|
PLN Transisi Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 16 Oktober 2026
Ketika beberapa
bulan lalu RUPS mengangkat kembali Dr Darmawan Prasojo tetap sebagai dirut PLN
ia tampak orang yang sangat kuat: sejak lama baru ada kali itu dirut PLN dapat
masa jabatan kedua.
Ternyata
periode kedua itu hanya berumur 699 hari. Rabu malam kemarin RUPS PT PLN
mencopotnya: diganti tokoh internal PLN, Suroso Isnandar.
Yang banyak
diperbincangkan di medsos bukan soal penggantiannya, tapi caranya. Yakni
dilakukan hanya dalam sebuah RUPSLB via Zoom. Maka penggantian pejabat via
telpon, via utusan, dan via Zoom menjadi sudah biasa.
Negara kita
kelihatannya kian efisien.
RUPS via Zoom
sebenarnya tidak aneh. Terutama sejak ada pandemi Covid-19. Setelah Covid
berlalu pun RUPS via Zoom masih sering dilakukan. Memang lebih praktis.
Terutama di perusahaan yang tidak mementingkan hubungan antar manusia lagi.
Apalagi di PLN.
Sahamnya 100 persen masih milik negara. Belum berstatus go public pula. Maka
pada dasarnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT PLN cukup dihadiri satu orang
saja. Yakni yang mewakili pemegang saham satu-satunya: negara.
Dulu yang
disebut "negara" di situ adalah menteri keuangan yang dalam
praktiknya dikuasakan ke menteri BUMN.
Kini
"negara" itu diwakili oleh Danantara. Ups... masih ada satu pemegang
saham lainnya: Badan Pengelola BUMN --d/h kementerian BUMN. Meski kepemilikan
saham "Badan" itu hanya satu persen sebutannya "saham merah
putih": tidak boleh ada keputusan tanpa persetujuan yang satu persen itu.
Ia negara juga.
Walhasil RUPS
PT PLN sebenarnya tidak perlu juga lewat Zoom. Cukup diputuskan oleh Danantara
dan "Badan" itu lewat satu lembar dokumen diberi judul keputusan
RUPS. Selesai. Tidak boleh ada yang keberatan.
Bahwa harus ada
RUPS itu semata karena di dalam AD/ART perseroan disebutkan penggantian direksi
harus dilakukan oleh RUPS. Tapi, ya, itu tadi. Keputusan RUPS ditentukan oleh
kehendak suara mayoritas. Sedang di PLN negara bukan saja mayoritas melainkan
pemilik tunggal.
Jabatan Dirut
PLN memang salah satu kursi panas di negeri ini. Satunya lagi Dirut Pertamina.
Tapi tetap saja banyak yang ingin merasakan seberapa panas kursi itu.
Jangan-jangan ternyata sejuk dan empuk.
Panasnya kursi
itu juga lantaran begitu banyak yang ingin memanfaatkan PLN. Mereka lupa
bermain di PLN itu sama dengan main api: misalnya byar-pet di Jawa dan Sumatra
belum lama ini. Korbannya rakyat. Korban lainnya: perekonomian negara.
PLN sebenarnya
tahu apa penyebabnya, tapi takut membicarakannya: kelangkaan pasok batu bara
untuk kebutuhan dalam negeri sendiri.
Minggu lalu
terjadi lagi yang lebih fatal-jenderal: black out listrik di seluruh Batam.
Malu. Mati lampu di depan hidung Singapura yang bermandi cahaya.
Untung tidak
ada yang bilang itu sabotase yang dilakukan antek asing sebagai balasan atas
kiriman asap dari kebakaran hutan di Indonesia.
Anda sudah
tahu: listrik di Batam sebenarnya bukan urusan langsung PLN. Itu urusan PT PLN
Batam. Itu anak perusahaan PLN khusus membawahi Batam dan Bintan. Punya direksi
sendiri. Jadi yang layak diganti pertama-tama sebenarnya Dirut PT PLN Batam.
Tapi untuk
menggantinya perlu RUPS PT PLN Batam. Yang harus berinisiatif melaksanakan
adalah PLN Pusat sebagai pemegang saham mayoritas. Rupanya belum lagi dirut PLN
memutuskan mengganti dirut PT PLN Batam sudah lebih dulu diganti.
Kenapa ada PT
PLN Batam?
Zaman dulu
memang ada ide agar tiap satu pulau berdiri PT PLN sendiri. Ada direksinya
sendiri. Agar kemampuan memikirkan listrik di satu pulau bisa lebih fokus.
Tidak lagi menunggu keputusan PLN Pusat.
"Satu
PLN" untuk seluruh Indonesia memang terlalu besar. Apalagi Indonesia
negara kepulauan: tidak bisa punya jaringan listrik yang tersambung secara
nasional. Tidak bisa seperti Tiongkok atau negara Eropa. Amerika saja, yang
satu daratan, perusahaan listriknya banyak.
Anda sudah
tahu: di Indonesia kebutuhan setiap pulau berbeda jauh. Di Jawa jaringannya
sudah harus 500 kva. Di Sumatera masih 275kva. Kalimatan dan Sulawesi 150 kva.
Banyak pulau yang langsung 20 kva.
Pemikiran punya
banyak PLN itu rupanya berhenti. Hanya sempat punya dua PLN saja: PT PLN Batam
dan PT PLN Tarakan. Belakangan PT Tarakan dianggap terlalu kecil. Dirutnya
hanya selevel kepala cabang di PLN. Sekarang PT PLN Tarakan sudah tidak ada.
Listrik di sana kembali diurus oleh PLN Cabang Tarakan.
Sebaliknya,
"men-Tarakan-kan": PT PLN Batam rupanya sulit. Mungkin saja banyak
kepentingan yang berbenturan. PT PLN Batam sudah cukup seksi untuk jadi
rebutan.
Padahal,
akhirnya kelak, PT PLN Batam juga harus "hilang". Bukankah Presiden
Prabowo sudah menegaskan BUMN dan anak cucunya akan dijadikan tinggal 200
perusahaan saja.
Ide membuat
banyak "PLN" dulu itu urung karena terlalu banyak kritik. Itu
dicurigai sebagai langkah awal menuju swastanisasi dan liberalisasi PLN.
Berarti ide itu lahir di sekitar tahun 1990-an --saat Indonesia harus tunduk
pada IMF.
Seandainya ide
itu terlaksana; apakah kelistrikan sekarang lebih baik? Sampai saat ini tidak
ada yang melakukan kajian akademisnya.
Di Nagoya saya
baca: salah satu tugas dirut PLN yang baru adalah membuat konsep struktur PLN
ke depan. Terutama berkaitan dengan transisi energi --dari fosil ke green
energy.
Tentu itu
pekerjaan berat. Apakah PLN akan membangun solar sel sendiri? Atau diserahkan
ke swasta? Atau kombinasi?
Harus jelas.
PLN tidak boleh lagi ragu-ragu.
Untuk tidak
ragu jelas perlu dukungan penuh pemerintah: politik dan permodalan. Tanpa itu
PLN akan terus termangu di persimpangan transisi.
Dukungan
politik itu, misalnya, soal kebijakan subsidi. Kalau memang tarif listrik masih
harus bersubsidi maka pemerintah harus jelas: kapan membayar uang subsidinya ke
PLN.
Selama ini PLN,
sebagai perusahaan, terus menalangi uang subsidi itu --sambil menunggu kapan
ada pencairan dari pemerintah. Yang seperti itu membuat ruang gerak PLN sempit.
Terutama untuk ekspansi ke green energy.
Atau diserahkan
saja ke swasta? Untuk itu PLN harus membeli listrik swasta (dari solar cell).
Harganya lebih mahal dari harga jual PLN ke masyarakat.
Yang paling
krusial adalah soal pemanfaatan lahan strategis untuk solar cell. Yakni atap
pabrik, atap gedung, permukaan air, yang semuanya luas-luas itu.
Belum ada
ketegasan di sini: apakah PLN akan dengan antusias membelinya. Kenyataannya di
satu pihak PLN enggan membelinya. Di lain pihak swasta tidak bisa jualan
listrik tanpa menggunakan jaringan milik PLN.
Maka salah satu
jalan keluarnya adalah: PLN harus rela menyewakan transmisi listriknya. Dengan
demikian pabrik tekstil yang atapnya luas bisa dipasangi solar sel. Kelebihan
listriknya dijual ke pabrik lain lewat jaringan PLN --dengan sistem sewa. Di
banyak negara itu biasa.
Presiden
kelihatannya sangat gemes akan seretnya pelaksanaan transisi energi. Tapi dirut
PLN memang juga harus memikirkan agar PLN tidak jadi korban transisi energi.
Ini sungguh agenda yang menantang. Terutama kalau pencairan uang subsidi sangat
seret --yang membuat PLN pusing memikirkan cash flow-nya.
Jangan-jangan
kepusingan cash flow itu yang membuat konsep transisi energi tidak kunjung
jadi. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/973792/pln-transisi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar