|
Ahli Uang Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 01 September 2026
Ahlul, ahli,
artinya orang yang punya kemampuan lebih.
Halli, hal,
masalah, mengurai masalah.
Wal, wa,
berarti ''dan''.
Aqdi, akad,
pengikat, putusan.
Maka Ahlul
Halli wal 'Aqdi (AHWA) punya makna: orang-orang yang punya keahlian menguraikan
masalah rumit ''dan'' punya keahlian mengikatkan yang terberai lalu mampu
membuat keputusan yang berkualitas dan bisa diterima semua pihak.
Apakah sembilan
orang AHWA di Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, sudah seperti itu?
Anda sudah tahu. Saya belum tahu.
Harusnya
seperti itu. Mereka adalah pengambil keputusan ini: siapa yang harus menjadi
pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama dengan jabatan yang disebut rais aam. Siapa
pula yang menjadi ketua umum eksekutif tertinggi dalam NU --disebut dewan
tanfidziyah.
Muktamar NU (大会) sudah memutuskan tidak pakai lagi demokrasi one man one vote.
Keputusan diserahkan ke AHWA sembilan orang itu.
Mereka,
semuanya kiai berbintang sembilan –jauh lebih banyak dari bintang yang dimiliki
seorang jenderal. Bukan berarti tidak ada lagi kiai berbintang sembilan di luar
mereka. Masih banyak. Hanya saja mereka tidak terpilih atau tidak mau tampil.
Yang memilih
sembilan itu adalah ketua-ketua cabang NU se-Indonesia. Satu cabang mengusulkan
lima nama kiai. Tentu terserah cabang: siapa yang diusulkan.
Kata
''terserah'' itu bisa berarti ''terserah siapa yang dianggap terbaik'',
''terserah siapa yang disenangi'', ''terserah siapa yang bisa mengambil hati'',
atau ''terserah siapa yang membayar paling tinggi''. Membayar itu tidak harus
dengan uang. Bisa juga dengan jabatan atau sejenisnya.
Maka ketika
nama-nama yang diusulkan ditabulasi terkumpullah 34 nama –delapan di antaranya
hanya mendapat satu suara.
Sembilan nama
yang meraih suara terbanyak Anda sudah tahu: KH Nurul Huda Jazuli dari Kediri
mendapat 485 suara. Di bawah itu ada KH Teuku Nuruzzahri Yahya dari Beureun,
Aceh, dengan 477 suara. KH Dr Baharuddin HS dari Bone 392 suara. Urutan empat,
KH Miftachul Akhyar dari Surabaya mendapat 350 suara.
Inilah yang
membuat Anda terperanjat: ternyata KH Miftachul Akhyar yang terpilih sebagai
rais aam. Berarti ini periode kedua. Berarti ayat la miftaha wa la yahya
(Disway 28 Agustus 2026: La Hua) hanya populer tapi tidak banyak yang peduli.
Kenapa incumbent
bisa terpilih lagi banyak versinya. Ada yang menyebut itu berkat rujuknya dua
mantan ketua Gerakan Pemuda Ansor: Saifullah Yusuf dan Nusron Wahid. Dua-duanya
menjabat menteri di kabinet Presiden Prabowo.
Awalnya dua
orang itu punya misi sendiri-sendiri. Ups... Tiga orang. Satunya lagi: Muhaimin
Iskandar, ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa. Juga menteri di kabinet
Prabowo.
Terpilihnya
Rais Am Miftachul Akhyar adalah hasil kompromi tiga musuh dalam satu selimut
NU. Pun terpilihnya Gus Kikin sebagai ketua umum tanfidziyah.
Ketua umum
harus atas persetujuan rais aam yang baru. Tidak mungkin Gus Yahya terpilih
–meski ia termasuk dalam lima nama calon suara terbanyak yang diusulkan
cabang-cabang.
Anda sudah
tahu: Kiai Miftachul Akhyar, sebagai rais aam, memecat Gus Yahya sebagai ketua
umum PBNU. Sejak itu konflik di PBNU menjadi sangat terbuka dan brutal: Gus
Yahya melawan.
Jadi, bagaimana
nomor urut empat bisa terpilih sebagai rais aam?
Sumber Disway
berbeda versi. Setidaknya ada dua versi. Pertama, sama dengan Muktamar Lampung
lima tahun lalu: peraih suara terbanyak tidak bersedia jadi rais aam.
Di Muktamar 35,
KH Nurul Huda yang mendapat suara terbanyak: 485. Beliau justru
merekomendasikan KH Said Aqil Siroj, mantan ketua umum PBNU, untuk menjadi rais
aam.
Kiai Aqil Siroj
sendiri termasuk dalam sembilan nama Ahwa: nomor urut 8, mendapat 273 suara.
Tapi hanya tiga
orang dari sembilan AHWA yang mendukung Aqil Siroj. Satunya lagi adalah KH
Anwar Manshur, Lirboyo, Kediri.
Versi kedua: KH
Nurul Huda tidak mengundurkan diri. Tapi ketika pertemuan sembilan AHWA
dimulai, KH Anwar Iskandar (Al Amien, kota Kediri) berbicara: mengusulkan KH
Miftachul Akhyar menjadi rais aam. Yang lain diam atau setuju.
Di kultur kiai
tidak ada yang mau menampakkan diri sebagai orang yang berambisi. Juga tidak
ada yang mau mencalonkan dirinya sendiri.
Maka begitu
Kiai Anwar Iskandar berbicara, yang lain tidak ada yang menyanggah. Kiai Anwar
Iskandar, 76 tahun, memang berwibawa. Kiai Anwar Iskandar lebih ''bisa'' bicara
dari kiai lainnya. Saya ingat beberapa tahun lalu, ketika Kiai Anwar Iskandar
makan siang di rumah saya bersama beberapa kiai bintang sembilan Jatim lainnya:
beliau yang ambil inisiatif mulai bicara.
Ketika KH
Ma'ruf Amin mengundurkan diri sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH
Anwar Iskandar-lah yang menjabat ketua MUI yang baru. Waktu itu KH Ma'ruf Amin
harus menjadi calon wakil presidennya Jokowi.
Di pemungutan
suara AHWA sendiri KH Anwar Iskandar mendapat 326 suara (di nomor urut enam).
Tentang
terpilihnya Gus Kikin sebagai ketua umum PBNU tidak ada pro-kontra. Perolehan
suara di tingkat penjaringan pun yang terbanyak.
Terbanyak kedua
adalah KH Zulfa Mustofa dari Banten. Lalu Nusron Wahid. Gus Rozin dari Pati.
Juga ada Gus Salam dari Jombang. Masuk daftar juga Gus Saifullah ''Ipul''
Yusuf. Nusron dan Ipul gugur karena tidak boleh rangkap jabatan.
Nama lain yang
juga gugur adalah Gus Yusuf dari Jateng: dianggap belum melewati ''masa idah'':
belum setahun berhenti dari jabatan di PKB. Tapi, Gus Salam, yang pernah
dipecat oleh PBNU dinyatakan lolos syarat administrasi. Mungkin karena Gus
Salam melawan karena merasa tidak ada yang salah.
Tentang Gus
Kikin, tahun lalu pun saya sudah yakin akan terpilih sebagai ketum PBNU. Waktu
itu saya sedang di Beijing. Gus Kikin menghubungi saya. Bicara panjang. Sejak
saat itulah saya tahu: beliau siap jadi ketua umum PBNU.
Sebagai
pengusaha yang sukses, Gus Kikin akan lebih tahu bagaimana membuat uang dari
tambang batu bara milik NU yang dihadiahkan oleh pemerintah Jokowi. Gus Kikin
juga lebih sulit dimainkan. Apalagi Gus Kikin adalah kiai penerus di pesantren
kakeknya, Tebuireng: KH Hasyim Asy'ari.
Sebagai cucu
pendiri NU, tentu ia tahu tambang batu bara tidak boleh justru menghancurkan
reputasi NU.
Uang bisa
menaikkan reputasi –juga bisa menghancurkannya. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/965931/ahli-uang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar