Jumat, 03 Juli 2015

Muazin dari Makkah Darat

Muazin dari Makkah Darat

   Fajar Riza Ul Haq  ;   Direktur Eksekutif Maarif Institute
KOMPAS, 03 Juli 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ahmad Syafii Maarif genap berumur 80 tahun pada 31 Mei lalu. Bersyukur beliau masih dikaruniai kesehatan dan energi kecendekiaan yang prima. Tidak banyak warga senior bangsa, seperti Buya Syafii, begitu panggilan akrab untuknya, di negeri ini: fisik segar-bugar dan tetap produktif menulis; masih rutin melakukan perjalanan menggunakan pesawat sendirian rute Yogyakarta-Jakarta; tak jarang terbang memenuhi undangan ke kota-kota di luar Jawa, bahkan ke luar negeri, yang sebenarnya sangat melelahkan untuk orang seusianya. Mau tahu makanan favorit putra kelahiran Sumpur Kudus, "Makkah Darat" ini? Tengkleng dan sate kambing!

Beliau nyaris tidak pernah memberikan kesempatan orang lain membawakan tasnya. "Memang Anda pikir saya sudah tidak mampu bawa sendiri?" sergahnya saat ada yang coba-coba membantu membawakannya.

Salah satu ungkapan syukur atas karunia usia panjangnya itu adalah sumbangan tulisan belasan intelektual yang bermuara pada penerbitan buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat: Biografi Intelektual Ahmad Syafii Maarif, (Serambi & Maarif, Juni 2015). Biografi intelektual ini merupakan apresiasi dan dukungan para kontributor terhadap pemikiran-pemikiran Buya Syafii dalam bentuk ulasan, pendalaman, kritik, bahkan pengembangan topik-topik yang belum banyak disentuhnya.

Buku ini mengurai relevansi gagasan-gagasan solutif maupun kritis mantan Ketua PP Muhammadiyah ini ketika dihadapkan pada problematika kebangsaan dan kenegaraan. Sosok Buya Syafii, menurut Noorhaidi Hasan, adalah seorang intelektual Muslim Indonesia par exellence yang menekankan semangat moral Islam dalam bernegara.

Mengikuti lika-liku perjalanan hidupnya hingga saat ini, guru besar (emiritus) sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta ini telah mengalami transformasi radikal, utamanya dari sisi spektrum pemikiran dan radius pergaulan. Mulai dari seorang puritan pengagum Al Maududi yang memimpikan negara Islam, pendukung fanatik Partai Masyumi, dan mencurigai proyek "salibisasi" di balik upaya-upaya penghancuran umat Islam; hingga akhirnya meyakini tidak ada kewajiban mendirikan negara agama dan menjadi penganjur setia Negara Pancasila yang senapas dengan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil 'alamin.

"Kalau aku mengatakan bahwa Islam merupakan pilihanku yang terbaik dan terakhir, hak sama harus pula diberikan secara penuh kepada siapa saja yang mempunyai keyakinan selain itu," tulisnya dalam Memoar Seorang Anak Kampung (2013).

Jihad kebangsaan

Sebagai penduduk mayoritas di negeri ini, masyarakat Muslim memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan cita-cita keadilan sosial segera terwujud tanpa pilih kasih. Sudah sejak merdeka, sila ke-5 Pancasila itu jadi yatim piatu. Kegelisahan Buya Syafii ini mendeterminasi dirinya sangat keras menentang praktik- praktik korupsi, mafia pengadilan, mafia pangan, dan realitas kesenjangan pendapatan yang kian dalam. Faktanya, kemiskinan terus mencengkeram sebagian besar anak bangsa. Ketidakadilan ekonomi makin menggurita.

Namun, Buya Syafii tak lelah melakukan jihad kebangsaan, meski harus berhadapan dengan tembok kepentingan-kepentingan elite politik, oligarki partai, bahkan para pemburu rente. Ia pun tak jenuh mengingatkan masyarakat Muslim agar terus berbenah meningkatkan kualitasnya ketimbang terobsesi dengan penambahan kuantitas karena bisa seperti buih di lautan.

Pembelaannya terhadap agenda pemberantasan korupsi sangat terang-benderang. Korupsi hulu dari kemiskinan. Saat mencuat pro-kontra pelantikan Budi Gunawan sebagai Kepala Polri, Buya Syafii salah satu tokoh yang paling vokal menolak. Banyak pihak mempertanyakan bahkan mencibir sikapnya yang cenderung membela Presiden Joko Widodo ketika bersikukuh bahwa Budi Gunawan tidak akan dilantik sesuai pembicaraannya dengan Jokowi via telepon. Suara-suara yang tidak setuju menyayangkan posisi Buya Syafii yang seolah- olah bertindak sebagai "bemper" pemerintah.

Kekecewaan sebagian besar warga Muhammadiyah terhadap Jokowi-JK yang tidak mengakomodasi kader Muhammadiyah dalam Kabinet Kerja tidak memengaruhi kejernihan seorang Buya Syafii di tengah gejolak polemik Polri-KPK. Dalam satu kesempatan, penulis menanyakan persoalan ini kepada Buya. "Ini semata-mata demi KPK, satu-satunya lembaga yang masih dipercaya publik untuk memberantas korupsi", ujarnya.

Figur Buya Syafii sudah tak terpisahkan lagi dari arus gerakan masyarakat sipil yang memperjuangkan keadaban publik dan pelembagaan prinsip-prinsip keadilan dalam tata pemerintahan. Mungkin agak berlebihan, beragam kalangan mendaulatnya sebagai simbol dari jangkar moralitas publik. Oleh karena itu, guru besar etika Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Alois A Nugroho, menyebut sosok Buya Syafii sebagai seorang "muazin moralitas bangsa" (Juni, 2015). Mengapa? Itu karena Buya Syafii tak lelah berseru-seru kepada politisi dan birokrat negara agar menjauhi mentalitas "thugocracy"(maling/pancilok dalam bahasa Minang).

Secara harfiah, muazin adalah sang pengingat. Ia berseru-seru tiada lelah mengingatkan orang- orang untuk menunaikan shalat dan menggapai kebahagiaan. Jika diterapkan dalam konteks kehidupan berbangsa, muazin dapat dimaknai sebagai seseorang yang konsisten menyuarakan nilai-nilai moralitas dan keadaban publik serta mengingatkan penguasa dan segenap warga negara untuk terhindar dari perilaku-perilaku mungkar (buruk) yang destruktif, yang jauh dari rasa keadilan.

Menurut hemat penulis, ada titik temu-bahkan saling bersenyawa-antara spirit seorang muazin dan pesan historis dari "Makkah Darat", julukan kampung kelahiran Buya Syafii di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Frasa "Makkah Darat" sendiri berasal dari sejarah Minangkabau era Islam yang sudah tertimbun debu sejarah selama ratusan tahun. Makkah Darat, ungkap Buya dalam otobiografinya, merepresentasikan simbol pusat Islam di pedalaman Minang yang memiliki sejarah panjang dalam proses pergumulan Islam dengan kultur Hindu-Buddhis.

Istilah ini melambangkan gerak perlawanan terhadap budaya hitam yang dikuasai para parewa (preman), yang masih berlangsung hingga era Islam, bahkan sampai sekarang. Spirit Makkah Darat adalah budaya perlawanan terhadap pelbagai budaya yang mendegradasikan martabat manusia dan mengorupsi rasa keadilan.

Saat bertemu Gubernur DKI Jokowi pada 1 Agustus 2013 di Maarif Institute, secara khusus Buya menanyakan pandangan sang tamu terkait budaya mafia di kalangan birokrasi yang berkroni dengan politisi busuk dan pengusaha-pengusaha hitam. Seingat penulis, jawaban Jokowi cukup standar. Praktik kotor semacam itu harus diberantas. Dan kini kita semua tahu, Presiden Jokowi berulang-ulang mendeklarasikan komitmennya perang melawan mafia bisnis, tetapi masih belum terlihat kebijakan-kebijakan radikal yang terukur.

Lazimnya seorang muazin yang tak peduli siapa pun imamnya, Buya Syafii akan selalu tetap menyuarakan hal-hal yang diyakininya benar. Tidak akan pernah berkompromi terhadap kemungkaran politik dan praktik-praktik kumuh bernegara yang sudah terbukti memunggungi nilai-nilai luhur Pancasila. Menyaksikan Tanah Air-nya disinari keadilan dan dinaungi kesejahteraan akan menjadi kado terindah Buya Syafii di usia magribnya. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar