Jumat, 03 Juli 2015

Puasa sebagai Tradisi

Puasa sebagai Tradisi

   Mohamad Sobary  ;   Esais; Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi
KORAN SINDO, 02 Juli 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Di kantor sebuah media ada seorang wartawan, ahli kriminologi, yang gerak- gerik dan segenap tingkah lakunya diamati wartawan yang lain. Secara rutin wartawan itu tak menyentuh minuman yang disediakan dimeja kerjanya pada setiap hari Senin dan Kamis. Diperlukan waktu lama untuk meyakinkan bahwa memang bukan hanya kebetulan sahabatnya tak menyentuh minuman tersebut. Pada hari-hari itu sudah menjadi tradisi bagi wartawan ahli kriminologi tadi untuk tidak meminum minumannya pada siang hari, setiap hari-hari yang disebutkan tadi. Dia tahu sahabatnya itu berpuasa Senin-Kamis.

”Jadi minumanmu boleh kuambil bukan?” tanya sahabatnya itu sambil memindahkan gelas panjang itu ke mejanya.

”Ambillah,” jawab si ahli kriminologi sambil tersenyum ikhlas.

”Terima kasih. Kudoakan kau cepat naik pangkat menjadi pemred.”

Di luar kantor, wartawan ahli kriminologi tadi bercerita pada sahabatnya, bukan seorang wartawan, bahwa lama-lama dia merasa kurang enak karena dia berpuasa rutin setiap Senin dan Kamis dikiranya demi pamrih untuk segera naik pangkat. ”Padahal, aku berpuasa untuk berpuasa itu sendiri.”

Di dalam kehidupan rohani orang Jawa, berpuasa Senin-Kamis, atau pada hari-hari lain, bertepatan dengan hari kelahirannya, memang memiliki arti khusus dan tujuan khusus. Mungkin puasa-puasa seperti itu untuk ”mengolah” kehidupan pribadi dari dalam untuk melatih ketenangan, kesabaran, dan sikap ”sumarah” pada Tuhan Yang Mahakuasa. Berpuasa dianggap bagian dari strategi membikin nonaktif segenap nafsu yang perlu dikendalikan.

Tapi, tak jarang sikap ”prihatin” itu untuk menjadi sarana meraih tujuan-tujuan praktis duniawi. Bagi pegawai, puasa itu memang demi kenaikan pangkat atau agar disayangi atasan. Bagi pedagang, amalan itu menjadi sarana meraih sukses besar agar cepat berkembang.

Pendeknya, jalan rohani itu ada yang demi kepentingan rohani, ada pula yang demi kepentingan materi. Ini tergantung pada orangnya. Di dalam tradisi Jawa kedua-duanya dianggap sah dan boleh ditempuh dalam kehidupan ini.

Berpuasa dalam versi lain, yang ditempuh dalam sehari semalam secara ”full ”, juga sudah menjadi suatu tradisi. Motif dan tujuannya pun bermacam-macam. Jenis puasa dalam tradisi Jawa ini tampaknya tidak khas Jawa. Pada etnis-etnis lain di seluruh Nusantara ada pula jenis puasa serupa. Seperti di dalam tradisi Jawa, ada pula yang tujuannya untuk meraih kesaktian. Lagi pula jenis kesaktian di sini sangat bervariasi. Ada kesaktian tingkat sederhana, sekadar tidak mempan senjata tajam. Ada tradisi puasa yang tujuannya agar tidak tertembus peluru atau antipeluru. Ada yang dimaksudkan untuk bisa menghilang atau tidak terlihat oleh pihak lain, dan masih banyak variasi kesaktian yang hendak diraih melalui tradisi puasa tadi.

Ini jenis amalan yang biasanya tak bisa dijalankan sendiri. Di dalam tradisi Jawa maupun tradisi Nusantara pada umumnya, biasanya ada guru yang membimbing dan mengamati dari ”jauh”. Biasanya, ketika melatih muridnya berpuasa seperti itu sang guru juga ikut berpuasa. Guru tidak sekadar menjadi pengamat yang berjarak. Dalam urusan rohaniah seperti itu sang guru terlibat. Dia ”melihat” bukan dari kejauhan, tetapi dari dekat, bukan dari ”luar”, melainkan dari ”dalam”.

Berpuasa yang sudah menjadi tradisi itu terpelihara dengan baik melalui mekanisme dan variasi yang bermacam-macam coraknya. Tiap etnis memiliki jenis kearifan tersendiri. Lagi pula, etnis yang satu tak bersaing dengan etnis yang lain. Jalan rohani mungkin memang tak mengenal persaingan.

Memang ada efek rohaniah yang lebih dalam bagi seorang murid dan kelihatan biasa-biasa saja pada murid yang lain. Tetapi, murid yang satu tidak bersaing dengan murid yang lain. Jika berpuasa untuk sesuatu yang rohaniah sifatnya, terutama bila demi kesalehan yang tulus.

Kita kaya akan tradisi. Tiap tradisi memiliki makna yang mendalam. Ada makna ”bumi” sekaligus makna ”langit”, makna ”profan” sekaligus makna ”kudus”, makna ”manusiawi” sekaligus makna ”ilahi”. Kelihatannya, berpuasa dalam konteks kebudayaan Nusantara itu merupakan sebuah ”perjalanan”. Di sana manusia Nusantara sedang berjalan ”mencari” atau ”menuju” dirinya sendiri.

Kapan berpuasa jenis itu lahir di bumi kita ini, kita tidak tahu. Di dalam kitab suci ada disebutkan bahwa berpuasa sudah menjadi kewajiban bagi umat manusia sejak zaman nabi-nabi yang lebih tua. Berpuasa sebagai kewajiban ”baru” bagi umat manusia dimulai lagi pada masa kenabian Rasulullah, Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Inilah puasa yang menjadi rujukan kita. Kita berpuasa tidak untuk kepentingan pribadi, tidak untuk naik pangkat, tidak pula untuk meraih sukses dalam perdagangan maupun untuk memperoleh kesaktian. Di sini berpuasa itu sebagai wujud sebuah ketulusan, sebuah pengabdian. Kita berpuasa untuk Allah.

Tapi, Allah tak mengambilnya secara mutlak. Kita, yang berpuasa, diberi suatu kenaikan derajat rohaniah yang tinggi; derajat orang takwa. Kita menjadi takwa. Setidaknya kita mencalonkan diri untuk bisa meraih derajat tinggi itu. Kita ikhlaskan puasa kita untuk Allah dan imbalannya, Allah melimpahkan kemurahan tak terhingga, membuat kita bisa mencapai derajat orang yang bertakwa tadi.

Apakah setiap hamba yang berpuasa otomatis bisa meraih derajat takwa itu? Apakah takwa itu bonus bulanan yang gratis bagi setiap hamba-Nya?

Tiap hamba yang berpuasa berharap begitu. Tapi, Allah tahu, puasa tiap hamba tidak sama. Ada yang berpuasa dan sepanjang hari kerjanya hanya menengok jam, menantikan datangnya saat berbuka. Berpuasa seperti itu apa tak berarti bahwa sebenarnya dia telah berbuka setiap saat, ketika memandang jarum jam dengan rasa tidak sabar? Apakah puasa seperti itu masih bisa disebut puasa?

Ada yang berpuasa dengan niat ikhlas, tapi sebenarnya yang dibayangkan bukan Allah Yang Mahamurah, melainkan tercapainya urusan-urusan duniawi yang membuatnya menjadi orang sukses dan jaya. Di sini dia berpuasa untuk sesuatu yang bersifat duniawi. Apakah puasa seperti ini yang disebut puasa untuk Allah semata? Apakah puasa seperti ini juga bisa disebut puasa?

Berpuasa itu amalan yang sangat pelik. Ikhlas dan tidak ikhlas tak begitu mudah kita nilai sendiri. Sebaiknya, bila kita ingin betul- betul ikhlas, kita tak usah membuat penilaian. Mungkin sebaiknya kita beristigfar, mohon ampun, dengan rasa khawatir bahwa kita telah dihinggapi sikap tidak ikhlas. Kita mohon ampun karena kekhawatiran, puasa kita mengandung motivasi lain selain ketulusan. Lalu, kita persembahkan puasa kita itu kepada Allah dengan kerendahan hati bahwa hanya inilah yang hamba mampu lakukan. Bahwa kita mohon yang kurang-kurang digenapkan, yang keliru-keliru dibetulkan, yang bengkok-bengkok diluruskan.

Kita tak henti-hentinya mengetuk pintu-Nya, dan dengan kekhawatiran tak dibukakan-Nya. Tapi, tugas kita hanya mengetuk. Dibuka atau tidak bukan urusan kita. Berpuasa, bagi kita, merupakan jalan membangun tradisi untuk bisa menjadi hamba yang tulus. Kalau tidak bisa, kita mohon agar Allah membuat kita menjadikan kita dengan roda-Nya agar kita menjadi orang tulus tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar