomena lone wolfe (serigala kesepian). Ini adalah istilah dalam kajian terorisme yang berarti fenomena aksi terorisme yang dilakukan oleh seseorang secara mandiri. Bisa jadi ini terjadi pada anak-anak kita, terutama ketika mereka lebih menemukan identitas diri di dunia maya daripada dunia nyata. Apalagi jika kita sebagai orangtua gagal hadir pada saat mereka galau. ●