Minggu, 18 Oktober 2026

 

Dahsyatnya Erupsi Krakatau yang Terekam dalam Manuskrip Kuno

Aisha Shaidra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Naskah dan syair kuno merekam pengalaman masyarakat Nusantara menghadapi letusan gunung dan gempa bumi.

 

·      ‘Syair Lampung Karam’ menunjukkan respons penyintas saat Gunung Krakatau meletus pada Agustus 1883.

 

·      Manuskrip Jawa Kuno juga banyak menginformasikan bencana pada masa silam, tapi perlu membaca ulang konteks dan fungsi sastranya.

 

PADA hari itu, ketenangan di Selat Sunda justru terasa lebih mencemaskan ketimbang badai. Begitulah R.A. van Sandick menggambarkan suasana di kapal S.S. Gouverneur-Generaal Loudon yang berhadapan langsung dengan letusan Gunung Krakatau pada 26 Agustus 1883.

 

Sandick, insinyur ahli hidrolika yang bertugas di Hindia Belanda, berada di kapal uap yang berlayar meninggalkan Anjer—nama lawas Anyer—di ujung barat Jawa menuju Teluk Betung di pucuk selatan Sumatera. Kapal itu mengangkut sekelompok pekerja pembangunan mercusuar di pulau kecil di sana, juga sejumlah penumpang perempuan dan anak-anak.

 

Di tengah pelayaran, Sandick melihat kepulan asap hitam menjulang, lantas melebar menjadi awan. Sementara itu, abu vulkanis terus berjatuhan. “Menjelang pukul tujuh malam, Loudon membuang jangkar di Teluk Betung. Kegelapan segera turun, hujan abu makin deras, dan laut mulai bergolak. Kapten sempat meminta sekoci dari daratan, tapi tak mendapat jawaban,” tulis Sandick dalam In het Rijk van Vulcaan: De Uitbarsting van Krakatau en Hare Gevolgen atau Dalam Kerajaan Dewa Api: Letusan Krakatau dan Akibatnya yang ia terbitkan tujuh tahun setelah peristiwa tersebut terjadi. “Perahu pengangkut barang yang biasanya segera bermunculan begitu kapal uap tiba juga tidak terlihat,” demikian tulisnya lagi.

 

Sandick menggambarkan laut sempat tenang sesaat setiap kali gelombang berlalu. Hujan lumpur pun kadang berhenti, membuat kapal seolah-olah masuk ke keheningan. Kondisi seperti ini yang dia sebutkan lebih mengerikan ketimbang badai.

 

Ia juga mencatat pekikan para kuli yang tidak terlindung dari cuaca buruk. Sandick mengatakan mereka mencoba tenang dan pasrah. Setiap kali gelombang dan badai sedikit mereda, di atas perairan Teluk Lampung, doa-doa yang mereka lantunkan terdengar jelas. “Mereka berkeyakinan tidak seorang pun akan tertimpa bahaya tanpa kehendak Allah. Dengan ritme yang teratur, mereka terus melantunkan 'La ilaha illallah, Muhammad rasulullah',” Sandick menuliskan.

 

Dokumentasi Sandick memperlihatkan catatan tentang bencana tidak hanya berisi dampak kerusakan, tapi juga pengalaman manusia menghadapi ketakutan, ketidakpastian, dan ancaman maut. Kesaksian itu tidak hanya datang dari orang Belanda. Masyarakat pribumi juga meninggalkan ingatan tentang bencana yang sama. Salah satunya melalui “Syair Lampung Karam” karya Muhammad Saleh. Dia menulisnya sekitar tiga bulan selepas letusan Gunung Krakatau.

 

Sekitar 120 tahun kemudian, Suryadi, dosen dan peneliti di Jurusan Asia Tenggara dan Oseania Universiteit Leiden, Belanda, menemukan kembali salah satu edisinya di Perpustakaan Universiteit Leiden pada akhir 2007. “Kekuatan ‘Syair Lampung Karam’ terletak pada kemampuannya membuat pembaca merasakan pengalaman manusia di balik suatu bencana, bukan hanya mengetahui fakta bahwa bencana itu terjadi,” ujar Suryadi pada Ahad, 20 September 2026.

 

Misalnya pada bait ke-18 dan ke-19:

 

Pukul enam kiranya itu, Sebesarnya jagung hujan batu, Gemparlah orang di negeri itu, Orang berjalan seru-menyeru.

 

Gempanya itu bertalu-talu, Semalam-malaman tidak beradu, Heran ajaib di dalam kalbu, Belum pernah demikiannya itu.

 

Bagi Suryadi, nilai teks dalam “Syair Lampung Karam” terletak pada kemampuannya melengkapi sumber-sumber sejarah yang selama ini lebih banyak berbentuk laporan ilmiah dan administratif atau berupa catatan pihak kolonial. Puisi menghadirkan cara masyarakat setempat memahami yang mereka lihat dan alami ketika Krakatau meletus. “Aspek humanisnya penting sekali,” kata Suryadi. “Untuk hal-hal yang bersifat ilmiah, misalnya digunakan untuk memprediksi megathrust, barangkali ‘Syair Lampung Karam’ kurang relevan,” dia menambahkan.

 

Meski demikian, Suryadi tetap menilai puisi itu bermanfaat untuk memahami mitigasi dan komunikasi kebencanaan lantaran merekam respons masyarakat terhadap ancaman. “Di dalamnya diceritakan bagaimana orang-orang berlari menyelamatkan diri ketika bencana terjadi,” tutur Suryadi.

 

Contohnya tampak pada bait ke-31:

 

Ada yang memanjat kayu yang tinggi, Masing-masing membawanya diri, Ada yang gaduh mencari bini, Ada yang berkata: “Allahurabi!”.

 

Sudibyo Prawiroatmodjo, filolog dan mantan dosen senior di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menyebut “Syair Lampung Karam” memiliki persamaan dengan “Syair Kerajaan Bima” yang memuat kisah meletusnya Gunung Tambora pada 1815. “Dua naskah tentang kebencanaan yang gambaran peristiwa dan data historisnya paling lengkap,” kata Sudibyo lewat pesan tertulis yang diterima Tempo pada Sabtu, 19 September 2026.

 

Menurut dia, kajian terhadap kedua naskah ini sangat mungkin diteruskan. “Saya percaya hasil penelitian secara lintas disiplin akan menghasilkan temuan yang berguna bagi tindakan mitigasi bencana,” ujarnya.

 

Sudibyo pernah menerbitkan penelitian berjudul “Letusan Gunung dan Persepsi Sang Pujangga: Kesaksian Teks Bima, Jawa, dan Melayu Abad Ke-19”. Dia mengulas empat manuskrip yang mencatat sejumlah pengalaman masyarakat Nusantara menghadapi bencana. Bagi Sudibyo, naskah-naskah tersebut tidak hanya menyimpan cerita tentang kehancuran, tapi juga memperlihatkan cara masyarakat di masa itu memahami dan memaknai bencana.

 

Selain mengkaji “Syair Lampung Karam” dan “Syair Kerajaan Bima”, ia meneliti dua manuskrip Jawa. Babad Betawi mengisahkan letusan Gunung Merapi pada 1822 sebagai akibat zaman sengsara atau zaman edan. Singkatnya, masa ketika tatanan kehidupan dianggap rusak.

 

Gambaran lain hadir dari Babad Pakualaman, koleksi Perpustakaan Widya Budaya Kadipaten Pakualaman. Di dalamnya ada catatan tentang gempa bumi yang berlangsung selama sekitar dua menit dan menghancurkan Kota Yogyakarta pada masa Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam IV, 1864-1878.

 

Naskah kuno ini berbeda. “Secara umum, gambaran tipikal manuskrip soal bencana adalah azab Tuhan karena manusia banyak berbuat dosa,” tutur Sudibyo. “Saya baru mendapati Babad Pakualaman tidak mengaitkan gempa yang menghancurkan Yogyakarta sebagai azab Tuhan atau rusaknya tatanan masyarakat,” dia menambahkan.

 

•••

 

MEMBACA naskah lama sebagai catatan bencana tidak sesederhana mencari penyebutan tentang gunung meletus atau gempa. Yosephin Apriastuti Rahayu, filolog Jawa Kuno dan Jawa Pertengahan serta dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Universitas Gadjah Mada, mengatakan gambaran fenomena alam dalam manuskrip tidak serta-merta menjadi bukti pencatatan bencana pada masa tertentu. “Memang ada banyak kosakata tentang itu, misalnya hujan abu. Tapi tidak secara khusus membicarakan bencananya itu sendiri,” kata Yosephin kepada Tempo pada Ahad, 20 September 2026.

 

Menurut akademikus yang baru meraih gelar doktor dari Universiteit Leiden pada Juli 2026 itu, para pujangga atau pengawi kerap menggunakan fenomena alam untuk membangun suasana dan menghidupkan cerita dalam kakawin. Karena itu, pembacaan terhadap naskah perlu mempertimbangkan konteks untuk membedakan gambaran yang mungkin bersumber dari pengamatan, pengetahuan tentang alam, dan gambaran yang semata-mata dipilih sebagai bagian penceritaan.

 

Yosephin mencontohkan istilah guntur arga dalam kakawin Arjuna Wiwaha, yang merujuk pada gunung yang longsor. Kalimat “Lir sagara tempur lawan guntur arga” dalam puisi Jawa Kuno tersebut menggambarkan dahsyatnya peperangan antara pasukan dewa dan raksasa nan bagaikan lautan bertabrakan dengan gunung yang runtuh.

 

Istilah lain adalah lindu atau lindhu, yang berarti gempa. Kata ini ditemukan dalam beberapa naskah Jawa Kuno dari era Hindu-Buddha, seperti Arjuna Wiwaha dan Bharatayudha. Bentang alam juga muncul dalam manuskrip yang menceritakan peperangan, baik sebagai gambaran suatu wilayah maupun ketika mengisahkan perjalanan seorang tokoh.

 

Para pengawi sering kali melukiskan beragam gejala alam. Dari gunung yang bergemuruh, gempa, badai, air yang meluap, kilat, angin kencang, hingga langit yang gelap gulita. Ada juga batu-batu yang berbenturan sampai suaranya memekakkan telinga, lereng gunung yang runtuh, dan pepohonan yang tumbang.

 

Namun, Yosephin melanjutkan, kata-kata itu tidak serta-merta menunjukkan pengawi sedang mencatat bencana. “Yang menjadi persoalan, apakah gambaran itu benar-benar terjadi pada masa tersebut atau hanya merupakan lukisan suasana untuk mendukung cerita. Misalnya sebagai ilustrasi dalam adegan perang,” ujarnya.

 

Dalam tradisi kakawin, fenomena alam merupakan bagian dari perangkat sastra. Gunung meletus, badai, dan gempa, misalnya, juga lazim dipakai sebagai metafora untuk menggambarkan kedahsyatan perang. Karena itu, konteks tulisan menjadi penting sebelum orang menganggap gambaran fenomena alam dalam naskah kuno sebagai catatan soal bencana.

 

Pandangan serupa disampaikan Agung Kriswanto, filolog, pustakawan, dan peneliti di Perpustakaan Nasional, Jakarta. Menurut Agung, naskah-naskah Jawa memang menyimpan catatan mengenai berbagai fenomena alam, termasuk gunung meletus dan gempa bumi, meski tidak selalu disertai uraian yang rinci.

 

Pararaton, misalnya, beberapa kali menyampaikan peristiwa gunung meletus. “Disebutkan pada tahun 1233 Saka terjadi gunung meletus. Lalu terjadi lagi di tahun 1384. Lalu disebut lagi 1403 Saka—kalender Masehi 78 tahun lebih tua,” kata Agung. Pararaton juga mencatat bencana lanjutan seperti lahar dingin.

 

Catatan serupa muncul dalam Babad Sangkala dan Babad Momana, dua manuskrip kronologis yang merekam peristiwa sejarah dan fenomena alam. Babad Sangkala menyebut gempa besar pada 1584 sebagai Lindu Ageng, sementara Babad Momana menyatakan peristiwa pada tahun yang sama dengan istilah Lindu Ageng dan Lindu Gede. “Jadi ada dua teks yang menyebut peristiwa yang sama di tahun yang sama sebagai peristiwa besar. Jadi mungkin memang itu ingatan-ingatan masyarakat dulu,” ujar Agung.

 

Naskah kuno tidak hanya mencatat fenomena alam, tapi juga pemaknaan. Dalam Palindon, misalnya, masyarakat mengaitkan gempa dengan pertanda tertentu. “Seperti ancaman kelaparan atau paceklik,” tutur Agung.

 

Pembacaan terhadap naskah kuno perlu mempertimbangkan jarak antara peristiwa dan penulisan. Menurut Agung, manuskrip tidak ditulis sezaman dengan kejadian sehingga tidak bisa dianggap sebagai kesaksian langsung atas sebuah bencana.

 

Inilah perbedaan manuskrip-manuskrip tersebut dengan “Syair Lampung Karam”. Menurut Yosephin, tradisi sastra Jawa Kuno yang ia ketahui belum banyak menunjukkan karya dengan karakter dokumenter sejelas “Syair Lampung Karam”. Puisi Muhammad Saleh itu secara khusus menggambarkan letusan Krakatau, dari gejala sebelum erupsi, kejadian saat bencana berlangsung, respons masyarakat, hingga kerusakannya. Semua dari sudut pandang orang pertama. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/teroka/manuskrip-kuno-erupsi-gunung-krakatau-2299706

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar