Selasa, 21 Februari 2017

Haus

Haus
Samuel Mulia  ;    Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                     KOMPAS, 19 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Teman saya menyemprot rekan kerjanya setelah ia kena semprot atasannya. Gara-garanya rekan kerjanya itu lupa memberi ucapan selamat ulang tahun kepada salah satu nasabah mereka yang dikategorikan super prioritas.

Apakah...?

Cerita itu langsung memberi inspirasi secara cepat di kepala. Judul yang Anda baca itu pun langsung keluar begitu saja dari kepala. Selesai mendengar ceritanya, saya jadi mikir. Kalau ada yang haus kekuasaan, ada yang haus akan perhatian. Buat saya, itu sebuah cerita menarik.

Hal yang menarik bukan soal nasabah menumpahkan kekesalannya. Kalau itu sudah terlalu basi untuk dianggap menarik. Itu sebuah pengalaman yang sudah saya alami "berjuta" kali sampai saya pernah berasumsi bahwa makin kaya seseorang, kok, sepertinya makin susah rendah hati.

Hal yang menarik adalah mengapa seseorang sampai menjadi kesal karena tak mendapat perhatian yang berasal dari luar? Kok, sepertinya perhatian yang dari dalam dirinya atau keluarganya atau pasangannya tidak cukup. Apalagi, masih haus perhatian dari orang yang sama sekali tak ada ikatan batinnya.

Bahkan, kalau masih dapat disebut ikatan batin, itu pun terjadi karena diawali hubungan nasabah dan karyawan yang melayani, apalagi kalau melihat uang yang disetor oleh seorang nasabah menggunung seperti hendak mengalahkan tingginya Himalaya.

Maka, saya kemudian berpikir, mengapa mereka masih membutuhkan perhatian dari luar, sementara di dalam rumah mereka mendapatkan sebuah ikatan batin dan perhatian yang dari hati? Maka, otak saya sebagai manusia yang tak pernah kaya raya, bahkan dikategorikan kaya saja tidak, mulai berpikir keras dan kencang setengah mati.

Apakah mungkin orang kaya raya itu selalu merasa tidak cukup? Sudah mendapat perhatian dari orang dalam dan diberikan dengan penuh cinta, tetapi masih ingin mendapat yang dari luar dan sama sekali tidak diberikan dengan cinta. Saya sampai menyimpulkan bahwa orang kaya raya itu selalu ingin menguasai, ingin memiliki lebih. Kalau bisa dapat di luar dan di dalam, mengapa harus salah satunya saja.

Apakah mungkin kehidupan orang kaya raya itu seperti cerita cliché dalam film atau serial televisi? Di mana sering kali digambarkan bahwa keadaan rumah tangga kebanyakan orang yang berpredikat kaya raya itu digambarkan dengan percekcokan suami istri atau orangtua dan anak.

"Attention seeker"

Akibat dari ketidakbahagiaan di dalam rumah, seseorang yang kaya raya itu akan mencari perhatian yang tersedia di luar. Hal itu bisa didapatinya dari teman-temannya atau dari seorang pegawai sebuah perusahaan.

Apakah selama ini saya keliru kalau berpikir bahwa orang kaya raya itu memang berbeda dalam memenuhi kebutuhannya untuk mendapat perhatian dibandingkan dengan orang yang miskin atau yang biasa-biasa saja?

Atau sejujurnya, yang membedakan kaya raya, miskin, dan biasa saja itu hanya jumlah uang yang dimiliki seseorang, tetapi pada akhirnya kita semua adalah manusia biasa yang senang untuk mendapatkan perhatian dan senang mencari perhatian.

Pada akhirnya status macam apa pun tak bisa menghindari seseorang dari tidak membutuhkan perhatian. Baik perhatian yang sederhana sampai yang berlebihan. Jadi,attention seeker itu adalah predikat semua manusia dengan status apa pun.

Dan, ketika si attention seeker ini merasa kekurangan, salah satu cara adalah mencari di luar dirinya atau di luar rumahnya. Bentuk bisa berbagai macam. Dari mengomel seperti cerita saya di atas sampai melihat dan membaca berbagai foto dan ungkapan yang diunggah seseorang di berbagai media sosial yang dimilikinya.

Pertanyaan saya terakhir, mengapa seseorang hanya untuk mendapatkan perhatian, ia menghubungkan dengan jumlah uang yang disimpannya di sebuah bank, misalnya? Kalau saya jadi nasabah kaya raya, yang saya butuhkan adalah fasilitas yang mendukung agar dana saya bisa berkembang. Saya akan mengomel kalau saya tak mendapatkan itu.

Saya tak akan mengomel karena saya tidak mendapat ucapan selamat ulang tahun hanya karena saya punya dana sekian miliar. Lagian, waktu saya hendak menyimpan dana, fasilitas utama yang diinformasikan juga bukan karena saya akan mendapat ucapan selamat ulang tahun atau boleh mengambil 10 botol minuman yang disediakan di ruang tunggu utama bagi nasabah prioritas.

Kemudian, nurani saya langsung menggelegar. "Jangan suka ngomong gitu. Elo belum pernah aja jadi nasabah prioritas. Kalau lihat elo yang sekarang miskin aja haus perhatian, uda bisa sih ngebayangin kalau elo kaya-raya."