Selasa, 01 September 2015

Najib dan Gejolak Politik Malaysia

Najib dan Gejolak Politik Malaysia

Hamdan Daulay  ;  Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;
Peneliti Politik Islam di Malaysia Tahun 2006-2011
                                                     KOMPAS, 01 September 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Najib Razak tampaknya mengalami hari-hari kelam dari karier politiknya seiring dengan semakin derasnya arus demonstrasi yang menuntutnya mundur dari kursi kekuasaan. Gejolak politik yang melanda Malaysia dengan munculnya demonstrasi besar-besaran merupakan babak baru dalam panggung politik Malaysia.Selama ini sangat jarang terjadi demonstrasi semacam itu di Malaysia karena pengaruh sultan di setiap negara bagian yang dihormati warga.

Kini puluhan ribu rakyat Malaysia turun ke jalan menuntut Najib Razak mundur dari kursi Perdana Menteri karena diduga terlibat kasus megakorupsi 700 juta dollar AS (Rp 9 triliun). Demonstrasi kali ini tidak hanya dilakukan oleh kelompok oposisi (pembangkang), tetapi juga tokoh-tokoh Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) sebagai partai penguasa. Bahkan Dr Mahathir Mohamad sebagai tokoh utama UMNO turut bersuara keras, menuntut Najib Razak segera mengundurkan diri.

Persaingan

Selama ini persaingan politik yang sering terjadi di Malaysia adalah antara UMNO dan Partai Islam Se-Malaysia (PAS), terutama dalam memperebutkan massa Melayu dengan isu keislaman. Persainganbanyak menjurus kepada kaidah dan bentuk Islamyang hendak dipaparkan kepada masyarakat. Kedua belah pihak mencobameyakinkan rakyat bahwa perjuangan merekalah yang lebih benar.

UMNO mengalami pergeseran strategi politik seiring dengan dinamika politik di Malaysia. Ketika UMNO berdiri tahun 1946, predikat sebagai partai sekuler begitu melekat. Predikat ini tidak bisa lepas dari sejarah pembentukan partai UMNO, sebagai organisasi bangsa Melayu bersatu yang berjuang untuk Malaysia dengan realitas penduduk yang multietnik dan multiagama.

Sebagai partai yang direstui oleh pemerintah kolonial Inggris dan dengan tokoh-tokoh UMNO yang banyak berlatar belakang pendidikan Barat, partai ini memang semakin kuat bercitra sebagai partai sekuler.

Namun, kebijakan politik yang dibuat Mahathir Mohamad dan juga Abdullah Ahmad Badawi semakin lama semakin Islami sehingga membuat PAS yang selama ini mengusung isu Islam merasa tersaingi. UMNO lewat Abdullah Ahmad Badawi dengan cerdas membawa wacana Islam Hadhari yang moderat dan bisa diterima oleh sebagian besar umat Islam Malaysia.

Pasang surut dukungan politik dialami UMNO/BN (Barisan Nasional) terlihat dari naik turunnya perolehan kursi parlemen pada setiap pilihan raya umum (PRU). Penurunan drastis dukungan politik kepada UMNO/ BN terjadi pada PRU 2013 dengan hanya mendapatkan 140 kursi (63,10%) dari 222 kursi.

Selain PRU 2013, UMNO/BN juga pernah memperoleh kursi parlemen di bawah 75%, yaitu pada PRU 1959, dengan perolehan 74 kursi (71,15%) dari 104 kursi yang ada. PRU 1969, dengan perolehan 95 kursi (66,00%) dari 144 kursi yang ada. PRU 1990, dengan perolehan 127 kursi (70,55%) dari 180 kursi yang ada. Namun, dalam sejarah politik Malaysia, baru pada PRU 2008 UMNO/BN mendapat dukungan paling rendah dari pemilih.

Aspek nilai

Sepanjang 1990-an perdebatan politik tentang Islambanyak menyentuh aspek nilai dan pelaksanaan Islam dan diselaraskan dengan cita-cita Dr Mahathir Mohamad untuk memodernkanmasyarakat Malaysiamelalui dasar perindustrian.

Bagi Mahathir, umat Islam harus banyak melakukan ijtihad untuk mengikuti kemajuan zaman. Kalau umat Islam ingin maju dalam semua aspek kehidupan, konsep Islam tradisional yang diusung PAS selama ini tidak relevan lagi. Untuk itu, Islam harus menyesuaikan diri dengan kemodernan.

Pendidikan umat Islam harus ditingkatkan dalam segala bidang, tidak hanya dalam ilmu keislaman, tetapi juga teknologi. Menurut Mahathir, itulah cara umat Islam untuk maju.

UMNO di bawah kepemimpinan Mahathir Mohamad dan Najib Razak memang memiliki corak dan gaya politik yang berbeda. Mahathir yang memimpin UMNO dan Malaysia selama lebih dari 20 tahun memang telah banyak memajukan dan menyejahterakan Malaysia. Namun, di sisi lain, Mahathir juga dinilai memiliki sisi negatif: otoriter dan dengan berbagai cara menyingkirkan lawan-lawan politiknya.

Tindakan politik Mahathir terhadap Anwar Ibrahim, misalnya, menjadi catatan hitam yang sulit dilupakan rakyat Malaysia.

Kurang stabil

Pasca kepemimpinan Mahathir Mohamad, dengan tampilnya Abdullah Ahmad Badawi dan dilanjutkan dengan Najib Razak, ternyata memunculkan suasana politik yang kurang stabil. Pengaruh UMNO sebagai partai penguasa di Malaysia secara perlahan semakin redup seiring dengan berbagai kasus korupsi yang melanda elite partai.

Kejayaan UMNO semasa kepemimpinan Mahathir Mohamad seolah tidak bisa dipertahankan tokoh-tokoh UMNO berikutnya. Popularitas Abdullah Ahmad Badawi dan Najib Razak tidak mampu menandingi Mahathir Mohamad.

Kini gejolak politik yang melanda Malaysia bagaikan prahara yang sulit dipadamkan. Kasus megakorupsi yang melanda Najib Razak barangkali menjadi babak akhir kejayaan UMNO dalam panggung politik Malaysia yang sudah berkuasa puluhan tahun.

Atau, masih adakah tokoh-tokoh UMNO yang kuat, jujur, dan bersih yang diharapkan mampu membawa kejayaan Malaysia seperti yang pernah dilakukan Mahathir Mohamad?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar