Senin, 01 Desember 2014

Borges dan Pikiran yang Mudah Dipengaruhi

            Borges dan Pikiran yang Mudah Dipengaruhi

AS Laksana  ;   Sastrawan, Pengarang, Kritikus Sastra yang dikenal aktif menulis di berbagai media cetak nasional di Indonesia
JAWA POS,  30 November 2014

                                                                                                                       


MALAM belum terlalu larut ketika dia datang dan suara anak-anak di jalanan masih cukup riuh terdengar. Udara gerah di bulan yang mestinya sudah musim penghujan. Guru sekolah pada masa kecil dulu mengatakan bahwa kita hidup di negara dengan dua musim, yakni musim kemarau dan musim penghujan. Musim penghujan terjadi pada bulan-bulan Oktober–Maret dan musim kemarau berlangsung pada April–September. Namun, malam itu, awal November, kami seperti bercakap-cakap di mulut tungku dan hujan pertama belum turun pada bulan kedua musim penghujan.

Tamu saya seorang hipnotis. Kami sudah membuat janji untuk bertemu beberapa hari sebelumnya. Dia mengatakan ingin berdiskusi dengan saya.
’’Hipnosis bisa bekerja karena pada dasarnya pikiran manusia mudah dipengaruhi,’’ katanya ketika pembicaraan kami mulai memasuki topik serius, seolah-olah dia menemukan rahasia besar yang belum pernah diungkapkan orang lain. Saya mendengarkannya sungguh-sungguh. Dia melanjutkan:
’’Jika kita menyampaikan kepada seseorang, ’Kau kelihatan cerah sekali, sedang bahagia tampaknya’, maka dia pasti akan membenarkan pernyataan kita dan mungkin menyampaikan pengalaman yang menyenangkan pada malam sebelumnya. Jika kita mengatakan, ’Kusut sekali mukamu, sedang ada masalah?’ maka dia juga akan membenarkan apa yang kita katakan sembari menyampaikan alasan kenapa dia menjadi begitu.’’

Saya diam, mengingat-ingat sesuatu, menguji pernyataannya dengan pengalaman-pengalaman saya sendiri. Tampaknya, memang seperti itu.
Seseorang pernah menyapa saya suatu hari dan menanyakan kenapa saya tampak awut-awutan. Saya pun menjelaskan bahwa semalaman saya tidak tidur. Seseorang yang lain, di waktu lain, mengatakan bahwa paras saya tampak lebih berseri-seri. Saya pun seketika itu merasa senang dan meyakini bahwa paras saya memang berseri-seri.

Selanjutnya, ingatan meluncur ke hal-hal lain. Saya kira, pernyataannya tentang pikiran yang pada dasarnya mudah dipengaruhi itu mungkin bisa menjelaskan kenapa dulu saya ingin menulis seperti S.H. Mintardja setelah membaca buku cerita silat Nagasasra dan Sabukinten. Atau, mencoba-coba menulis cerita detektif dengan tokoh utama secerdas Sherlock Holmes ketika saya menyukai karakter fiksional karangan Sir Arthur Conan Doyle itu. Atau, ingin menjadi seperti Abraham Lincoln yang keras hati ketika saya membaca biografinya, termasuk kenapa saya ingin menjadi seperti Rudy Hartono ketika saya selesai membaca biografi legenda bulu tangkis kita itu.

Pada masa remaja, ketika saya hampir tiap malam (kecuali hari hujan) bermain bulu tangkis di lapangan kampung, saya selalu bermain sambil membayangkan diri sebagai Rudy Hartono dan di dalam kepala saya berdengung suara reporter televisi Sambas, orang yang sangat rajin mengajak kita berdoa setiap kali pemain-pemain bulu tangkis kita bertanding –terutama jika pemain-pemain kita sedang tertinggal oleh lawan. Gambaran yang muncul di dalam benak itu sesungguhnya tidak berkaitan sama sekali dengan keterampilan saya yang nyaris nihil dalam bermain bulu tangkis. Saya hanya terpengaruh riwayat hidup seseorang yang telah menempuh jalannya sendiri untuk menjadi juara. Saya mengaguminya, terpesona pada pengalaman-pengalamannya, dan kemudian mengidentifikasi diri dengannya, setidaknya setiap kali saya beraksi di lapangan bulu tangkis di kampung saya, menghadapi tetangga-tetangga sendiri yang permainan bulu tangkisnya tidak lebih baik.

Buku riwayat hidup paling akhir yang saya baca adalah biografi Jorge Luis Borges, raksasa kesusastraan Argentina. Dari buku itu, saya memperoleh informasi bahwa dia lebih banyak menggunakan waktunya untuk bergaul dengan buku-buku. Borges nyaris tidak pernah keluar rumah ketika kecil dan hanya mendekam bersama adik perempuannya di perpustakaan milik ayahnya. Sampai dia berumur 9 tahun, ayahnya tidak memasukkannya ke sekolah karena alasan, ’’Nanti kau bisa tertular berbagai penyakit yang diidap anak-anak yang suka berkeliaran di jalanan.’’

Itu alasan yang dibikin-bikin, untuk memudahkan komunikasi dengan kanak-kanak. Alasan sesungguhnya sang ayah, si Borges tua, adalah karena dia terpukau pada pemikiran-pemikiran anarkistis yang tidak mempercayai apa saja yang diselenggarakan negara, termasuk urusan pendidikan umum. Dan, Pak Borges tua mengambil alih semua urusan pendidikan anak-anaknya –dia sendiri yang mendidik anak-anaknya di rumah. Mereka adalah keluarga yang akrab dengan buku-buku dan perpustakaan. Borges kecil membaca Don Quixote mula-mula melalui terjemahan bahasa Inggris. Ketika membaca versi aslinya dalam bahasa Spanyol, dia menganggap versi Spanyol adalah terjemahan yang buruk dari buku berbahasa Inggris yang pernah dibacanya.

Sebetulnya, membaca kembali biografi Borges adalah kelanjutan saja kegiatan saya membaca ulang cerpen-cerpennya beberapa waktu lalu. Saya sedang menulis cerpen saat itu dan kemudian diserang perasaan jemu terhadap cerpen saya sendiri dan kemudian saya merasa perlu membaca karangan orang lain. Saya pilih kumpulan cerpen Jorge Luis Borges karena kebetulan buku itulah yang tampak di depan mata begitu saya bergeser ke rak buku. Pada malam ketika saya membacanya, saya merasa putus asa karena dia menulis terlalu bagus dan cerpen-cerpen yang saya baca itu membuat cerpen yang saya tulis terasa sangat memalukan.

Sampai sekarang, saya masih merasa sengsara. Bagaimana dia bisa menulis cerita-cerita seperti itu?

Pertanyaan itulah yang mendorong saya membaca lagi biografinya, yang pernah saya baca bertahun-tahun lalu. Borges, Anda tahu, adalah satu di antara beberapa sastrawan besar yang tidak memperoleh hadiah Nobel Sastra. Mengenai hal itu, dia mengatakan, ’’Tidak memberi Hadiah Nobel kepada saya adalah tradisi orang Skandinavia. Sejak saya lahir mereka tidak pernah memberi saya hadiah Nobel.’’

Itu kutipan yang lucu dan cerdas dan saya senang membaca kutipan itu. Borges selalu memiliki cara berpikir yang melenceng menurut saya. Dia tidak tahan menulis novel. Jika mempunyai ide yang lebih cocok untuk novel, dia memilih menulis karangan berbentuk resensi, seolah-olah dia sedang mengulas buku yang sudah terbit. Itu dia lakukan, antara lain, dalam cerpennya Pierre Menard, Pengarang Don Quixote. Karangan tersebut merupakan ulasan ’’palsu’’ tentang pengarang Prancis, yang tak pernah ada, yang berusaha menulis ulang novel Don Quixote karangan Cervantes persis seperti aslinya.

Dari membaca biografi tersebut, saya tahu (sesuatu yang tidak saya sadari pada pembacaan pertama) bahwa inspirasi untuk menulis Pierre Menard diadapatkandari Thomas Carlyle, penulis Skotlandia abad ke-19, yang menulis Sartor Resartus (1836), sebuah novel tentang pemikiran dan kisah hidup tokoh fiksional Herr Teufelsdrockh. Menurut pengamat, Thomas Carlyle mendapat inspirasi dari tiga penulis sebelumnya, yakni Jonathan Swift (The Tale of A Tub), Goethe (The Sorrows of Young Werther), dan Laurence Sterne (Tristram Shandy).

Jonathan Swift, Goethe, dan Sterne mendapat ilham untuk karya-karya mereka dari orang-orang sebelum mereka, dan seterusnya, dan seterusnya.
Kepada tamu saya, yang sangat bergairah membicarakan hipnosis dan pikiran yang mudah dipengaruhi, saya menimpali pernyataannya dengan sebuah truisme: Karena pikiran mudah dipengaruhi, sebetulnya riwayat kreativitas umat manusia adalah riwayat tentang orang-orang yang terilhami orang-orang dari generasi sebelumnya.

’’Seperti itulah,’’ katanya.

Dia pulang agak larut dengan kulit tangan penuh bintik-bintik merah. Nyamuk di teras rumah saya sungguh ganas. Namun, tampaknya, dia sendiri mengalami trance ketika dengan penuh semangat membicarakan hipnosis dan lupa pada nyamuk-nyamuk yang menyerbunya selama kami bercakap-cakap. Saya selamat karena sudah melapisi kulit dengan lotion antinyamuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar