Rabu, 01 Februari 2017

Melawan Racun Kebencian Trump

Melawan Racun Kebencian Trump
Shamsi Ali  ;  Imam besar Masjid New York; Presiden Nusantara Foundation
                                                    JAWA POS, 31 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SENATOR Chuck Schumer, ketua kelompok minoritas di Senat Amerika Serikat (AS), menangis dalam konferensi pers. Dia berjanji untuk melawan dan membatalkan keputusan Presiden Donald Trump melarang masuk warga dari tujuh negara mayoritas muslim. Yakni, Iran, Iraq, Syria, Yaman, Sudan, Libya, dan Somalia.

Ditandatangani pada Jumat (27/1) dan diimplementasikan pada Sabtu (28/1), aturan yang tidak terperinci itu menimbulkan kekacauan di beberapa bandara Amerika. Khususnya di New York. Ratusan pendatang dari negara-negara itu, termasuk mereka yang telah memiliki visa masuk (entry visa) ke AS dan menjadi penduduk tetap (permanent resident) atau pemegang kartu hijau, tertahan di bandara.

Pada saat yang sama ACLU, organisasi pembela hak-hak sipil, mengajukan tuntutan di Pengadilan Tinggi New York untuk membatalkan penahanan itu. Pengadilan memutuskan untuk memberikan izin masuk bagi pendatang yang tertahan di Bandara John F. Kennedy. Putusan tersebut disambut dengan gegap gempita para demonstran.

Meski tidak diakui Presiden Trump, dipahami secara luas dan nyata oleh banyak kalangan bahwa keputusan tersebut diskriminatif dan anti-Islam. Diskriminasi karena dari sekian warga negara yang pernah terlibat aktivitas teror di Amerika, Afghanistan dan Pakistan tidak masuk list. Bahkan, negara yang paling berbahaya bagi Amerika saat ini karena kemampuan mengembangkan senjata nuklir dengan jangkauan jarak jauh, Korea Utara, juga tidak masuk ke dalam daftar yang terlarang.

Kita ingat juga bahwa pelaku mayoritas serangan 9/11 pada 2001 adalah warga Arab Saudi. Tapi, kenyataannya, Saudi tak masuk list yang dilarang masuk ke Amerika. Ada yang mengira bahwa keputusan diskriminatif itu didasari kepentingan pribadi Trump. Negara-negara yang tidak masuk list, termasuk Saudi dan Mesir, memang punya hubungan bisnis.

Keputusan itu juga jelas anti-Islam. Bahkan, Trump berjanji memperluas larangan tersebut tanpa penjelasan terperinci. Boleh jadi akan ada larangan bagi seluruh muslim untuk masuk Amerika.

Apa implikasi dari keputusan itu? Yang paling saya khawatirkan, kebijakan Trump itu dijadikan justifikasi bagi pihak-pihak yang memang selama ini mencari-cari pembenaran dalam berbagai aksi teror. ISIS di Iraq dan Syria, Al Qaeda di Yaman, serta Al Shabab di Somalia. Mereka akan kembali gencar mencari target di berbagai tempat yang dianggap memiliki relasi kepentingan dengan Amerika.

Juga, jika itu terjadi, Trump kemudian akan semakin mendapatkan pula justifikasi untuk membumihanguskan semua pergerakan Islam di belahan dunia. Trump tampaknya akan membangun koalisi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghabiskan apa yang disebutnya sebagai kelompok-kelompok Islam radikal.

Hal itu akan merambah ke kebijakan domestik (dalam negeri). Sudah pasti masyarakat muslim akan menghadapi berbagai tekanan, bahkan perlakuan yang buruk. Seperti yang disuarakan Trump saat kampanye. Di antaranya, mengeluarkan ID khusus bagi masyarakat muslim dan menutup masjid-masjid radikal.

Saya khawatir racun kebencian yang ditebarkan oleh retorika kampanye Trump semakin menyebar di masyarakat luas. Lebih berbahaya lagi jika mereka yang selama ini benci terhadap Islam dan masyarakat muslim merasa telah mendapatkan justifikasi sistem. Artinya, kebencian itu bukan lagi ”kasus-kasus” di masyarakat. Tapi dianggap bagian sistem kenegaraan Amerika. Itu akan sangat runyam.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Kami tidak pernah merasa bahwa apa yang terjadi saat ini di Amerika akan menghentikan upaya kami mengenalkan Islam dan membangun komunitas Islam yang lebih solid. Bagi masyarakat muslim Amerika, salah satu kontribusi terpenting kami adalah membangun komunitas yang solid sebagai bagian dari upaya kami membawa kebaikan kepada negara ini.

Masyarakat muslim Amerika juga akan terus membangun koalisi dengan pihak-pihak yang punya kepentingan yang sama. Sungguh, terpilihnya Trump menjadi momok tersendiri bagi banyak pihak. Masyarakat muslim, African, Hispanik, Asia, LGBT, bahkan Yahudi. Masyarakat muslim harus mampu membangun koalisi dengan mereka untuk meredam dampak negatif terpilihnya Trump.

Saat ini pemerintah-pemerintah mayoritas muslim sedang diuji. Jika Trump dengan terang-terangan menyudutkan komunitas muslim, baik dalam negeri maupun luar negeri, apakah pemerintahan muslim hanya mengambil sikap ”nggak peduli” dan diam?

Tentu yang paling parah dan menyakitkan adalah ketika ada pihak-pihak dalam pemerintahan negara mayoritas muslim yang justru memuji Trump. Bahkan dengan bangga ingin membangun kerja sama bisnis. Atau, boleh jadi ke depan akan bekerja sama memerangi pergerakan Islam?

Sikap pihak-pihak tertentu yang seperti itu tidak saja menyinggung perasaan umat Islam di negara tersebut. Tapi juga masyarakat muslim dunia, khususnya di Amerika. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar