|
Dahsyatnya
Erupsi Krakatau yang Terekam dalam Manuskrip Kuno Aisha Shaidra : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026
|
· Naskah dan syair kuno merekam
pengalaman masyarakat Nusantara menghadapi letusan gunung dan gempa bumi. · ‘Syair Lampung Karam’ menunjukkan
respons penyintas saat Gunung Krakatau meletus pada Agustus 1883. · Manuskrip Jawa Kuno juga banyak
menginformasikan bencana pada masa silam, tapi perlu membaca ulang konteks
dan fungsi sastranya. PADA
hari itu, ketenangan di Selat Sunda justru terasa lebih mencemaskan ketimbang
badai. Begitulah R.A. van Sandick menggambarkan suasana di kapal S.S.
Gouverneur-Generaal Loudon yang berhadapan langsung dengan letusan Gunung
Krakatau pada 26 Agustus 1883. Sandick,
insinyur ahli hidrolika yang bertugas di Hindia Belanda, berada di kapal uap
yang berlayar meninggalkan Anjer—nama lawas Anyer—di ujung barat Jawa menuju
Teluk Betung di pucuk selatan Sumatera. Kapal itu mengangkut sekelompok
pekerja pembangunan mercusuar di pulau kecil di sana, juga sejumlah penumpang
perempuan dan anak-anak. Di
tengah pelayaran, Sandick melihat kepulan asap hitam menjulang, lantas
melebar menjadi awan. Sementara itu, abu vulkanis terus berjatuhan.
“Menjelang pukul tujuh malam, Loudon membuang jangkar di Teluk Betung.
Kegelapan segera turun, hujan abu makin deras, dan laut mulai bergolak.
Kapten sempat meminta sekoci dari daratan, tapi tak mendapat jawaban,” tulis
Sandick dalam In het Rijk van Vulcaan: De Uitbarsting van Krakatau en Hare
Gevolgen atau Dalam Kerajaan Dewa Api: Letusan Krakatau dan Akibatnya yang ia
terbitkan tujuh tahun setelah peristiwa tersebut terjadi. “Perahu pengangkut
barang yang biasanya segera bermunculan begitu kapal uap tiba juga tidak
terlihat,” demikian tulisnya lagi. Sandick
menggambarkan laut sempat tenang sesaat setiap kali gelombang berlalu. Hujan
lumpur pun kadang berhenti, membuat kapal seolah-olah masuk ke keheningan.
Kondisi seperti ini yang dia sebutkan lebih mengerikan ketimbang badai. Ia juga
mencatat pekikan para kuli yang tidak terlindung dari cuaca buruk. Sandick
mengatakan mereka mencoba tenang dan pasrah. Setiap kali gelombang dan badai
sedikit mereda, di atas perairan Teluk Lampung, doa-doa yang mereka lantunkan
terdengar jelas. “Mereka berkeyakinan tidak seorang pun akan tertimpa bahaya
tanpa kehendak Allah. Dengan ritme yang teratur, mereka terus melantunkan 'La
ilaha illallah, Muhammad rasulullah',” Sandick menuliskan. Dokumentasi
Sandick memperlihatkan catatan tentang bencana tidak hanya berisi dampak
kerusakan, tapi juga pengalaman manusia menghadapi ketakutan, ketidakpastian,
dan ancaman maut. Kesaksian itu tidak hanya datang dari orang Belanda.
Masyarakat pribumi juga meninggalkan ingatan tentang bencana yang sama. Salah
satunya melalui “Syair Lampung Karam” karya Muhammad Saleh. Dia menulisnya
sekitar tiga bulan selepas letusan Gunung Krakatau. Sekitar
120 tahun kemudian, Suryadi, dosen dan peneliti di Jurusan Asia Tenggara dan
Oseania Universiteit Leiden, Belanda, menemukan kembali salah satu edisinya
di Perpustakaan Universiteit Leiden pada akhir 2007. “Kekuatan ‘Syair Lampung
Karam’ terletak pada kemampuannya membuat pembaca merasakan pengalaman
manusia di balik suatu bencana, bukan hanya mengetahui fakta bahwa bencana
itu terjadi,” ujar Suryadi pada Ahad, 20 September 2026. Misalnya
pada bait ke-18 dan ke-19: Pukul
enam kiranya itu, Sebesarnya jagung hujan batu, Gemparlah orang di negeri
itu, Orang berjalan seru-menyeru. Gempanya
itu bertalu-talu, Semalam-malaman tidak beradu, Heran ajaib di dalam kalbu,
Belum pernah demikiannya itu. Bagi
Suryadi, nilai teks dalam “Syair Lampung Karam” terletak pada kemampuannya
melengkapi sumber-sumber sejarah yang selama ini lebih banyak berbentuk
laporan ilmiah dan administratif atau berupa catatan pihak kolonial. Puisi
menghadirkan cara masyarakat setempat memahami yang mereka lihat dan alami
ketika Krakatau meletus. “Aspek humanisnya penting sekali,” kata Suryadi.
“Untuk hal-hal yang bersifat ilmiah, misalnya digunakan untuk memprediksi
megathrust, barangkali ‘Syair Lampung Karam’ kurang relevan,” dia
menambahkan. Meski
demikian, Suryadi tetap menilai puisi itu bermanfaat untuk memahami mitigasi
dan komunikasi kebencanaan lantaran merekam respons masyarakat terhadap
ancaman. “Di dalamnya diceritakan bagaimana orang-orang berlari menyelamatkan
diri ketika bencana terjadi,” tutur Suryadi. Contohnya
tampak pada bait ke-31: Ada yang
memanjat kayu yang tinggi, Masing-masing membawanya diri, Ada yang gaduh
mencari bini, Ada yang berkata: “Allahurabi!”. Sudibyo
Prawiroatmodjo, filolog dan mantan dosen senior di Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menyebut “Syair Lampung Karam” memiliki
persamaan dengan “Syair Kerajaan Bima” yang memuat kisah meletusnya Gunung
Tambora pada 1815. “Dua naskah tentang kebencanaan yang gambaran peristiwa
dan data historisnya paling lengkap,” kata Sudibyo lewat pesan tertulis yang
diterima Tempo pada Sabtu, 19 September 2026. Menurut
dia, kajian terhadap kedua naskah ini sangat mungkin diteruskan. “Saya
percaya hasil penelitian secara lintas disiplin akan menghasilkan temuan yang
berguna bagi tindakan mitigasi bencana,” ujarnya. Sudibyo
pernah menerbitkan penelitian berjudul “Letusan Gunung dan Persepsi Sang
Pujangga: Kesaksian Teks Bima, Jawa, dan Melayu Abad Ke-19”. Dia mengulas
empat manuskrip yang mencatat sejumlah pengalaman masyarakat Nusantara
menghadapi bencana. Bagi Sudibyo, naskah-naskah tersebut tidak hanya
menyimpan cerita tentang kehancuran, tapi juga memperlihatkan cara masyarakat
di masa itu memahami dan memaknai bencana. Selain
mengkaji “Syair Lampung Karam” dan “Syair Kerajaan Bima”, ia meneliti dua
manuskrip Jawa. Babad Betawi mengisahkan letusan Gunung Merapi pada 1822
sebagai akibat zaman sengsara atau zaman edan. Singkatnya, masa ketika
tatanan kehidupan dianggap rusak. Gambaran
lain hadir dari Babad Pakualaman, koleksi Perpustakaan Widya Budaya Kadipaten
Pakualaman. Di dalamnya ada catatan tentang gempa bumi yang berlangsung
selama sekitar dua menit dan menghancurkan Kota Yogyakarta pada masa Kanjeng
Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam IV, 1864-1878. Naskah
kuno ini berbeda. “Secara umum, gambaran tipikal manuskrip soal bencana
adalah azab Tuhan karena manusia banyak berbuat dosa,” tutur Sudibyo. “Saya
baru mendapati Babad Pakualaman tidak mengaitkan gempa yang menghancurkan
Yogyakarta sebagai azab Tuhan atau rusaknya tatanan masyarakat,” dia
menambahkan. ••• MEMBACA
naskah lama sebagai catatan bencana tidak sesederhana mencari penyebutan
tentang gunung meletus atau gempa. Yosephin Apriastuti Rahayu, filolog Jawa
Kuno dan Jawa Pertengahan serta dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan
Budaya Jawa Universitas Gadjah Mada, mengatakan gambaran fenomena alam dalam
manuskrip tidak serta-merta menjadi bukti pencatatan bencana pada masa
tertentu. “Memang ada banyak kosakata tentang itu, misalnya hujan abu. Tapi
tidak secara khusus membicarakan bencananya itu sendiri,” kata Yosephin
kepada Tempo pada Ahad, 20 September 2026. Menurut
akademikus yang baru meraih gelar doktor dari Universiteit Leiden pada Juli
2026 itu, para pujangga atau pengawi kerap menggunakan fenomena alam untuk
membangun suasana dan menghidupkan cerita dalam kakawin. Karena itu,
pembacaan terhadap naskah perlu mempertimbangkan konteks untuk membedakan
gambaran yang mungkin bersumber dari pengamatan, pengetahuan tentang alam,
dan gambaran yang semata-mata dipilih sebagai bagian penceritaan. Yosephin
mencontohkan istilah guntur arga dalam kakawin Arjuna Wiwaha, yang merujuk
pada gunung yang longsor. Kalimat “Lir sagara tempur lawan guntur arga” dalam
puisi Jawa Kuno tersebut menggambarkan dahsyatnya peperangan antara pasukan
dewa dan raksasa nan bagaikan lautan bertabrakan dengan gunung yang runtuh. Istilah
lain adalah lindu atau lindhu, yang berarti gempa. Kata ini ditemukan dalam
beberapa naskah Jawa Kuno dari era Hindu-Buddha, seperti Arjuna Wiwaha dan
Bharatayudha. Bentang alam juga muncul dalam manuskrip yang menceritakan
peperangan, baik sebagai gambaran suatu wilayah maupun ketika mengisahkan
perjalanan seorang tokoh. Para
pengawi sering kali melukiskan beragam gejala alam. Dari gunung yang
bergemuruh, gempa, badai, air yang meluap, kilat, angin kencang, hingga
langit yang gelap gulita. Ada juga batu-batu yang berbenturan sampai suaranya
memekakkan telinga, lereng gunung yang runtuh, dan pepohonan yang tumbang. Namun,
Yosephin melanjutkan, kata-kata itu tidak serta-merta menunjukkan pengawi
sedang mencatat bencana. “Yang menjadi persoalan, apakah gambaran itu
benar-benar terjadi pada masa tersebut atau hanya merupakan lukisan suasana
untuk mendukung cerita. Misalnya sebagai ilustrasi dalam adegan perang,”
ujarnya. Dalam
tradisi kakawin, fenomena alam merupakan bagian dari perangkat sastra. Gunung
meletus, badai, dan gempa, misalnya, juga lazim dipakai sebagai metafora
untuk menggambarkan kedahsyatan perang. Karena itu, konteks tulisan menjadi
penting sebelum orang menganggap gambaran fenomena alam dalam naskah kuno
sebagai catatan soal bencana. Pandangan
serupa disampaikan Agung Kriswanto, filolog, pustakawan, dan peneliti di
Perpustakaan Nasional, Jakarta. Menurut Agung, naskah-naskah Jawa memang
menyimpan catatan mengenai berbagai fenomena alam, termasuk gunung meletus
dan gempa bumi, meski tidak selalu disertai uraian yang rinci. Pararaton,
misalnya, beberapa kali menyampaikan peristiwa gunung meletus. “Disebutkan
pada tahun 1233 Saka terjadi gunung meletus. Lalu terjadi lagi di tahun 1384.
Lalu disebut lagi 1403 Saka—kalender Masehi 78 tahun lebih tua,” kata Agung.
Pararaton juga mencatat bencana lanjutan seperti lahar dingin. Catatan
serupa muncul dalam Babad Sangkala dan Babad Momana, dua manuskrip kronologis
yang merekam peristiwa sejarah dan fenomena alam. Babad Sangkala menyebut
gempa besar pada 1584 sebagai Lindu Ageng, sementara Babad Momana menyatakan
peristiwa pada tahun yang sama dengan istilah Lindu Ageng dan Lindu Gede.
“Jadi ada dua teks yang menyebut peristiwa yang sama di tahun yang sama
sebagai peristiwa besar. Jadi mungkin memang itu ingatan-ingatan masyarakat
dulu,” ujar Agung. Naskah
kuno tidak hanya mencatat fenomena alam, tapi juga pemaknaan. Dalam Palindon,
misalnya, masyarakat mengaitkan gempa dengan pertanda tertentu. “Seperti
ancaman kelaparan atau paceklik,” tutur Agung. Pembacaan
terhadap naskah kuno perlu mempertimbangkan jarak antara peristiwa dan
penulisan. Menurut Agung, manuskrip tidak ditulis sezaman dengan kejadian
sehingga tidak bisa dianggap sebagai kesaksian langsung atas sebuah bencana. Inilah
perbedaan manuskrip-manuskrip tersebut dengan “Syair Lampung Karam”. Menurut
Yosephin, tradisi sastra Jawa Kuno yang ia ketahui belum banyak menunjukkan
karya dengan karakter dokumenter sejelas “Syair Lampung Karam”. Puisi
Muhammad Saleh itu secara khusus menggambarkan letusan Krakatau, dari gejala
sebelum erupsi, kejadian saat bencana berlangsung, respons masyarakat, hingga
kerusakannya. Semua dari sudut pandang orang pertama. ● Sumber :
https://www.tempo.co/teroka/manuskrip-kuno-erupsi-gunung-krakatau-2299706 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar