Selasa, 21 Februari 2017

Lipstik

Lipstik
Bre Redana  ;    Wartawan Senior Kompas
                                                     KOMPAS, 19 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam diskusi buku Memo tentang Politik Tubuh di Jakarta, Kamis (16/2) malam, seseorang bertanya bagaimana saya bisa produktif menulis. Saya tidak tahu harus menjawab apa karena saya bukanlah orang produktif. Sebaliknya, saya adalah orang yang lamban. Alon-alon, kata saya. Waton kelakon, ia melanjutkan sendiri sembari tertawa.
Ya, saat kebanyakan orang menjadi serba cepat dengan peranti digital, beberapa tahun belakangan saya malah kembali mencatat segala hal dengan tulisan tangan. Memo tentang Politik Tubuh itu pun sekadar sistemisasi dari catatan-catatan yang saya buat di sembarang tempat, notes, sobekan kertas, bekas bungkus entah apa, dan lain-lain. Catatan proses latihan olah tubuh bersama Guru Besar Persatuan Gerak Badan Bangau Putih Gunawan Rahardja itu kemudian saya rangkai, dan jadilah Memo tadi.

Menulis tangan-sebagaimana banyak orang lain-bukanlah hal asing bagi saya sebelum kemudian beralih ke mesin tik. Karena gerakan jari lebih cepat di mesin tik, waktu itu perlahan-lahan saya meninggalkan kebiasaan menulis tangan. Masuk era komputer dan kemudian dunia digital hampir terlupakan dunia tulisan tangan.

Kecepatan dan ilusi sensorik dunia digital belakangan menyadarkan saya, kepekaan saya terhadap sesuatu yang riil, nyata, tampaknya menjadi berkurang. Informasi terlalu cepat, membanjiri otak, termasuk dengan hal-hal yang tak kita butuhkan.

Realitas semu dunia digital tanpa kita sadari mengubah kerja saraf sampai ke neuron, sampai pada taraf kita tak bisa lagi membedakan mana real mana semu, mana benar mana bohong, mana nyata mana tidak. Moral dan etika bergeser. Orang tak lagi bisa membedakan mana benar mana salah, mana baik mana buruk. Yang dominan kemudian melankolisme: benci berlebihan, simpati berlebihan, mengiba-iba tak keruan.

Oh, mengapa jadi begini wahai teman-teman..

Otak, dengan keunggulan sekaligus keterbatasannya kehilangan keseimbangan. Ketika otak kehilangan keseimbangan hilang pula keselarasannya dengan tubuh. Giliran berikut, hilang harmoni.

Dalam dunia bahasa, bahkan mereka yang bekerja di industri di mana bahasa menjadi tumpuan utama banyak yang berbahasa dengan ceroboh. Bahasa terancam kehilangan kecerdasan dikarenakan payahnya logika dan rasionalitas. Sebabnya: otak kurang terlatih, diganti memori tiruan.

Melalui olah tubuh bersama saudara-saudara seperguruan, kami berusaha menangkap kembali sesuatu yang nyaris hilang dilibas percepatan dan ilusi dunia digital. Dengan kepercayaan bahwa tubuh inilah bukti paling empiris dari keberadaan, lewat latihan terus-menerus, kami dibawa pada paradoks gerak: yang lambat kadang bisa lebih cepat daripada yang cepat. Kecepatan bersifat relatif. Yang penting tepat.

Dengan kelambatan, kami berupaya menyelaraskan otak dengan tubuh, kalau mungkin dengan spirit, dengan jiwa. Pikiran dan tubuh saling kontrol agar tidak berpikir sembarangan, bicara sembarangan, bertindak sembarangan.

Dari tulisan tangan pula, saya menyelesaikan naskah novel percintaan, yang saat ini desain sampul dan isinya tengah digarap desainer buku yang biasa bekerja sama dengan saya, anak muda bernama Gamaliel Budiharga.

Khusus untuk sampul, karena pertimbangan artistik, ia meminta saya menulis judul dengan tulisan tangan, menampilkan sifat spontan. Memenuhi permintaannya, saya coba mencoret secara spontan. Berkali-kali saya lakukan, tidak pernah hasilnya memuaskan. Di mana spontanitas itu.. Saya menyerah.

Dia terus memaksa. Coba nulis-nya dengan lipstik, usulnya. Lipstik? Karena sifat lipstik yang lembek dan gampang patah, saya harus hati-hati. Tekanan harus ringan dan pelan-pelan. Bagaimana bisa spontan..

Yang mengagetkan, justru dengan kehati-hatian, muncul spontanitas seperti diharapkannya. Saya tahu, kalau dengan lipstik, Om menjadi sangat spontan, ucapnya tertawa. Brengsek, pikir saya.

Buru-buru saya katakan, itu lipstik istri saya. Dia tambah tertawa terbahak-bahak. Saya katakan kepadanya, sebenarnya bukan soal lipstik, melainkan ini paradoks gerak.