Selasa, 21 Februari 2017

Kecewa

Kecewa
Komaruddin Hidayat   ;    Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                               KORAN SINDO, 17 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Mengapa terjadi penyesalan dan kekecewaan? Karena tidak semua harapan, keinginan, dan cita-cita tercapai. Padahal keinginan seseorang tak pernah mati, bahkan tumbuh setiap hari. Makanya semakin banyak dan semakin besar keinginan, semakin besar juga potensi untuk kecewa dan menyesal dalam hidup seseorang mengingat tidak semua keinginan terwujud.

Meski tidak persis, hidup memang ada unsur gambling. Untung-untungan. Adu nasib. Sekalipun seseorang sudah berusaha, sebagaimana dalam permainan sepak bola atau kompetisi pilkada, tidak jadi jaminan target kemenangan tercapai. Rumus matematika itu tidak bisa diterapkan dalam kaidah kehidupan. Di sana banyak blind spot.

Kekecewaan dan penyesalan jika dikelola dengan baik, secara rasional dan emosional, akan menggumpal menjadi kekuatan dahsyat yang memotivasi seseorang untuk membuat loncatan hidup (quantum leap). Kekecewaan itu deposito mental sebagai pijakan meraih kesuksesan di masa depan. Berbagai cerita sukses orang besar pasti dalam hidupnya pernah mengalami kekecewaan yang amat dalam. Di antara mereka ada yang pernah tidak naik kelas karena dianggap idiot dan bodoh oleh gurunya. Padahal gurunya saja yang salah, tidak mampu melihat dan menggali bakat luar biasa yang terpendam. Ketika bakat itu tersalur, dia tumbuh menjadi orang besar karena prestasinya di atas rata-rata.

Makanya muncul ungkapan klasik, kegagalan itu kesuksesan yang tertunda. Kegagalan dan kekecewaan itu amunisi untuk membuat loncatan jauh ke depan. Kita boleh dan wajar menyesal ketika kalah dalam sebuah kompetisi akbar, tetapi jangan memenjarakan tekad untuk bangkit dan maju.

Kalau kita membaca ulang perjalanan hidup yang pernah kita lewati, potret dan pelajaran yang sangat menarik adalah sewaktu kecil belajar berdiri dan berjalan. Kita semua pernah mengalaminya, tetapi kita lupa. Kendati demikian kita bisa melihat potret diri lewat anak-anak kita yang masih kecil. Coba amati, berapa kali anak kecil terjatuh ketika belajar berjalan dan berlari. Tapi anak kecil selalu bangkit lagi dan lagi meskipun kaki lecet terbentur benda keras atau badan jatuh karena kaki belum kuat menahan berat tubuh. Anak kecil tidak putus asa dan tidak mengenal malu ketika jatuh. Kadang menangis sebentar, lalu bangkit mencoba lagi sampai akhirnya bisa.

Mengapa anak kecil cepat pandai ketika belajar bahasa? Karena tidak malu salah ketika salah berucap. Semangat, spontanitas, dan kelugasan itu cenderung menghilang ketika seseorang tumbuh dewasa atau menjadi orang tua. Makanya orang tua sulit dan lama mempelajari bahasa asing, salah satu sebabnya karena kehilangan spontanitas dan takut salah. Malu dan takut salah dalam belajar itu suatu kesalahan besar. Sepanjang tidak menyalahi hukum agama dan etika sosial, kita tidak perlu malu untuk selalu belajar.

Jangan takut salah dan mengakui kesalahan. Jangan pelit minta maaf kepada teman. Orang yang mau minta maaf dan berterima kasih itu menunjukkan kebesaran dan ketulusan jiwanya. Seseorang tak akan jatuh harga dirinya karena minta maaf. Sebaliknya justru akan mengundang respek orang lain.

Jika diingat-ingat dan dihitung, berapa banyak kita mengalami kekecewaan hidup. Mungkin terjadi dalam memilih pasangan hidup, dalam memilih pekerjaan, tempat tinggal, mendidik anak, bisnis, pergaulan sosial, pilihan politik, dan sebagainya.

Karena dalam hidup dan kehidupan kekecewaan lebih menguras energi dan berkesan mendalam ketimbang peristiwa kebahagiaan, muncul pandangan di kalangan filsuf bahwa hidup ini tak lebih sebagai rangkaian derita dan kekecewaan. Rasa senang hanyalah interval sesaat dari kekecewaan hidup yang lebih panjang dan permanen. Life is a terrible joke. Hidup itu guyon yang mengerikan.

Hal-hal yang menyenangkan cepat berlalu, bayangan derita dan kalah sudah menanti di hari tua yang ditutup dengan kekalahan melawan kematian. Berbagai ayat kitab suci juga memberikan isyarat bahwa dunia itu penuh tipuan dan keluh kesah. Makanya sebagian penduduk bumi lalu lari ke agama mencari pegangan yang menghibur dan menenangkan jiwa.

Tapi banyak pula yang melihat panggung kehidupan adalah panggung persaingan dan pertempuran. Sikap sadisme dan masokhisme telah melekat dalam diri manusia. Sadisme memberikan rasa puas ketika bisa menaklukkan orang lain sampai tak berdaya. Adapun masokhisme, semakin dirinya terluka semakin muncul semangat dan gairah hidup. Dua-duanya menempatkan panggung kehidupan sebagai ajang gladiator. To kill or to be killed. Sekejam itukah realitas hidup? Tergantung pada siapa yang menjawab pertanyaan ini.