Minggu, 03 Agustus 2014

Saya Memang Teman Luhut

                                      Saya Memang Teman Luhut

Moh Mahfud MD  ;   Pakar Hukum Tata Negara
KORAN SINDO, 02 Agustus 2014
                                                
                                                                                                                                   

Kita sadar, jagat politik kerap memang liar, kejam, dan buas. Muhammad Abduh pernah berdoa, audzu billahi minas siyaasati was siyaasiyyien, “Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan politik dan politikus”.

Oleh sebab itu saat melakukan pilihan politik, mendukung Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014, saya sudah menghitung akan ada pujian dan cercaan serta serangan-serangan buas dan liar. Saat saya mengembalikan mandat sebagai Timkamnas Prabowo-Hatta, dan Prabowo menyatakan menarik diri dari proses rekapitulasi suara di KPU, muncul serangan-serangan liar. Saya sendiri mengembalikan mandat sebagai tanggung jawab moral karena ternyata gagal mengantar kemenangan Prabowo-Hatta secara mulus.

Saya tidak lagi bisa terus jadi ketua Timkamnas karena tugas sudah selesai dan ditutup dengan pengumuman pemenang oleh KPU. Saya pun tak masuk ke Tim Hukum yang akan berjuang ke MK karena ada perbedaan antara tugas Timkamnas dan Tim Hukum. Muncullah tuduhan keji. Katanya, saya diselundupkan oleh Luhut Panjaitan untuk melemahkan Prabowo-Hatta.

Alasannya, saya berteman dekat dengan Luhut, punya perusahaan bersama Luhut, bahkan ada foto saya dengan cucunya Luhut di YouTube . Saya perlu menegaskan bahwa Luhut B Panjaitan memang teman dekat saya. Saya berkenalan dengan Luhut B Panjaitan saat kami sama-sama menjadi menteri di Kabinet Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001). Setelah Gus Dur jatuh, kami sering berkumpul di rumah Pak Luhut untuk berdiskusi sambil bercanda dengan Gus Dur.

Sering hadir dalam pertemuan-pertemuan itu, antara lain Moeslim Abdurrahman dan Yenny Wahid. Kami sering mendiskusikan masalah nasionalisme dan pluralisme untuk kejayaan masa depan Indonesia. Sebagai kesan mendalam atas diskusi-diskusi itu saya pernah menulis artikel khusus di Harian Seputar Indonesia dengan judul “Kiai Luhut dan Romo Moeslim”.

Luhut yang Kristen saya panggil Kiai, Moeslim yang Islam saya sebut Romo (pastor) karena pemahaman dan penghayatannya tentang nasionalisme, pluralisme, dan toleransi. Ketika menjadi anggota DPR berdasar hasil Pemilu 2004, saya terus sibuk mengajar di berbagai kampus dan berkunjung ke berbagai daerah untuk berbagai ceramah.

Karena menurut Pak Luhut, gaji DPR tak cukup untuk seabrek kegiatan sosial dan pendidikan yang saya lakukan, maka dia menawarkan bantuan dana bulanan kepada saya untuk tiket-tiket pesawat. Saya pun menolak, karena menurut UU, anggota DPR tidak boleh menerima pemberian tanpa ikatan atau gratifikasi.

Karena Pak Luhut sangat ingin membantu maka pada tahun 2007 saya diminta bekerja sebagai komisaris di perusahaannya, yakni PT Bangun Bejana Baja (PT BBB). Anggota DPR memang tidak dilarang ikut dalam perusahaan. Dari perusahaan itu, saya mendapat gaji sekitar dua puluh juta rupiah setiap bulan, cukup untuk membeli tiket ke sana ke mari. Tetapi ketika pada tahun 2008 saya terpilih sebagai hakim MK, saya langsung mengundurkan diri dan berhenti bekerja di PT BBB.

Pasalnya, hakim MK itu selain dilarang menerima gratifikasi, juga dilarang bekerja di perusahaan. Pak Luhut tetap berusaha membantu saya dengan alasan membantu tanpa kaitan dengan tugas saya sebagai hakim, karena dia tak pernah punya perkara di MK. Tapi saya tetap menolaknya. Melalui akta notaris, saya berhenti dari PT BBB itu pada April 2008.

Selama menjadi hakim MK, saya tetap sering ke rumah Luhut, tetapi tak pernah mau menerima bantuan dana. Saat saya akan mantu dan hanya mengambil tempat di gedung Diklat MK (Bekasi), Pak Luhut menawari agar resepsi dilakukan di sebuah hotel yang bagus sebab yang akan hadir para pejabat tinggi, termasuk presiden dan wapres. Tapi saya menolaknya. Jadi, isu saya punya perusahaan bersama Luhut itu adalah cerita tahun 2007 yang sudah bubar di tahun 2008.

Saya baru bersedia lagi mendapat bantuan dari Pak Luhut setelah berhenti dari MK. Juni tahun 2013, saya diberi dua ajudan (pensiunan) Kopassus oleh Pak Luhut. Katanya saya perlu ada yang menjaga. Saya juga pernah memberi testimoni melalui video tentang Ully, cucu Pak Luhut. Beliau itu sangat cerdas dan kreatif menginspirasi anak-anak sebayanya, sehingga saya memujinya sebagai tunas bangsa yang patut ditiru oleh anak-anak lain. Testimoni yang kemudian diunggah di YouTube ini dijadikan peluru juga untuk menyerang saya sebagai orang selundupan Luhut.

Padahal, testimoni itu dibuat jauh sebelum ada pencalonan presiden. Menurut saya, testimoni itu sangat baik untuk anak kecil yang sangat kreatif. Tak banyak yang tahu, setelah saya bergabung dengan Prabowo-Hatta, dua ajudan saya yang disediakan oleh Pak Luhut mendapat teror gelap agar tak lagi mendampingi saya.

Kedua orang itu saya kembalikan baik-baik ke Pak Luhut sambil menitip agar keduanya diperlakukan dengan baik. Jadi, tak mungkinlah saya orang selundupan Luhut. Saya sendiri total bekerja di Timkamnas Prabowo-Hatta sebagai tanggung jawab pilihan politik.

Prabowo sendiri mengatakan, “Saya tahu sendiri Pak Mahfud tidak gagal, sudah bekerja siang-malam untuk Timkamnas”. Jadi, Pak Luhut itu memang teman saya. Prabowo juga teman saya. Keduanya adalah sahabat-sahabat saya dengan segala pengalaman pahit getir yang kami lalui. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar