Rabu, 24 Desember 2014

Konflik Antarkelompok

Konflik Antarkelompok

Sarlito Wirawan Sarwono  ;  Psikolog Universitas Indonesia
dan Universitas Pancasila
KOMPAS,  22 Desember 2014

                                                                                                                       


TAHUN 1950-an, seorang psikolog Amerika keturunan Turki bernama Muzafir Sherif (1906-1988) menyelenggarakan eksperimen yang sangat terkenal di dunia psikologi sosial, yaitu konflik antarkelompok. Dalam eksperimen itu, Sherif memilih secara acak 22 anak laki-laki berumur 11-12 tahun yang punya reputasi bersih (berkelakuan baik, bukan tukang berkelahi, dan lain lain).

Anak-anak itu dibagi ke dalam dua rombongan terpisah, masing-masing 11 anak, dan ditempatkan di sebuah kawasan rekreasi yang dikenal sebagai Taman Nasional Robbers Cave, di Negara Bagian Oklahoma, AS.

Di kawasan rekreasi seluas 80 hektar itu, hari-hari pertama digunakan untuk membangun jiwa korsa, tetapi kedua kelompok itu belum saling mengetahui kehadiran kelompok yang lain.

Pada hari-hari berikutnya, kedua kelompok dipertemukan dan mereka disuruh bersaing untuk memperebutkan sesuatu ala permainan Pramuka.

Tidak butuh waktu lama, kedua kelompok itu sudah saling menyindir, menghina, membanggakan kelompok sendiri, dan berujung pada bentrok fisik di ruang makan. Padahal, perlombaan belum selesai. Akhirnya, panitia memutuskan bahwa semua harus pulang.

Namun, ketika rombongan mau pulang, tiba-tiba terkendala talang air roboh (ini direkayasa oleh panitia). Bus-bus terhalang, tidak bisa masuk untuk menjemput mereka, sedangkan mereka juga tidak bisa terus tinggal di perkemahan karena tidak ada air.

Satu-satunya jalan keluar adalah kedua kelompok harus bekerja sama untuk menyingkirkan talang air yang roboh itu agar bus bisa merapat ke perkemahan dan mengangkut mereka pulang.

Yang sangat menarik dari eksperimen ini adalah bahwa setelah bekerja sama menghilangkan rintangan, kedua kelompok itu menyatu. Selama perjalanan pulang di dalam bus, mereka bernyanyi bersama-sama.

Teori konflik

Dalam psikologi sosial, eksperimen Robers Cave (arti harfiah: Goa Perampok) dari Muzafir Sherif ini menghasilkan realistic group conflict theory (disingkat RGCT) yang menjadi babon semua teori tentang konflik antarkelompok sejak pertengahan abad XX sampai sekarang.

Teori ini sangat terpercaya karena sudah diulang-ulang di sejumlah tempat dan negara, dalam kondisi-situasi yang berbeda-beda, dan hasilnya selalu sama.

Anda pun bisa mencobanya lewat permainan di acara ulang tahun atau reuni. Peserta Anda bagi secara acak ke dalam dua kelompok dan mereka disuruh bersaing untuk memperebutkan sesuatu.

Yang penting kelompok harus kompak dan jangan mau kalah dengan kelompok lain. Maka, dalam beberapa menit saja kedua kelompok sudah saling mengejek, membuat yel-yel yang menyombongkan kelompok sendiri dan melecehkan kelompok lawan.

Kesimpulannya, konflik antarkelompok bersumber pada interaksi antarkelompok itu sendiri, bukan pada orang per orang anggota kelompok itu.

Dengan demikian, RGCT mematahkan teori-teori sebelumnya yang mengatakan bahwa konflik yang agresif disebabkan oleh naluri agresi, kurang disiplin, tidak bisa mengendalikan diri, kurang sabar, bahkan ada yang mengatakan kurang iman, kurang Pancasilais, dan sebagainya yang bersumber pada diri individu (faktor kepribadian).

Konsekuensi dari teori lama ini adalah tindakan terhadap individu (biasanya disebut ”oknum”), misalnya diberi hukuman disiplin atau pidana, atau sekadar mendapat bimbingan, nasihat, atau diminta kembali ke jalan yang benar sesuai perintah agama.

Namun, umumnya pendekatan dari teori individual ini tidak pernah efektif. Menurut RGCT, konflik antarkelompok timbul sebagai akibat persaingan untuk memperebutkan hal-hal yang sifatnya langka atau terbatas dan riil (nyata), seperti sumber nafkah (duit), status sosial, dan kekuasaan politik.

Persaingan seperti ini sifatnya selalu zero-sums (hanya satu pihak yang akan keluar sebagai pemenang, pihak yang lain otomatis jadi pecundang). Itulah yang menjadi dasar dari semua konflik antarkelompok yang sejak reformasi semakin sering terjadi.

Tawuran antarkampung disebabkan oleh perebutan lahan pertanian, tawuran antarpreman karena berebut lahan parkir, tawuran siswa antarsekolah untuk membuktikan siapa yang paling bos (status sosial) di kawasan itu, dan tawuran antarkoalisi di DPR karena memperebutkan kursi pimpinan DPR. Demikian juga tawuran antara TNI dan Polri yang berulang dan berulang lagi, bahkan sejak zaman Soeharto.

Ubah pendekatan

Khususnya konflik antara TNI dan Polri tidak akan pernah selesai dan masih akan timbul di masa yang akan datang, selama pendekatan pimpinan TNI dan Polri adalah pendekatan oknum, yaitu mencari siapa yang bersalah dan menindak yang bersalah secara hukum.

Kalau mau menggunakan RGCT, pemecahannya harus diubah. Dalam eksperimen Robers Cave sudah dibuktikan bahwa konflik antarkelompok bisa selesai jika persaingan untuk memperebutkan sumber sudah hilang, dan kedua kelompok bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama atau superordinate goals.

Dalam kasus konflik TNI-Polri, misalnya, para pimpinan dapat membicarakan bagaimana mengatur pembagian sumber-sumber tidak resmi (yang walaupun tidak sesuai hukum merupakan realitas yang tidak bisa dinafikan) agar tidak terjadi konflik zero sums lagi, melainkan bisa win-win solution (menghilangkan persaingan).

Selanjutnya, perlu menanamkan superordinate goals dengan cara pihak Polri sesering mungkin melibatkan TNI dalam operasi-operasinya, baik dalam upaya preemptif (Binmas Polri melibatkan Babinsa TNI AD), preventif (patroli-patroli harian), maupun represif (Densus 88 melibatkan detasemen-detasemen sejenis di lingkungan TNI) dan seterusnya. Dengan penanganan yang tepat terhadap interaksi antarkelompok, konflik antarkelompok bisa dikurangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar