Jumat, 23 Oktober 2026

 

Half Time

Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 23 Oktober 2026

 

 

 

Banyak pengusaha yang berani ambil risiko karena taruhannya hanyalah nasibnya sendiri. Beda dengan Presiden Prabowo Subianto. Sangat bernyali. Berani. Sangat berani. Padahal taruhannya bangsa.

 

Itu tecermin dari pidatonya di pembukaan sidang kabinet paripurna di Istana Kepresidenan Rabu kemarin. Presiden seperti meluapkan perasaan terdalamnya.

 

"Kita ini terus dihadang. Iya kan. Ada apa itu? Macam-macamlah MSCI, macam-macam. Dia mau takut-takuti kita," ucap Prabowo.

 

Anda sudah tahu mengapa kalimat itu diucapkan: gara-gara pengumuman lembaga rating di New York itu harga saham di Bursa Efek Indonesia nyungsep 11,7 persen Jumat 12 lalu. Turun 3 persen lagi Seninnya.

 

MSCI memang sedang mempertimbangkan untuk menurunkan rating BEI dua tingkat sekaligus. Langsung ke tingkat terendah: standalone. Meski keputusan finalnya baru diumumkan Juni tahun depan tapi investor saham asing langsung jual, jual, jual.

 

Banyak yang mengira presiden akan marah ke BEI: mengapa tidak cepat mereformasi diri agar tidak ada sanksi dari MSCI. Ternyata reaksi Prabowo yang ditunjukkan ke publik justru seperti menantang balik MSCI.

 

Memang nyungsep-nya harga saham di BEI itu sangat menampar: terjadi di sekitar ulang tahun ke-75 Presiden Prabowo dan ulang tahun kedua pemerintahannya. Begitu kesalnya presiden sampai menyebut langsung nama MSCI –berkali-kali pula. Langka ada level presiden melakukan tembak langsung seperti itu.

 

"Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut siapa pun dan tidak akan gentar!"

 

Luar biasa bernyalinya. Sidang kabinet sendiri diadakan tepat di hari ulang tahun kedua pemerintah Prabowo.

 

"Kita tidak takut. Kita punya kekuatan. Kita punya keberanian. Dan kita rela berkorban. Kita tidak mengenal menyerah."

 

Kata ''kita rela berkorban'' mungkin punya maksud agar rakyat harus siap menghadapi akibat ekonomi lanjutannya. Belum tahu apa yang terjadi setelah tantangan balik dari Presiden Prabowo. Yang jelas kita harus siap rela berkorban.

 

Kita rela berkorban apa? Apa saja.

 

Siapa yang dimaksud ''kita''? Seluruh rakyat?

 

Bahwa kita rela berkorban bisa digerakkan. Pun bahwa kita punya keberanian –kita pemberani. Tapi bahwa kita sudah punya kekuatan saya berpikir agak panjang: kekuatan apa yang telah kita punya yang bisa kita pakai melawan?

 

Kekuatan terbaik tentunya adalah kekuatan tekad untuk mau memperbaiki diri. Dalam hal ini perbaikan tata kelola Bursa Efek Indonesia.

 

Yang paling dipersoalkan MSCI adalah itu: transparansi di BEI –agar tidak ada investor saham yang tertipu. Juga soal penegakan hukum di sana: jangan sampai perusahaan yang go public melanggar aturan tapi tidak dilakukan tindakan. Termasuk soal perlunya lebih banyak saham yang diperdagangkan di lantai bursa. Jangan sampai terlalu kecil saham yang dilepas ke publik –itu pun diam-diam dibeli sendiri oleh pemiliknya lewat proksi.

 

Intinya MSCI menginginkan jangan sampai pembeli saham tertipu oleh trik para emiten. Juga jangan sampai pembeli saham mendapat harga tidak wajar akibat saham tersebut terlalu banyak digoreng.

 

MSCI itu lembaga bisnis. Perusahaan yang sudah go public di bursa saham New York.

 

Bisnis MSCI kian bagus kalau analisis sahamnya tepat. Bisa dipercaya. Dengan demikian para pembeli saham tidak perlu menganalisis sendiri mana saham yang baik dan mana yang buruk. Cukup memercayai analisis MSCI.

 

Pembeli saham di Amerika tidak kenal Indonesia. Juga tidak mau repot. Mereka cukup bertumpu pada MSCI. Karena itu MSCI marah kalau ada bursa efek di suatu negara tidak jujur –yang membuat analisisnya meleset. Kalau terlalu sering meleset banyak yang tidak mau pakai jasa MSCI.

 

Tentu soal MSCI hanya satu bagian kecil isi pidato. Masih banyak bagian lain yang menarik. Misalnya soal reshuffle kabinet.

 

Dari pidato ulang tahun itu terbaca bahwa reshuffle besar-besaran tidak akan terjadi. Presiden mengibaratkan permainan sepak bola. "Sekarang ini belum –presiden seperti kesulitan mengingat istilah 'turun minum' di pertandingan sepak bola– apa itu namanya.... half time".

 

Lalu Presiden menyebut tamsil yang terasa jenaka: pemain cadangan. Ini juga diambil dari istilah sepak bola. Sekarang ini, kata presiden, memang banyak pemain cadangan yang tidak sabar menunggu kapan mulai diturunkan ke lapangan.

 

Presiden pun minta agar mereka sabar menunggu saat yang tepat. Dan saat yang tepat itu adalah half time. "Half time-nya kan tunggu kalau sudah 2,5 tahun," ujar presiden.

 

Mungkin maksudnya bukan tepat di half time. Bisa jadi setelah half time.

 

Di sepak bola para pelatih jarang mengganti pemain saat half time. Yang terbanyak adalah setelah menit ke 70 –ketika waktu pertandingan tinggal 20 persennya.

 

Jadi, wahai para pemain cadangan, sabarlah. Agar tidak kecewa tunggulah ketika masa pemerintahan ini tinggal 20 persennya.

 

Entah sudah berapa skornya saat itu nanti. ●

 

Sumber :    https://disway.id/catatan-harian-dahlan/975113/half-time

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar