Para Penulis di Balik Bongkahan Koral
AS Laksana ; Sastrawan, Pengarang, Kritikus Sastra
yang dikenal aktif menulis di berbagai media cetak nasional
di Indonesia.
|
JAWA
POS, 06 April 2015
TANPA memperhitungkan faktor
kemalasan diri sendiri, pada suatu siang, tiba-tiba terlintas dalam benak
bahwa tampaknya lebih baik saya menjadi penulis kritik sastra saja. Saya
pikir, ini urusan yang besar manfaatnya. Kita tidak lagi memiliki orang
seperti H.B. Jassin dan A. Teeuw yang tekun mengikuti perkembangan kesastraan
dan rajin menyampaikan pemikiran mereka tentang karya-karya para penulis.
Bahasa Indonesia, kita tahu,
digunakan hanya oleh orang-orang di negara kepulauan ini. Di luar sana, orang
menggunakan bahasa mereka masing-masing. Mereka tidak akan berkomunikasi
dalam bahasa Indonesia, tidak akan membaca buku-buku berbahasa Indonesia,
tidak akan peduli terhadap karya-karya para pengarang Indonesia. Sama belaka
dengan kebanyakan orang Indonesia yang tidak akan peduli terhadap karya-karya
para penulis dari Botswana atau karya sastra dari Kepulauan Faroe atau dari
Negeri Bonga.
Mungkin ada satu dua orang di
antara kita yang ingin tahu seperti apa karya-karya terbaik dari Botswana
atau Negeri Bonga. Maka orang itu akan mencari sedapat mungkin ulasan yang
pernah ditulis orang tentang perkembangan kesastraan di kedua negara itu,
demi menemukan judul buku paling fenomenal, atau untuk menemukan nama
sastrawan paling berpengaruh, atau mengenali tema-tema apa yang banyak
digarap di sana, atau untuk menemukan sejumlah fenomena penting lainnya dalam
kesastraan di sana. Kita perlu pintu masuk untuk memahami dunia yang kita
ingin kenali.
Saya bayangkan seperti itu juga
dengan orang-orang dari luar sana yang memiliki minat terhadap sastra
Indonesia. Mereka mula-mula akan mencari tulisan tentang sastra Indonesia
terkini, atau karya sastra yang ditulis sepanjang kurun waktu tertentu, dan
mengenal nama-nama pengarangnya. Jika mereka tidak mendapatkan ulasan-ulasan
yang memadai, mereka akan mencari tahu melalui figur yang mereka kenal di
dalam jaringan pertemanan mereka dan mereka anggap sebagai sosok penting
dalam sastra Indonesia. Maka, politik perkoncoan bekerja.
Dan politik perkoncoan adalah
risiko yang harus kita tanggung ketika kita tidak memperkenalkan karya-karya
terbaik para penulis kita dan tidak ada orang yang betul-betul mengikuti
perkembangan kesastraan secara tekun, menulis kritik, dan mencatat
pencapaian-pencapaian para penulis. Anda tidak mungkin merekomendasikan
nama-nama yang tidak Anda kenal. Seseorang yang membangun jaringan dengan
orang-orang di luar negeri tentu akan menyodorkan konco-konconya sendiri
lebih dulu sebagai penulis-penulis terdepan yang layak diperkenalkan kepada
khalayak pembaca di luar sana.
Apa boleh buat, itu situasi
yang hanya bisa kita terima. Jika kita marah-marah, mereka hanya akan
menganggap kita anjing menggonggong. Mereka kafilah yang tak peduli dan akan
terus berlalu ke arah yang mereka tuju.
Lintasan-lintasan pikiran
semacam itu, yang bisa datang sembarang waktu, kadang-kadang bisa segera saya
lupakan, namun sering juga menjadi gangguan dalam waktu lama. Pikiran, Anda
tahu, adalah makhluk yang bisa berbuat semaunya. Jika kita tidak
mengendalikannya, ia bisa membawa kita mengembara ke mana pun ia suka.
Pikiran bisa juga menjadi monster ganas yang menyandera kita dan akan membuat
kita terus berkubang pada kesedihan, kepahitan, dan mendorong kita meyakini
bahwa kita sedang memikul seluruh jenis penderitaan di muka bumi.
Dorongan selintas untuk menjadi
penulis kritik itu kemudian memunculkan konsekuensi lanjutan. Itu berarti
saya sebaiknya tidak usah menulis cerita. Kalau saya masih menulis cerita,
mungkin saya tidak akan bisa menjadi penulis kritik yang lebih tekun. Selain
itu, saya akan dianggap bus kota yang ugal-ugalan dan suka menyerempet-nyerempet
bus kota lain. Selama ini, dengan risiko dianggap sebagai bus kota yang
ugal-ugalan, saya sesekali mengulas karya penulis lain.
Saya kira tidak akan menjadi
masalah sekiranya saya berhenti menulis cerita.
Masih banyak di negara ini
orang-orang yang ingin menulis karya sastra. Mereka ada di mana-mana dan kita
bisa menjumpai para penulis itu di sembarang tempat. Di gerumbul semak-semak,
Anda bisa menjumpai penulis berbakat. Di lumbung penyimpanan gabah kering,
Anda bisa menjumpai penulis berbakat lainnya. Di balik bongkahan batu koral,
Anda bisa menemukan seseorang tengah menulis puisi atau mengarang cerita.
Orang-orang yang tidak kita
kenal, yang sama-sama berbelanja mi instan di supermarket kecil seberang
jalan, beberapa di antara mereka mungkin penulis. Ibu-ibu yang memarahi
anaknya sampai si anak menangis tersengal-sengal dan mengantuk sangat mungkin
adalah kolega, sesama penulis.
Tapi, dengan perasaan yang
tidak enak, saya terpaksa menyampaikan, meskipun jumlah mereka sangat banyak
dan ada di mana-mana, saya tidak yakin kebanyakan di antara mereka memiliki
ketekunan untuk belajar menulis secara sungguh-sungguh, baik untuk
menghasilkan karya populer maupun karya sastra.
Teman saya, editor sebuah
penerbitan, suatu hari cengar-cengir sambil memperlihatkan kepada saya naskah
novel yang sama tebalnya dengan bantalan rel kereta api. Penulisnya datang ke
kantor redaksi dan membuat presentasi tentang novel yang baru saja dia
serahkan kepada penerbit. Sesudahnya, mereka bercakap-cakap sebentar dan membicarakan
buku-buku dan penulis itu mengakui tidak pernah membaca buku.
Itu satu sampel. Ditambah empat
orang yang pernah membuat pengakuan serupa kepada saya, jumlah penulis atau
calon penulis berbakat yang tidak membaca satu buku pun kini menjadi lima.
Tiga di antara lima orang itu takut karya mereka menjadi tidak orisinal jika
mereka membaca buku orang lain. Itu yang saya ketahui. Yang tidak saya
ketahui lebih banyak lagi.
Dalam bahasa Inggris, kita bisa
menjumpai banyak buku teknik menulis, mungkin sudah ada ribuan judul, dan
mereka telah membahas sampai hal-hal terkecil dalam penulisan. Buku-buku
semacam itu tidak banyak dalam bahasa Indonesia. Ada beberapa judul dan
separonya terasa seperti buku-buku pembangkit kepercayaan diri, yang
menyampaikan kepada pembaca bahwa menjadi penulis sama sekali tidak
memerlukan bakat, atau siapa pun bisa menjadi penulis hebat, atau siapa pun
besok pagi bisa menjadi penulis genius.
Mungkin untuk menjadi penulis
(cerita) yang hebat atau genius, seseorang memang tidak memerlukan bakat apa
pun. Mereka hanya memerlukan, antara lain, (1) kecakapan menulis; (2)
kemampuan bercerita; (3) pemahaman yang memadai tentang seperti apa tulisan
yang baik dan seperti apa tulisan yang buruk; (4) kecakapan berbahasa,
memilih kata, dan menyusun kalimat; (5) pengetahuan yang baik tentang
unsur-unsur penceritaan; (6) tahu cara menulis dialog yang bagus; (7) tahu
cara menciptakan tokoh yang menarik; (8) kemampuan menyunting tulisan
sendiri; (9) pengetahuan tentang cara mengatur ritme cerita; (10) dan
lain-lain.
Jika Anda memiliki pemahaman
mendalam tentang manusia, itu lebih baik. Jika Anda kurang memahami watak
manusia, Anda bisa membaca karya-karya Shakespeare. Pak Pujangga Inggris itu
telah menciptakan lebih dari 1.200 karakter melalui seluruh karyanya. Dalam
bukunya yang berjudul Shakespeare: The Invention of the Human, kritikus
sastra Harold Bloom menulis: ''Tidak ada orang lain, baik sebelum maupun
sesudah Shakespeare, yang menciptakan begitu banyak karakter.'' Bloom
menyebutnya sebagai penemu manusia dan orang yang telah mengubah teknik
penceritaan. Shakespeare telah mengubah cara karakter-karakter itu
dipresentasikan.
''Tokoh-tokoh cerita sebelum
Shakespeare relatif tidak mengalami perubahan,'' tulis Bloom. ''Para
perempuan dan lelaki memang ditampilkan menua dan sekarat, tetapi tidak
mengalami perubahan yang disebabkan relasi mereka dengan diri sendiri. Dalam
Shakespeare, tokoh-tokoh mengalami perkembangan dan tidak sekadar dituturkan,
dan mereka berkembang karena memikirkan kembali tentang diri mereka
sendiri.''
Bloom menyarankan, jika Anda
ingin memahami manusia, dan memahami bagaimana karakter-karakter itu
ditampilkan serta berkembang di dalam cerita, bacalah Shakespeare sebulan
satu. Tapi, sialnya, membaca Shakespeare sulit sekali dan bahasa Inggrisnya
akan membuat kepala kita melintir. Hanya jika memiliki kesungguhan untuk
belajar menulis, Anda akan tahan membacanya.
Saya pikir akan sangat
menyenangkan untuk mengulas karya-karya yang ditulis oleh mereka yang selalu
berusaha meningkatkan pengetahuan dan kecakapan menulis. Pada saat itu, saya
ingin betul-betul menjadi kritikus saja dan memperkenalkan dengan rasa
gembira karya-karya para penulis yang berdiam di balik semak-semak, atau
hanya bercokol sepanjang hayat di balik bongkahan batu koral. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar