Kamis, 09 Juli 2015

Limit Kamu Ada di Sini

Limit Kamu Ada di Sini

   Azrul Ananda  ;  Dirut Jawa Pos Koran
                                                         JAWA POS, 08 Juli 2015        

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pernahkah Anda –dalam hal apa pun– mem-push diri sendiri hingga batas kemampuan? Lalu, berapa kali mengulanginya?

                                                        ***

John R. Mohn, ayah kedua saya yang tinggal di Amerika Serikat, mungkin adalah orang yang paling berjasa dalam membuka mata dan pikiran saya. Sekaligus menemukan cara untuk ’’unlock’’ potensi yang ada pada diri saya.

Ayah angkat saya saat SMA di Kansas itu memang tidak punya anak laki-laki, jadi setiap hari menemani saya, menunjukkan dan mengajari banyak hal.

Yang paling berguna buat saya sekarang tentu bagaimana menjadi fotografer yang baik untuk koran sekolah maupun koran lokal yang dia pimpin. Plus bagaimana menjadi lay-outer yang baik, serta prinsip-prinsip dasar jurnalistik.

Selain itu, bagaimana menjadi kicker yang baik dalam permainan American Football, serta mengajari bagaimana menembak menggunakan pistol dan shot gun (wkwkwkwk), juga bagaimana memotong kayu perapian memakai kapak (seperti dalam film The Avengers: Age of Ultron).

Dan lain sebagainya…

Karena saya tinggal di kota kecil yang penduduknya tidak sampai 3.000 orang, dia pula teman terdekat saya selama setahun menjadi peserta exchange student (pertukaran pelajar) di Kansas itu.

Ketika kali pertama datang di rumahnya, saya tidak tahu bahwa dia ternyata juga keluarga media. Mungkin garis tangan saya harus selalu tinggal bersama keluarga media.

Dan karena kemampuan bahasa Inggris saya belum jago, maka dia menjadikan saya fotografer di koran sekolah (yang dia bantu didik dan kelola), plus membantu jadi fotografer di koran yang dia pegang.

’’Kamera adalah alat yang baik supaya kamu bisa bertemu dengan orang, dan orang berbicara dengan kamu,’’ katanya waktu itu.

Sebuah kamera Nikon FM-2 pun selalu terkalung di leher saya selama bulan-bulan pertama SMA di Amerika…

Bagaimana hasil fotonya? Namanya anak superkurus umur 16 tahun, dengan kamera berat yang full manual, dan dengan mata yang minusnya terus mendekati angka 10, tentu saya bukanlah fotografer terbaik.

Masalah utama saya menurut John: Camera movement. Tangan tidak bisa tenang saat menge-klik. Ketajaman foto tidak bisa optimal.

Skill saya dalam memproses film dan mencetak foto di ruang gelap juga bukan yang terbaik.

Masalah utama saya menurut John: Tidak sabaran.

Meski demikian, kata John, saya ini termasuk yang tidak mau menyerah. Tidak pernah menghitung waktu. Tidak mau berhenti sampai pekerjaan tuntas.

Dan itu, kata dia, akan membuat saya lebih baik daripada fotografer sekolah lain saat itu.

’’Bakat kamu ada di sini,’’ kata John sambil memosisikan tangannya sejajar dengan dada. ’’Orang lain ada yang di sini,’’ tambahnya lagi sambil menempatkan tangan di atas kepala.

Walau level talenta saya tidak setinggi yang lain, John bilang tidak perlu khawatir. Asal kita terus bekerja di batas kemampuan, maka upaya kita itu akan terus membentur atap batas kemampuan tersebut. Ketika terus dibentur-benturkan, atap batas kemampuan itu pun terdorong ke atas terus-menerus.

John lantas menempatkan lagi tangan kanannya sejajar dengan dada, lalu tangan kirinya memukul-mukul telapak tangan kanan itu pelan-pelan ke atas.

                                                            ***

John pun berbicara hal yang sama kepada seluruh staf Ellinwood Eagles, koran sekolah saya yang juga punya kewajiban mengerjakan buku tahunan sekolah.

Dia bilang, secara bakat, tim jurnalistik saya waktu itu tidak sebaik tim tahun sebelumnya. Dan tim tahun sebelumnya memang sangat berbakat, sampai akhirnya menjadi juara negara bagian, dan menjadi salah satu yang terbaik di Amerika.

John blak-blakan di depan kami semua. Dia bilang, Pemred kami waktu itu tidak sehebat tahun sebelumnya dalam hal menulis dan meng-edit. Talenta staf yang lain juga dianggap pas-pasan. ’’Fotografernya saja belum fasih berbahasa Inggris,’’ tambahnya sambil melirik ke saya.

Tapi, dia menegaskan, tidak berarti tim ini tidak bisa berprestasi dan menghasilkan koran sekolah yang baik.

Dengan tim tahun saya itu, John benar-benar harus lebih sabar membina. Butuh waktu bagi tim itu untuk bisa bekerja dengan baik, dan bisa kompak bekerja.

Alhasil, kami pun sering bekerja sampai malam di ruang redaksi sekolah (rata-rata sampai pukul 9 malam). Demi memastikan standar setiap terbitan sebaik-baiknya (sesuai harapan John tentunya).

Kadang, kami pun harus bekerja saat weekend, saat anak-anak lain santai libur. Bayangkan, ini sebuah koran sekolah. Koran beneran saja belum tentu serajin ini!

’’Di kelas ini kita bisa banyak belajar. Tapi, memenuhi deadline dan harus masuk bekerja pada akhir pekan adalah yang terburuk,’’ komentar salah seorang rekan saya.

Walau sering mengomel, sering saling mengomeli, dan sering diomeli John, semua kerja keras itu ternyata ada hasilnya.

Kami mampu menjadi juara tingkat regional, lalu meraih juara kedua tingkat negara bagian. Memang tidak sehebat tim tahun sebelumnya. Tapi mengingat talenta dan potensi kami pada awal pembentukan, kami sudah melangkah jauh.

Dalam buku tahunan, John memberikan komentar yang merangkum tim kami dengan sangat pas:

’’Saya sering marah kepada tim koran dan Yearbook, karena mereka tidak selalu bekerja memaksimalkan potensinya. Di sisi lain, mereka tetap menghasilkan lebih banyak karya bila dibandingkan tim-tim sebelumnya. Serta menjadi juara kedua di tingkat negara bagian. Yearbook yang dihasilkan pun cukup bagus.’’

Lalu, ada komentar yang benar-benar dia simpan sampai akhir: ’’Saya akan bilang bahwa saya bangga pada mereka. Tapi, saya tak mau mereka mendengar ini sampai tahun ajaran ini selesai.’’

                                                              ***

Tulisan ini memang personal dan contohnya diambil dari tim anak SMA. Tapi, saya rasa relevan untuk kita semua. Ya, nggak?

Gara-gara John, saya paling sebal melihat orang tidak mau berusaha. Gara-gara John, saya paling sebal melihat orang mudah menyerah.

Ya, andai memaksa maksimal pun, kita mungkin tetap tidak punya cukup bakat untuk jadi juara atau jadi yang terbaik. Tapi, kita masih bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang berkesan.

Kalau tidak, lalu hidup ini untuk apa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar