|
Anatomi Duka dan Amarah Tragedi Manusia Melalui Lensa Anne Carson Slamet Samsoerizal : Penulis. |
HATIPENA, 11 Oktober 2026
|
“Why does tragedy exist?
Because you are full of rage.Why are you full of rage? Because you are full
of grief.” — Anne Carson, Grief
Lessons: Four Plays by Euripides “Mengapa tragedi itu ada?
Karena kamu dipenuhi amarah. Mengapa kamu dipenuhi amarah? Karena kamu penuh
dengan duka.” Kutipan singkat namun
menghentak ini, dituliskan oleh Anne Carson dalam pengantar terjemahan drama-drama
Euripides, bukan sekadar pernyataan puitis. Ia adalah sebuah peta topografi
penderitaan manusia. Peraih Nobel Sastra 2026 ini melalui ketajaman seorang
penyair dan kehati-hatian seorang filolog, meruntuhkan kompleksitas tragedi
menjadi sebuah rantai kausal yang sederhana namun brutal: Duka (Grief) →
Amarah (Rage) → Tragedi (Tragedy). Untuk memahami kedalaman
kutipan ini, kita tidak bisa hanya membacanya secara harfiah. Kita perlu
membedahnya melalui berbagai lensa kajian mendalam terkini mulai dari
psikologi, neurosains, sosiologi, hingga filsafat untuk melihat bagaimana
duka yang tak terobati bermutasi menjadi kehancuran. Amarah sebagai Perisai
Kerentanan Dalam psikologi
kontemporer, amarah sering diklasifikasikan sebagai secondary emotion (emosi
sekunder). Di bawah permukaan amarah yang meledak-ledak, hampir selalu
terdapat emosi primer yang lebih rentan dan menyakitkan: kesedihan, rasa
takut, atau duka. Dari perspektif
neurosains, ketika otak (khususnya amigdala) mendeteksi rasa sakit emosional
yang luar biasa akibat kehilangan (duka), sistem saraf dapat kewalahan. Untuk
melindungi ego dari kerentanan yang melumpuhkan itu, otak secara tidak sadar
mengalihkan rasa sakit tersebut menjadi amarah. Amarah memberikan ilusi
kontrol dan kekuatan, sementara duka membuat kita merasa tidak berdaya. Anne Carson secara
intuitif menangkap mekanisme psikologis ini ribuan tahun setelah Euripides
menulisnya. Tragedi, dalam konteks ini, adalah ledakan eksternal dari
mekanisme pertahanan internal yang gagal. Ketika kita menolak untuk duduk
bersama duka, duka itu akan mendidih menjadi amarah, dan amarah itulah yang
pada akhirnya menghancurkan diri kita dan orang di sekitar kita, lahirlah
sebuah tragedi. Duka Kolektif dan
Keruntuhan Masyarakat Jika kita memperbesar
lensa dari individu ke masyarakat, kutipan Carson menjadi cermin yang
menakutkan bagi kondisi dunia modern. Sosiolog kontemporer sering membahas
fenomena collective grief (duka kolektif) yang tidak terproses. Di era digital ini,
masyarakat global mengalami berbagai bentuk kehilangan: kehilangan rasa aman
akibat pandemi, kehilangan stabilitas ekonomi, atau kehilangan identitas
akibat disrupsi teknologi. Ketika duka kolektif ini tidak diakui dan tidak
diberi ruang untuk berduka, ia bermutasi menjadi kemarahan massal (collective
rage). Kita melihat
manifestasinya dalam polarisasi politik yang ekstrem, budaya cancel yang
kejam, hingga konflik antarkelompok. Tragedi sosial seperti perang,
kerusuhan, atau runtuhnya kohesi sosial bukanlah peristiwa yang muncul dari
ruang hampa. Ia adalah puncak gunung
es dari lautan duka kolektif yang telah lama mengendap dan berubah menjadi
racun amarah. Anne Carson mengingatkan kita bahwa masyarakat yang menolak
berduka adalah masyarakat yang sedang menuai tragedi. Tragedi sebagai
Konfrontasi dengan Absurditas Dalam filsafat
eksistensial, tragedi bukan sekadar “peristiwa menyedihkan”, melainkan
benturan antara keinginan manusia akan makna dan kebisuan alam semesta yang
acuh tak acuh. Duka, dalam pandangan
ini, adalah kesadaran akan keterbatasan manusia. Kesadaran bahwa kita akan
kehilangan, bahwa kita fana, dan bahwa kita tidak memiliki kendali penuh atas
takdir. Amarah adalah pemberontakan eksistensial (seperti konsep The Rebel
dari Albert Camus) terhadap ketidakadilan dan absurditas tersebut. Anne Carson, yang kerap
menerjemahkan teks-teks klasik, memahami bahwa tragedi Yunani kuno tidak
diciptakan untuk membuat kita sedih, melainkan untuk membuat kita marah pada
ketidakadilan dewa atau takdir, yang pada akhirnya memaksa kita untuk
menghadapi duka atas kondisi manusia yang rapuh. Tragedi ada karena kita
tidak bisa menerima duka tersebut secara pasrah; kita memberontak.
Pemberontakan itulah yang mengukir kisah tragis kita. Seni sebagai Wadah bagi
Duka Sebagai seorang penyair
dan penerjemah, Anne Carson juga menawarkan solusi implisit melalui karyanya.
Jika rantai menuju tragedi adalah Duka → Amarah → Tragedi, maka bagaimana
kita memutus rantai tersebut? Kajian sastra dan terapi
seni (art therapy) menunjukkan bahwa kita perlu “wadah” (container) untuk
memroses duka sebelum ia meledak menjadi amarah. Di sinilah fungsi sastra,
puisi, dan seni. Dalam karya-karyanya seperti Nox (yang berbentuk kotak
berisi fragmen duka atas saudaranya) atau terjemahan Euripides ini, Anne
Carson menciptakan ruang aman. Seni memungkinkan kita
untuk menyentuh duka secara langsung, tanpa harus memantulkannya menjadi
amarah. Tragedi sebagai bentuk seni (drama, puisi, novel) adalah alkimia yang
mengubah amarah yang destruktif menjadi sesuatu yang bermakna, indah, dan
menyembuhkan. Anne Carson tidak hanya
menerjemahkan bahasa Yunani. Ia menerjemahkan rasa sakit manusia menjadi
bentuk yang bisa kita pahami dan rasakan bersama. Kembali ke Akar Duka Kutipan Anne Carson
adalah sebuah peringatan sekaligus undangan. Ia memperingatkan kita bahwa
setiap amarah yang kita lihat, baik di dalam diri sendiri, di mata pasangan,
maupun di layar berita adalah sinyal adanya duka yang terabaikan. Untuk mencegah tragedi,
baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam skala global, kita harus berani
membalik rantai tersebut. Kita harus berani menyusuri amarah kita,
menembusnya, dan menemukan duka yang tersembunyi di dasarnya. Hanya dengan mengakui,
memvalidasi, dan membiarkan diri kita sepenuhnya berduka, kita dapat
menghentikan siklus yang pada akhirnya melahirkan tragedi. Ini seperti yang
diajarkan Carson melalui Euripides: “Jangan biarkan dukamu berkarat menjadi
amarah. Biarkan ia mengalir, karena hanya dengan itulah kita tetap menjadi
manusia.” ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar