|
Terdakwa Kera Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 22 Oktober 2026
Bersejarah:
mati lampu adalah perbuatan pidana. Itu di Batam, Indonesia. Akibat mati
listrik total di sana 12 Oktober lalu, polisi setempat menetapkan empat orang
jadi tersangka: tiga orang dari PLN, satu orang dari pihak kontraktor.
Tiga orang itu
kelihatannya bekerja di Gardu Induk Sei Harapan. Yakni GI yang berada di
Sekupang, tidak jauh dari arah ke terminal fery kapal cepat menuju Singapura.
GI Sei Harapan
itu tiba-tiba bermasalah. Seekor kera berhasil masuk ke GI. Tentu loncat
sana-sini. Terkenalah kabel bertegangan tinggi. Terjadilah korslet. Listrik
sepulau Batam dan Bintam padam. Total. Serentak.
Itu pukul 06.00
lebih sedikit. Hari Senin. Semua orang sedang siap berangkat kerja di hari
pertama minggu itu. Sebagian sedang mandi pagi. Kehidupan ekonomi pun seperti
berhenti. Batam terlalu penting bagi ekonomi Indonesia. Pun bagi harga diri
bangsa. Utamanya di mata tetangga di seberang mata: Singapura.
Dirut PLN
langsung diberhentikan –meski listrik di Batam adalah tanggung jawab dirut dan
para direktur PT PLN di Batam. Tapi itu memang anak perusahaan PLN –meski konon
PLN Pusat tidak punya kuasa mutlak pun untuk sekadar mengangkat direksi anak
perusahaan yang itu.
Mengapa monyet
bisa masuk GI? Di situlah polisi menganggap terjadi keteledoran petugasnya.
Polisi menyinggung kenapa pagarnya tidak dialiri listrik sehingga monyet yang
berusaha masuk GI sudah tewas ketika masih di pagar.
Saya agak ragu
benarkah polisi mengatakan itu –seperti ditulis banyak media. Kan tidak ada
kebijakan agar pagar GI harus dialiri listrik. Itu sangat membahayakan kera
–ups manusia.
Sebenarnya
tidak aneh monyet bisa masuk ke GI Sei Harapan. GI itu di dekat hutan. Tidak
sampai 1 km dari GI adalah hutan lindung.
Saya pun
mengontak sahabat Disway di Batam: Marganas Nainggolan. Saya minta tolong agar
ada wartawan yang pergi ke lokasi. Marganas menugaskan wartawan muda, Panahatan
Nainggolan, dari BatamNow.com. Ia alumnus Unrika (Universitas Riau Kepulauan)
dari fakultas hukum.
Menurut
pandangan Panahatan, di dekat GI itu ada pohon rindang. "Menurut warga
setempat di pohon itulah setiap malam terlihat banyak monyet," ujar
Panahatan. "Saya sudah mewawancarai warga yang menyaksikannya
sendiri," ujarnya.
Dari hasil
liputan Panahatan itu saya jadi tahu bahwa GI Sei Harapan adalah GI yang masih
baru. Ada dua trafo besar di situ. Yang satu sudah terpasang sekitar tiga bulan
lalu. Yang satu lagi baru terpasang satu bulan lalu.
"Senin
pagi itu terdengar suara ledakan yang keras dari GI itu," ujar seorang
warga kepada Panahatan.
Kawasan sekitar
GI ternyata perumahan liar yang padat. Sekitar 200 ruli memenuhi dua sisi GI.
Satu sisinya lagi empang. Sisi satu lagi jalan raya.
Ia belum dapat
info: apakah kera itu datang ke GI seorang diri atau bergerombol seperti
kebiasaan di komunitas monyet. Sayang kera tersebut ditemukan tewas mengering
sehingga tidak bisa ditanya apakah ia datang ke situ dengan maksud sengaja
ingin bunuh diri: misalnya karena stres akibat hutan habitat mereka kian sempit
di Batam.
Persoalannya
bukan hanya mengapa kera bisa sampai di situ. Yang lebih penting: mengapa
sistem pengaman otomatisnya tidak berfungsi.
Setiap GI
dilengkapi CB –circuit breaker. Di rumah Anda CB itu biasa Anda sebut dengan
nama sekring. Bentuknya tidak sama tapi fungsinya serupa. Di gardu induk ada CB
di lapisan pertama, ada beberapa CB di lapisan kedua.
Seharusnya
begitu si kera mengenai jaringan –dan korslet– CB lapisan pertama itu
''jatuh''. Maka terputuslah hubungan antara jaringan yang terkena kera dengan
keseluruhan jaringan di GI. Aman. Tidak merembet ke mana-mana. Hanya yang
terganggu itu yang putus.
Ternyata
sekring pertama itu tidak ''jatuh''. Mengapa tidak ''jatuh'' tidak bisa dijawab
sekarang. Harus diteliti tim ahli sistem kelistrikan. Bisa. Ada recording-nya.
Lengkap. Bisa dianalisis dari recording system di GI.
Akibat sekring
pertama tidak "jatuh" maka gangguan diteruskan ke sistem berikutnya.
Maka sekring-sekring di lapisan pengaman kedua "berjatuhan". Putuslah
semua jaringan. Keseimbangan sistem pun terganggu. Tegangan pun mendadak
berubah –"menghantam" pembangkit listrik di tempat yang jauh sana:
mati!
Ada setidaknya
delapan GI 150 kV tersebar di seluruh pulau Batam. Salah satunya yang dimasuki
kera itu.
Saya pernah
dapat pelajaran listrik bagi pemula, termasuk bagaimana cara menuliskan kV
–huruf V-nya harus huruf besar untuk menghormati Pak Volt: fisikawan Italia,
Alessandro Volta, si penemu baterai listrik. Pun kalau menulis kWh --hurur
W-nya harus huruf besar untuk menghormati Pak James Watt yang Anda sudah tahu
siapa beliau.
Sekitar 17
tahun lalu, yang mengajari saya dasar-dasar kelistrikan itu seorang engineer
muda yang sangat pintar. Kelak di pertengahan Oktober 2026 anak muda itu
menjadi orang terpenting di PLN.
Di Batam ada
dua pembangkit listrik: tenaga gas dan tenaga batu bara. Lokasinya berjauhan.
Satu di Tanjung Uncang, satunya di Nongsa. Tenaga gasnya sangat besar: 220 mW.
Tenaga batu baranya 2x50 mW –sedang ditambah dengan 2x100 mW.
Bahwa listrik
di pulau Bintan juga ikut padam itu karena dua pulau itu sudah berada dalam
satu sistem –lewat jaringan kabel listrik bawah laut.
Saya belum
pernah mendengar ada mati lampu yang sampai menjadi perkara pidana. Mungkin
karena mati lampu yang di Batam ini telah membuat kemarahan yang hebat.
Pernah terjadi
mati lampu hampir se-Jawa tapi tidak sampai jadi perkara pidana. Mungkin karena
calon tersangkanya adalah sebatang pohon. Yakni pohon besar di dekat transmisi
yang di tengah angin ribut mengenai jaringan 500kV trans Jawa. Pernah juga mati
lampu akibat pasokan batu baranya terganggu. Juga tidak jadi perkara pidana
–mungkin karena calon tersangkanya tidak punya lidah: batu bara.
Untung kera di
Batam itu tewas. Kalau tidak ia pun bisa ikut jadi tersangka. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/974895/terdakwa-kera
Tidak ada komentar:
Posting Komentar