|
Pada 18 November 2007 berlangsung Konferensi Tingkat
Tinggi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) di Riyadh, Arab Saudi.
Presiden Venezuela Hugo Chavez mendapat kesempatan berpidato. Begini salah
satu isinya: "OPEC harus bangkit
dan bertindak sebagai pengawal dalam menumpas kemiskinan di dunia. OPEC
semestinya lebih sebagai agen geopolitik aktif dan menuntut penghargaan
lebih bagi negara-negara anggota, serta meminta negara-negara Barat tidak
lagi mengancam OPEC." Chavez ingin OPEC keluar dari dependensi dan
subordinasi Barat.
Dalam pidato selama 25 menit itu, Raja Arab Saudi
sekaligus tuan rumah konferensi, Abdullah, tegang bukan kepalang. Raut
wajahnya memerah. Abdullah sadar, pernyataan keras Chavez ditujukan bukan
hanya kepada Amerika Serikat dan negara Eropa, tapi juga dirinya, yang
bermitra setia dengan Gedung Putih.
Kegerahan Abdullah semakin memuncak tatkala, pada
bagian lain pidatonya itu, Chavez menegaskan bahwa harga minyak mentah bisa
mencapai US$ 200 per barel apabila AS menyerang Iran atas alasan senjata
nuklir. Saat itu, harga minyak dunia sudah menembus US$ 100 per barel.
Abdullah lagi-lagi jadi sasaran kritik Chavez itu, karena selama ini Saudi
melakukan tekanan intensif ke Teheran melalui Gedung Putih.
Konon, seusai pidato, kalimat yang keluar dari mulut
Abdullah kepada Chavez hanya satu: "Kamu
sedikit berlebihan!'' Memang begitulah Chavez. Tak ada tedeng
aling-aling ketika mengkritik kapitalisme yang dianggap telah menciptakan
ketidakadilan tata ekonomi-politik global. Secara satiris, dalam peringatan
Hari Air Sedunia pada 2011, ia pernah mengatakan bahwa kapitalisme bahkan
telah membunuh peradaban di planet Mars. Kritik yang ditujukan pada nalar
kapitalis yang eksploitatif terhadap ekosistem. Chavez seorang
peterus-terang. Tak begitu sabar dengan lekuk-lekuk hermeneutika diplomasi.
Sebagai pemimpin negara penghasil minyak, Chavez sadar
betul vitalnya sumber daya alam tersebut sebagai daya tawar. Minyak
strategis sebagai alat komunikasi, diplomasi, dan daya tawar politik.
Terutama dalam konstelasi politik global yang sangat timpang seperti
sekarang. Minyak bisa menjadi kekuatan strategis bagi negara yang
tersubordinasi, untuk meneguhkan eksistensi politiknya.
Karena itu, Chavez aktif membangun aliansi dengan
negara-negara Timur Tengah, kawasan terbesar penghasil minyak dunia. Tapi
hambatannya sangat besar. Sebab, hanya empat negara di kawasan tersebut
yang tidak berafiliasi politik-ekonomi dengan AS: Iran, Libanon, Suriah,
dan Irak. Selainnya, negara-negara Timur Tengah terikat relasi "politik
minyak" yang kuat dengan Gedung Putih dan Eropa.
Chavez mencoba mengeluarkan negara Timur Tengah dari
nalar ini. Hal ini dimaksudkan agar, dengan kekuatan minyaknya, mereka
keluar dari dependensi politik, bukan justru terjerat di dalamnya. Chavez
kerap mengkritik keras Liga Arab, yang dianggap tidak memiliki taji untuk
menunjukkan independensinya. Malah memuluskan kepentingan politik AS yang
disebutnya imperialistik.
Kesamaan ideologi kritis inilah yang membuat Chavez
sangat dekat dengan Iran. Mahmud Ahmadinejad, Presiden Iran, memiliki
karakter kepemimpinan dan paradigma kritis yang serupa.
Ideologi kritis yang dipikul Chavez, dan hendak ia
tularkan ke kawasan Timur Tengah, tidaklah berangkat dari ruang kosong. Ada
basis epistemologisnya. Dalam batas tertentu, ini terlihat dari relasi
ideologisnya dengan Ahmadinejad. Chavez mendasarkan ideologi kritisnya pada
sosialisme. Nalar sosialisme mengkritik keras paradigma kapitalistik.
Sementara Ahmadinejad bersandar pada prinsip ajaran Islam yang secara tegas
berpihak kepada keadilan dan menyerukan pembelaan atas kalangan tertindas.
Jadi, Chavez dan Ahmadinejad sama-sama ingin agar dunia
dibangun di atas moralitas keadilan dan etika kesederajatan. Baik dalam
politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Tak boleh ada dominasi, hegemoni,
diskriminasi, apalagi imperialisme, satu negara atas yang lainnya. Baik
Chavez maupun Ahmadinejad mengkritik ideologi kapitalis yang secara
sistemik dianggap problematis: tidak berspirit keadilan dan
egalitarianisme.
Secara praktikal, AS dianggap sebagai representasi
paling sempurna dari problematisnya ideologi kapitalistik. Sikap politik AS
cenderung hegemonik, menempatkan negara lain di bawah subordinasinya.
Kritik keras Chavez dan Ahmadinejad terhadap AS adalah perlawanan simbolis
atas praktek kapitalisme.
Chavez selalu menunjukkan sikap kritis dan penentangan
terhadap praktek politik hegemonik AS di Timur Tengah. Beberapa di
antaranya adalah:
Pertama, Chavez menentang keras invasi ke Irak oleh
pasukan Internasional pimpinan AS pada 2003, sebagai bentuk intervensi
politik dan militer sepihak. Chavez memberikan dukungan moril politik
kepada Saddam Hussein untuk melawan infiltrasi politik AS di dalam
negerinya.
Kedua, Chavez menunjukkan pembelaan penuh atas
pengembalian hak politik dan geografis rakyat Palestina. Sebaliknya,
terhadap Israel, Chavez sangat kritis. "Israel
banyak mengkritik Hitler, begitu pun kita. Namun mereka melakukan sesuatu
yang mirip, bahkan lebih buruk, daripada apa yang dilakukan oleh
NAZI," kata Chavez saat melakukan kunjungan diplomatik ke Iran
pada 2006. Pada 6 Januari 2009, pemerintah Venezuela mengusir Duta Besar
Israel untuk Caracas, Shlomo Cohen, sebagai bentuk protes serangan militer
Israel di Jalur Gaza.
Ketiga, terkait dengan sanksi embargo yang diterapkan
pada Iran, Chavez menentang keras keputusan tersebut. Baginya, Iran
memiliki hak politik dan sains untuk mengembangkan potensi nuklir, tanpa
harus disudutkan dengan isu senjata nuklir. Venezuela merupakan satu dari
sedikit negara yang tetap melanjutkan kerja sama dengan Iran, di
tengah-tengah tekanan embargo ekonomi.
Keempat, Chavez menentang keras intervensi militer NATO
ke Libya untuk menjatuhkan Muamar Qadhafi. Aksi itu dituduhnya melanggar
hukum internasional. Chavez menuding ada misi tersembunyi di baliknya:
merampok minyak Libya bernilai US$ 200 miliar. Chavez ragu terhadap masa
depan Libya pasca-Qadhafi. Menurut dia, wakil baru Libya di PBB
pasca-Qadhafi hanyalah manekin, boneka untuk menggantung pakaian di dalam
etalase. Kepanjangan tangan kepentingan kekuatan kapitalis.
Kelima, pada Oktober 2011, Menteri Luar Negeri
Venezuela dan Kuba memimpin kunjungan delegasi negara sayap-kiri Amerika
Latin ke Suriah. Kunjungan tersebut merupakan bentuk dukungan atas Presiden
Assad, yang dalam perspektif politik luar negeri Venezuela merupakan korban
sikap politik kooptatif AS dan sekutunya. Chavez mengecam rencana
intervensi politis dan militer ke Suriah. Juga pemanfaatan kelompok oposisi
Suriah untuk menjatuhkan Assad. Menurut Chavez, Assad sedang akan
dinasibkan sama dengan Qadhafi. Seyogianya masyarakat dunia belajar dari
pelabrakan hak-hak politik Qadhafi oleh Barat.
Wafatnya Chavez merupakan kehilangan besar
bagi paradigma ideologi kritis di Timur Tengah dan Amerika Latin. Namun
spirit keadilan global yang ditebarkannya sudah banyak menginspirasi
berbagai elemen politik global. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar