|
Sakelar Cahaya di Dalam Otak Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 10 Oktober 2026
|
Bagaimana
cahaya bisa mengendalikan sel saraf? Penemuan yang mengantarkan tiga ilmuwan
meraih Nobel 2026 membuka jalan baru untuk memahami otak dan mengembangkan
pengobatan. Bayangkan seorang penderita epilepsi
yang hidup dengan kecemasan setiap kali tubuhnya mendadak kejang. Ia tak
pernah tahu kapan serangan ayan berikutnya akan datang. Bayangkan pula seseorang yang
kehilangan penglihatan karena sel-sel peka cahaya di matanya rusak. Dalam
kebutaan, dunia yang dahulu penuh warna perlahan berubah menjadi gelap. Otak lain lagi. Ia menyimpan rahasia
yang sulit dibongkar. Miliaran sel saraf bekerja seperti jaringan kabel yang
saling terhubung, mengirimkan sinyal listrik, menyimpan ingatan, mengatur
gerakan, membentuk emosi, dan menghasilkan perilaku. Ketika sebuah bagian jaringan itu
mengalami gangguan, ilmuwan sering kesulitan menentukan sel mana yang menjadi
penyebab, sel mana yang sekadar ikut bereaksi, dan bagaimana keduanya saling
memengaruhi. Bertahun-tahun, kalangan ilmuwan dan
dokter terus berusaha mencari cara untuk mengatasi gangguan-gangguan tersebut
tanpa mengusik terlalu banyak bagian tubuh yang masih bekerja normal. Kini, sekelompok ilmuwan memiliki cara
yang lebih presisi untuk mengurai kerumitan tersebut. Mereka mengembangkan
teknik yang memungkinkan peneliti mengendalikan aktivitas sel saraf
menggunakan cahaya. Teknik ini bernama optogenetika.
Penemuan yang membuka jalan bagi pendekatan baru dalam penelitian otak itu
mengantarkan Karl Deisseroth, Peter Hegemann, dan Georg Nagel meraih Nobel
Fisiologi atau Kedokteran 2026. Penemuan besar mereka bermula dari
sesuatu yang tampak remeh. Mereka mengamati organisme bersel satu yang hidup
di air. Makhluk mungil itulah yang membantu mereka menemukan cara untuk
menghidupkan atau mematikan aktivitas sel saraf dengan ketepatan yang sebelumnya
sulit dicapai. -000- Bayangkan seorang mekanik yang
mendengar bunyi aneh dari mesin mobil. Ia dapat merekam bunyi itu, memeriksa
getaran, dan memperkirakan bagian yang bermasalah. Namun, ia akan lebih mudah
menemukan sumber kerusakan jika dapat menguji satu komponen tanpa mengganggu
seluruh mesin. Ilmuwan otak menghadapi persoalan
serupa. Mereka membutuhkan sakelar yang mampu mengendalikan kelompok sel
tertentu, kemudian mengamati perubahan yang muncul. Sakelar itulah yang
mereka temukan melalui optogenetika. Otak manusia bekerja melalui
komunikasi antarsel saraf atau neuron. Setiap neuron menerima rangsangan,
mengolah informasi, kemudian meneruskan sinyal kepada sel lain. Jaringan
komunikasi ini memungkinkan manusia berjalan, berbicara, mengenali wajah,
merasakan sakit, mengingat masa lalu, bahkan jatuh cinta. Namun, jaringan itu sangat rumit.
Ketika seseorang mengalami epilepsi, misalnya, sebagian jaringan saraf dapat
menunjukkan aktivitas listrik berlebihan dan tidak terkendali. Pada gangguan
lain, perubahan aktivitas jaringan tertentu dapat berkaitan dengan nyeri
kronis, kecanduan, atau gangguan gerakan. Untuk memahami penyebabnya, peneliti
harus mengetahui sel mana yang terlibat dan apa yang terjadi jika aktivitas
sel itu berubah. Mengamati otak saja sering belum cukup. Dua kejadian yang
berlangsung bersamaan belum tentu menunjukkan bahwa salah satunya menyebabkan
yang lain. Optogenetika menawarkan pendekatan
yang lebih terarah. Dengan menggabungkan rekayasa genetika dan cahaya,
ilmuwan dapat memengaruhi aktivitas sel tertentu sambil mengurangi gangguan
terhadap sel lain di sekitarnya. Sebelumnya, peneliti juga telah
menggunakan rangsangan listrik untuk memengaruhi aktivitas saraf. Cara
tersebut berguna, tetapi arus listrik dapat memengaruhi beberapa kelompok sel
sekaligus. Andrew Jackson, seorang ahli saraf
dari Newcastle University, menggambarkan pendekatan lama itu seperti
memainkan piano dengan palu. Nada yang dituju memang berbunyi, tetapi
nada-nada di sekitarnya ikut terpukul. -000- Hadiah Nobel ini berawal dari
penelitian Peter Hegemann dan Georg Nagel pada awal 2000-an. Keduanya
mempelajari Chlamydomonas, sejenis ganggang bersel satu yang mampu merespons
cahaya. Organisme kecil ini memanfaatkan informasi cahaya untuk membantu mengarahkan
gerakannya menuju kondisi lingkungan yang sesuai. Penelitian mereka mengungkap peran
protein yang kemudian dikenal sebagai channelrhodopsin. Protein ini membentuk
saluran pada membran sel yang dapat terbuka ketika terkena cahaya tertentu. Saat saluran terbuka, partikel
bermuatan listrik yang disebut ion bergerak melintasi membran. Pergerakan ion
mengubah keadaan listrik sel dan dapat memicu aktivitasnya. Penjelasannya terdengar teknis, tetapi
prinsipnya sederhana. Cahaya menjadi pemicu yang mengendalikan pintu kecil
pada permukaan sel. Ketika pintu terbuka, ion bergerak dan mengubah sinyal
listrik di dalam sel. Karl Deisseroth kemudian membawa
gagasan itu ke penelitian sel saraf. Ia memperkenalkan gen penghasil protein
peka cahaya tersebut ke neuron yang dikembangkan di laboratorium, lalu
mengujinya pada hewan hidup, termasuk tikus. Hasilnya mengubah cara ilmuwan
mempelajari otak. Ketika peneliti menyinari neuron yang telah memiliki
protein peka cahaya, mereka dapat memicu aktivitas sel itu dengan sangat
cepat dan terukur. Dalam kondisi eksperimen yang sesuai, respons dapat
dikendalikan hingga skala milidetik, yakni seperseribu detik. Bayangkan ruang kendali yang memiliki
ribuan tombol. Sebelumnya, menekan satu tombol sering ikut mengaktifkan
beberapa tombol di dekatnya. Kini, ilmuwan dapat memilih kelompok
tombol tertentu dan mengamati akibatnya. Mereka bisa menguji apakah aktivitas
kelompok sel tertentu memicu respons tertentu, atau apakah respons itu
memerlukan kerja sama beberapa kelompok sel. Kemampuan tersebut membuka jalan bagi
penelitian yang lebih tajam mengenai ingatan, rasa sakit, respons terhadap
hadiah, emosi, dan perilaku. Peneliti dapat mengaktifkan atau menghambat
aktivitas kelompok sel yang dipilih, kemudian membandingkan hasilnya dengan
keadaan ketika sel tersebut tidak mereka rangsang. Tentu saja, otak manusia jauh lebih
rumit dari panel kendali. Satu kelompok neuron dapat terlibat dalam beberapa
fungsi sekaligus. Pengaruh suatu sel juga bergantung pada hubungan dengan
sel-sel lain. Karena itu, optogenetika membantu
menguji hubungan sebab-akibat, tetapi tidak otomatis memberikan jawaban
lengkap tentang cara kerja otak. Nilai terbesar optogenetika sejauh ini
terletak pada penelitian dasar. Teknik ini membantu ilmuwan memetakan
jaringan saraf dan memahami bagaimana aktivitas sel tertentu memengaruhi
fungsi otak. Pengetahuan tersebut kemudian dapat mengarahkan pengembangan
pengobatan yang lebih tepat. Salah satu contoh yang menarik datang
dari dunia penglihatan. Pada 2021, para peneliti melaporkan keberhasilan
memulihkan sebagian kemampuan melihat pada seorang pasien yang mengalami
kebutaan akibat retinitis pigmentosa, penyakit yang merusak sel-sel retina
penerima cahaya. Dalam keadaan normal, sel penerima
cahaya di retina menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi sinyal listrik.
Selanjutnya, jaringan retina meneruskan informasi itu ke otak melalui sel
saraf lain. Pada pasien tersebut, kerusakan telah
menghilangkan banyak sel penerima cahaya sehingga jalur penglihatan tidak
dapat bekerja seperti semula. Peneliti menggunakan pendekatan
optogenetika untuk membuat sel saraf lain di retina menghasilkan protein peka
cahaya. Mereka memasukkan gen yang mengode protein tersebut ke mata pasien.
Dengan bantuan kacamata khusus yang menangkap dan memperkuat informasi
cahaya, pasien kemudian mampu mengenali beberapa objek. Hasil itu memberi harapan, tapi kita
perlu memahami batasnya. Pasien tersebut tidak memperoleh kembali penglihatan
normal. Ia mendapatkan kemampuan terbatas untuk mendeteksi dan mengenali
objek dalam kondisi tertentu. Keberhasilan ini menunjukkan
kemungkinan baru, bukan bukti bahwa teknologi tersebut sudah dapat
menyembuhkan semua bentuk kebutaan. Para peneliti juga terus mengembangkan
pendekatan optogenetika untuk menangani epilepsi dan nyeri. Secara teoritis,
jika ilmuwan dapat mengenali kelompok sel yang berperan penting dalam
menghasilkan gejala, mereka dapat merancang intervensi yang lebih terarah. Namun, pengembangan terapi membutuhkan
pengujian keamanan, efektivitas, dan ketahanan manfaat pada manusia. Dalam penyakit Parkinson, peneliti
menggunakan optogenetika pada hewan percobaan untuk memahami jaringan saraf
yang terlibat dalam stimulasi otak dalam atau deep-brain stimulation (DBS). Terapi DBS menggunakan elektroda yang
ditanam di bagian otak tertentu untuk mengirimkan rangsangan listrik dan
membantu mengendalikan gejala pada pasien yang memenuhi kriteria medis. Penelitian dengan optogenetika
membantu ilmuwan mengurai jalur saraf mana yang berperan dalam menghasilkan
manfaat terapi tersebut. Pengetahuan itu berpotensi memperbaiki penempatan
elektroda, pengaturan rangsangan, dan rancangan terapi pada masa mendatang. Pendekatan serupa juga dapat membantu
penelitian gangguan obsesif-kompulsif dan kecanduan. Akan tetapi, peneliti
masih harus memisahkan mekanisme biologis yang benar-benar berperan dari
hubungan yang sekadar tampak bersamaan. Kompleksitas perilaku manusia menuntut
kehati-hatian sebelum temuan laboratorium diterapkan sebagai pengobatan. -000- Jika cahaya dapat mengendalikan sel
saraf dengan sangat presisi, mengapa dokter belum menggunakan teknologi ini
secara luas untuk mengobati berbagai penyakit otak? Persoalannya terletak pada cara
penerapannya. Untuk membuat neuron merespons cahaya, peneliti perlu
memasukkan gen yang menghasilkan protein peka cahaya ke sel sasaran. Proses ini biasanya membutuhkan teknik
rekayasa genetika dan sistem pengantar gen. Misalnya, virus yang telah
direkayasa agar dapat membawa materi genetik ke jenis sel tertentu. Setelah itu, peneliti harus memastikan
protein tersebut bekerja pada sel yang tepat. Mereka juga perlu mengirimkan
cahaya ke lokasi yang diinginkan. Untuk jaringan yang terletak jauh di dalam
otak, tugas ini jauh lebih sulit daripada menyinari sel di laboratorium atau
jaringan retina. Risiko dan manfaat penyisipan gen juga
memerlukan pengujian ketat. Ilmuwan harus menilai apakah protein yang
diperkenalkan tetap aman, apakah respons sel berlangsung sesuai harapan, dan
apakah intervensi menimbulkan efek samping dalam jangka panjang. Karena itulah, sejumlah pendekatan
lain berkembang dengan mengambil inspirasi dari optogenetika. Kemogenetika, misalnya, mencoba
mengendalikan aktivitas sel melalui reseptor yang merespons senyawa kimia
tertentu. Sementara itu, penelitian sonogenetika berupaya memanfaatkan
gelombang ultrasonik untuk memengaruhi sel yang dirancang agar peka terhadap rangsangan
tersebut. Kedua pendekatan itu masih menghadapi
tantangan ilmiah dan klinis. Meski demikian, keduanya menunjukkan bahwa
penemuan tentang protein peka cahaya telah mendorong ilmuwan membayangkan
cara-cara baru untuk mengendalikan aktivitas sel secara lebih selektif. -000- Penghargaan Nobel sering menghadirkan
tiga nama di panggung, padahal pengetahuan ilmiah tumbuh melalui jaringan
panjang penelitian, perdebatan, kegagalan, dan kontribusi banyak orang. Dalam perkembangan optogenetika,
Edward Boyden dari Massachusetts Institute of Technology ikut berperan
penting dalam penelitian awal yang memperlihatkan bagaimana teknik ini dapat
mengendalikan neuron. Gero Miesenböck dari Universitas
Oxford juga mengembangkan pendekatan untuk mengendalikan perilaku hewan
menggunakan cahaya. Sejumlah ilmuwan lain memberikan
sumbangan mendasar, termasuk peneliti yang menemukan dan mempelajari
protein-protein peka cahaya sebelum penerapannya pada neuron. Aturan Nobel membatasi jumlah penerima
penghargaan pada tiga orang dan hanya mengizinkan penghargaan bagi ilmuwan
yang masih hidup. Karena itu, daftar pemenang tidak selalu mencerminkan
seluruh mata rantai kontribusi yang membentuk sebuah terobosan. Namun, keterbatasan itu tidak
mengurangi arti penemuan yang mereka hasilkan. Optogenetika memperlihatkan
bagaimana penelitian dasar yang semula tampak jauh dari persoalan kesehatan
dapat membuka jalan menuju pendekatan medis yang sama sekali baru. Kita sering menuntut ilmu pengetahuan
menghasilkan obat secepat mungkin. Ketika peneliti mempelajari ganggang
bersel satu, orang mungkin bertanya apa gunanya penelitian semacam itu bagi
pasien di rumah sakit. Padahal, jawabannya kadang baru
terlihat bertahun-tahun kemudian, setelah pengetahuan dasar bertemu dengan
teknologi genetika, rekayasa cahaya, dan kedokteran klinis. -000- Di sinilah pelajaran penting bagi
Indonesia. Dukungan terhadap riset tidak cukup berhenti pada seremoni,
pemberian penghargaan, atau slogan tentang inovasi. Perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga
riset, dan industri perlu membangun kerja sama jangka panjang, menyediakan
fasilitas eksperimen yang memadai, mendidik peneliti muda, serta menjaga
pendanaan penelitian dasar yang hasilnya mungkin baru muncul jauh setelah
satu periode anggaran berakhir. Pemerintah juga perlu menilai
penelitian melalui proses dan mutu ilmiahnya, bukan hanya menghitung jumlah
publikasi atau mengejar peringkat internasional. Riset yang baik membutuhkan
kebebasan untuk menguji hipotesis, keterbukaan terhadap hasil yang tidak
sesuai harapan, dan mekanisme evaluasi yang menjaga integritas. Optogenetika memberi kita gambaran
tentang ilmu pengetahuan sebagai lampu yang menembus lorong gelap sedikit
demi sedikit. Cahaya itu belum menerangi seluruh ruangan, apalagi langsung
memperbaiki semua kerusakan. Namun, setiap bagian yang berhasil diterangi
membantu manusia memahami di mana masalah bermula dan bagaimana mereka dapat
mengatasinya. Tiga penerima Nobel tahun ini
memperoleh penghargaan karena membantu membuka pintu menuju pemahaman baru
tentang otak. Perjalanan dari penemuan protein pada ganggang hingga percobaan
pemulihan penglihatan menunjukkan bahwa rasa ingin tahu ilmiah dapat berkembang
menjadi harapan medis yang nyata. Bagi pasien, harapan itu tentu sangat
berarti. Bagi masyarakat, penemuan ini mengingatkan bahwa kemajuan pengobatan
sering bermula jauh sebelum seorang pasien memasuki ruang praktik dokter. Ia bisa bermula dari mikroskop,
organisme kecil, pertanyaan sederhana, dan ilmuwan yang bersedia mengikuti
petunjuk alam sampai menemukan sesuatu yang sebelumnya tak terpikirkan. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar