Senin, 04 Agustus 2014

Idul Fitri dan Keberadaban

                                      Idul Fitri dan Keberadaban

Said Aqil Siradj  ;   Ketua Umum PB NU
KORAN JAKARTA, 28 Juli 2014
                                                
                                                                                                                                   

Puasa Ramadan telah berakhir dan Idul Fitri telah tiba. Secara harfiah, Idul Fitri bermakna hari suci. Sering Idul Fitri diartikan hari kembali sucinya jiwa umat muslim setelah menjalankan puasa dan berbagai rangkaian ibadah sebulan penuh selama Ramadan.

Di Indonesia, Idul Fitri yang sering disebut "Lebaran" ini tidak hanya milik umat muslim secara eksklusif, tapi telah menjadi kultur bangsa yang unik. Pada momen ini, rasanya kita perlu mengudarakan kembali refleksi terhadap makna tamaddun yang berarti berperadaban.

Inilah inti dari masyarakat yang hendak dicita-citakan Islam dan telah diteladankan Nabi Muhammad. Bukanlah masyarakat eksklusif yang hendak dibangun Islam, tapi yang menjunjung tinggi akhlak, martabat, serta mengelola pluralitas menjadi kekuatan positif. Cita-cita masyarakat utama yang berakhlak mulia dan bermarbat inilah menjadi titik sentral misi kerasulan Nabi Muhammad lewat sabdanya, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia menjadi lebih mulia.”

Warisan

Pejuang-pejuang kebangsaan Indonesia sejak dulu sampai masa moderen, semuanya mempelajari dan mempraktikkan budaya jujur, adil, arif-bijaksana, tertib, disiplin, moderat, dan rendah hati. Unsur-unsur budaya beradab tersebut dijalankan dengan pengalaman jatuh-bangun untuk membangun diri dan bangsa menjadi insan beradab, bermartabat, serta terhormat.

Transformasi berkeadaban dan bermartabat itu dilakukan melalui interaksi yang santun dan dialog produktif dalam masyarakat plural.

Dimulai dari pemahaman peorangan, keluarga, dan warga masyarakat tentang perlunya cinta-kasih antarsesama, memupuk rasa keindahan, empati dalam penderitaan, serta kegelisahan orang lain. Kemudian tentu saja juga menghormati hukum, keadilan, berpandangan positif untuk hidup bersama. Selain itu, juga memunyai tanggung jawab dalam pengabdian dan berpengharapan yang optimistis dalam kehidupan.

Keadaban ini jelas bergayut dengan kesadaran terhadap kemajemukan. Masyarakat majemuk dapat dipahami sebagai masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok, strata sosial, ekonomi, suku, bahasa, budaya, dan agama. Di dalam masyarakat majemuk, setiap orang dapat bergabung dengan kelompok tanpa rintangan-rintangan sistemik yang mengakibatkan terhalangnya hak untuk berkelompok dengan kelompok tertentu.

Dari sejarahnya, masyarakat Indonesia yang beradab dan bermartabat sudah pernah lahir sebagai kekuatan dunia dalam bentuk kerajaan-kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dan kesultanan-kesultanan Islam sejak abad ke-9 sampai ke-15.

Realitas sejarah mengesankan kepada generasi sekarang bahwa bobot dan kualitas berkeadaban serta bermartabat itu lahir dari rahim masyarakat majemuk.

Moto kemajemukan Bhinneka Tunggal Ika merupakan cantelan dalam berkehidupan bermasyarakat yang beradab dan bermartabat. Moto ini adalah cita-cita adiluhung bangsa Indonesia untuk terciptanya masyarakat yang beradab dan bermartabat.

Upaya untuk mencapai kualitas hidup yang optimal untuk menjadi lebih sejahtera, berkeadilan, dan berkemakmuran, niscaya akan membawa masyarakat dapat duduk sama rendah serta tegak sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain dunia.

Untuk itulah, diperlukan infrastruktur harmonisasi sosial dalam kehidupan bersama. Menghormati pluralitas harus sejalan dengan menghormati peradaban dan martabat. Tidak ada artinya pluralitas kalau yang dipertahankan adalah budaya primitif, keterbelakangan, dan hanya asal berbeda. Alasannya demi kemurnian penghormatan budaya lokal atau hak asasi manusia, tanpa mempertimbangkan hak manusia lainnya dalam sistem kehidupan bersama.

Sikap sadar kemajemukan berarti pula sikap sadar terhadap multikulturalisme. Artinya, sikap ini menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Konsep tersebut mengajak masyarakat dalam arus perubahan sosial, sistem tata nilai kehidupan dengan menjunjung tinggi toleransi, kerukunan, perdamaian, serta menghindari sejauh mungkin konflik atau kekerasan, meskipun terdapat perbedaan sistem sosial di dalamnya.

 Konsep multikulturalisme tidaklah hanya disamakan dengan konsep keanekaragaman yang cuma menggambarkan bahwa kita beragam secara agama, suku bangsa, atau kebudayaan yang menjadi ciri khas masyarakat majemuk.

Yang terpenting, multikulturalisme lebih menekankan adanya saling menghargai dan rasa memiliki dalam kesederajatan serta meningkatkan solidaritas. Ini menuntut kita untuk melupakan upaya-upaya penguatan identitas. Kehidupan multikultural adalah landasan kesadaran akan keberadaan diri tanpa merendahkan yang lain.

Kedamaian

Dalam ajaran Islam, semangat perdamaian dan toleransi antar-umat memiliki landasan legitimasi yang kokoh sebab ajaran ini hadir dengan misi rahmatan lil alamin. Artinya menciptakan peradaban yang penuh kasih dan damai, tidak saja bagi umat manusia seluruhnya, tapi juga pada segala penghuni alam raya.

Sekali lagi, bangsa Indonesia adalah warga yang hidup dalam suasana pluralitas dan multikultural sehingga terbiasa dengan berbagai perbedaan. Mereka menerima perbedaan tersebut dengan prinsip hidup berdampingan secara damai.

Jangan sampai dalam mengarungi arus modernisasi dan derap perubahan sosial yang demikian cepat, kedamaian yang sudah berlangsung lama itu terganggu kemunculan konflik-konflik sosial. Ini dipenuhi semangat pembedaan serta pembelaan etnik dan agama sehingga integritas keindonesiaan, kerukunan umat beragama yang pernah dibanggakan, diakui bangsa lain, menjadi luntur.

Kebinekaan merupakan kekayaan. Keberadaan dan perbedaan agama jelas sebagai rahmat yang harus disyukuri. Agama datang untuk kehidupan yang tenang, aman, dan damai. Maka andai kehidupan ini dijadikan sebagai industri kekerasan tentu hidup manusia tidak akan aman.

Untuk itu, perlu dikembalikan menjadi industri kecintaan yang diharapkan tercipta suatu kedamaian. Ada dua pilihan hidup di dunia ini, untuk menjadikan rahmat atau dihancurkan oleh globalisme. Supaya kita menjadi rahmat, maka harus saling mengakui pluralitas. Di antara tanda-tanda kebesaran Tuhan adalah penciptaan dunia, perbedaan lidah, dan bahasa. Demi itu semua harus mengembalikan integrasi dan kerja sama sesama kita.

Bumi ini diciptakan untuk makhluk hidup, kita semua. Jadi, semua berhak hidup di Bumi ini. Kita harus berpacu untuk menghidupkan manusia dan memuliakannya demi keberlangsungan hidup mereka. Kita harus melawan kezaliman karena bertentangan dengan kefitrian. Momentum Idul Fitri kali ini dapat dijadikan sebagai penyadaran kembali dalam membangun hidup yang harmonis dan penuh tenggang rasa di era kepemimpinan baru dalam berbangsa dan bernegara ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar