Puasa sebagai Tradisi
Mohamad
Sobary ; Esais; Anggota Pengurus Masyarakat Bangga
Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi
|
KORAN SINDO, 02 Juli 2015
Di kantor sebuah media
ada seorang wartawan, ahli kriminologi, yang gerak- gerik dan segenap tingkah
lakunya diamati wartawan yang lain. Secara rutin wartawan itu tak menyentuh
minuman yang disediakan dimeja kerjanya pada setiap hari Senin dan Kamis. Diperlukan
waktu lama untuk meyakinkan bahwa memang bukan hanya kebetulan sahabatnya tak
menyentuh minuman tersebut. Pada hari-hari itu sudah menjadi tradisi bagi
wartawan ahli kriminologi tadi untuk tidak meminum minumannya pada siang
hari, setiap hari-hari yang disebutkan tadi. Dia tahu sahabatnya itu berpuasa
Senin-Kamis.
”Jadi minumanmu boleh
kuambil bukan?” tanya sahabatnya itu sambil memindahkan gelas panjang itu ke
mejanya.
”Ambillah,” jawab si
ahli kriminologi sambil tersenyum ikhlas.
”Terima kasih.
Kudoakan kau cepat naik pangkat menjadi pemred.”
Di luar kantor,
wartawan ahli kriminologi tadi bercerita pada sahabatnya, bukan seorang
wartawan, bahwa lama-lama dia merasa kurang enak karena dia berpuasa rutin
setiap Senin dan Kamis dikiranya demi pamrih untuk segera naik pangkat.
”Padahal, aku berpuasa untuk berpuasa itu sendiri.”
Di dalam kehidupan rohani
orang Jawa, berpuasa Senin-Kamis, atau pada hari-hari lain, bertepatan dengan
hari kelahirannya, memang memiliki arti khusus dan tujuan khusus. Mungkin
puasa-puasa seperti itu untuk ”mengolah” kehidupan pribadi dari dalam untuk
melatih ketenangan, kesabaran, dan sikap ”sumarah” pada Tuhan Yang Mahakuasa.
Berpuasa dianggap bagian dari strategi membikin nonaktif segenap nafsu yang
perlu dikendalikan.
Tapi, tak jarang sikap
”prihatin” itu untuk menjadi sarana meraih tujuan-tujuan praktis duniawi.
Bagi pegawai, puasa itu memang demi kenaikan pangkat atau agar disayangi
atasan. Bagi pedagang, amalan itu menjadi sarana meraih sukses besar agar
cepat berkembang.
Pendeknya, jalan
rohani itu ada yang demi kepentingan rohani, ada pula yang demi kepentingan
materi. Ini tergantung pada orangnya. Di dalam tradisi Jawa kedua-duanya
dianggap sah dan boleh ditempuh dalam kehidupan ini.
Berpuasa dalam versi
lain, yang ditempuh dalam sehari semalam secara ”full ”, juga sudah menjadi
suatu tradisi. Motif dan tujuannya pun bermacam-macam. Jenis puasa dalam
tradisi Jawa ini tampaknya tidak khas Jawa. Pada etnis-etnis lain di seluruh
Nusantara ada pula jenis puasa serupa. Seperti di dalam tradisi Jawa, ada
pula yang tujuannya untuk meraih kesaktian. Lagi pula jenis kesaktian di sini
sangat bervariasi. Ada kesaktian tingkat sederhana, sekadar tidak mempan
senjata tajam. Ada tradisi puasa yang tujuannya agar tidak tertembus peluru
atau antipeluru. Ada yang dimaksudkan untuk bisa menghilang atau tidak
terlihat oleh pihak lain, dan masih banyak variasi kesaktian yang hendak
diraih melalui tradisi puasa tadi.
Ini jenis amalan yang
biasanya tak bisa dijalankan sendiri. Di dalam tradisi Jawa maupun tradisi
Nusantara pada umumnya, biasanya ada guru yang membimbing dan mengamati dari
”jauh”. Biasanya, ketika melatih muridnya berpuasa seperti itu sang guru juga
ikut berpuasa. Guru tidak sekadar menjadi pengamat yang berjarak. Dalam
urusan rohaniah seperti itu sang guru terlibat. Dia ”melihat” bukan dari
kejauhan, tetapi dari dekat, bukan dari ”luar”, melainkan dari ”dalam”.
Berpuasa yang sudah
menjadi tradisi itu terpelihara dengan baik melalui mekanisme dan variasi
yang bermacam-macam coraknya. Tiap etnis memiliki jenis kearifan tersendiri. Lagi
pula, etnis yang satu tak bersaing dengan etnis yang lain. Jalan rohani
mungkin memang tak mengenal persaingan.
Memang ada efek
rohaniah yang lebih dalam bagi seorang murid dan kelihatan biasa-biasa saja
pada murid yang lain. Tetapi, murid yang satu tidak bersaing dengan murid
yang lain. Jika berpuasa untuk sesuatu yang rohaniah sifatnya, terutama bila
demi kesalehan yang tulus.
Kita kaya akan
tradisi. Tiap tradisi memiliki makna yang mendalam. Ada makna ”bumi”
sekaligus makna ”langit”, makna ”profan” sekaligus makna ”kudus”, makna
”manusiawi” sekaligus makna ”ilahi”. Kelihatannya, berpuasa dalam konteks
kebudayaan Nusantara itu merupakan sebuah ”perjalanan”. Di sana manusia Nusantara
sedang berjalan ”mencari” atau ”menuju” dirinya sendiri.
Kapan berpuasa jenis itu
lahir di bumi kita ini, kita tidak tahu. Di dalam kitab suci ada disebutkan
bahwa berpuasa sudah menjadi kewajiban bagi umat manusia sejak zaman
nabi-nabi yang lebih tua. Berpuasa sebagai kewajiban ”baru” bagi umat manusia
dimulai lagi pada masa kenabian Rasulullah, Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Inilah puasa yang
menjadi rujukan kita. Kita berpuasa tidak untuk kepentingan pribadi, tidak
untuk naik pangkat, tidak pula untuk meraih sukses dalam perdagangan maupun
untuk memperoleh kesaktian. Di sini berpuasa itu sebagai wujud sebuah
ketulusan, sebuah pengabdian. Kita berpuasa untuk Allah.
Tapi, Allah tak
mengambilnya secara mutlak. Kita, yang berpuasa, diberi suatu kenaikan
derajat rohaniah yang tinggi; derajat orang takwa. Kita menjadi takwa.
Setidaknya kita mencalonkan diri untuk bisa meraih derajat tinggi itu. Kita
ikhlaskan puasa kita untuk Allah dan imbalannya, Allah melimpahkan kemurahan
tak terhingga, membuat kita bisa mencapai derajat orang yang bertakwa tadi.
Apakah setiap hamba
yang berpuasa otomatis bisa meraih derajat takwa itu? Apakah takwa itu bonus
bulanan yang gratis bagi setiap hamba-Nya?
Tiap hamba yang
berpuasa berharap begitu. Tapi, Allah tahu, puasa tiap hamba tidak sama. Ada
yang berpuasa dan sepanjang hari kerjanya hanya menengok jam, menantikan
datangnya saat berbuka. Berpuasa seperti itu apa tak berarti bahwa sebenarnya
dia telah berbuka setiap saat, ketika memandang jarum jam dengan rasa tidak sabar?
Apakah puasa seperti itu masih bisa disebut puasa?
Ada yang berpuasa
dengan niat ikhlas, tapi sebenarnya yang dibayangkan bukan Allah Yang
Mahamurah, melainkan tercapainya urusan-urusan duniawi yang membuatnya
menjadi orang sukses dan jaya. Di sini dia berpuasa untuk sesuatu yang bersifat
duniawi. Apakah puasa seperti ini yang disebut puasa untuk Allah semata?
Apakah puasa seperti ini juga bisa disebut puasa?
Berpuasa itu amalan
yang sangat pelik. Ikhlas dan tidak ikhlas tak begitu mudah kita nilai
sendiri. Sebaiknya, bila kita ingin betul- betul ikhlas, kita tak usah
membuat penilaian. Mungkin sebaiknya kita beristigfar, mohon ampun, dengan
rasa khawatir bahwa kita telah dihinggapi sikap tidak ikhlas. Kita mohon
ampun karena kekhawatiran, puasa kita mengandung motivasi lain selain
ketulusan. Lalu, kita persembahkan puasa kita itu kepada Allah dengan
kerendahan hati bahwa hanya inilah yang hamba mampu lakukan. Bahwa kita mohon
yang kurang-kurang digenapkan, yang keliru-keliru dibetulkan, yang
bengkok-bengkok diluruskan.
Kita tak
henti-hentinya mengetuk pintu-Nya, dan dengan kekhawatiran tak dibukakan-Nya.
Tapi, tugas kita hanya mengetuk. Dibuka atau tidak bukan urusan kita.
Berpuasa, bagi kita, merupakan jalan membangun tradisi untuk bisa menjadi
hamba yang tulus. Kalau tidak bisa, kita mohon agar Allah membuat kita
menjadikan kita dengan roda-Nya agar kita menjadi orang tulus tadi. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar