Senin, 19 Oktober 2026

 

Tak Hanya Hutan, Api pun Melalap Warisan Budaya Lokal

Yuni Rohmawati :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 18 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Asap kebakaran hutan dan lahan berdampak pada para peternak kerbau rawa pampangan dan perajin gulo puan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

 

·      Dampak kebakaran hutan dan lahan bukan hanya kerugian ekonomi dan gangguan kesehatan masyarakat, melainkan juga pergeseran nilai budaya dan kearifan lokal.

 

·      Takut melanggar larangan pembukaan lahan dengan cara pembakaran, masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat menunda rangkaian ritual berladang.

 

SUDAH sebulan lebih asap kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Desa Bangsal, Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Saban hari, asap tebal menyergap sejak pukul 22.00 WIB dan baru menipis sekitar pukul 12.00 WIB esoknya. Jarak pandang pada pagi dan siang hanya sekitar 50 meter.

 

Muhammad Husin, warga Desa Bangsal, pun hampir sebulan memilih mengurung sepuluh kerbau rawa pampangan miliknya di kandang. “Takut kerbau saya tidak bisa pulang,” kata Husin pada Rabu, 14 Oktober 2026.

 

Berada sekitar 50 kilometer di sisi tenggara Kota Palembang, Bangsal merupakan sentra pemeliharaan kerbau rawa pampangan. Peternak di kampung ini menggunakan sistem kalang. Mereka melepasgembalakan kerbau di lebak atau rawa pada pagi atau siang, lalu menggiring ternak itu ke kandang menjelang malam. Kerbau endemis Sumatera Selatan itu menggemari rumput kumpai yang tumbuh di dasar rawa.

 

Sekitar tiga perempat wilayah Bangsal, yang luasnya mencapai 448,5 hektare, berupa rawa gambut. Ekosistem lahan basah ini terhubung dengan Sungai Pampangan. Sejauh ini, kampung itu masih selamat dari amukan api yang dua bulan terakhir meluas di Ogan Komering Ilir. Namun warga desa ini ikut merasakan getah kebakaran hutan dan lahan yang melanda Desa Jungkal, kampung tetangga yang berada sekitar 10 kilometer di sisi selatan Bangsal. “Saya lihat di sana apinya masih ada,” tutur Husin, 48 tahun.

 

Seperti Bangsal, Desa Jungkal didominasi rawa gambut. Wilayah kampung ini berada di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Sungai Burnai-Sungai Sibumbung dan KHG Sungai Sibumbung-Sungai Talangrimba. Platform pemantauan kebakaran hutan dan lahan MapBiomas Fire Indonesia mencatat, sepanjang Januari-Agustus 2026, luas area terbakar di dua KHG tersebut mencapai 2.517 hektare—sekitar 888 hektare di antaranya di wilayah Desa Jungkal.

 

Kebakaran di sisi selatan Kecamatan Pampangan itu meluas sejak Juli 2026. Hingga sekarang, sebagaimana kesaksian Husin, amukan api belum mereda.

 

Dalam kurun 1-15 Oktober 2026, instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite yang dikembangkan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mendeteksi 579 titik panas dengan tingkat keterpercayaan tinggi di Ogan Komering Ilir. Angka itu hampir dua kali jumlah titik panas yang terdeteksi sepanjang September. Mayoritas hotspot terkonsentrasi di sisi selatan Pampangan yang didominasi gambut.

 

Asap kiriman kebakaran hutan dan lahan di sisi selatan itu menambah tekanan bagi Husin dan para peternak kerbau rawa pampangan di Bangsal. Sebelum jerubu menyergap, mereka berhadapan dengan masalah yang berulang setiap kali fenomena iklim El Niño datang: kekeringan ekstrem. Rawa di sekitar Bangsal mengering sejak Juli 2026. Rumput kumpai yang menjadi pakan utama kerbau mereka pun makin sulit didapatkan.

 

Dampaknya merembet ke mana-mana. Terbatasnya pakan yang dipicu kekeringan dan kebakaran hutan telah menyebabkan produksi susu indukan kerbau pampangan menyusut. Susu inilah yang sebenarnya bernilai ekonomi tinggi bagi warga Bangsal. Kelompok perempuan di kampung ini mengolah susu tersebut untuk dijadikan gulo puan—sebutan dalam bahasa lokal yang berarti gula susu.

 

Talha, istri Husin, termasuk yang terkena getahnya. Perempuan 47 tahun ini adalah satu dari lima perajin gulo puan di Bangsal. Ketika pasokan bahan baku masih melimpah, Talha biasa mengolah 20 liter susu kerbau pampangan dalam sehari untuk menghasilkan 6 kilogram gulo puan. Ia menjualnya dengan harga Rp 100-150 ribu per kilogram. Pasarnya sampai ke Pulau Jawa.

 

Beberapa tahun terakhir, ketika kekeringan ekstrem serta kebakaran hutan dan lahan makin intens terjadi, dia hanya mendapatkan bahan baku 6 liter susu. Gulo puan yang dihasilkan tak sampai 2 kilogram. “Polanya begitu setiap tahun. Di puncak kemarau bisa tidak ada yang diproduksi,” ujar Talha.

 

Walhasil, menurut Talha, makin banyak perempuan di Bangsal yang berhenti membuat gulo puan beberapa tahun terakhir. Kini hanya ada lima kelompok perajin gulo puan di kampung tersebut. “Karena bahan bakunya makin langka,” katanya. Kondisi ini mengancam eksistensi gulo puan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda Indonesia pada 2021.

 

Bagi pengajar Departemen Antropologi Universitas Indonesia, Sofyan Ansori, situasi yang dialami warga Bangsal menunjukkan dampak kebakaran hutan dan lahan bukan hanya berupa kerugian ekonomi dan gangguan kesehatan masyarakat. Bencana kebakaran juga menggeser nilai budaya dan kearifan lokal komunitas adat. “Ketika lingkungan tempat mereka hidup berubah, hubungan masyarakat dengan hutan ikut berubah,” tutur Sofyan pada Kamis, 15 Oktober 2026.

 

Sofyan menjelaskan, hal yang hilang ketika hutan terbakar bukan hanya pepohonan, melainkan juga ruang hidup yang menopang kebudayaan masyarakat. Kerusakan itu mengubah hubungan warga dengan alam, termasuk dalam hal akses terhadap bahan-bahan tradisi, ruang berkumpul, dan kesempatan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. “Alam adalah tempat mereka belajar,” ujarnya.

 

Kebijakan politik dalam penanganan kebakaran juga punya andil menjauhkan masyarakat dari ritus dan tradisi mereka. Saat terjadi kebakaran, komunitas adat seperti masyarakat Dayak yang memiliki tradisi berladang berpindah dengan cara pembakaran selalu dijadikan kambing hitam. Tekanan ini, kata Sofyan, telah berlangsung lebih dari empat dekade sejak pemerintah menyusun rencana sistematis untuk menghentikan praktik berladang berpindah pada 1980-an.

 

Menurut Sofyan, upaya kriminalisasi yang mengiringi kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengancam keberlangsungan sisi penghidupan masyarakat, tapi juga integritas kultural mereka. Rasa takut memaksa peladang meninggalkan ladang mereka. Sebagian dari mereka mencari sumber penghidupan baru. “Mereka takut mengolah lahan dengan cara yang mereka punyai,” tuturnya.

 

Pada akhirnya, dampak pergeseran tradisi itu merembet ke sifat komunal masyarakat adat. Sofyan mengingatkan, sebagian besar tradisi masyarakat adat dijalankan secara berkelompok. Maka, ketika tradisi terkikis, kebersamaan yang menyertainya ikut hilang. “Jadi kebakaran hutan menimbulkan efek domino bagi masyarakat adat,” kata pengajar mata kuliah ekonomi kemanusiaan dan bencana itu.

 

Antonius Antong, anggota masyarakat adat Dayak Seberuang, merasakan langsung efek domino tersebut. Warga Kampung Ansok, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, itu biasanya mulai membuka ladang pada akhir Agustus hingga pertengahan September. Namun hingga sekarang kebiasaan itu tak ia lakoni karena adanya larangan pembukaan lahan dengan cara pembakaran.

 

Menurut Antonius, dalam tradisi Dayak, pembakaran lahan untuk membersihkan ladang bukan sekadar urusan menyulut api. Peladang Seberuang—subsuku Iban—harus menjalankan serangkaian ritual, dari mencari calon lahan saat bulan menuju purnama, membersihkan tiga atau empat titik lahan, hingga menunggu tiga hari sebelum berlanjut ke pembakaran dan penanaman. “Kalau selama tiga hari itu mimpi atau perasaannya bagus, boleh dilanjutkan,” ujarnya.

 

Seluruh rangkaian ritual itu dilakukan secara bergotong-royong. Dalam pembakaran, semua anggota keluarga terlibat dalam pembuatan sekat bakar selebar 2-3 meter. Setelah itu, pemilik ladang menyimpan lemang di tengah ladang seraya memohon izin kepada penguasa alam dan makhluk di sekitarnya sebelum menyalakan api. “Setelah apinya habis, semua mengecek lagi dengan berkeliling untuk memastikan api benar-benar padam,” tutur Antonius.

 

Kelak, setelah lahan benar-benar bersih, pemilik ladang menugal tanah untuk benih pertama yang diperciki darah ayam. Siklus itu berlanjut dengan pemberian makan kepada burung dan hama, ritual datai taun sebelum panen, dan gawai adat sebagai pesta panen. Pemanenan pun dilakukan secara bersama dan diikuti kerabat yang diundang dari berbagai penjuru daerah. “Jadi gawai bukan hanya sebagai bentuk syukur atas hasil panen,” kata Antonius.

 

Serangkaian ritual berladang Dayak Seberuang itu kini tertunda. Antonius khawatir penundaan tersebut bakal mengancam mutu benih yang telah disimpan lebih dari enam bulan. “Jika tidak menanam tahun ini, warga harus meminta benih kepada orang lain untuk musim berikutnya,” ujarnya. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/lingkungan/dampak-kebakaran-hutan-masyarakat-adat-2300810

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar