Jumat, 23 Oktober 2026

 

Jangkar Sunyi Ketahanan Kita

Jerry Indrawan :   Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta.

MEDIA INDONESIA, 17 Oktober 2026

 

                                                

 

DI mana sesungguhnya peta ketahanan sebuah bangsa digambar? Bukan di atas meja perundingan geopolitik yang megah di ibu kota, melainkan di tanah-tanah basah di pedalaman, di antara derak gerobak petani dan bisik transaksi di sudut desa. Dalam lanskap politik-ekonomi Indonesia hari ini, gagasan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menghadirkan koperasi desa/kelurahan merah putih (KDKMP) sebagai sebuah jawaban yang sublim sekaligus mendasar.

 

Dalam banyak kesempatan presiden sering berkata bahwa KDKMP adalah program strategis nasional yang dirancang sebagai pusat pelayanan ekonomi desa terintegrasi untuk mewujudkan kemandirian ekonomi dari bawah. KDKMP berfungsi sebagai pusat layanan terintegrasi yang menyediakan toko sembako, simpan pinjam bunga rendah, apotek murah, hingga cold storage. Koperasi ini juga ditetapkan sebagai penyalur tunggal barang subsidi pemerintah agar tepat sasaran. Itu sebabnya KDKMP bertindak sebagai offtaker langsung untuk memotong jalur distribusi panjang dari petani.

 

KDKMP acap kali dibaca dalam kacamata birokrasi yang dingin sebagai saluran distribusi logistik atau unit usaha perdesaan semata. Namun, jika ditelisik dari sudut pandang ketahanan nasional yang utuh, inisiatif ini meretas sebuah paradigma baru: mengembalikan tumpuan daulat negara ke urat nadi paling jelata. Ketahanan nasional, yang selama berdekade-dekade terkooptasi oleh retorika keamanan militeristik yang kaku, kini diartikulasikan kembali melalui daya tahan pangan, kesejahteraan lokal, dan penegakan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 di aras tapak.

 

Akar ekonomi kerakyatan

 

Selama bertahun-tahun, desa di Indonesia kerap diperlakukan bagaikan panggung lakon yang dilupakan, tempat di mana hasil bumi disedot keluar, sementara kerapuhan ekonomi ditinggalkan di dalam. Kapitalisme global dan pemusatan pertumbuhan di perkotaan telah mengikis ketahanan sosial-ekonomi perdesaan, menjadikan warga desa sekadar penonton di tengah pusaran rantai pasok yang asing dan tak menentu.

 

Di sinilah KDKMP hadir bukan sebagai intervensi negara yang hegemonik, melainkan sebagai wadah rekonsiliasi antara kekuasaan dan rakyat kecil. Dengan mengonsolidasikan potensi ekonomi lokal, mulai dari tata kelola distribusi pangan, pembiayaan mikro, hingga penyediaan kebutuhan pokok, KDKMP membangun kembali tatanan ekonomi kerakyatan yang otonom.

 

Ketika sebuah desa memiliki koperasi yang tangguh, ia tidak lagi mudah goyah oleh fluktuasi harga global atau spekulasi pasar yang berjarak. Kebijakan ini menegaskan bahwa kemandirian bangsa tidak pernah bisa dibangun dari menara gading, melainkan dari keberanian untuk memercayai kapasitas kolektif masyarakat desa dalam mengelola takdir ekonominya sendiri.

 

Jangkar ketahanan sosial

 

Dalam konteks studi keilmuan sosial-politik dan hubungan internasional, kita memahami bahwa ancaman terhadap sebuah negara hari ini jarang hadir dalam bentuk invasi armada asing di garis pantai. Pertahanan terberat justru berada pada kerentanan internal, contohnya krisis pangan, disrupsi rantai pasok global, dan pecahnya kohesi sosial akibat ketimpangan. KDKMP, dalam proyeksi strategis pemerintahan saat ini, menempati posisi penting sebagai benteng pertahanan berlapis (layered defense) yang menghubungkan stabilitas politik dengan ketahanan ekonomi domestik.

 

Ketika KDKMP berfungsi optimal sebagai simpul penyangga pangan nasional dan pusat perputaran ekonomi lokal, ia secara simultan menciptakan jaring pengaman sosial yang berakar langsung di tengah masyarakat. Ada ketahanan psikologis dan sosial yang tumbuh ketika warga desa merasa bahwa negara tidak hadir sebagai entitas yang jauh dan menakutkan, melainkan sebagai mitra dalam wujud koperasi yang mereka jalankan bersama. Ketahanan nasional yang sejati lahir ketika setiap jengkal wilayah merasa memiliki alasan yang kuat untuk mempertahankan republik ini, karena republik itu hadir dan memberi hidup di meja makan mereka setiap hari.

 

Kita harus memiliki perspektif yang sama bahwa negara bukanlah bangunan beton yang dingin atau tumpukan dokumen kebijakan yang bisu. Negara adalah kesepakatan sunyi untuk saling menjaga, sebuah janji bahwa tidak ada warga di pelosok terdepan yang dibiarkan bertarung sendirian melawan kemiskinan dan kelaparan. KDKMP adalah ikhtiar untuk menjahit kembali janji itu, menerjemahkan pasal-pasal konstitusi menjadi beras yang terjangkau, pupuk yang tersedia, dan harga panen yang adil bagi mereka yang tangannya selalu berlumpur.

 

Di tengah ketidakpastian dunia yang kian bergemuruh, di mana krisis iklim, gejolak harga, dan perebutan sumber daya mengintai dari balik cakrawala, desa-desa kita tidak boleh lagi dibiarkan rapuh. Melalui keberanian untuk memancangkan jangkar ekonomi di tingkat basis, kita sedang membangun sebuah Indonesia yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh badai geopolitik apa pun. Di sana, di antara kesederhanaan gerai KDKMP yang berdiri di sudut-sudut desa, ketahanan nasional tidak lagi dihafalkan sebagai slogan, melainkan dihidupi sebagai kenyataan yang hangat dan bermartabat. ●

Sumber :   https://mediaindonesia.com/opini/945910/jangkar-sunyi-ketahanan-kita  

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar