|
Hujan Salat Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 02 September 2026
Manusia
Indonesia kelihatannya sudah tidak berdaya menghadapi kebakaran hutan dan
kekeringan. Mereka pun pilih bersandar kepada Tuhan.
Di Jakarta
sekitar 3.000 orang melakukan salat minta hujan: salat Istisqa'. Di halaman
Masjid Al Azhar Kebayoran Baru, pukul 07.00 Senin lalu.
Tidak
disebutkan: mereka minta agar hujan diturunkan di mana. Tuhan tentu mahatahu
skala prioritas. Terserah Tuhan saja mau diturunkan di mana.
Islam memang
mengajarkan salat minta hujan. Pun agama-agama sebelum Islam. Kalau sudah tidak
bisa menemukan jalan keluar mereka menyerah kepada Tuhan masing-masing.
Mungkin karena
Tiongkok tidak punya Tuhan mereka tidak bisa menyerahkan problem kekeringan
kepada selain diri mereka sendiri.
Anda sudah
tahu: Tiongkok kini menjadi negara yang paling banyak membuat hujan buatan.
Tiongkok terus mengubah kawasan kering di Barat Laut menjadi daerah pertanian.
Lantaran sering
membuat hujan Tiongkok memiliki banyak tenaga ahli di bidang perubahan cuaca.
Anda masih ingat: di Olimpiade Beijing 2008, Tiongkok melakukan rekayasa cuaca
besar-besaran. Bukan bikin hujan buatan, tapi merekayasa cuaca agar tidak
terjadi hujan selama olimpiade.
Tapi gudang
ilmuwan cuaca tetaplah Amerika Serikat. Di Amerikalah ditemukan ilmu membuat
hujan. Anda sudah tahu tokohnya: Vincent J. Schaefer. Ahli kimia dari New York.
Dalam ilmu
cuaca ia berteman dan bersaing dengan Irving Langmuir yang sama-sama aktif di
laboratoium teknologi milik General Electric.
Irvin kemudian
mendapat Nobel Kimia di tahun 1932. Irvinlah yang pertama bikin hujan buatan.
Niat awalnya bukan membuat hujan tapi ingin memahami cuaca. Termasuk meneliti
mengapa ada hujan, dari mana datangnya hujan, dan faktor apa saja yang bisa
menyebabkan hujan.
Ilmuwan memang
tidak mengenal istilah ”hujan turun dari langit” --karena di langit tidak ada
benih-benih hujan. Ilmuwan kian ahli mengetahui kapan akan ada hujan, seberapa
lebat dan di daerah mana saja.
Hujan buatan
sendiri kian mudah dilakukan setelah Irvin menemukan bahan baru untuk membuat
hujan: perak iodida. Tahun 1940-an. Itu campuran perak dan yodium.
Awalnya Irvin
dan tim mencari tahu: campuran kimia apa saja yang bisa membentuk kristal yang
mirip dengan kristal es. Kalau hujan terjadi karena ada kristal es di awan,
berarti benda yang mirip kristal es bisa menyebabkan hujan.
Jadi kalau Anda
lihat mendung di langit tapi tidak terjadi hujan itu karena di dalam mendung
tersebut tidak terbentuk kristal es.
Sejak ditemukan
campuran perak yodium mulailah ada negara yang memproduksi perak-iodida. Tidak
perlu semua negara membuat sendiri perak iodida. India dan Inggris sudah punya
pabrik perak iodida untuk mencukupi keperluan dunia.
Indonesia
memang penghasil perak yang besar. Yakni sebagai produk sampingan dari tambang
emas dan tembaga. Seperti di Freeport dan NTB. Tapi Indonesia tidak punya
tambang yodium. Penghasil yudium terbesar adalah Chili dan Jepang.
Air laut memang
mengandung yodium tapi kadarnya terlalu rendah. Beda dengan Chili dan Jepang:
mereka punya tambang yodium karena air asin bawah tanah mereka beryodium kadar
tinggi.
Uni Emirat Arab
tidak punya tambang perak maupun yodium. Tapi UEA tergolong negara yang paling
sering membuat hujan buatan. Meski orang UEA punya Tuhan, mereka lebih punya
uang: lewat hujan buatan mereka mampu mengubah padang pasir jadi lahan sayur
dan buah.
Maka bukan
karena tidak punya tambang yodium Indonesia sulit bikin hujan buatan. Yang
Indonesia tidak punya adalah uang. Bikin hujan
buatan itu mahal sekali. Untuk bisa bikin hujan yang mampu memadamkan kebakaran
hutan di Kalbar bisa habis Rp 2 triliun.
Jauh
lebih murah melakukan salat Istisqa'. Indonesia punya umat Islam terbesar di
dunia. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/966129/hujan-salat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar