Senin, 25 Agustus 2014

Irak Pascamelemahnya ISIS

                                      Irak Pascamelemahnya ISIS

Ibnu Burdah  ;   Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam,
Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
MEDIA INDONESIA, 21 Agustus 2014
                                                


SEIRING keterlibatan AS dalam perang melawan ISIS--yang kini bernama IS--di Irak, kekuatan negara teror itu terus melemah. Jatuhnya ibu kota `khilafah' Mosul sepertinya tinggal menunggu waktu. Kelompok itu sangat mungkin akan segera kembali menjadi kelompok gerakan radikal sebagaimana sebelumnya, bukan lagi penguasa `negara dan pemerintahan'.

Di luar fakta itu, tak banyak yang memahami adanya hikmah luar biasa besar dari kehadiran ISIS bagi Irak. Hikmah itu ialah bersatunya tiga unsur utama kekuatan Irak yang selama ini terus bertikai. Mereka adalah kelompok Syiah, Sunni, dan Kurdi. Sebelum dan ketika ISIS masih menjadi kelompok yang belum mendeklarasikan negara, masyarakat Irak masih terbelah dan terlibat konflik panjang. Sebagian kelompok Sunni condong kepada ISIS.Sementara itu, kelompok Syiah memandangnya sebagai ancaman besar. Banyak kelompok Sunni baik milisi maupun kekuatan suku bahkan sempat membantu ISIS merebut Irak Utara dari pasukan Irak.

Setelah ISIS mendeklarasikan khilafah baru yang antikemanusiaan dan profil mereka yang brutal semakin terkuak, kelompok Sunni yang semula mendukung ISIS lambat laun menjauh. Bersama momentum mundurnya PM Irak Nouri Maliki dan diganti Abadi yang lebih diterima kelompok Sunni, kelompok Sunni mulai berderap bersama kelompok Syiah dan Kurdi melawan ISIS.Mereka menyatu menghadapi ancaman yang sama. Kesatuan ini lebih awal terjadi di wilayah Anbar berkat dukungan fatwa ulama Sunni di sana untuk menghadapi ISIS.

Pascamelemahnya ISIS di Irak, konflik tajam antara kelompok Sunni dan Syiah kembali dipertanyakan. Musuh sang `pemersatu' itu tidak sekuat dulu lagi kendati belum benar-benar tumbang. Tak ada kekuatan yang memaksa mereka untuk harus bersatu seperti saat ada ancaman serius dari ISIS. Namun, situasi sekarang sedikit berbeda. Pemerintahan baru di bawah Abadi memberi harapan penting akan masa depan hubungan Sunni-Syiah di Irak. Akan tetapi, hal itu juga belum cukup untuk serta-merta menghentikan permusuhan SunniSyiah. Konflik Sunni-Syiah di Irak sudah terlalu jauh dan melibatkan dimensi kawasan yang begitu kental.

Yang lebih mencemaskan ialah kemungkinan lahirnya poros konflik baru di utara, yaitu hubungan dua kelompok tersebut atau pemerintahan baru Irak melawan suku Kurdi yang terus memperjuangkan berdirinya negara Kurdistan merdeka. Mereka sangat yakin sekaranglah momentum yang tepat untuk mewujudkan citacita panjang mereka itu.

Masalah Kurdi

Pasca-ISIS, sekali lagi isu baru di Irak yang mungkin segera membesar ialah isu Kurdi. Dalam rangka menghadapi ISIS, dukungan terhadap `tentara' Otoritas Kurdi (Peshmerga) semakin besar.Dukungan itu bukan hanya datang dari dalam negeri terutama pemerintah Irak dan mobilisasi rakyat Kurdi, melainkan juga datang dari luar negeri. Dukungan itu berasal dari beberapa negara besar yang tak bisa diremehkan terutama Prancis dan Jerman.

Persoalannya bagi masa depan Irak terletak pada aspirasi Kurdi untuk melepaskan diri dari negara tersebut dan menjadi negara merdeka. Mas'ud al-Barzani, pemimpin tradisional dan Otoritas Kurdi, berulang kali menegaskan segera mengumumkan pelaksanaan referendum dalam waktu dekat ini untuk menentukan masa depan Kurdi: apakah tetap bersatu bersama Irak ataukah akan menjadi negara Kurdistan merdeka.

Aspirasi itu gelagatnya didukung sejumlah pemimpin kawasan tersebut. Jika referendum terlaksana, negara itu menjadi negara Kurdistan pertama di Timur Tengah.Etnik Kurdi yang sangat besar mengumpul di tanah Kurdistan, relatif menyatu secara geografis, dan terkenal sebagai warga Timur Tengah paling miskin sejak lama memimpikan terwujudnya negara Kurdistan itu.

Jika itu terjadi, ini merupakan sejarah penting Irak dan Timur Tengah di saat keutuhan wilayahnya yang diiris begitu saja pada Perjanjian Sykes-Picot (1916) itu terbelah di sebelah utara.Keterbelahan itu tak menjadi persoalan besar jika seluruh proses referendum dan pembentukan negara tersebut berlangsung secara damai. Yang dikhawatirkan ialah proses itu tak berjalan mudah dan menimbulkan friksi yang keras. Warga Kurdi sudah terlalu letih dengan kemiskinan panjang dan penderitaan akibat diskriminasi sistematis dan terstruktur dari pemerintahan-pemerintahan Irak sebelumnya.

Kekhawatiran pecahnya kekerasan itu tak berlebihan.Pasalnya, kekuatan `tentara' Kurdi saat ini tak bisa lagi diremehkan. Mereka sudah memiliki pengalaman penting dalam menghadapi situasi konfl ik dan perang. Mereka juga memiliki dukungan politik dari aktor-aktor besar kawasan dan internasional yang tak bisa dianggap enteng. Turki, salah satu aktor kawasan paling menonjol, gelagatnya berada di pihak Kurdi.

Jika proses pendirian negara itu tak bisa berlangsung damai, kompleksitas konflik di Irak akan kembali bertambah. Kompleksitas itu semakin rumit lagi apabila Kurdi Suriah yang juga membentuk angkatan perang sendiri terlibat dalam upaya pendirian negara Kurdistan di negara tersebut, entah untuk mendukung negara Kurdi yang di Irak, mendirikan negara Kurdistan di Suriah sendiri, atau menggabungkan wilayah keduanya. Opsi yang terakhir tak akan mudah sebab yang mereka hadapi adalah empat negara sekaligus, yaitu tempat mereka tinggal. Kurdistan terbagi ke dalam empat negara dan semuanya di perbatasan, yaitu di Irak, Suriah, Iran, dan Turki. Kurdistan Raya pasti akan dilawan habis-habisan oleh empat negara itu.

Keterbelahan Irak di sisi utara barangkali akan sulit dihindari dalam beberapa waktu ke depan kendati sekarang telah tercapai konsensus cukup luas terhadap pemerintahan baru di bawah PM Abadi. Yang terpenting dan harapan kita ialah, rakyatlah yang menentukan masa depan mereka sendiri baik melalui referendum ataupun mekanisme demokratis yang lain jika ada. Proses itu berlangsung damai tanpa ada kekerasan yang membawa korban dan kerusakan.

Konflik dan kekerasan di Timur Tengah terbukti berpengaruh terhadap keamanan dan keislaman di Tanah Air.Persoalan di Timur Tengah itu semakin terbukti menjadi bagian dari persoalan yang nyata bagi kita bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita berharap terwujudnya perdamaian di kawasan itu. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar