|
Jangkar Sunyi Ketahanan Kita Jerry Indrawan : Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta. |
MEDIA INDONESIA, 17 Oktober 2026
|
DI mana sesungguhnya peta ketahanan sebuah bangsa
digambar? Bukan di atas meja perundingan geopolitik yang megah di ibu kota,
melainkan di tanah-tanah basah di pedalaman, di antara derak gerobak petani
dan bisik transaksi di sudut desa. Dalam lanskap politik-ekonomi Indonesia
hari ini, gagasan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menghadirkan
koperasi desa/kelurahan merah putih (KDKMP) sebagai sebuah jawaban yang
sublim sekaligus mendasar. Dalam banyak kesempatan presiden sering berkata
bahwa KDKMP adalah program strategis nasional yang dirancang sebagai pusat
pelayanan ekonomi desa terintegrasi untuk mewujudkan kemandirian ekonomi dari
bawah. KDKMP berfungsi sebagai pusat layanan terintegrasi yang menyediakan
toko sembako, simpan pinjam bunga rendah, apotek murah, hingga cold storage.
Koperasi ini juga ditetapkan sebagai penyalur tunggal barang subsidi
pemerintah agar tepat sasaran. Itu sebabnya KDKMP bertindak sebagai offtaker
langsung untuk memotong jalur distribusi panjang dari petani. KDKMP acap kali dibaca dalam kacamata birokrasi
yang dingin sebagai saluran distribusi logistik atau unit usaha perdesaan
semata. Namun, jika ditelisik dari sudut pandang ketahanan nasional yang
utuh, inisiatif ini meretas sebuah paradigma baru: mengembalikan tumpuan
daulat negara ke urat nadi paling jelata. Ketahanan nasional, yang selama
berdekade-dekade terkooptasi oleh retorika keamanan militeristik yang kaku,
kini diartikulasikan kembali melalui daya tahan pangan, kesejahteraan lokal,
dan penegakan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 di aras tapak. Akar ekonomi kerakyatan Selama bertahun-tahun, desa di Indonesia kerap
diperlakukan bagaikan panggung lakon yang dilupakan, tempat di mana hasil
bumi disedot keluar, sementara kerapuhan ekonomi ditinggalkan di dalam.
Kapitalisme global dan pemusatan pertumbuhan di perkotaan telah mengikis
ketahanan sosial-ekonomi perdesaan, menjadikan warga desa sekadar penonton di
tengah pusaran rantai pasok yang asing dan tak menentu. Di sinilah KDKMP hadir bukan sebagai intervensi
negara yang hegemonik, melainkan sebagai wadah rekonsiliasi antara kekuasaan
dan rakyat kecil. Dengan mengonsolidasikan potensi ekonomi lokal, mulai dari
tata kelola distribusi pangan, pembiayaan mikro, hingga penyediaan kebutuhan
pokok, KDKMP membangun kembali tatanan ekonomi kerakyatan yang otonom. Ketika sebuah desa memiliki koperasi yang
tangguh, ia tidak lagi mudah goyah oleh fluktuasi harga global atau spekulasi
pasar yang berjarak. Kebijakan ini menegaskan bahwa kemandirian bangsa tidak
pernah bisa dibangun dari menara gading, melainkan dari keberanian untuk
memercayai kapasitas kolektif masyarakat desa dalam mengelola takdir ekonominya
sendiri. Jangkar ketahanan sosial Dalam konteks studi keilmuan sosial-politik dan
hubungan internasional, kita memahami bahwa ancaman terhadap sebuah negara
hari ini jarang hadir dalam bentuk invasi armada asing di garis pantai.
Pertahanan terberat justru berada pada kerentanan internal, contohnya krisis
pangan, disrupsi rantai pasok global, dan pecahnya kohesi sosial akibat
ketimpangan. KDKMP, dalam proyeksi strategis pemerintahan saat ini, menempati
posisi penting sebagai benteng pertahanan berlapis (layered defense) yang
menghubungkan stabilitas politik dengan ketahanan ekonomi domestik. Ketika KDKMP berfungsi optimal sebagai simpul
penyangga pangan nasional dan pusat perputaran ekonomi lokal, ia secara
simultan menciptakan jaring pengaman sosial yang berakar langsung di tengah
masyarakat. Ada ketahanan psikologis dan sosial yang tumbuh ketika warga desa
merasa bahwa negara tidak hadir sebagai entitas yang jauh dan menakutkan,
melainkan sebagai mitra dalam wujud koperasi yang mereka jalankan bersama.
Ketahanan nasional yang sejati lahir ketika setiap jengkal wilayah merasa
memiliki alasan yang kuat untuk mempertahankan republik ini, karena republik
itu hadir dan memberi hidup di meja makan mereka setiap hari. Kita harus memiliki perspektif yang sama bahwa
negara bukanlah bangunan beton yang dingin atau tumpukan dokumen kebijakan
yang bisu. Negara adalah kesepakatan sunyi untuk saling menjaga, sebuah janji
bahwa tidak ada warga di pelosok terdepan yang dibiarkan bertarung sendirian
melawan kemiskinan dan kelaparan. KDKMP adalah ikhtiar untuk menjahit kembali
janji itu, menerjemahkan pasal-pasal konstitusi menjadi beras yang
terjangkau, pupuk yang tersedia, dan harga panen yang adil bagi mereka yang
tangannya selalu berlumpur. Di tengah ketidakpastian dunia yang kian
bergemuruh, di mana krisis iklim, gejolak harga, dan perebutan sumber daya
mengintai dari balik cakrawala, desa-desa kita tidak boleh lagi dibiarkan
rapuh. Melalui keberanian untuk memancangkan jangkar ekonomi di tingkat
basis, kita sedang membangun sebuah Indonesia yang tidak mudah
diombang-ambingkan oleh badai geopolitik apa pun. Di sana, di antara
kesederhanaan gerai KDKMP yang berdiri di sudut-sudut desa, ketahanan
nasional tidak lagi dihafalkan sebagai slogan, melainkan dihidupi sebagai
kenyataan yang hangat dan bermartabat. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/945910/jangkar-sunyi-ketahanan-kita
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar