|
Api yang Mahal Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 01 September 2026
|
OMC bisa
menelan ratusan juta rupiah sekali terbang. BRIN menawarkan Dumakron dan
drone. Mungkin yang perlu dibuat lebih dulu bukan hujan, melainkan efisiensi
operasinya. Api melahap hamparan lahan gambut di
kanan-kiri jalan tol. Itulah yang saya lihat akhir pekan lalu, saat melintasi
jalan tol Palembang-Indaralaya, Sumatera Selatan. Sejak turun pesawat di
bandara Sultan Badaruddin II, hidung sudah terasa sesak oleh asap kebakaran.
Begitu menyengat, serasa bau sampah udara Bantargebang Bekasi. Tanah kita terbakar berbulan-bulan.
Hutan pun begitu. Asap menebal di udara, sementara warga bahkan di negeri
tetangga mulai merasakan dampak batuk-batuknya. Dari Jakarta, kabar yang
datang justru tentang teknologi yang baru “disiapkan” dan “ditawarkan” untuk
memadamkan api yang membakar hutan dan lahan. Kementerian Kehutanan bersama TNI,
Polri, Manggala Agni, dan aparat desa sudah coba berusaha. Presiden Prabowo
Subianto menggagas smoke jumper. Lalu Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional
(BRIN), Arif Satria, tampil memperkenalkan teknologi berbasis AI, modifikasi
cuaca, hingga bahan semai garam berukuran mikro. Pertanyaannya yang agak mengganggu:
ketika api sudah menyala, mengapa teknologinya masih baru ditawarkan? Belum
dipakai? Pertanyaan ini tentu tak adil jika diarahkan semata-mata kepada
BRIN. Lembaga riset bukan pemadam kebakaran, dan tidak semua teknologi yang
ditemukan peneliti bisa seketika menjadi alat operasi. Namun justru di situlah persoalannya
menjadi menarik. Jika teknologi rekayasan BRIN sudah cukup matang untuk
ditawarkan kepada lembaga yang berwenang, mengapa negara belum mempunyai
mekanisme yang membuatnya siap dipakai ketika kebakaran sudah berhari-hari
tak teratasi? Apalagi teknologi yang ditawarkan kali
ini bukan sekadar nama baru untuk pekerjaan lama. BRIN mengaku sudah lama
mengembangkan Dumakron, bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) dalam
bentuk partikel sangat halus. Ukuran garamnya sekitar 2–5 mikrometer, dan
penyebarannya dapat dilakukan menggunakan drone. Gagasan ini menarik karena menyentuh
persoalan yang selama ini jarang dibicarakan dalam berita tentang hujan
buatan: biayanya tak murah. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) membutuhkan
pesawat, pilot, bahan semai, logistik, perawatan, koordinasi penerbangan, dan
berbagai kebutuhan operasi udara lainnya. Kepala BNPB Suharyanto pada Maret 2025
pernah menyebut biaya satu kali sortie penerbangan OMC sekitar Rp200 juta.
Kepala BMKG juga pernah memperkirakan biayanya dapat mencapai Rp300 juta atau
lebih, bergantung pada jenis pesawat yang digunakan. Gambaran biayanya bisa kita lihat dari
operasi di Kalimantan. Di Kalimantan Barat, OMC pada 13–17 Agustus 2026
membutuhkan sembilan sortie penerbangan. Di Kalimantan Tengah, OMC dilakukan
dalam dua periode, 27 Juli–4 Agustus dan 11–15 Agustus, dengan 13 sortie.
Jadi, dari dua provinsi itu saja sudah dilakukan 22 sortie. Jika satu sortie dihitung Rp200 juta,
biaya indikatifnya mencapai Rp4,4 miliar. Jika menggunakan patokan Rp300
juta, menjadi Rp6,6 miliar. Ini bukan angka realisasi anggaran, melainkan
hitungan kasar berdasarkan kisaran biaya penerbangan yang pernah disampaikan
pemerintah. Dari 22 sortie tersebut, pemerintah
memperkirakan curah hujan yang dihasilkan mencapai 15,72 juta meter kubik.
Kalau biaya operasi tadi dibandingkan dengan volume itu, secara matematis
diperoleh rasio sekitar Rp280–Rp420 per meter kubik air hujan. Tentu saja kita tidak sedang
mencari-cari harga air hujan. Hujan bukan komoditas yang keluar dari pabrik
OMC. Ia adalah rahmat pemberian dari Allah Swt. Lagi pula, hujan yang turun
tidak seluruhnya dapat diklaim sebagai hasil penyemaian, karena pembentukan
awan dan hujan dipengaruhi banyak faktor atmosfer. Hitungan tadi hanya membantu kita
melihat satu hal: mendatangkan hujan melalui intervensi teknologi mempunyai
biaya, dan biaya itu perlu dibandingkan dengan hasilnya. Masyarakat layak tahu,
apa setelah operasi itu titik panas berkurang, lahan gambut jadi lebih basah,
serta kebakaran dapat dicegah atau diperlambat. Di Kalimantan Selatan, misalnya,
laporan OMC menggunakan pesawat Cessna Caravan menyebut penyemaian
membutuhkan sekitar 10 ton garam NaCl dalam 10 sortie, atau rata-rata satu
ton setiap penerbangan. Angka tersebut memberi gambaran bahwa selain biaya
pesawat, OMC juga membutuhkan logistik bahan semai dalam jumlah besar. Maka inovasi Dumakron patut dilihat
dari sudut yang lebih sederhana. Kalau bahan semainya garam, mengapa garam
itu harus dibawa ke langit dengan pesawat yang berbiaya besar? Bisakah
garamnya disebar menggunakan pesawat nirawak seperti drone? Itulah salah satu
pertanyaan yang coba dijawab para peneliti BRIN. Dumakron bukan jenis garam baru.
Secara kimia, ia tetap NaCl. Yang diubah hanya ukuran partikelnya. Garam yang
biasa digunakan sebagai bahan semai dibuat menjadi bubuk higroskopis
berukuran 2–5 mikrometer. Ukuran nano itu bertujuan meningkatkan efisiensi
penyemaian sehingga bahan tersebut dapat disebarkan dengan drone. Perubahan ukuran itu membawa dampak
teknis yang nyata. Sebuah kubus garam yang panjang sisinya satu milimeter,
jika dipecah menjadi partikel-partikel berukuran dua mikrometer, jumlahnya
akan bertambah secara masif. Untuk massa yang sama, total luas permukaannya
melonjak tajam. Pengecilan ukuran dari satu milimeter
menjadi dua mikrometer saja dapat meningkatkan luas permukaan total hingga
sekitar 500 kali lipat. Bayangkan, Anda punya satu ton garam dapur biasa.
Jika disebar rata, ia memiliki total luas permukaan sekitar 2.700 meter
persegi, setara setengah lapangan sepak bola. Setelah ia diolah menjadi partikel
mikro, luas permukaannya secara teoritis dapat mencapai sekitar 1,35 juta
meter persegi, atau setara 190 lapangan sepak bola. Karena permukaan garam
berfungsi sebagai tempat menangkap uap air di awan, peningkatan luas permukaan
itu memperluas area kontak bahan semai dengan atmosfer. Namun, luas permukaan yang meningkat
500 kali tidak berarti kebutuhan garam otomatis berkurang 500 kali di alam
bebas. Efektivitas penyemaian di udara tetap bergantung pada konsentrasi
bahan semai, kondisi awan, temperatur, kandungan air, arus udara, dan
dinamika mikrofisika awan. Dan itu urusan kehendak Allah. Tentu kita ingin tahu seberapa besar
penghematan dalam operasi nyata. Jika satu ton garam kasar digunakan untuk
satu sortie pesawat, berapa kilogram Dumakron yang dibutuhkan untuk
menghasilkan efek penyemaian yang setara? Apakah sepersepuluhnya, seperlimanya?
Itulah angka yang perlu dibuktikan melalui pengujian lapangan. Sebab dalam OMC, persoalannya bukan
hanya harga garam, tapi ongkos membawa bahan tersebut ke atmosfer: pesawat,
bahan bakar, penerbang, perawatan armada, dan banyak lagi. Jika Dumakron
memungkinkan bahan semai dibawa dengan drone dalam jumlah yang lebih kecil,
maka biaya pengangkutan dan bahan semai berpotensi ikut turun. Namun potensi itu harus dihitung
secara utuh. Drone tetap membutuhkan baterai, operator, sistem navigasi,
perawatan, serta memiliki batas kapasitas muatan dan jangkauan terbang. Untuk
mencakup wilayah yang sama, berapa drone yang diperlukan? Berapa biaya
seluruh armadanya? Baru setelah dibandingkan dengan biaya
pesawat kita dapat mengetahui apakah efisiensinya benar-benar signifikan.
Langkah berikutnya sederhana: sajikan data operasi secara terbuka. Dengan
begitu, Dumakron tak berhenti sebagai teknologi yang “ditawarkan”, tapi dapat
dinilai sebagai solusi operasional dengan angka teruji. Api bekerja berdasarkan ketersediaan
bahan bakar, oksigen, dan udara kering. Penanganannya membutuhkan kecepatan
dan kesiapan alat di lapangan. Keselamatan kawasan hutan dan pemukiman warga
bergantung pada seberapa cepat dan efisien sistem pencegahan dapat dijalankan
sebelum kebakaran meluas. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar