Selasa, 21 Februari 2017

Sang Guru

Sang Guru
Trias Kuncahyono  ;    Wartawan Senior Kompas
                                                     KOMPAS, 19 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Apakah daun yang gugur dari pohon di musim salju merasa dikalahkan oleh hawa dingin?

Begitu tulis Paulo Coelho, dalam novel Manuscrito Encotrado en Accra (Manuskrip yang Ditemukan di Accra), mengutip perkataan Sang Guru ketika menjawab permintaan Yakob: ”Ajari kami tentang kekalahan.”

Kata pohon kepada daun, ”Demikianlah siklus kehidupan. Kaupikir dirimu akan mati, tetapi nyatanya kau tetap hidup di dalamku. Berkat dirimu, aku bisa bernapas dan hidup. Berkat dirimu pula aku merasa dicintai, sebab aku sanggup memberikan naungan kepada pengelana yang kelelahan. Getahmu ada di dalam getahku; kita berdua satu.”

Selain sebagai organ pemasak dan penghasil makanan bagi pertumbuhan, daun juga memiliki beberapa fungsi penting lain dalam menopang metabolisme tanaman. Fungsi daun pada tanaman tersebut, antara lain sebagai pengambil zat-zat makanan (resorbsi), penyimpanan makanan, pengolahan zat-zat makanan (asimilasi), penguapan air (transpirasi), pernapasan (respirasi), induksi bunga, organ untuk perbanyakan secara vegetatif, organ untuk perangkap serangga, dan untuk menaikkan daun.

Jelaslah dengan demikian, bahwa daun yang gugur lepas dari ranting, melayang-layang tak berdaya dipermainkan angin, dan akhirnya jatuh menyentuh bumi, bukanlah sebuah kekalahan. Ia telah berjuang keras, mengerahkan seluruh dayanya, demi keberlangsungan hidup pohon. Pengorbanan dirinya tak kepalang tanggung, warna diri yang semula hijau, berubah menjadi kuning, dan akhirnya kecoklatan.

Dalam siklus alam, demikian kata Sang Guru, tak ada kemenangan maupun kekalahan: yang ada hanyalah pergerakan. Musim dingin berjuang keras untuk mempertahankan kekuasaannya. Akan tetapi, akhirnya harus tunduk pada musim semi yang datang. Musim semi pun harus menghentikan keindahannya karena datangnya musim gugur, yang akan segera digantikan musim dingin kembali.

Demikian pula matahari. Ketika pagi hari ia terbit dari ufuk timur, dan sepanjang hari memperlihatkan keperkasaan dan kekuasaannya, menumpahkan panasnya ke bumi, pada saatnya harus tenggelam pula. Ketika senja telah tiba, ia harus tenggelam ditelan bumi, dan kegelapan yang menggantikannya. Ada bulan dan bintang tergantung di langit, tetapi mereka tidak juga mampu memberikan terang yang sempurna pada bumi. Bahkan, sinar bulan, tak mampu menembus lebatnya daun.

Itulah hukum alam: ada awal, ada akhir. Ada pagi, ada sore. Ada siang, ada malam. Semua berjalan sebagaimana waktunya, persis yang disampaikan oleh Sang Pengkhotbah. Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal; ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. Dan, ada waktu untuk berdiam diri!

Demikian pula kekuasaan. Kekuasaan itu ada batasnya. Dalam negara demokrasi, jelas, ada pembatasan kekuasaan. Secara sederhana demokrasi dapat dikatakan sebagai bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat, kekuasaan warga negara atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.

Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica (tidak lepas dari buah pikiran Baron Secondat de Montesquieu, 1689-1755, setelah membaca Magnum Opus—karya besar—John Lock, 1632-1704, yakni Two Treatises of Government yang terbit tahun 1690) yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif, dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas dan berada dalam peringkat yang sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.

Hanya saja, ini yang kerap terjadi: pemegang kekuasaan cenderung lupa diri, lupa batasan, dan yang lebih buruk adalah mabuk kekuasaan. Karena, kekuasaan memberikan peluang bagi seseorang yang memegang kekuasaan untuk mendapatkan segala-galanya dalam kehidupannya: kehormatan, status sosial, uang, dan juga kenikmatan hidup. Mungkin karena begitu sentralnya kekuasaan dalam kehidupan masyarakat, maka kekuasaan itu diburu dengan mengerahkan segala daya dan upaya, segala nalar-budinya, dan kalau perlu menghalalkan segala cara.

Ingat yang terjadi di Gambia. Yahya Jemmeh yang sudah berkuasa di negeri itu selama 22 tahun (1994-2017), lewat kudeta militer, menolak untuk turun meski kalah dalam pemilu Januari 2017. Meskipun pada akhirnya Jemmeh turun, tetapi ini memberikan gambaran betapa kekuasaan telah membuatnya lupa diri. Berbeda dengan Hillary Clinton yang kalah dalam bertarung menghadapi Donald Trump, dengan penuh kebesaran jiwa mengakui kekalahannya, dan bahkan bersama suaminya, Bill Clinton, menghadiri upacara pelantikan Trump.

Hanya mereka yang gagal mengenali kekuatannya sendiri (merasa dirinya besar, bahkan sangat besar), akan berkata, ”Aku kalah,” dan diliputi kesedihan. Begitu kata Sang Guru.