Sabtu, 11 Juli 2015

Mari Becermin dari Yunani (2)

Mari Becermin dari Yunani (2)

   Dahlan Iskan  ;  Mantan CEO Jawa Pos
                                                         JAWA POS, 09 Juli 2015        

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Krisis Yunani berkembang menjadi sentimen antarbangsa. Jerman menjadi bulan-bulanan di Yunani. Sebaliknya, Yunani juga jadi bulan-bulanan di Jerman.

’’Jangan ada miliar-miliar lagi untuk Yunani,’’ bunyi poster yang dibawa pendemo di Jerman.

’’Merkel itu Hitler baru,’’ bunyi poster di Yunani.

Rakyat Jerman yang dikenal sebagai pekerja keras tidak rela kalau negaranya terus mengutangi Yunani. Dari USD 360 miliar utang Yunani, yang terbesar berasal dari Jerman. Mereka menilai rakyat Yunani, khususnya pemerintahannya, kurang sungguh-sungguh bekerja. Enak-enakan menikmati utang. Lalu tidak mau bayar utang. Bahkan minta utang lagi. Elite politiknya lebih suka politik-politikan, kurang mau bekerja dan bekerja.

Sebaliknya, Yunani menilai Jerman terlalu mendikte Yunani. Mentang-mentang Jerman kaya. Mentang-mentang memberi utang. Padahal, utang itulah yang mengakibatkan Yunani sengsara. Diincrit-incrit. Tidak secara tuntas menyelesaikan persoalan.

Syaratnya pun memberatkan. Mencekik. Menjajah. Kemarahan rakyat Yunani itu tecermin dalam hasil referendum yang 62 persen memilih ’’YA’’ dalam hatinya untuk mendapatkan utang baru, tapi memilih ’’TIDAK’’ waktu mencoblos, untuk menolak syarat-syarat utang itu.

Seandainya Jerman membalas referendum Yunani itu dengan referendum di Jerman, hasilnya akan sebaliknya. Kalau rakyat Jerman disodori pilihan ’’YA’’ (memberi utang lagi) atau ’’TIDAK’’ (jangan memberi utang lagi), maka dipastikan 90 persen akan memilih ’’TIDAK’’.

Opini rakyat Jerman yang seperti itulah yang membuat pemimpin Jerman Angela Merkel tidak mudah menyetujui permintaan baru Yunani: (1) kucurkan segera dana darurat untuk mempertahankan hidup di Yunani selama empat bulan, (2) siap dana sebagai utang baru untuk pemulihan ekonomi selama dua tahun ke depan, (3) potonglah utang lama sebanyak 30 persen, (4) semua utang itu baru mulai dicicil 20 tahun lagi.

Selasa lalu, seluruh menteri keuangan Uni Eropa sudah kumpul secara mendadak di Brussel. Tapi, karena belum ada usulan tertulis dari Yunani, pertemuan itu hanya bicara ngalor-ngidul. Ada yang bicara: Sudahlah, amputasi saja, biarkan Yunani keluar dari Uni Eropa.

Ada yang bicara melankolis: Baiknya Yunani ditolong sekali lagi. Ingatlah, Jerman juga pernah menikmati pemotongan utang besar-besaran pada masa lalu. Mereka mengingatkan tanggal 27 Februari 1953, setelah Hitler takluk dan Jerman dalam krisis, Jerman mendapat potongan utang 50 persen. Berkat potongan utang itu, Jerman mampu membangun ekonominya. Lalu menjadi negara maju seperti sekarang.

Dengan hasil referendum itu, kata mereka, rakyat Yunani ibaratnya sudah menempelkan moncong pistol ke pelipis mereka. Jangan sampai kita memutuskan hari ini untuk menyuruh mereka menarik pelatuknya. Dari hasil pertemuan kemarin, nasib pelatuk itu ditentukan dalam rapat terakhir hari Minggu depan. Yakni, oleh 28 kepala pemerintahan seluruh Uni Eropa.

Turisme di Yunani, kata mereka, masih bisa diandalkan. Tiap tahun 22 juta turis berlibur ke Yunani. Di antaranya khusus untuk melakukan pernikahan di Pulau Santorini yang eksotis. Tahun ini, kalau tidak ada yang batal, sebanyak 2.500 pasangan ingin menikah di pulau itu. Termasuk banyak juga yang dari Jerman.

Bahwa sentimen rakyat Yunani kini lebih fokus pada Jerman, itu juga dilatarbelakangi sentimen masa lalu. Jerman dianggap pernah menjajah Yunani. Rakyat Yunani merasa pernah mengalahkan Jerman pada masa penjajahan. Termasuk kepahlawanan mereka saat membebaskan diri dari penjajahan Turki pada zaman Usmani. Rasa kepahlawanan mereka terusik sekarang. Yunani adalah pemimpin dunia di segala bidang pada masa lalu.

Selalu saja politik, sentimen nasionalisme, harga diri, rasa kebesaran masa lalu, dan sebangsa itu punya peran penting yang memengaruhi tidak berjalannya teori-teori ekonomi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar