Anak-anak Abraham
Trias Kuncahyono ;
Wartawan
Senior Kompas
|
KOMPAS,
05 April 2015
Apakah agama mengajarkan kekerasan? Apakah kekerasan dengan
alasan tertentu dibenarkan agama? Apakah kekerasan atas nama agama bisa
diterima? Apakah kekerasan yang disebut-sebut atas nama agama benar-benar
berlatar agama? Masih banyak pertanyaan lain yang bisa diajukan berkaitan
dengan kekerasan dan agama.
Ada banyak jawaban atas pertanyaan tersebut. Tetapi, ”Seorang
mistikus mengatakan, The heart of
religion is the religion of the heart. And the heart of the heart is peace
and love. Seseorang akan dikatakan memahami dan menghayati agama, jika
hatinya telah dipenuhi oleh cinta yang datang dari Tuhan Mahakasih, sang
penebar cinta. Karena cinta Tuhanlah semesta ini ada dan dengan cinta, maka
kehidupan ini akan menjadi indah. Bukankah kebencian dan peperangan membuat
hidup menjadi pengap dan menyiksa.” Demikian tulis Komaruddin Hidayat dalam
prolog untuk buku Jerusalem 33,
Imperium Romanum, Kota Para Nabi, dan Tragedi di Tanah Suci (Trias Kuncahyono, 2011).
Januari tahun lalu, harian The
Telegraph memberitakan, konflik agama di seluruh dunia meningkat. Berita
itu dikutip dari laporan Pew Research
Centre. Menurut lembaga riset itu, kekejaman dan diskriminasi terhadap
kelompok-kelompok agama oleh pemerintah dan agama lain mencapai tingkat baru
di semua wilayah di dunia. Sikap permusuhan sosial, seperti penyerangan atau
tekanan terhadap kelompok minoritas terjadi di sepertiga dari 198 negara di
dunia, terutama di Timur Tengah dan Afrika Utara. Terorisme yang berkaitan
dengan agama dan kekerasan sektarian terjadi di seperlima dari 198 negara
yang disurvei pada 2012. Hampir 30 persen dari negara-negara itu juga
memberlakukan pembatasan hukum untuk beribadah dan berkhotbah.
Sepak terjang kelompok Boko Haram di Nigeria, sekadar menyebut
sebagai contoh. Menurut Council on
Foreign Relation’s Nigeria Security Tracker (NST), antara 29 Mei 2011-30
Juni 2013, terjadi 785 konflik sektarian di Nigeria. Antara Januari dan Juni
2013 saja, 481 orang tewas terbunuh dalam konflik etnik dan ekonomi
berdimensi agama. Boko Haram mengklaim telah membunuh lebih dari 10.000 orang
sejak 2009.
Apa yang terjadi di Irak bagian utara dan Suriah yang diduduki
dan dikuasai kelompok bersenjata NIIS tidak jauh berbeda. Sejak Juni hingga
Oktober 2014, tercatat 600.000 hingga satu juta warga Irak terpaksa
meninggalkan kampung halaman demi keselamatan mereka, termasuk kelompok
minoritas Kristen di Mosul dan di desa-desa sekitar Niniveh; kaum Yazidi,
Kurdi, Muslim yang tidak sepaham dengan NIIS. Menurut data PBB, 3,1 juta
pengungsi kini tinggal di berbagai tempat di Timur Tengah, atau bahkan keluar
dari wilayah itu. Sekitar 191.000 orang Suriah tewas dibunuh dalam tiga tahun
perang saudara (majalah WORLD, 15 Oktober 2014).
Kekerasan sektarian juga terjadi di Pakistan. Menurut Pakistan
Institute for Peace Studies, selama 2013, terjadi hampir 1.200 pembunuhan
sektarian dan lebih dari 80 orang Kristen tewas dalam dua kali bom bunuh diri
di sebuah gereja di Peshawar. Tragedi serupa juga terjadi pada tahun 2014 dan
2015. (Weekly Insight and Analysis In
Asia, 6 Agustus 2014).
Benarlah kiranya
bahwa agama, seperti dikemukakan oleh Haryatmoko (Etika Politik dan
Kekuasaan), sering tampil dalam dua wajah yang saling bertentangan. Dari satu
sisi, agama merupakan tempat orang menemukan kedamaian, kedalaman hidup, dan
harapan yang kukuh. Di lain sisi, agama sering dikaitkan dengan fenomena
kekerasan, di banyak negara, termasuk di Indonesia.
Namun, seperti dikemukakan oleh tokoh terpelajar Muslim Turki, M
Fethullah Gulen, adalah tidak adil menyalahkan agama hanya berdasarkan
kesalahan sebagian umatnya (Anak-anak Abraham, Kebebasan dan Toleransi di Abad Konflik Agama, ed
Kelly James Clark, 2014). Bila demikian, benar pula yang dikatakan oleh
Jean-Jacques Rousseau (1712-1778). Filsuf di masa Pencerahan ini mengatakan, ”Segala-galanya adalah baik, sebagaimana
keluar dari tangan Sang Pencipta; segala-galanya memburuk dalam tangan
manusia.” Demikianlah wajah ”anak-anak Abraham” di zaman kini. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar