Senin, 12 Oktober 2026

 

Anatomi Duka dan Amarah Tragedi Manusia Melalui Lensa Anne Carson

Slamet Samsoerizal :  Penulis.

HATIPENA, 11 Oktober 2026

 

 

 

“Why does tragedy exist? Because you are full of rage.Why are you full of rage? Because you are full of grief.” — Anne Carson, Grief Lessons: Four Plays by Euripides

 

“Mengapa tragedi itu ada? Karena kamu dipenuhi amarah. Mengapa kamu dipenuhi amarah? Karena kamu penuh dengan duka.”

 

Kutipan singkat namun menghentak ini, dituliskan oleh Anne Carson dalam pengantar terjemahan drama-drama Euripides, bukan sekadar pernyataan puitis. Ia adalah sebuah peta topografi penderitaan manusia. Peraih Nobel Sastra 2026 ini melalui ketajaman seorang penyair dan kehati-hatian seorang filolog, meruntuhkan kompleksitas tragedi menjadi sebuah rantai kausal yang sederhana namun brutal: Duka (Grief) → Amarah (Rage) → Tragedi (Tragedy).

 

Untuk memahami kedalaman kutipan ini, kita tidak bisa hanya membacanya secara harfiah. Kita perlu membedahnya melalui berbagai lensa kajian mendalam terkini mulai dari psikologi, neurosains, sosiologi, hingga filsafat untuk melihat bagaimana duka yang tak terobati bermutasi menjadi kehancuran.

 

Amarah sebagai Perisai Kerentanan

 

Dalam psikologi kontemporer, amarah sering diklasifikasikan sebagai secondary emotion (emosi sekunder). Di bawah permukaan amarah yang meledak-ledak, hampir selalu terdapat emosi primer yang lebih rentan dan menyakitkan: kesedihan, rasa takut, atau duka.

 

Dari perspektif neurosains, ketika otak (khususnya amigdala) mendeteksi rasa sakit emosional yang luar biasa akibat kehilangan (duka), sistem saraf dapat kewalahan. Untuk melindungi ego dari kerentanan yang melumpuhkan itu, otak secara tidak sadar mengalihkan rasa sakit tersebut menjadi amarah. Amarah memberikan ilusi kontrol dan kekuatan, sementara duka membuat kita merasa tidak berdaya.

 

Anne Carson secara intuitif menangkap mekanisme psikologis ini ribuan tahun setelah Euripides menulisnya. Tragedi, dalam konteks ini, adalah ledakan eksternal dari mekanisme pertahanan internal yang gagal. Ketika kita menolak untuk duduk bersama duka, duka itu akan mendidih menjadi amarah, dan amarah itulah yang pada akhirnya menghancurkan diri kita dan orang di sekitar kita, lahirlah sebuah tragedi.

 

Duka Kolektif dan Keruntuhan Masyarakat

 

Jika kita memperbesar lensa dari individu ke masyarakat, kutipan Carson menjadi cermin yang menakutkan bagi kondisi dunia modern. Sosiolog kontemporer sering membahas fenomena collective grief (duka kolektif) yang tidak terproses.

 

Di era digital ini, masyarakat global mengalami berbagai bentuk kehilangan: kehilangan rasa aman akibat pandemi, kehilangan stabilitas ekonomi, atau kehilangan identitas akibat disrupsi teknologi. Ketika duka kolektif ini tidak diakui dan tidak diberi ruang untuk berduka, ia bermutasi menjadi kemarahan massal (collective rage).

 

Kita melihat manifestasinya dalam polarisasi politik yang ekstrem, budaya cancel yang kejam, hingga konflik antarkelompok. Tragedi sosial seperti perang, kerusuhan, atau runtuhnya kohesi sosial bukanlah peristiwa yang muncul dari ruang hampa.

 

Ia adalah puncak gunung es dari lautan duka kolektif yang telah lama mengendap dan berubah menjadi racun amarah. Anne Carson mengingatkan kita bahwa masyarakat yang menolak berduka adalah masyarakat yang sedang menuai tragedi.

 

Tragedi sebagai Konfrontasi dengan Absurditas

 

Dalam filsafat eksistensial, tragedi bukan sekadar “peristiwa menyedihkan”, melainkan benturan antara keinginan manusia akan makna dan kebisuan alam semesta yang acuh tak acuh.

 

Duka, dalam pandangan ini, adalah kesadaran akan keterbatasan manusia. Kesadaran bahwa kita akan kehilangan, bahwa kita fana, dan bahwa kita tidak memiliki kendali penuh atas takdir. Amarah adalah pemberontakan eksistensial (seperti konsep The Rebel dari Albert Camus) terhadap ketidakadilan dan absurditas tersebut.

 

Anne Carson, yang kerap menerjemahkan teks-teks klasik, memahami bahwa tragedi Yunani kuno tidak diciptakan untuk membuat kita sedih, melainkan untuk membuat kita marah pada ketidakadilan dewa atau takdir, yang pada akhirnya memaksa kita untuk menghadapi duka atas kondisi manusia yang rapuh.

 

Tragedi ada karena kita tidak bisa menerima duka tersebut secara pasrah; kita memberontak. Pemberontakan itulah yang mengukir kisah tragis kita.

 

Seni sebagai Wadah bagi Duka

 

Sebagai seorang penyair dan penerjemah, Anne Carson juga menawarkan solusi implisit melalui karyanya. Jika rantai menuju tragedi adalah Duka → Amarah → Tragedi, maka bagaimana kita memutus rantai tersebut?

 

Kajian sastra dan terapi seni (art therapy) menunjukkan bahwa kita perlu “wadah” (container) untuk memroses duka sebelum ia meledak menjadi amarah.

 

Di sinilah fungsi sastra, puisi, dan seni. Dalam karya-karyanya seperti Nox (yang berbentuk kotak berisi fragmen duka atas saudaranya) atau terjemahan Euripides ini, Anne Carson menciptakan ruang aman.

 

Seni memungkinkan kita untuk menyentuh duka secara langsung, tanpa harus memantulkannya menjadi amarah. Tragedi sebagai bentuk seni (drama, puisi, novel) adalah alkimia yang mengubah amarah yang destruktif menjadi sesuatu yang bermakna, indah, dan menyembuhkan.

 

Anne Carson tidak hanya menerjemahkan bahasa Yunani. Ia menerjemahkan rasa sakit manusia menjadi bentuk yang bisa kita pahami dan rasakan bersama.

 

Kembali ke Akar Duka

 

Kutipan Anne Carson adalah sebuah peringatan sekaligus undangan. Ia memperingatkan kita bahwa setiap amarah yang kita lihat, baik di dalam diri sendiri, di mata pasangan, maupun di layar berita adalah sinyal adanya duka yang terabaikan.

 

Untuk mencegah tragedi, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam skala global, kita harus berani membalik rantai tersebut. Kita harus berani menyusuri amarah kita, menembusnya, dan menemukan duka yang tersembunyi di dasarnya.

 

Hanya dengan mengakui, memvalidasi, dan membiarkan diri kita sepenuhnya berduka, kita dapat menghentikan siklus yang pada akhirnya melahirkan tragedi. Ini seperti yang diajarkan Carson melalui Euripides: “Jangan biarkan dukamu berkarat menjadi amarah. Biarkan ia mengalir, karena hanya dengan itulah kita tetap menjadi manusia.” ●

 

Sumber :   https://hatipena.com/artikel-opini/anatomi-duka-dan-amarah-tragedi-manusia-melalui-lensa-anne-carson/

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar