Sabtu, 10 Oktober 2015

Mengelola yang Tersisa

Laporan Diskusi Kompas-LMI
"Masih Adakah yang Tersisa?"
Mengelola yang Tersisa
KOMPAS, 06 Oktober 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pengantar Redaksi:  
Merayakan Hari Ulang Tahun Ke-70 RI, 17 Agustus 2015, Desk Opini Kompas dan Lingkar Muda Indonesia (LMI) pada 8 September lalu menyelenggarakan Diskusi Panel Seri Kedua 2015 di Bentara Budaya Jakarta. Dengan tema ”Masih Adakah yang Tersisa?”, diskusi mengetengahkan pembicara Hendro Sangkoyo (School of Democratic Economics), Mayling Oey (Guru Besar FEUI), Haryatmoko (Universitas Sanata Dharma), dan Rizal Sukma (CSIS), dipandu oleh Tamrin Amal Tomagola dari LMI. Hasil diskusi yang dirangkum oleh Tamrin Amal Tomagola, Sri Palupi, dan Chris Panggabean dari LMI diturunkan dalam dua tulisan di halaman 6 dan dua tulisan di halaman 7 hari ini.

Almarhum Prof Dr Driyarkara dalam ”Permenungan tentang Manusia dan Waktu” berujar, ”…manusia berada dalam waktu, terkurung dalam waktu, tetapi dalam pada itu juga mengatasi waktu (Karya Lengkap Driyarkara, hal 25-31)”.

Mengatasi waktu artinya manusia sadar dan mampu merenungkan ”yang lalu” sekaligus ”masa kini” guna merancang ”masa depan”. Ketiga dimensi waktu mampu dihadirkan dan disatukan sekaligus dalam perenungan manusia. Ironisnya, manusia menemukan dirinya sebagai ”terletak” dan ”terdampar”.

Pada HUT Ke-70 RI, sebagai manusia warga bangsa dan negara Indonesia, adalah mendesak dan imperatif bagi kita untuk menakar dan menghitung potensi dan modal material yang tersisa. Juga, kita perlu dengan jernih mengenali dan menakar posisi, potensi, dan deposit modal spiritual kita saat ini. Apakah masih ada tekad dan kapabilitas karakter yang memampukan kita melanjutkan pelayaran bahtera Indonesia menuju hari depan yang sejahtera dan bermartabat. Apakah sudah demikian terkurungnya kita dalam ”waktu” sehingga sirna kemampuan untuk ”mengatasi waktu” dan nyaris menjadi ”bangsa yang terletak dan terdampar” dalam pergaulan antarbangsa?

Dalam diskusi, tampaklah tingkat kerusakan lingkungan alam meski muncul pula solusi pengelolaannya. Ada uraian berbagai jenis modal moral, etika, dan ideologi ekonomi-politik dan sosial yang sudah tergerus oleh dinamika zaman serta bagaimana mengubah etika pejabat publik dari orientasi kekuasaan ke pelayanan dalam membangun karakter bangsa.

Dari sisi sumber daya manusia, tampaklah perkembangan kependudukan satu abad terakhir serta peluang-peluang yang tersedia untuk meningkatkan dan mengelola kualitas SDM di abad ke-21 ini.

Yang jelas, kemampuan pengelolaan modal material dan spiritual di atas perlu dipadu dalam paket kebijakan luar negeri yang dibingkai oleh perubahan realitas geopolitik dan geoekonomi strategis di kawasan Asia Timur dan Tenggara dengan menegaskan kembali identitas Indonesia sebagai negara maritim.

Menakar kerusakan

Wajah ibu pertiwi tahun 2015 ini benar-benar kelabu. Skala perusakan alam sudah genting karena terjadi secara masif, sistemik, dan sistematik: dari pembakaran hutan dan lahan yang menyesakkan hingga pengurasan mineral dan tambang. Perusakan kesatuan sosial-ekologis ini terus berlanjut di bawah naungan hukum dan kendali pengurus negara.

Sepanjang 1980-1998, berlangsung percepatan perusakan sistem ekologis pulau, tampak dari jumlah daerah aliran sungai kritis dan superkritis. Kecepatan perusakan hutan dan pembongkaran tutupan dan lapisan atas tanah di kepulauan berlangsung tanpa pilih bulu. Peracunan badan-badan air utama di daratan dan perairan pesisir juga mencatatkan Indonesia sebagai titik genting di perairan Asia Tenggara. Krisis ekologis berkelindan dengan pembesaran konflik sosial dan migrasi paksa dari kampung-halaman. Pemeriksaan awal perubahan di delapan kategori teratas dalam hierarki topometri dari 200 pulau di perairan Indonesia (100 kilometer persegi-250.000 kilometer persegi) menunjukkan bahwa, pertama, tidak ada pulau yang terlalu kecil untuk tidak dibongkar dan tidak ada pulau yang terlalu besar untuk rusak sistem ekologisnya.

Kedua, skala perusakan sebanding dengan nilai uang maksimum yang potensial dihasilkan dari bahan-bahan alami yang ada atau sirkuit produksi barang di sana. Peta konsesi industri ekstraktif di seluruh wilayah kuasa negara resmi menunjukkan skala berlebihan dari izin konsesi.

Akibatnya, air danau menyusut, tanah mengering, petani merana, hutan ter/dibakar, rakyat sesak napas. Tanah air dan rakyat Indonesia sebagai suatu sistem kesatuan ekologis-manusia remuk oleh keserakahan dua sejoli, pemodal dan politisi, yang diperparah oleh aksi pembiaran serta korupsi aparat pelayanan dan aparat keamanan se-Nusantara. Padahal, bagi komunitas-komunitas adat Nusantara, air, tanah, dan hutan adalah sumber inspirasi kekayaan spiritual dan sandaran nafkah. Remuknya pijakan spiritual dan sandaran material rakyat adalah biang proses pemapaan lahir batin.

Kepapaan spiritual dan material secara kasatmata menampakkan diri dalam lima wujud. Pertama, menipisnya saling percaya (social trust) di semua tingkatan sosial. Di tingkat akar rumput, ketiadaan saling percaya antarkelompok seperti api dalam sekam, di tingkat elite gontok-gontokan politik kian lumrah.

Kedua, menguatnya kecenderungan mengambil jalan pintas berasas mumpungisme di hampir semua kalangan.

Ketiga, kecenderungan jalan pintas kian menggerus etos kerja keras.

Keempat, menggebunya semangat kerakusan menguras baik kekayaan alam, negara, maupun dana publik.

Akhirnya, kelima, menipisnya orientasi pelayanan di kalangan pejabat publik beralih ke orientasi pada kekuasaan.

Dapat disimpulkan bahwa perusakan lingkungan alam sebagai suatu sistem ekologi-manusia telah telanjur menularkan dampak negatif secara masif dan sistemik ke seluruh tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kembangkan layar

Walaupun tema diskusi terkesan pesimistis, sebenarnya justru diskusi berupaya mengomunikasikan harapan yang membangkitkan optimisme bangsa untuk mengembangkan layar. Karena itu, setelah mengenali sebab musabab, skala, dan wujud-wujud perusakan alam dan sosial-budaya, perlu diikuti pengenalan berbagai potensi yang perlu dikembangkan dan peluang geopolitik dan geoekonomi strategis untuk dimanfaatkan.

Kenyataan yang menunjukkan bahwa baik kekayaan di permukaan maupun yang masih tersimpan di dalam perut bumi kian menipis, khususnya di Indonesia barat, harus diatasi dengan menggeser tulang punggung ekonomi lokal dan nasional dan dari sektor ekstraksi bahan mentah dan hasil tambang ke tiga sektor lain: manufaktur, industri kreatif, dan himpunan industri berbasis maritim.

Indonesia juga harus segera memanfaatkan peluang bonus demografi yang hanya terjadi sekali dalam sejarah suatu bangsa untuk sungguh-sungguh meningkatkan baik kualitas SDM maupun membalikkan piramida struktur SDM-nya. Bonus demografi berupa proporsi penduduk usia produktif (15-65 tahun) saat ini yang lebih besar dari usia ketergantungan (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) akan tersia-sia jika masih 70 persen dari usia produktif berpendidikan di bawah SLTP. Inilah yang harus dibalik piramidanya dengan meningkatkan proporsi usia produktif berpendidikan di atas SLTP lebih besar dari proporsi di bawah SLTP.

Dengan pembalikan piramida struktur kualitas SDM, Indonesia akan mampu bersaing ke era tenaga kerja Masyarakat Ekonomi ASEAN 2016 sekaligus mengokohkan akhiles Indonesia berpacu dalam era industrialisasi ini.

Centang perenang kapabilitas kendali koordinasi pengawasan di pusat dan daerah membutuhkan kehadiran proporsi warga negara yang kompeten, tertempa, dan teruji untuk mengubah orientasi pelayanan pada kepentingan umum ketimbang menyalahgunakan kekuasaan dan menguras kekayaan publik.

Warga negara yang peduli dan kompeten (concerned and competent citizens) adalah modal sosial sekaligus modal budaya utama suatu bangsa. Warga negara berkarakter seperti ini dapat dibentuk lewat pembiasaan dalam habitus-habitus sosial keluarga, kelompok sebaya, komunitas, dan paguyuban. Sediakan habitus sosial keseharian lewat pengadaan sarana fisik serta penumbuhan aura modus komunikasi dialogis yang jujur dan terbuka demi mengasah keterampilan teknis dan memekarkan kapabilitas kepemimpinan.

Nilai-nilai dan prinsip-prinsip etika publik yang berintegritas secara alamiah akan mengendap dan mendarah daging (internalized) dalam kepribadian warga negara kompeten.

Siapkan pinisi Indonesia untuk berlayar dengan terlebih dahulu menghentikan dan membenahi bolong-bolong akibat perusakan lingkungan alam dan sosial budaya yang masif dan sistemik. Ini adalah langkah pertama dan utama. Kedua, tuntaskan kesiapan sarana dan prasarana yang menunjang pengembangan industri manufaktur, industri kreatif, serta jaringan industri berbasis maritim. Ketiga, manfaatkan peluang bonus demografi dengan membalikkan piramida struktur kualitas penduduk agar proporsi yang berpendidikan SLTP ke atas mencapai 70 persen.

Pilar-pilar material bahtera pinisi Indonesia ini perlu dikokohkan dengan pilar-pilar spiritual dari warga negara berkarakter yang peduli dan kompeten dalam menggerakkan dan memenuhi kepentingan dan kebutuhan umum. Bermodalkan ketangguhan kekuatan di kedua jenis pilar itulah, baru Indonesia betul-betul siap berlayar sebagai kekuatan utama geoekonomi dan geopolitik yang disegani.

Apalagi, telah terjadi paling kurang dua perubahan signifikan di tataran internasional. Pertama, politik global yang awalnya hanya ditandai oleh polar tunggal dengan Amerika Serikat (AS) bertindak sebagai satu-satunya negara adidaya kini berubah akibat kebangkitan Tiongkok, India, dan proliferasi kekuatan menengah (middle powers). Maka, AS bukan lagi satu-satunya kekuatan kunci yang menentukan dinamika dan arah perkembangan global dan regional. Dengan kata lain, dominasi AS dalam ekonomi-politik global mulai dibatasi kebangkitan kekuatan tandingan.

Kedua, terjadinya pergeseran kekuatan, pusat gravitasi geoekonomi dan geopolitik, dunia dari Barat ke Timur (Asia Pasifik). Kedua perubahan itu membuka peluang bagi Indonesia untuk memaksimalkan posisi strategis geopolitiknya sekaligus mengukuhkan kembali identitas dan perannya sebagai kekuatan menengah yang aktif, tetapi tetap bebas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar