Minggu, 18 Oktober 2026

 

Erupsi Tambora yang Melahirkan Frankenstein

Aisha Shaidra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Letusan Tambora pada 1815 menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan menewaskan puluhan ribu orang di Sumbawa.

 

·      Material vulkanis dan sulfur dioksida Tambora menyebar ke atmosfer, menurunkan suhu global, dan memicu cuaca ekstrem.

 

·      Dampak iklim Tambora menyebabkan 1816 dikenal sebagai “tahun tanpa musim panas” dan turut menginspirasi lahirnya Frankenstein.

 

BAYANGKAN Anda berada di pantai timur Bali pada awal abad ke-19. Pada saat cuaca cerah, di ufuk timur, terlihat Gunung Tambora yang menjulang sekitar 4.600 meter di atas permukaan laut (mdpl) di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Gunung ini merupakan puncak tertinggi di Hindia Belanda di luar barisan pegunungan di Papua. Tambora jauh lebih tinggi ketimbang tetangganya, Gunung Rinjani, yang mencapai 3.726 mdpl.

 

Setidaknya sejak 1814 Gunung Tambora tampak gelisah dengan mengeluarkan gemuruh dan kepulan awan gelap. Kegelisahan raksasa itu tergambar dalam catatan seorang naturalis dan diplomat Inggris, John Crawfurd, yang ikut dalam ekspedisi Sir Thomas Stamford Raffles ke Sulawesi. Pelayaran mereka melintasi perairan dekat Semenanjung Sanggar di pesisir utara Sumbawa.

 

“Dari kejauhan, awan abu yang dimuntahkannya menghitamkan salah satu sisi cakrawala,” tulis Crawfurd dalam A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries. Saking pekatnya awan abu tersebut, dia mengatakan sang kapten kapal mengiranya sebagai badai tropis sehingga segera melipat layar sebelum abu mulai berjatuhan di geladak.

 

Setahun kemudian, pada 10 dan 11 April 1815, Tambora masuk catatan sejarah dunia lewat letusan dahsyatnya. Crawfurd menuliskan suara dentuman sempat dianggap dentuman meriam benteng atau pertempuran kapal laut. Gelegar gunung itu terdengar hingga Ternate yang berjarak 1.500 kilometer di utara.

 

Tak cuma meruntuhkan atap bangunan, letusan Tambora juga melepaskan material vulkanis dalam jumlah bagal. Para peneliti memperkirakan 30-50 kilometer kubik magma keluar selama letusan berlangsung. Aliran piroklastik atau kerap disebut awan panas berupa campuran gas panas, abu, batu apung, dan pecahan lava meluncur deras dan cepat dari berbagai sisi gunung, menyapu daratan mencapai laut dan mengubah garis pantai Semenanjung Sanggar.

 

“Sekarang Gunung Tambora tinggal sekitar 2.000 meter lebih atau kehilangan hampir setengah ketinggiannya. Bisa dibilang sebagian besar tubuh gunung runtuh dan terlempar saat letusan,” ujar Igan S. Sutawidjaja, peneliti dan ahli vulkanologi senior di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, pada Sabtu, 27 September 2026. Letusannya membentuk kaldera raksasa sekitar 6 x 7 kilometer dengan kedalaman lebih dari 1 kilometer.

 

Awan panas yang bergerak cepat inilah yang menjadi salah satu penyebab utama jatuhnya banyak korban jiwa. Catatan pemerintah Hindia Belanda menyatakan fenomena itu menyebabkan sedikitnya 10 ribu orang tewas dan 35 ribu rumah hancur di Sumbawa.

 

Di sekitar Tambora, batu apung dan abu kasar jatuh menutupi daratan. Tapi partikel abu yang lebih halus terbawa angin jauh dari sumbernya. Berbagai catatan menunjukkan abu vulkanis bahkan mencapai Jawa bagian barat, lebih dari 1.300 kilometer dari lokasi asalnya. Sebagian material lain jatuh ke samudra.

 

Tak hanya itu, semburan vulkanis melontarkan lebih dari 60 juta ton sulfur dioksida ke udara. Christoph C. Raible dkk dalam kajian Tambora “1815 as A Test Case for High Impact Volcanic Eruptions: Earth System Effects” menyebutkan letusan Tambora menyemburkan gas belerang begitu tinggi ke lapisan atmosfer. Di atas sana, gas berubah menjadi partikel-partikel yang sangat kecil, lantas menyebar luas seperti membentuk selimut di langit.

 

Partikel-partikel ini menghalangi sebagian sinar matahari mencapai permukaan bumi. Pada puncaknya, pengaruh aerosol Tambora terhadap radiasi bumi diperkirakan mencapai sekitar minus 5 watt per meter persegi. Akibatnya, suhu global turun dan pola atmosfer ikut berubah. Panas yang diterima bumi berkurang dan suhu pun turun.

 

Pada musim panas 1816, tekanan udara di sebagian besar kawasan Atlantik Utara dan Eropa berada di bawah normal. Sistem tekanan rendah lebih sering muncul, sementara aliran udara dari barat dan barat laut menuju Eropa menjadi lebih kuat. Langit pun jadi lebih sering berawan.

 

Pada saat itu Eropa bagian barat dan Amerika Utara bagian timur mengalami periode sporadis dengan hujan salju lebat dan embun beku yang mematikan hingga Juni, Juli, dan Agustus. Peristiwa cuaca dingin itu memicu gagal panen dan kelaparan di wilayah-wilayah tersebut. Karena itulah 1816 terkenal sebagai “tahun tanpa musim panas”. Pengalaman hidup diselimuti awan kelam berkepanjangan ikut dialami Mary Shelley yang “terperangkap” di vilanya di dekat Danau Jenewa di Swiss dan melahirkan karya legendaris Frankenstein pada 1818. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/teroka/dampak-global-erupsi-gunung-tambora-2299708

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar