|
Hidup
Tenang dalam Penjara dengan Membaca Al-Quran Amelia Rahima Sari : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026
|
· Subandrio tetap berpenampilan rapi dan
necis meski puluhan tahun berada di dalam penjara. · Selama menjalni hukuman sejak 1965,
Subandrio empat kali pindah penjara. · Ia makin serius mendalami agama dari
dalam penjara hingga bisa mengkhatamkan Al-Quran lima kali dalam sehari. ARNOLD
Budoyo Subandrio masih mengingat rambut kakeknya yang selalu disemir hitam
dan disisir rapi ke belakang. Bahkan ketika tubuh Subandrio telah lama berada
di balik jeruji, penampilan necisnya tetap terjaga seperti ketika ia masih
menjadi Wakil Perdana Menteri I dalam pemerintahan Sukarno. Semasa
kecil, Arnold, 52 tahun, hampir sebulan sekali datang menjenguk Subandrio
bersama ibunya, Anne Frida Yohana Hanafiah-Sereh. Mereka datang bersama kakak
Arnold, John “Jonjon” Alexander Gurowo; ayah tiri; dan adik perempuan tirinya
yang masih bayi. Mereka juga datang pada saat Idul Fitri dan setiap 15
September, hari ulang tahun Subandrio. Arnold
masih mengingat betapa antusias kakeknya menyambut kedatangan mereka. “Papa
Ban (Subandrio) biasa menemui kami di gerbang penjara dan meminta petugas
jaga mengajak saya dan saudara saya melihat-lihat area penjara,” tulis Arnold
dalam suratnya kepada Tempo pada Jumat, 25 September 2026. Subandrio
pernah menjalani masa tahanan di Rumah Tahanan Militer Nirbaya dan Lembaga
Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur. Di dua tempat itu, kamarnya selalu
bersebelahan dengan Omar Dhani, Panglima Angkatan Udara pada 1962-1965 yang
dipanggil Arnold sebagai “Eyang Omar”. Kunjungan
biasanya berakhir dengan Arnold duduk di pangkuan kakeknya. Dari sana, ia
mendengarkan cerita tentang keluarga, masa lalu, hingga orang-orang penting
yang pernah ditemui Subandrio. Subandrio
kerap mengisahkan cinta pertamanya, Hurustiati, serta anak semata wayangnya,
Budoyo Subandrio—ayah Arnold dan Jonjon—yang pernah bermain piano di depan
bangsawan Inggris. Ia juga membagikan pandangan hidup, wawasan sejarah, dan
pengalamannya bertemu dengan berbagai pemimpin dunia. Ada satu
hal yang menarik perhatian Arnold. Setiap kali membicarakan Soeharto dan
rezimnya, bahasa Subandrio berubah. “Papa Ban beralih dari bahasa Indonesia
ke bahasa Belanda atau Inggris,” ujar Arnold. Bukan
hanya Arnold yang menyimpan kenangan tentang Subandrio di balik jeruji.
Kemenakan Subandrio, Sayogo, juga beberapa kali mengunjungi mantan Menteri
Luar Negeri itu di tiga penjara. Sayogo
merupakan putra Koestiwulan, adik tiri Subandrio. Saat belum genap sepuluh
tahun, ia diajak orang tuanya ke Lembaga Pemasyarakatan Cimahi, Jawa Barat.
“Pada waktu itu dibilang hendak ke Bandung, saya pikir mau jalan-jalan,”
tutur Sayogo pada Rabu, 9 September 2026. Bangunan
penjara Cimahi yang bergaya Belanda masih melekat dalam ingatannya. Subandrio
menempati ruangan yang cukup luas dengan atap tinggi, sirkulasi udara yang
baik, dan sinar matahari yang memadai. Di sana,
Subandrio sempat mengajak Sayogo berkeliling. Ia memperlihatkan dapur hingga
besek dari anyaman bambu yang digunakan untuk menumbuhkan bawang. Furnitur di
ruangan itu sederhana. Hanya terdapat beberapa kursi seadanya. “Kalau kami
berkunjung, ya berlesehan beralas tikar,” ujarnya. Sebagai
tahanan politik, Subandrio memiliki akses terbatas terhadap buku. Ia tidak
diperbolehkan membaca buku yang berhubungan dengan dunia luar. Sayogo tak
lagi mengingat buku yang dibaca pamannya. Namun ia masih mengingat sajadah
dan Al-Quran kecil yang berada di ruang tahanan. Kunjungan
Sayogo berlanjut hingga ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Pada
saat itu Subandrio ditahan di penjara Nirbaya, Pinang Ranti, Jakarta Timur,
yang kini sudah tidak aktif. Jalan menuju penjara itu begitu rusak hingga
ayah Sayogo membeli Jeep Hardtop. “Salah satu alasannya untuk mengunjungi
beliau, karena jalannya off-road,” katanya. Bagi
Sayogo kecil, penjara Nirbaya lebih menarik karena keberadaan kendaraan
militernya. Berbagai kendaraan yang hilir-mudik membuatnya lebih tertarik
daripada percakapan orang dewasa. Apalagi Subandrio dan keluarganya terkadang
berbicara dalam bahasa Belanda yang tak ia pahami. Penjara
ketiga yang dikunjungi Sayogo adalah Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Pada
saat itu ia sudah bekerja. Saat datang, keluarganya kerap membawa makanan
dari Jawa Timur, seperti rawon, sup daging sapi berkuah hitam pekat, yang tak
tersedia di penjara. Ada satu
kunjungan yang paling lekat membekas dalam ingatannya. Suatu ketika Subandrio
tiba-tiba keluar dari penjara untuk mengunjungi rumah orang tua Sayogo di
Duren Tiga, Jakarta Selatan. Ia bahkan menyetir sendiri. “Cuma say hello.
Paling setengah jam, terus jalan lagi,” tuturnya. Kenangan
serupa ada dalam keluarga Omar Dhani, teman sel Subandrio. Perry Omar
Nurisparyan, putra sulung Omar Dhani, menganggap ayahnya dan Subandrio
sebagai “satu paket” karena kamar keduanya selalu berdampingan. Perry
pernah bertanya kepada ayahnya tentang sosok yang menjadi tetangga sel
mereka. “Oh, Pak Bandrio ini orang kedua di Indonesia waktu itu,” ujar Perry,
menirukan jawaban ayahnya, pada Sabtu, 12 September 2026. Omar Dhani
merupakan mantan Menteri/Panglima Angkatan Udara yang dipenjara karena
dituduh terlibat Gerakan 30 September 1965 atau G-30-S. Sejak
saat itu, Perry dan adik-adiknya memanggil Subandrio “Om Ban”. Menurut Perry,
Subandrio merupakan sosok pendiam. Ia jarang mengobrol langsung dengan
anak-anak Omar Dhani dan lebih sering bercengkerama dengan keluarganya di
kamar. Yang
rutin menjenguk Subandrio adalah “Bu Dian”—panggilan Sri Kusdiantinah. Istri
kedua Subandrio itu selalu tampil cantik dan rapi dengan sepatu hak tinggi.
Sesekali, menantu Subandrio datang bersama anak-anaknya. Subandrio
juga terkadang memanggil anak-anak Omar Dhani ke kamarnya. Ia memberi mereka
makanan kecil atau minuman. Perry mengingat kamar itu dipenuhi buku,
Al-Quran, dan perlengkapan salat. “Setiap kali Jumatan, bapak saya dan beliau
selalu hadir,” katanya. Semua tahanan biasa menunaikan salat Jumat bersama di
masjid. Di sela
obrolan di pinggir kolam ikan, Subandrio pernah berpesan kepada anak-anak
Omar Dhani agar bersekolah dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia juga suka
bercanda ketika senang, tapi memilih mengurung diri ketika murung. Adik
Perry, Dria Candra Adityanti, mengingat sosok yang sama. “Cara bicaranya
cepat, habis itu ketawa duluan,” ujarnya. Sementara
itu, Dian Sri Indrapuri, putri Omar Dhani lain, lebih sering melihat
Subandrio berdiam di kamar. Dian juga mengingat ketatnya pengamanan penjara
pada masa awal. Pada 1967 hingga 1970-an di Nirbaya, petugas membuka rantang
satu per satu dan mengacak-acak makanan yang dibawa keluarga. ★★★ MANTAN
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Hamid Awaludin, mendatangi Lembaga
Pemasyarakatan Cipinang hampir setiap hari selama enam bulan pada 1994. Ia
tengah mengobservasi narapidana politik dan umum untuk bahan studi
doktoralnya. Ia datang pagi-pagi dan baru meninggalkan penjara ketika petugas
menggembok sel. “Saat itu Lembaga Pemasyarakatan Cipinang belum direnovasi
dan masih terkesan kumuh,” katanya pada Senin, 21 September 2026. Hamid
sering menjumpai Subandrio di masjid. Selepas menunaikan salat zuhur dan
asar, Subandrio biasanya duduk-duduk di sana. “Saya ingat orangnya itu kecil,
suka pakai baju koko dan kopiah ke masjid, kacamatanya tebal,” tuturnya. Subandrio
ketika itu sudah sepuh. Ia bahkan harus menggunakan tongkat untuk berjalan.
Seingat Hamid, sel Subandrio berseberangan dengan Omar Dhani. Keduanya jarang
berjalan bersama. Menurut Hamid, mereka melakukan itu untuk menghindari kecurigaan
negara ihwal konspirasi antar-pentolan G-30-S. Setahun
kemudian, pada 1995, wartawan Linda Djalil mewawancarai Subandrio di Lembaga
Pemasyarakatan Cipinang. Kala itu beberapa bulan lagi Subandrio bebas. Usia
Subandrio telah 81 tahun. Namun rambutnya masih berkelir hitam. Wajahnya tak
banyak berkerut. Kacamata baca Dunhill membingkai wajahnya dan langkahnya
mulai tertatih. Dalam
laporan yang terbit di majalah Gatra pada 5 Agustus 1995, Linda menggambarkan
sel Subandrio cenderung menyerupai rumah petak berpintu jeruji besi. Ruangan
berukuran 4 x 6 meter tersebut bercat kusam. Di dalamnya terdapat kamar
tidur, ruang tamu yang menyatu dengan dapur, serta halaman yang dimanfaatkan
sebagai kolam ikan. Kamar
tidurnya penuh kantong plastik dan koper tua. Bekas kaleng susu, kaleng
permen, hingga kaleng roti cokelat memenuhi ruangan. Tasbih, gunting kuku,
minyak angin, dan selai roti bercampur di dekat tempat tidurnya. Tak ada
televisi atau radio. Dapur hanya berisi meja kayu dengan satu kompor kecil, lemari
es, dan penanak nasi yang sudah kusam. “Dia juga bilang kepada saya, ‘Saya
tidak pernah lagi mau nonton televisi atau buka radio. Hidup saya hanya untuk
Al-Quran’,” ujar Linda menirukan pernyataan Subandrio pada Senin, 7 September
2026. Linda
mengatakan Subandrio mulai mempelajari agama dari nol saat berada di penjara.
Orang tuanya memang mendidiknya secara Islam, tapi ia hanya menunaikan salat
jika perlu. Penjara kemudian mengubah kebiasaannya. Ia
jarang melewatkan jadwal salat. Jika tak menunaikan salat di masjid, ia
melakukannya di atas tikar anyaman sambil tetap berpenampilan rapi dengan
kemeja putih berkerah tinggi. Kepada Linda, Subandrio mengaku mengkhatamkan
Al-Quran lima hari sekali. Kitab suci yang selalu berada di mejanya sudah
lusuh, tak jelas warnanya. Subandrio
senang berdiskusi tentang agama dengan narapidana lain. Di antaranya Dicky
Iskandar Dinata, Paulus Arswendo Atmowiloto, dan Omar Dhani. Ia kerap
mengingatkan mereka agar senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah. Tapi,
uniknya, Subandrio sering memuji Soeharto dalam setiap kalimatnya. “Saya
anggap waktu itu ia berbohong dan hanya strategi beliau,” kata Linda. Subandrio
kemudian mencurahkan pengalamannya di balik jeruji melalui buku memoarnya,
Kesaksianku tentang G-30-S. Ia menjalani hukuman awal di penjara Cimahi
bersama orang-orang yang dituding terlibat G-30-S, termasuk Letnan Kolonel
Untung yang juga divonis mati karena dituduh mendalangi penculikan para
jenderal. “Di dalam penjara, awalnya saya mengalami depresi,” tulis
Subandrio. Ia
menyebutkan kesalahannya hanya satu: menjadi pengikut setia Sukarno. Namun ia
tidak menyesal. Di sel
isolasi yang terpisah dengan narapidana lain, perutnya pernah terluka dan
mengalami infeksi. Ketika luka itu sudah berulat, petugas baru memberinya
obat. Ia juga dilarang menulis dan membaca berita. Keluarga atau teman pun
tidak boleh menjenguknya. Menurut Subandrio, petugas baru mengizinkan adanya
kunjungan beberapa tahun kemudian. Satu-satunya
bacaan yang tersisa adalah Al-Quran. Membacanya seolah-olah mengembalikan
Subandrio ke masa kanak-kanaknya yang agamis. “Saya malah mendapatkan
ketenangan jiwa yang tidak dirasakan ketika menjadi pejabat tinggi negara,”
tutur Subandrio. ● Sumber :
https://www.tempo.co/tokoh/kehidupan-subandrio-penjara-membaca-al-quran-2298605 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar