Rabu, 17 Desember 2014

Indonesia dalam Teh

                                                Indonesia dalam Teh

Priyadi  ;   Santri di Bilik Literasi, Solo
KORAN TEMPO,  16 Desember 2014

                                                                                                                       


Masyarakat Indonesia biasa menyediakan teh untuk tamunya. Di pedesaan, hal itu masih tetap berlaku meski sang tuan rumah kadang mengatakan, "maaf, hanya ada teh" (Koran Tempo, 22 November 2009). Teh tak hanya menjadi suguhan untuk tamu, tapi kadang juga untuk oleh-oleh saat menjenguk orang sakit. Teh menjadi "perekat solidaritas dan perwujudan" empati masyarakat kelas bawah. Di perkotaan, hidangan teh telah mulai surut. Kebiasaan menyajikan teh untuk tamu diganti dengan air mineral dalam gelas plastik!

Jutaan warung-warung sederhana dan PKL penjual makanan, seperti mi ayam, pecel, gado-gado, bakso, dan lainnya, memasang teh sebagai menu wajib. Penjual biasa menyediakan pelbagai varian menu untuk tehnya.

Teh tak hanya dikonsumsi oleh pejabat sekelas presiden, tapi juga rakyat jelata. Di meja jamuan, obrolan Presiden Jokowi dan SBY adalah untuk memikirkan rakyat Indonesia. Di meja makan dalam sebuah warung sederhana, teh menjadi teman ngobrol buruh saat makanan sudah dilahap habis. Obrolan di warung tak jarang membincangkan para pejabat dan nasib Indonesia. Mereka sering menjadi komentator politik. Komentar mereka sering lebih panas daripada pengamat politik di televisi. Kita memang bisa memperkirakan bobot obrolan, komentar, dan dampaknya dari dua kelompok tersebut (elite-jelata). Namun kita tak bisa mengelak bahwa rakyat dan pejabat bisa saling mencoba mengerti dengan ditemani teh.

Populernya teh di Indonesia menjadi bisnis menggiurkan. Faktor uang membuat berhektare-hektare tanah di Indonesia telah dijadikan perkebunan teh. Hingga 2013, Badan Pusat Statistik merilis bahwa luas perkebunan teh besar dan milik rakyat terus meningkat. Teh dan produknya pernah membawa seorang pengusaha minuman ini masuk jajaran sepuluh orang terkaya di Indonesia. Teh juga menjadi produk ekspor Indonesia. Namun meningkatnya penyerapan teh dalam negeri telah membuat nilai ekspor turun pada 2014. Ekspor teh selama Januari-September turun 14,4 persen dibanding pada periode yang sama tahun sebelumnya (Koran Tempo, 10 Desember 2014).

Teh yang diimpor oleh Belanda ke Indonesia pada abad XVII itu telah mempengaruhi masyarakat Indonesia. Pengaruh dari teh juga terlihat dalam karya sastra dan koran pada abad XX. Hella S. Haasse, penulis Belanda yang lahir di Batavia, menulis Heren van de Thee yang mengisahkan juragan teh dan pribumi tak banyak memiliki arti dalam perannya sebagai buruh dalam novel itu. Dalam novel tipis Oeroeg (2009), anak pribumi yang bapaknya bekerja pada juragan teh ditampilkan sebagai bayang-bayang anak sang juragan teh yang jadi sahabatnya ketika kecil (Wibisono, 2014).

Dalam koran Api, 30 November 1925, terdapat tulisan tentang dibeslahnya Api oleh polisi kolonial. Bahkan, "Pembeslaghan boekan dilakoekan pada barang-barang jang bersangkoetan dengan perkaranja sadja, tetapi satoe vorm zetsels sama sekali dibeslag. Keperloean advertensi terbawa djoega." Koran Api menjadi tempat gagasan komunisme disebar, dan dalam koran tersebut banyak pula terdapat iklan yang "menghidupi" koran. Lima edisi pada November 1925 berisi iklan teh. Bunyi iklannya, "Awas! Thee tjap (gambar palu-arit)." Teh cap gambar palu-arit tersebut haroem bahoenja dan enak rasanja." Palu-arit jadi merek teh. Nah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar