Rabu, 08 Juli 2015

Pertanyaan Sekitar Mudik

Pertanyaan Sekitar Mudik

   Bagja Hidayat  ;  Wartawan Tempo
KORAN TEMPO, 07 Juli 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ada seorang teman bertanya, di sekitar hari Lebaran ini: bagaimana anak-anakmu kelak memahami mudik? Sebab bagi saya mudik adalah rukun keenam, tak afdal Ramadan tanpa menutupnya dengan merayakan bersama kenangan. Membayangkan menempuhnya seperti menunggu hari perkawinan.

Karena itu, bagaimana anak-anak saya kelak memahami mudik? Ini pertanyaan yang valid. Anak-anak saya tak mengalami apa yang saya alami. Anak saya tak belajar berenang di palung Cisanggarung yang angker, anak saya tak punya candu penciuman terhadap bau asap sampah dan jerami yang dibakar, anak-anak saya tak punya kenangan akan senja dan huma bersama domba-domba di tegalan.

Pendeknya, anak saya tak punya syarat utama mudik: kampung yang membentuk karakternya 20–30 tahun ke depan. Mungkin mereka akan punya kenangan akan rumah, tapi bukan terhadap kampung, sebuah lanskap di mana hubungan sosial tak dihargai dengan pamrih. Liburan sekolah tahun lalu anak saya bengong menonton orang satu kampung mendirikan rumah, rumah seorang tetangga.

Mereka begitu saja bergabung ikut bekerja, membuat reng, membuat wuwung, sampai memasang genteng, tanpa dibayar. Pekerjaan berat itu pun selesai sebelum zuhur dengan pesta makan bersama. Di "kampungnya", dalam kenangan yang bercokol di ingatannya, anak saya selalu melihat rumah dikerjakan tak lebih oleh lima orang, para tukang yang dibayar, dengan upah yang ditetapkan.

Mudik sesungguhnya adalah mengunjungi kembali kenangan-kenangan itu. Dan kenangan selalu menumbuhkan romantisme, karena ia seperti cermin yang memantulkan bayangan masa lalu, masa penting yang mengantarkan kita pada hari ini. Peristiwa-peristiwa, orang-orang, dan suasana yang terbentuk dan mengiringinya senantiasa memberikan sensasi dan déjà vu. Ikatan pada kampung itulah yang membuat mudik selalu menggairahkan.

Sebab ada pulang kampung lain pada bulan lain, bukan di sekitar hari Lebaran, yang berbeda "momennya" dengan mudik setelah Ramadan. Barangkali karena mudik pada hari lain kenangan-kenangannya tak lengkap. Teman-teman berenang dan gembala saya dulu tak pulang jika tak Lebaran. Mereka juga merantau dan hanya pulang sekali dalam setahun.

Deja vu karena itu menjadi terputus. Di luar Ramadan, kampung sepi. Tak ada cengkrama di teras sehabis asar. Di kampung, senja adalah waktu berkumpul, waktu bercengkerama, setelah mandi, sembari menikmati wangi asap sampah yang dibakar. Dan sehabis subuh adalah waktu yang genting: dapur-dapur menyemburkan asap tipis kayu yang dibakar ke hawu. Orang-orang menyiapkan bekal untuk ke sawah, ke ladang, ke hutan.

Lanskap itu tak ada dalam kenangan anak-anak saya. Mereka bahkan tak tahu hawu. Mereka tak punya udik yang selalu membetot untuk selalu didatangi. Apa yang mereka rasakan tiap menemani saya mudik adalah perasaan turis yang mengunjungi sebuah tempat untuk transit, bukan seorang anak hilang yang sedang "pulang".

Barangkali ini pikiran orang dewasa yang sedang sentimentil membayangkan mudik. Anak-anak saya tentu punya dunia sendiri, yang berbeda dan selamanya tak akan sama dengan saya. Dan dunia yang berbeda itu akan membentuk mudik mereka sendiri, kenangan mereka sendiri, "udik" mereka sendiri, yang kelak terus-menerus membetotnya, di sekitar Lebaran atau di luar Ramadan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar