Sabtu, 10 Oktober 2026

 

Benarkah Subandrio Terlibat G30S

Febriyan :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Mahkamah Militer Luar Biasa menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Subandrio karena dituduh terlibat dalam G-30-S.

 

·      Sebagai loyalis Sukarno, Subandrio menjadi korban konflik TNI Angkatan Darat dengan PKI.

 

·      Sukarno meminta tentara tak membunuh Subandrio ketika ditangkap dalam sebuah pengepungan.

 

JUSUF Wanandi masih ingat betul berjalannya sidang Kabinet Dwikora II di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat pagi, 11 Maret 1966. Saat itu ia hadir karena menjabat Sekretaris Dewan Pertimbangan Agung.

 

Tak lama setelah sidang dibuka, Panglima Komando Distrik Militer Jakarta Raya Brigadir Jenderal Amir Machmud membisikkan sesuatu kepada Presiden Sukarno. “Bung, saya tidak bisa bertanggung jawab atas keselamatan Bung. Di luar ada pasukan liar,” kata Jusuf menirukan pernyataan Amir saat itu.

 

Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa orang yang memberikan informasi soal adanya pasukan liar itu sebenarnya Komandan Pasukan Pengawal Presiden alias Resimen Cakrabirawa, Brigadir Jenderal Sabur. Mendengar info itu, Sukarno langsung menskors rapat.

 

Sukarno lalu menunjuk Wakil Perdana Menteri II Johannes Leimena sebagai pemimpin rapat. Bersama Wakil Perdana Menteri I dan III, Subandrio dan Chaerul Saleh, Sukarno kemudian dievakuasi menggunakan helikopter menuju Istana Bogor, Jawa Barat, yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Istana Merdeka.

 

Dalam memoarnya yang berjudul Kesaksianku tentang G-30-S, Subandrio juga menyebutkan keberadaan pasukan liar itu. Ia menuding tiga kompi pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) berada di balik barisan mahasiswa yang sedang berdemonstrasi menyuarakan Tri Tuntutan Rakyat alias Tritura.

 

Ketiga tuntutan itu adalah pembubaran Partai Komunis Indonesia yang dianggap sebagai dalang G-30-S, pembersihan Kabinet Dwikora dari unsur PKI dan simpatisannya, serta penurunan harga barang kebutuhan pokok. “Tujuan mereka salah satunya menangkap saya. Soeharto (Menteri/Panglima Angkatan Darat saat itu) juga sudah setuju,” tulis Subandrio.

 

Soeharto tak hadir dalam sidang kabinet dengan alasan sedang sakit batuk. Amir Machmud, menurut Subandrio, mengklaim datang ke rumah Soeharto bersama Basuki Rahmat dan M. Yusuf untuk mengeceknya. Amir mengaku melihat Soeharto masih mengenakan piyama dengan leher terbalut karena sakit tenggorokan.

 

Subandrio merasa ragu akan laporan itu. Pasalnya, ia menerima laporan bahwa Soeharto malah memimpin sebuah rapat di Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat pada waktu sore. Laporan itu datang dari seorang agen intelijen. Pada masa itu Subandrio merangkap jabatan sebagai Kepala Badan Pusat Intelijen, cikal bakal Badan Intelijen Negara.

 

Panglima Korps Cadangan Strategis Angkatan Darat saat itu, Brigadir Jenderal Kemal Idris, mengaku mengerahkan satu peleton prajurit RPKAD ke sekeliling Istana. Dalam wawancara dengan majalah Teknologi dan Strategi Militer No. 21 Tahun II yang terbit pada Maret 1989, Kemal mengaku mendapat perintah dari Soeharto untuk menangkap Subandrio.

 

Rupanya, Subandrio lolos pada hari itu. Subandrio berhasil keluar dari kompleks Istana menggunakan sepeda. “Dalam keadaan bingung, saya melihat sepeda entah milik siapa. Tanpa banyak pikir, saya naiki sepeda itu,” kata Subandrio dalam memoarnya.

 

Sambil menundukkan kepala, Subandrio mengayuh sepeda keluar dari Istana ke arah rumahnya di Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat. Lolos dari kerumunan demonstran yang memenuhi depan Istana, Subandrio terhenti di depan perempatan Bank Indonesia setelah melihat ribuan demonstran memenuhi Jalan M.H. Thamrin.

 

Ia memutuskan menggenjot kembali sepeda itu ke Istana. Sesampai di Istana, Subandrio melihat Sukarno berjalan menuju helikopter. Ia kemudian berlari menuju helikopter itu.

 

Subandrio tertangkap tujuh hari kemudian, 18 Maret 1966. Amir Machmud dalam otobiografinya yang berjudul Prajurit Pejuang mengaku menemui Sukarno atas perintah Soeharto. Ada dua misi yang diemban Amir saat itu. Pertama, mengawal Sukarno dari Istana Merdeka ke Istana Bogor. Kedua, menangkap Subandrio dan para menteri lain yang dianggap sebagai loyalis Sukarno. “Secara pribadi Pak Harto memerintahkan saya untuk mencari persembunyian para menteri itu. Terutama Subandrio harus ditemukan,” tulis Amir.

 

Amir pun meminta Sukarno menyerahkan Subandrio. Dalam keadaan terdesak, Sukarno akhirnya memberitahukan tempat persembunyian Subandrio dan tiga menteri lain, yaitu Armunanto, Sutomo, dan Soemarno, di wisma tamu atau guest house kompleks Istana Merdeka. Syaratnya satu: “Jangan bunuh Subandrio.”

 

Amir dan pasukannya kemudian menuju guest house dengan arahan Brigjen Sabur. Di sana, ia kemudian menangkap Subandrio cs dan menggelandang mereka ke Markas Kodam Jaya.

 

Soeharto berupaya menangkap Subandrio karena dianggap terlibat dalam peristiwa G-30-S. Dalam peristiwa itu, enam jenderal Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat tewas. TNI menuding Partai Komunis Indonesia berada di balik peristiwa itu. Subandrio ditangkap karena dianggap dekat dengan partai tersebut dan menjadi loyalis Sukarno.

 

Tudingan itu bukan tanpa alasan. Setelah peristiwa G-30-S terjadi, Subandrio membentuk Barisan Sukarno. Hal itu dilakukan untuk melindungi Sukarno dari tuduhan terlibat dalam pembantaian enam jenderal tersebut. “Pembentukan Barisan Sukarno itu sendiri atas perintah Sukarno,” ujar profesor riset bidang sejarah sosial politik Badan Riset dan Inovasi Nasional, Asvi Warman Adam.

 

Informasi soal hubungan Subandrio dengan PKI itu juga muncul dari Amerika Serikat. Dokumen rahasia badan intelijen Amerika Serikat (CIA) nomor 3164/65 tertanggal 13 Desember 1965 mengupas sosok Subandrio yang disebut dekat dengan PKI. “Indonesia First Deputy Premier Subandrio,” demikian judul dokumen yang akhirnya dibuka ke publik pada Desember 2002 tersebut.

 

Dokumen yang disusun Kantor Intelijen Aktual Direktorat Intelijen (Directorate of Intelligence Office of Current Intelligence) menyebutkan Subandrio beraliansi dengan PKI sejak 1963. Namun hubungan itu diduga terjalin hanya karena partai tersebut memiliki kedekatan dengan Sukarno.

 

CIA menganggap langkah Subandrio itu sebagai keputusan oportunistis alih-alih didorong kesamaan ideologis. Perannya dalam peristiwa G-30-S—dalam dokumen itu disebut peristiwa 1 Oktober—juga dianggap tak jelas. CIA menyebutkan kudeta itu akan menguntungkan Subandrio jika berhasil.

 

Jusuf Wanandi juga mengakui tak ada bukti yang menunjukkan Subandrio adalah anggota PKI. Tapi ia yakin mereka dekat. Menurut dia, Subandrio saat itu turut menjadi sasaran karena dekat dengan Sukarno. Pada saat itu mahasiswa dan tentara tak bisa langsung mengarahkan amarah kepada Sukarno. “Anda kan tidak bisa menyasar Bung Karno. Jadi Anda sasar orang keduanya saja. Pelaksana Bung Karno kan dia (Subandrio),” tuturnya.

 

Djono W. Oesman, penulis memoar Subandrio, juga mengatakan pernah menanyakan hubungan dokter spesialis bedah itu dengan PKI. Subandrio mengaku dekat dengan PKI. Namun ia menganggap kedekatan itu hal biasa. “Pak Ban bilang semua pemimpin partai juga mendekati dia karena jabatannya Wakil Perdana Menteri,” ujarnya.

 

Subandrio menegaskan statusnya sebagai kader Partai Sosialis Indonesia besutan Sutan Sjahrir. “Saya itu PSI, bukan PKI,” kata Djono menirukan pernyataan Subandrio.

 

Asvi juga mengatakan tak ada bukti yang menyatakan Subandrio merupakan bagian dari PKI. Menurut dia, tudingan Subandrio terlibat dalam G-30-S juga tak lepas dari posisinya sebagai Menteri Luar Negeri. Pada saat itu, atas arahan Sukarno, Subandrio mendekatkan arah politik luar negeri Indonesia ke Cina.

 

Asvi menjelaskan, tudingan itu tak lepas dari konteks bahwa Indonesia tengah bersitegang dengan Blok Barat. Saat itu Indonesia menentang pembentukan Federasi Malaya yang dilakukan Inggris. “Subandrio hanya menjalankan politik luar negeri Sukarno,” tutur Asvi.

 

Dalam sidang Mahkamah Militer Luar Biasa, kedekatan Subandrio dengan PKI ini pun sempat disinggung. Selain soal keraguan terhadap agama Subandrio, ada soal langkah Subandrio memanggil pulang dua pemimpin PKI, Dipa Nusantara Aidit dan Njoto, dari kunjungan mereka ke Beijing dan Moskow pada Juli-Agustus 1965.

 

Soeharto mencurigai kepergian Aidit dan Njoto ke dua negara kiri itu sebagai persiapan G-30-S. Jusuf Wanandi mengatakan ada kecurigaan Aidit melaporkan rencana menyingkirkan para perwira Angkatan Darat kepada pimpinan Partai Komunis Cina. “Aidit diduga melaporkan rencana itu ke Mao Tse-tung,” kata Jusuf.

 

Asvi selama bertahun-tahun meneliti berkas persidangan Subandrio. Ia menyimpulkan tudingan itu tak berdasar. Dalam persidangan, terungkap pemanggilan itu merupakan perintah Sukarno untuk mempersiapkan pidatonya pada 17 Agustus 1965. Aidit membalas telegram itu dengan menyatakan akan segera pulang.

 

Sekretaris Presiden yang bersaksi dalam sidang, Jamin, juga mengaku mendapat perintah dari Sukarno untuk memanggil Njoto kembali ke Indonesia pada 2 Agustus 1965. “Sukarno mengirim telegram kedua karena Njoto tak membalas telegram yang dikirim Subandrio,” ujar Asvi.

 

Peneliti sejarah asal Singapura, Taomo Zhou, dalam artikelnya yang berjudul “Chinese and the Thirtieth September Movement” punya cerita berbeda. Artikel yang didasari penelitian terhadap sejumlah arsip rahasia yang dibuka Kementerian Luar Negeri Cina pada 2008 itu dimuat dalam jurnal Indonesia volume 98 tahun 2014 terbitan Cornell University Press.

 

Zhou menuliskan Aidit mendadak pulang setelah Beijing menerima laporan soal kondisi kesehatan Sukarno yang memburuk. Laporan itu berasal dari tim medis Cina yang merawat Sukarno di Jakarta. Mereka meminta Beijing mengirimkan dokter saraf terbaik dan mengabarkan hal itu kepada Aidit.

 

Zhou juga menuliskan percakapan Aidit dengan Mao Tse-tung pada 5 Agustus 1965. Keduanya membahas apa yang akan terjadi jika Sukarno meninggal. Mao khawatir TNI Angkatan Darat, yang ia anggap didukung Blok Barat, akan mengambil alih kekuasaan.

 

Meski tudingan keterlibatan Subandrio dalam peristiwa G-30-S tak terbukti, ia tetap mendapat vonis mati dari hakim Mahkamah Milter. Belakangan, vonis ini berubah menjadi hukuman penjara seumur hidup setelah pemerintah menerima surat Ratu Elizabeth II dari Kerajaan Inggris dan Presiden Amerika Serikat Lyndon B. Johnson.

 

Yap Thiam Hien, penasihat hukum Subandrio, mengatakan sidang Mahkamah Militer saat itu digunakan untuk menyingkirkan tokoh Orde Lama secara legal. “Orde Lama seakan-akan semuanya des duivels (setan) dan Orde Baru segalanya des engelen (malaikat),” tutur Yap saat membacakan pleidoi Subandrio seperti tercantum dalam biografinya.

 

Jusuf Wanandi dan Asvi Warman Adam pun meyakini Subandrio merupakan korban perseteruan antara PKI dan Angkatan Darat. “Kalau mau jujur, persoalan kita waktu itu kan PKI melawan Angkatan Darat. Subandrio itu korban saja, walaupun sebetulnya dia juga dekat dengan Bung Karno,” kata Jusuf. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/tokoh/hubungan-subandrio-dengan-pki-2298601

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar