Selasa, 26 Agustus 2014

Selamat Pagi Pak Ahok!

Selamat Pagi Pak Ahok!

Nur Haryanto  ;   Wartawan Tempo
KORAN TEMPO, 25 Agustus 2014
                                                


Sengaja saya menyapa Wakil Gubernur DKI Jakarta pagi ini. Basuki Tjahaja Purnama, atau biasa disapa Ahok, sebentar lagi beralih posisi naik satu peringkat menjadi orang nomor satu di Ibu Kota. Bagaimana Pak Ahok kabarnya pagi ini, lancar perjalanan dari rumah menuju ke kantor?

Jangan-jangan Anda juga sudah mulai terbiasa dengan kemacetan Jakarta. Terbiasa itu bisa diterjemahkan ke dalam beberapa hal yang dilakukan, yakni berangkat pagi-pagi dengan kendaraan pribadi, naik angkutan umum bus Transjakarta, menggunakan moda Bus Kota Terintegrasi Bus Transjakarta, Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta, atau Commuter Line. Langkah terakhir, tetap menggunakan kendaraan pribadi pada saat jam sibuk dan hanya bisa mengumpat dalam hati saat terjebak di kemacetan.

Sepekan terakhir, saya mencoba mengukur kecepatan laju kendaraan sepeda motor saya di Jalan Mampang Prapatan pada pukul 07.00 WIB. Ternyata dari Perempatan Warung Buncit ke Perempatan Mampang Prapatan, yang berjarak sekitar 5 kilometer, harus ditempuh dalam waktu rata-rata 2 jam. Sekali gas ditarik, sepeda motor maju 1-2 meter, kemudian berhenti 5-10 detik. Kalau beruntung, kendaraan bisa sepuluh meter merayap, kemudian berhenti lagi. Begitu seterusnya.

Pemandangan yang lebih bikin miris, masih banyak kendaraan roda dua, mobil, ataupun Metro Mini yang berani masuk jalur Transjakarta. Denda Rp 500 ribu bagi pelanggar busway seperti "macan ompong". Faktanya, memang sampai kini tak ada pelanggar yang terkena denda maksimal. Para pelanggar itu bisa menggeber kecepatan kendaraan karena memang jalur bus Transjakarta kosong. Artinya, jumlah bus Transjakarta tidak memenuhi ketentuan headway setiap 10 menit sekali.

Saat bus Transjakarta koridor VI rute Ragunan-Dukuh Atas lewat, penumpang terlihat berjejal di dalam. Masih mending jika kebetulan bisa naik unit bus yang baru, seperti bus hibah yang beberapa bulan lalu diserahkan. Tempat berdiri untuk penumpang lebih luas, AC lebih adem, dan tidak berdebu. Tapi apes jika naik bus Transjakarta lama: AC tak terasa lagi, tempat pegangan tangan sudah banyak yang hilang, bus berdebu, berisik, dan guncangannya membuat tangan harus berpegangan erat.

Saya yakin, ini juga terjadi di hampir setiap koridor busway. Padahal antusiasme warga naik bus Transjakarta sebenarnya sudah meningkat. Tapi, apa daya, jumlah bus Transjakarta tak mampu menampung semua penumpang. Pada akhirnya, banyak warga kembali memilih kendaraan pribadi.

Pak Ahok, pasti Anda mengenal atau setidaknya tahu Wali Kota Bogota Enrique Penalosa (1998-2001). Beliaulah yang menjadi pelopor Bus Rapid Transit, yang kemudian ditiru Jakarta sebagai busway. Enrique tak hanya membangun fisik sistem transportasi Bogota. Ia perlahan juga membangun budaya warganya. "Sebuah kota yang maju bukanlah tempat orang miskin naik kendaraan pribadi, melainkan tempat orang kaya pun naik sarana transportasi umum."

Saya yakin Pak Ahok sependapat dengan Enrique. Gaya Anda memimpin Jakarta sudah pas: tegas, tanpa pandang bulu, dan setengah gila. Saya harap Anda segera mewujudkan ribuan bus Transjakarta yang nyaman, sistem jalan berbayar electronic road pricing, dan penertiban parkir serta pedagang kaki lima jalan terus. Setelah terwujud, jangan lupa kapan-kapan main ke rumah saya, Pak. Siapa tahu kemacetan telah berkurang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar