Sabtu, 10 Oktober 2026

 

Peran Subandrio dalam Integrasi Irian Barat

Fajar Pebrianto :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Subandrio menjalin hubungan diplomatik dengan negara baik dari Blok Barat maupun Blok Timur.

 

·      Ia terlibat dalam operasi perebutan Irian Barat dari tangan Belanda.

 

·      Subandrio menjajaki rencana pembelian senjata dari Uni Soviet.

 

KEPERCAYAAN Sukarno kepada Subandrio tergambar dari berangkap-rangkap jabatan yang diemban diplomat yang lahir di Malang, Jawa Timur, tersebut selama masa Orde Lama. Ia menjadi Menteri Luar Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri I dan Kepala Badan Pusat Intelijen dalam waktu bersamaan.

 

Djono W. Oesman, jurnalis Jawa Pos dan penyunting memoar Subandrio berjudul Kesaksianku tentang G-30-S, mendapat cerita dari Subandrio bahwa ia punya kantor khusus karena serentetan jabatan yang diberikan Sukarno. Subandrio acap memulai aktivitas dari Istana Wakil Presiden di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

 

Kantor Subandrio itu kini diapit Kedutaan Besar Amerika Serikat dan kantor Gubernur Jakarta. “Ia selalu datang pagi-pagi dari kantor wakil presiden,” ujar Djono di Jakarta pada Rabu, 2 September 2026.

 

Subandrio bercerita kepada Djono bahwa ia menempati gedung itu setelah Mohammad Hatta mundur sebagai wakil presiden pada akhir 1956. Djono mengklaim Subandrio hanya memberi tahu segelintir orang bahwa ia pernah berkantor di Istana Wakil Presiden alih-alih di Gedung Pancasila, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat, yang menjadi kantor Departemen Luar Negeri.

 

Subandrio menjadi Menteri Luar Negeri ketika Perang Dingin antara Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dikomandoi Uni Soviet meruncing. Berupaya menerapkan politik luar negeri yang bebas aktif, Subandrio tak hanya mendekati Negeri Abang Sam, tapi juga Negeri Beruang Merah.

 

Kata Subandrio kepada Djono, mendekati satu pentolan salah satu poros saja seperti Amerika Serikat akan membuat negeri adidaya itu besar kepala. “Karena itu, ia menjalin relasi dengan Uni Soviet,” tutur Djono.

 

Subandrio punya modal untuk mendekati negara yang waktu itu dipimpin Nikita Khrushchev tersebut. Selama dua tahun sejak 1954, ia menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet. Subandrio adalah Duta Besar Indonesia pertama yang berkantor di Moskow.

 

Menekuni pos diplomatiknya, Subandrio mempelajari dan akhirnya fasih berbahasa Rusia. Khrushchev ingat betul akan keterampilan berbahasa yang dimiliki Subandrio.

 

Dalam otobiografi Memoirs of Nikita Khrushchev, pemimpin Uni Soviet itu mengingat Subandrio yang lancar menjelaskan konflik Irian Barat dengan bahasa Rusia. Saking fasihnya Subandrio berbahasa Rusia, penerjemah bahasa Indonesia yang disiapkan Uni Soviet hanya mencatat, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “Pembicaraan kami sangat rahasia,” tutur Khrushchev.

 

Menjadi Menteri Luar Negeri, Subandrio tak cuma bertugas membangun hubungan diplomatik dengan negara sahabat. Ia adalah “penyambung lidah” Bung Karno mengenai berbagai kebijakan domestik yang berdampak pada warga negara asing yang bermukim di Indonesia. Salah satunya mengenai regulasi pedagang kecil dan eceran.

 

Syahdan, Sukarno mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 1959 tentang Pedagang Kecil dan Eceran. Regulasi itu melarang orang asing berdagang eceran di tingkat kecamatan dan perdesaan. Targetnya adalah orang keturunan Cina di Indonesia. Selain itu, orang asing wajib mengalihkan usaha mereka ke warga negara Indonesia.

 

Peraturan itu berdampak luas pada bisnis masyarakat Tionghoa. Banyak perusahaan milik orang Cina yang gulung tikar. Di beberapa wilayah, pengusaha Cina diusir dari tempat tinggal mereka.

 

Sekretaris Dewan Pertimbangan Agung pada pemerintahan Sukarno, Jusuf Wanandi, mendapat laporan sedikitnya 200 ribu warga keturunan Tionghoa memutuskan pulang ke Cina. “Kapal-kapal dari Tiongkok datang untuk menjemput mereka,” ujar Jusuf kepada Tempo pada Kamis, 17 September 2026.

 

Pemerintah Cina memprotes kebijakan tentang pedagang kecil dan eceran itu. Subandrio mesti melawat ke Peking—kini Beijing—untuk berunding dengan Ketua Partai Komunis Cina Mao Tse-tung. “Tiongkok dapat mengirimkan tentara ke Indonesia,” tutur Subandrio menirukan ultimatum Mao. Namun Mao belakangan memilih jalur meja perundingan untuk membereskan persoalan bisnis itu.

 

Tensi konflik dengan Cina melandai setelah Bung Besar menerbitkan aturan turunan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1958 tentang Persetujuan antara Republik Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok Mengenai Soal Dwikewarganegaraan. Peraturan tersebut menyelesaikan masalah kewarganegaraan ganda yang pada waktu itu dialami masyarakat keturunan Tionghoa.

 

Bagi Subandrio, masalah diplomatik dengan Cina tak serumit perundingan untuk membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda. Subandrio pernah mengaku kepada Linda Djalil, mantan jurnalis Tempo dan Gatra, bahwa diplomasi soal Irian Barat membuat Subandrio tiba-tiba mengingat Tuhan. “Saya dulu salat kalau ada perlunya,” kata Linda menirukan cerita Subandrio ketika ditemui Tempo pada Senin, 7 September 2026.

 

Subandrio menumpahkan sebagian besar cerita diplomasi Irian Barat kepada Linda dalam wawancara di penjara Cipinang, Jakarta Timur. Interviu itu berlangsung menjelang hari pembebasan Subandrio dari penjara yang menerungkunya selama hampir tiga dasawarsa.

 

Menurut pengakuan Subandrio kepada Linda, Bung Karno habis-habisan merebut Irian Barat dari penguasaan Belanda. Subandrio mengatakan separuh anggaran negara habis untuk perjuangan dan diplomasi. Meski pemerintah sudah jorjoran mengerahkan dana, kesepakatan dengan Belanda tak kunjung terwujud.

 

Sukarno kemudian mengirim delegasi Indonesia ke Moskow untuk bertemu dengan pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev. Di dalam rombongan itu ada Subandrio dan Kepala Staf Angkatan Darat Abdul Haris Nasution. Misi mereka hanya satu: menjajaki peluang membeli senjata dari Rusia.

 

Subandrio bercerita dalam memoar Meluruskan Sejarah Pembebasan Irian Barat, Indonesia sempat mengeksplorasi kemungkinan membeli senjata buatan Amerika Serikat. Namun persetujuan dari pemerintah Amerika Serikat tak segera muncul. Sebab, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Foster Dulles khawatir senjata dari Negeri Abang Sam dipakai tentara Indonesia untuk menyerang masyarakat Irian Barat.

 

Tak kunjung mendapat kepastian dari Amerika Serikat, Indonesia berpaling ke Uni Soviet. Subandrio berbicara dengan Khrushchev tentang rencana pembelian senjata untuk operasi di Irian Barat.

 

Khrushchev tak serta-merta memberi izin. Ia menanyakan peluang Indonesia menjalin kesepakatan damai dengan Belanda. Mendengar pertanyaan itu, Subandrio menyebutkan kans delegasi Indonesia bersalaman dengan perwakilan Belanda amat kecil.

 

Uni Soviet akhirnya sepakat menjual senjata ke Indonesia. Meski demikian, pemerintah Indonesia juga memberi tahu otoritas Amerika Serikat soal rencana berkontrak dengan Uni Soviet untuk pengadaan senapan. Subandrio dan Presiden Sukarno setidaknya dua kali menyampaikannya kepada Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy dalam kesempatan terpisah.

 

Menurut Subandrio dalam memoarnya, Kennedy tak pernah melarang langkah itu. Namun politikus Partai Demokrat itu mewanti-wanti Subandrio agar Indonesia tak memakai pendekatan militer untuk mencaplok Irian Barat. Kennedy sampai mengancam akan mengerahkan United States Seventh Fleet, armada Angkatan Laut Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan Indo-Pasifik.

 

Subandrio tak berkutik mendengar peringatan Kennedy. “Selama saya menjabat Menteri Luar Negeri, ancaman dari Kennedy merupakan peristiwa kedua setelah apa yang dikatakan Mao Zedong kepada saya,” ujar Subandrio.

 

Belanda sepakat menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia melalui Perjanjian New York yang ditandatangani di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di Amerika Serikat pada 15 Agustus 1962. Berpidato dalam seremoni penandatanganan kesepakatan, Subandrio yang bertindak sebagai ketua delegasi Indonesia berharap persahabatan antara Indonesia dan Belanda pulih seusai konflik Irian Barat.

 

Subandrio untuk waktu yang lama terpisah dari Irian Barat, yang belakangan berganti nama menjadi Irian Jaya dan lalu Papua, karena dipenjara atas tuduhan terlibat Gerakan 30 September 1965. Ia terhubung lagi dengan wilayah itu ketika Presiden Abdurrahman Wahid berkunjung ke Jayapura pada 30 Desember 1999.

 

Presiden yang karib disapa Gus Dur itu bertemu dengan sejumlah tokoh Papua. Ia mengumumkan penggantian nama Irian Jaya menjadi Papua setelah mendengar masukan dari tokoh di Jayapura dan Jakarta. “Saya sudah lama memikirkannya,” tutur Gus Dur waktu itu.

 

Subandrio, yang baru empat tahun bebas dari penjara Orde Baru, mendengar keputusan politik Gus Dur yang mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua. Subandrio tak sepakat dengan gagasan Gus Dur. Bagi Subandrio, penggantian nama daerah itu menjadi Papua merupakan desakan kelompok separatis. “Anehnya lagi tuntutan itu dikabulkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid,” kata Subandrio dalam buku Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat yang terbit sepuluh bulan setelah Gus Dur mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua.

 

Dalam memoarnya, Subandrio menyentil kelompok separatis yang menyebar gosip bahwa Irian merupakan akronim "Ikut Republik Indonesia Anti Netherlands". Subandrio mengatakan pemberian nama Irian merupakan ide Frans Kaisiepo, Gubernur Irian Jaya asal Biak, yang bermakna sinar yang menghalau kabut. Frans merumuskannya dari bahasa salah satu suku di Pulau Irian.

 

Meski berbeda sikap dengan Gus Dur ihwal penamaan wilayah paling timur di Indonesia itu, Subandrio punya hubungan yang erat dengan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tersebut. Cucu Subandrio, Arnold Budoyo Subandrio, bercerita bahwa Gus Dur pernah mengundang kakeknya ke Istana Negara di Jakarta pada Desember 2000.

 

Arnold bercerita, dalam pertemuan itu, Gus Dur berjanji merehabilitasi nama Subandrio yang cemar karena dituduh terlibat peristiwa 30 September 1965 oleh rezim Orde Baru. "Hatinya dipenuhi kegembiraan dan kebahagiaan," tutur Arnold melalui jawaban tertulis kepada Tempo pada Jumat, 25 September 2026.

 

Janji itu tak pernah terwujud sampai akhir hayat Subandrio dan Gus Dur. Gus Dur lengser dari kursi presiden pada Juli 2001 tanpa sempat merehabilitasi nama Subandrio. Sampai hari ini, Subandrio masih tercatat sebagai mantan narapidana kasus 1965. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/tokoh/menteri-luar-negeri-subandrio-irian-jaya-2298590

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar