Rabu, 08 Juli 2015

Hari Kemerdekaan (Terakhir Saya) di Indonesia

Hari Kemerdekaan (Terakhir Saya) di Indonesia

   Joaquin F. Monserrate  ;   Konsul Jenderal AS di Surabaya
JAWA POS, 04 Juli 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

KAMI sebagai orang Amerika merayakan hari kemerdekaan sama seperti orang Indonesia. Hari kemerdekaan adalah kesempatan untuk berkumpul dan bersenang-senang. Hari itu biasanya jatuh di tengah-tengah musim panas ketika anak-anak libur sekolah dan keluarga bersama teman-teman bisa menikmati kegiatan di luar (meskipun, di beberapa tempat di Amerika seperti kampung saya, Anda bisa menikmati kegiatan di luar ruangan sepanjang tahun, sedangkan di daerah lain menjadi terlalu dingin pada musim salju). Fourth of July, begitu kami biasa menyebutnya, di Amerika identik dengan bendera, dekorasi, barbeque, minuman dingin, dan ketika matahari terbenam, kembang api.

Tidak jauh berbeda memang dengan Hari Kemerdekaan Indonesia yang dirayakan pada musim panas dengan berbagai lomba, bersenangsenang, parade, dan banyak makanan. Tahun lalu, kami merayakan hari kemerdekaan dengan berkeliling Jawa Timur. Saya ingat, di salah satu perhentian selama road show di Blitar, kami mengadakan lomba melukis. Anak-anak menggambar perayaan hari kemerdekaan dan kami memilih pemenangnya. Saya jadi bernostalgia melihat lukisan-lukisan mereka karena mengingatkan pada masa kecil saya ketika hari kemerdekaan.

Hari kemerdekaan juga merupakan momen untuk melihat kembali keadaan bangsa kita serta kesehatan institusi demokrasinya. Banyak orang yang berpikir bahwa Amerika Serikat menciptakan demokrasi pada awal dan setelah kami selesai, kami duduk untuk menikmatinya. Mustahil! Demokrasi adalah perjuangan sehari-hari yang perlu diberi makan, diusahakan, dipikirkan ulang, didukung, diperdebatkan, dikembangkan, dan diperbaiki. Agar dapat menikmati demokrasi yang sehat, kita harus merawatnya dengan penuh perhatian.

Dalam banyak hal, demokrasi ibarat mesin. Semakin sering perawatan kita lakukan, semakin jarang ia akan mengalami malafungsi. Namun, biarpun itu terjadi, kita tidak meninggalkan dan membuang mesin tersebut. Kita memperbaiki, mengganti apa yang perlu diganti, dan tetap menikmatinya.

Seperti mesin juga, demokrasi adalah alat untuk melayani semua tanpa melihat warna, kebangsaan, bahasa, agama, atau gender. Demokrasi bukanlah sebuah konstruksi Barat untuk dinikmati hanya oleh Barat seperti halnya mesin yang tidak hanya bisa dinikmati orang Inggris hanya karena mereka yang menciptakannya. Demokrasi adalah milik umat manusia, bukan milik suatu negara atau golongan elite atau segmen tertentu.

Indonesia merupakan salah satu negara demokrasi terbesar di dunia. Presiden Jokowi terpilih pada hari pemilihan terbesar dalam sejarah umat manusia, memecahkan rekor pemilihan 2008 yang dimenangi Presiden Obama. Pemilihan tersebut terlaksana dengan aman, teratur, dan adil.

Dalam kunjungan saya ke 12 provinsi di bawah wilayah kerja Konsulat di Surabaya, saya menemui pelaku demokrasi yang berkomitmen ke mana pun saya pergi, mulai para gubernur sampai kalangan kiai, para pebisnis sampai para petani, serta aktivis hak asasi manusia sampai polisi. Dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, Indonesia telah menjadi pelaku demokrasi yang antusias, yang akan terus mempertahankan dan merawat mesin demokrasinya.

Dalam rangka menjaga tradisi berbagi hari kemerdekaan kami dengan 12 provinsi di bawah distrik kami, tahun ini kami merayakan hari kemerdekaan bersama masyarakat Sulawesi Selatan. Di Makassar, kami berpartisipasi dalam 10 acara untuk menggarisbawahi persamaan nilai-nilai dengan masyarakat Indonesia Timur. Kami menyelenggarakan acara lingkungan hidup untuk melindungi terumbu karang bersama bupati, kepala kepolisian, penduduk Pulau Badi, serta perusahaan AS Mars yang telah bekerja bertahun-tahun untuk membantu masyarakat Badi memperbarui batu karang yang hilang karena pengeboman serta racun sianida.

Kami juga mengadakan acara untuk membantu usaha kecil dan menengah bersama Google, membantu pelajar muslim tentang coding bersama Microsoft, melatih reporter dari Indonesia Timur untuk meliput lingkungan hidup, dan banyak acara lainnya. Kami juga mengadakan resepsi yang semarak di mana tuan rumah, bupati Makassar dan gubernur Sulawesi Selatan bersama Duta Besar Blake, memuji dan merayakan nilai-nilai bersama yang menyatukan kita semua, komitmen kepada demokrasi, toleransi dan kepedulian kepada yang kurang beruntung.

Tahun depan, kami kembali ke Jawa Timur untuk merayakan hari kemerdekaan. Sayang, saya tidak berada di sini. Jadi, semua bergantung pada penerus saya, apakah kami akan mengadakan road show, resepsi, atau cara inovatif lain untuk merayakan hari kemerdekaan. Tiga tahun tugas saya sebagai konsul jenderal selesai akhir Juli ini. Saya akan pergi dengan kesedihan karena meninggalkan sahabat, namun juga dengan rasa kepuasan mendalam atas semua kesempatan yang kami miliki untuk berinteraksi dengan begitu banyak orang Indonesia dari berbagai aspek kehidupan dan dari semua provinsi di distrik kami.

Ke mana pun kami pergi, kami selalu diterima dengan hati hangat dan tangan terbuka, dari rumah Bupati Makassar Danny Pomanto sampai ke desa Ibu Aleta Baum di Bukit Molo di Nusa Tenggara Barat, dari makan malam Thanksgiving dengan 8 kalkun di Banyuwangi bersama Bupati Abdullah Azwar Anas ke buka puasa di Pesantren Jawaahirul Hikmah bersama Kiai Mohammad Zaki dan santrinya. Semua itu dan masih banyak kenangan indah lainnya akan selalu menemani kami di negara-negara lain. Selalu ada bagian Indonesia di hati kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar