Selasa, 21 Februari 2017

Ketahanan Ekonomi Pasca Trump

Ketahanan Ekonomi Pasca Trump
Tri Winarno  ;    Peneliti Ekonomi Bank Indonesia
                                                     KOMPAS, 18 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Perekonomian global menghadapi tantangan yang sangat berat setelah Brexit dan setelah dilantiknya Donald Trump sebagai Presiden (ke-45) Amerika Serikat. Berbagai pemangku kepentingan, seperti pelaku pasar, merasa cemas terhadap prospek perekonomian global ke depan. Namun, masih ada tanda-tanda optimisme setelah memasuki awal tahun 2017 di mana siklus ekonomi dunia mengindikasikan bahwa selama satu semester ke depan perekonomian global masih menjanjikan.

Beberapa indikator

Setidak-tidaknya terdapat enam indikator utama yang mendukung optimisme perkembangan perekonomian global ke depan tersebut.

Indikator pertama adalah data klaim jumlah penganggur setiap minggu di pasar tenaga kerja AS. Indikator tersebut merupakan penanda awal kekuatan ekonomi AS secara keseluruhan. Data pengangguran merupakan indikator jeda (lagging indicator) dari suatu perekonomian AS. Jika suatu perekonomian AS kuartal ini mengalami perlambatan, jumlah pengangguran AS akan meningkat pada kuartal berikutnya, yaitu ada jeda antara kinerja ekonomi dan jumlah pengangguran di AS. Selain itu, data pengangguran AS dapat dijadikan sebagai proyeksi perekonomian AS jangka pendek.

Data klaim pengangguran AS selalu terbarukan dan tersedia mingguan. Berdasarkan analisis, data klaim pengangguran AS merupakan leading indicator-indikator utama-harga saham AS. Secara keseluruhan data klaim pengangguran AS di bulan Januari relatif rendah dan mengindikasikan tren penurunan dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Ini diperkuat oleh membaiknya harga saham AS, baik yang dicatat oleh Dow Jones maupun oleh Nasdaq.

Indikator kedua adalah Institute for Supply Management Manufacturing Index (ISM). Indeks ini merupakan penanda kuat proyeksi perekonomian AS 3-6 bulan ke depan walaupun pangsa sektor manufaktur AS terhadap produk domestik bruto (PDB) relatif kecil dibandingkan dengan sektor utama lainnya. Jika indeks ini meningkat, dapat dipastikan kinerja perekonomian AS kuartal depan akan membaik. Seiring dengan klaim jumlah pengangguran yang menurun, data ISM AS ikut memperkuat optimisme pemulihan ekonomi AS.

Indikator ketiga adalah data subkomponen dari survei ISM, yaitu data jumlah pesanan baru produk manufaktur beserta inventorinya. Pada Januari 2017 terjadi peningkatan jumlah pesanan baru untuk produk manufaktur di AS di tengah-tengah jumlah persediaan yang relatif rendah. Ini mengindikasikan akan terjadi tambahan produksi untuk masa-masa mendatang dalam memenuhi pesanan tersebut yang berarti akan terjadi akselerasi aktivitas ekonomi AS.

Indikator keempat adalah rasio belanja eceran terhadap produksi industri di China. Angka ini dapat digunakan sebagai penanda siklus kecenderungan perekonomian dan indikator perubahan struktural perekonomian China dari ekspor ke konsumsi domestik, dari outward looking ke inward looking economy. Ini merupakan salah satu indikator penting, baik bagi perekonomian China maupun bagi perekonomian global ke depan.

Walaupun rasio belanja eceran terhadap produksi industi terlihat tak menentu, kecenderungannya semakin meningkat sejak krisis keuangan global tahun 2008. Ini menunjukkan bahwa belanja konsumsi masyarakat China masih tetap kuat di tengah penurunan output industrinya.

Indikator kelima adalah data perdagangan internasional Korea Selatan yang secara konsisten dilaporkan pada hari pertama setiap awal bulan tercepat dibandingkan dengan negara-negara lain. Korea Selatan adalah suatu negara dengan perekonomian terbuka dan punya partner dagang dengan negara-negara di seluruh belahan dunia. Partner dagang utamanya terdiri dari AS, China, Jepang, dan Uni Eropa sehingga data perdagangan internasional Korea Selatan dapat digunakan sebagai indikator kinerja perdagangan global.

Setelah ada kecenderungan menurun beberapa tahun terakhir, data perdagangan Korea Selatan menunjukkan tandatanda pemulihan sejak November 2016, khususnya pertumbuhan ekspornya; dan pada Januari 2017 mengalami peningkatan sangat signifikan. Dengan memperhatikan data perdagangan Korea Selatan, optimisme kinerja perekonomian global dipastikan masih bertumbuh.

Mencermati data perdagangan Korea Selatan tersebut, bisa jadi perlambatan perdagangan global akhir-akhir ini adalah suatu fenomena temporer. Penyebabnya berbagai faktor yang di antaranya bersumber dari krisis Uni Eropa yang berkepanjangan, penurunan tajam harga komoditas, perlambatan tajam ekonomi Brasil, Rusia, dan emerging economies lainnya; serta regulasi yang ketat terhadap perbankan internasional yang menghambat pembiayaan transaksi perdagangan global. Jika fakta ini valid, sebenarnya ekonomi global sedang mengarah pada pemulihan seandainya tidak direcoki oleh Trumponomics.

Memasuki fase pemulihan

Indikator terakhir adalah Ifo Business Climate Index bulanan untuk perekonomian Jerman. Data ini dapat digunakan sebagai indikator siklus perekonomian Eropa secara keseluruhan, mengingat Jerman adalah pusat dari perekonomian Eropa. Jika indeks ini meningkat, dapat dimaknai perekonomian Uni Eropa secara keseluruhan mengalami peningkatan. Survei Ifo mencatat bahwa sejak semester II tahun 2016, angkanya telah menunjukkan kecenderungan yang meningkat.

Mencermati enam indikator utama di atas, secara keseluruhan sebenarnya perekonomian global telah mengarah pada fase pemulihan walaupun di tengah-tengah proses tersebut dibayang-bayangi oleh konsekuensi negatif dari Brexit dan Usxit. Dan, berdasarkan pengalaman masa lampau, keenam indikator tersebut telah mengirim sinyal bahwa satu semester ke depan perekonomian global akan mengalami peningkatan kinerja yang signifikan. Namun, kepastian proyeksi dan optimisme tersebut masih bergantung pada seberapa besar badai proteksionistik Trump, implementasi Brexit, dan pemilu presiden di Perancis pada Juni 2017 akan menghambat laju pemulihan perekonomian global.