Sabtu, 10 Oktober 2026

 

Ide Subandrio Membangun Diplomasi Revolusi Ganyang Malaysia

Ahmad Faiz Ibnu Sani :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Subandrio memiliki kedekatan dengan negara-negara Blok Timur yang dekat dengan komunisme.

 

·      Ia menggagas operasi ‘Ganyang Malaysia’ yang berhulu pada konfrontasi dengan Inggris sebagai wajah Barat.

 

·      Subandrio menjadi ujung tombak diplomasi Indonesia di luar negeri dengan jaringan yang luas.

 

KEPADA tamunya, Sekretaris Pertama Partai Komunis Uni Soviet Nikita Khrushchev bertukar pandangan tentang komunisme dan agama. Sang tamu, yang paham akan kehati-hatian Uni Soviet terhadap agama, berharap negara itu lebih akomodatif demi membentuk citra sebagai bangsa yang toleran.

 

Tamu itu Subandrio, duta besar pertama Republik Indonesia untuk Uni Soviet. Sejarawan dari Ruhr-Universität Bochum, Jerman, Ragna Boden, dalam artikelnya, “The atheistic and the Muslim state: Islam as an element of Soviet-Indonesian relations”, mencatat pertemuan Subandrio dengan Khrushchev terjadi pada 22 Mei 1955. Dialog itu berlangsung di tengah upaya Khrushchev mendorong Uni Soviet merangkul negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia.

 

Sigit Aris Prasetyo, penulis buku Sukarno & Khrushchev: Beda Ideologi, Satu Hati, mengatakan Khrushchev menjadi "otak" undangan Presiden Sukarno ke Moskow. Lewat Subandrio, dia menggali banyak informasi tentang ideologi dan politik di Indonesia.

 

Agama menjadi salah satu topik pembicaraan keduanya di luar politik. Subandrio menjelaskan bahwa Indonesia bukan negara agama meski mayoritas penduduknya muslim. “Subandrio mengajari Khrushchev tentang Pancasila,” kata Sigit saat ditemui di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, pada Kamis, 17 September 2026.

 

Perhelatan Konferensi Asia-Afrika di Bandung, Jawa Barat, beberapa bulan sebelumnya telah melambungkan Indonesia dan Sukarno di dunia internasional, termasuk Moskow. Uni Soviet kemudian menyatakan dukungan terhadap hasil konferensi tersebut. Presiden Sukarno memanfaatkannya untuk mencari dukungan dalam operasi pembebasan Irian Barat setelah Amerika Serikat bersikap netral, bahkan condong membela Belanda.

 

Penulis buku Diplomasi Indonesia: Realitas dan Prospek, Agus Haryanto, mengatakan Konferensi Asia-Afrika menandai perubahan politik luar negeri Indonesia dari upaya mencari pengakuan ke antikolonialisme dan antiimperialisme. Presiden Sukarno saat berpidato dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1960 menyinggung soal kekuatan dunia ketiga yang tidak menganut prinsip Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat dan Manifesto Komunis.

 

Setahun setelahnya, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok di Beograd—saat itu ibu kota Yugoslavia—Bung Karno mengenalkan konsep dua kekuatan dunia yang bertentangan, yaitu bangsa-bangsa yang baru merdeka (New Emerging Forces/Nefo) dan bangsa-bangsa yang telah maju (Old Established Forces/Oldefo). Konsep ini mempengaruhi gaya politik luar negeri Indonesia setelahnya, termasuk soal Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaysia.

 

Duta Besar Indonesia untuk Inggris 2008-2011, Yuri Octavian Thamrin, mengatakan pemerintahan Sukarno saat itu memegang prinsip kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif, bahkan radikal. Bebas dalam arti tidak bisa didikte negara lain, sementara aktif berarti ikut berperan membangun keamanan dan perdamaian dunia. “Doktrin free policy ini begitu lentur sehingga banyak operational framework bisa masuk ke situ,” katanya pada Ahad, 13 September 2026.

 

Dalam Sidang Umum PBB pada November 1957, misalnya, Subandrio yang telah menjadi Menteri Luar Negeri mengancam Indonesia akan menempuh cara lain dalam persoalan Irian Barat jika organisasi dunia itu tidak menyetujui resolusi masalah ini. Subandrio mengingatkan risiko memburuknya situasi di Asia Tenggara.

 

Dalam sebuah pidato pada 1962, Subandrio mengenalkan dua aspek diplomasi dalam kerangka Nefo-Oldefo, yaitu diplomasi konvensional dan diplomasi sebagai instrumen revolusi. Menurut dia, dua aspek ini saling melengkapi.

 

Subandrio meminta para diplomat Indonesia memahami diplomasi sebagai bagian dari revolusi. Ia menyampaikan pidato itu saat Departemen Luar Negeri memberikan pelatihan semimiliter kepada diplomat. Pada masa itu memang terdapat dua jenis pelatihan yang diselenggarakan di seluruh Indonesia: politik dan semimiliter dalam rangka pengenalan revolusi dan pelaksanaan Tri Komando Rakyat atau Trikora untuk pembebasan Irian Barat.

 

Singkat cerita, Indonesia merebut Irian Barat. Tak berselang lama, ide Nefo-Oldefo membawa Indonesia terlibat konflik dengan Malaysia. "Ia memainkan peran penting, baik dalam perumusan konsep tersebut maupun dalam pelaksanaan strateginya,” tulis Michael van Langenberg dalam makalahnya, "Dr. Subandrio—An Assessment", di The Australian Quarterly.

 

Namun konsep Nefo dan Oldefo tidak sepenuhnya diterima para pemimpin dalam Gerakan Non-Blok. Meski Indonesia tergabung di dalamnya, implementasi konsep ini justru membuat Indonesia dekat dengan Blok Timur, seperti Uni Soviet dan Cina.

 

Amerika Serikat bereaksi. Dalam pertemuan di Washington, DC, pada 24 April 1961, Presiden John F. Kennedy mengungkapkan kekhawatirannya kepada Presiden Sukarno jika Indonesia bisa dikuasai komunis. Subandrio yang ikut menghadiri pertemuan itu mengatakan Indonesia tidak ingin bergantung pada kekuatan mana pun. “Kami bangsa Indonesia tidak ingin didominasi oleh siapa pun baik Peking, Moskow, maupun Washington,” tuturnya, seperti dikutip dari dokumen diplomatik Amerika pada masa itu.

 

Penulis buku memoar Subandrio, Kesaksianku tentang G-30-S, Djono W. Oesman, mengatakan Subandrio memang mengagumi pemikiran Sukarno yang dianggap di luar dugaan. Menurut cerita Subandrio kepada Djono, lewat Konferensi Asia-Afrika, pembentukan Gerakan Non-Blok, hingga ide Nefo-Oldefo, Sukarno ingin menunjukkan Indonesia berperan penting dalam politik global. “Indonesia kala itu bisa mengumpulkan teman, walaupun dari negara miskin,” ujar Djono pada Kamis, 3 September 2026.

 

•••

 

AWALNYA Indonesia tidak memiliki persoalan dengan rencana pembentukan Federasi Malaya. Kepada New York Times pada November 1961, Subandrio secara terbuka menyatakan Indonesia tidak bersikap ekspansionis, bahkan membiarkan seperempat Pulau Kalimantan bergabung dengan pemerintahan Malaka.

 

Namun pemberontakan di Brunei Darussalam pada Desember 1962 yang dipimpin A.M. Azahari mengubah kebijakan luar negeri Indonesia. Jakarta melihat pembentukan Federasi Malaya sebagai bagian dari proyek neokolonialisme Inggris yang mengancam Indonesia. Sukarno kemudian menempatkan persoalan itu dalam kerangka pertarungan Nefo melawan Oldefo.

 

Subandrio menjadi orang yang pertama kali menggunakan istilah "konfrontasi" untuk menggambarkan kebijakan Indonesia terhadap Malaysia pada 20 Januari 1963. Arti istilah itu tak jelas, tapi Subandrio tak menyatakan perang terhadap Malaysia. “Konfrontasi sesudahnya menjadi kebijakan resmi Indonesia dan ‘Ganyang Malaysia’ menjadi pekik perang,” tulis sejarawan John David Legge dalam bukunya, Sukarno: Suatu Biografi Politik.

 

Di tengah konfrontasi dengan Malaysia, Subandrio dan Sukarno pernah berbeda pendapat. Subandrio meminta Sukarno menahan Indonesia tidak keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia menilai Indonesia cukup menyampaikan keberatan atas pembentukan Federasi Malaya di forum organisasi dunia itu.

 

Tapi Sukarno berkukuh keluar. Subandrio pun taat dengan menutup kantor perwakilan tetap Indonesia untuk PBB di New York. Namun, tanpa diketahui Sukarno, Subandrio memerintahkan beberapa staf tetap tinggal di New York. “Untuk tetap memelihara hubungan dengan sekretariat PBB,” tulis mantan juru bicara Departemen Luar Negeri, Ganis Harsono, dalam memoarnya, Cakrawala Politik Era Sukarno.

 

Di satu titik, konfrontasi dengan Malaysia berdampak melemahnya kepemimpinan Indonesia di Asia-Afrika. Dalam konferensi Gerakan Non-Blok di Kairo, Mesir, pada 1964, Indonesia justru menuai kritik soal ini. Indonesia juga tidak bisa mencegah terpilihnya Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

 

Di sinilah peran Subandrio sebagai ujung tombak hubungan luar negeri kian terlihat. Subandrio memimpin delegasi Indonesia melakukan misi perjalanan—oleh Ganis Harsono disebut Safari Berdikari. Rombongan ini mendatangi 14 negara di Asia dan Afrika selama 14 Juni-26 Juli 1965.

 

Dalam memoarnya, Subandrio bercerita bahwa dia pernah berkunjung ke Cina pada akhir 1963. Cina menawarkan bantuan peralatan militer untuk 40 batalion tentara, dari senjata manual, otomatis, tank, hingga kendaraan lapis baja. “Hebatnya, semua itu gratis. Juga tanpa syarat,” katanya.

 

Bantuan senjata ini yang kelak menimbulkan syak wasangka bahwa dia terlibat dalam Gerakan 30 September atau G-30-S. Subandrio menjelaskan, senjata-senjata tersebut tidak langsung dikirim. Pembicaraan tentang senjata pun meredup.

 

Kontroversinya muncul lagi pada awal 1965, setelah Sukarno menggagas pembentukan Angkatan Kelima. Ide ini bertujuan menampung senjata hadiah dari Cina. Yang pasti, menurut Subandrio, Bung Karno belum pernah merinci bentuk angkatan tersebut seperti apa. “Karena kemudian beredar isu bahwa Angkatan Kelima adalah para buruh dan petani yang dipersenjatai,” ujarnya.

 

Kebijakan luar negeri Indonesia yang radikal ini berdampak pula pada krisis di dalam negeri. Pembebasan Irian Barat, konfrontasi dengan Malaysia, dan beragam proyek mercusuar menguras kas negara.

 

Krisis ekonomi pada 1965 membuat Subandrio menjadi salah satu menteri yang dituntut bertanggung jawab dalam demonstrasi mahasiswa. Subandrio menuding tentara berada di belakang gerakan mahasiswa ini. Ihwal harga bahan kebutuhan pokok yang mahal, Subandrio menganggap itu bagian dari operasi cipta kondisi intelijen yang dilakukan dengan melumpuhkan ekonomi negara untuk menjatuhkan Sukarno.

 

Sejumlah pakar meragukan pandangan Subandrio. Mereka menilai krisis ekonomi ini sebagai konsekuensi yang harus diambil. Kebijakan luar negeri Sukarno membuat Indonesia dikucilkan Blok Barat. Di sisi lain, negara komunis di Blok Timur tidak memberikan bantuan uang. “Blok Timur kasih kita apa? Rusia beri senjata untuk mengambil Irian Barat,” tutur pendiri Centre for Strategic and International Studies, Jusuf Wanandi, yang saat masih menjadi mahasiswa aktif mengkritik Subandrio.

 

Pada 11 Maret 1966, ribuan mahasiswa mengepung Istana Merdeka di Jakarta saat Presiden Sukarno menggelar sidang kabinet. Beberapa saat setelah sidang dibuka, Sukarno meninggalkan rapat untuk dievakuasi ke Istana Bogor di Jawa Barat. “Saya lantas menyusul. Saat keluar, sepatu saya copot karena terburu-buru,” kata Subandrio.

 

Subandrio bercerita, di tengah hiruk-pikuk itu, dia sempat bingung dan mendapat informasi bahwa ia menjadi target penangkapan tentara. Kabar ini membuatnya keluar dari kompleks Istana untuk pulang ke rumahnya di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, sambil bersepeda.

 

Baru sampai Bank Indonesia, Subandrio memilih kembali ke Istana untuk menyusul Sukarno. Uniknya, tidak ada satu pun dari massa yang terdiri atas ribuan orang mengenali dia saat keluar-masuk Istana. "Saat itu menggenjot sepeda selalu menunduk. Tapi kalau ada yang teliti pasti saya ketahuan," tulisnya.

 

Subandrio ditangkap beberapa hari setelah Mayor Jenderal Soeharto menjadi pemegang kuasa Surat Perintah Sebelas Maret. Figur yang pernah menjadi orang nomor dua setelah Sukarno di republik ini tersebut kemudian menghabiskan 29 tahun umurnya di penjara. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/tokoh/ide-subandrio-ganyang-malaysia-diplomasi-revolusi-2298591

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar