|
Erupsi
Tambora yang Melahirkan Frankenstein Aisha Shaidra : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026
|
· Letusan Tambora pada 1815 menghancurkan
sebagian besar tubuh gunung dan menewaskan puluhan ribu orang di Sumbawa. · Material vulkanis dan sulfur dioksida
Tambora menyebar ke atmosfer, menurunkan suhu global, dan memicu cuaca
ekstrem. · Dampak iklim Tambora menyebabkan 1816
dikenal sebagai “tahun tanpa musim panas” dan turut menginspirasi lahirnya
Frankenstein. BAYANGKAN
Anda berada di pantai timur Bali pada awal abad ke-19. Pada saat cuaca cerah,
di ufuk timur, terlihat Gunung Tambora yang menjulang sekitar 4.600 meter di
atas permukaan laut (mdpl) di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Gunung ini
merupakan puncak tertinggi di Hindia Belanda di luar barisan pegunungan di
Papua. Tambora jauh lebih tinggi ketimbang tetangganya, Gunung Rinjani, yang
mencapai 3.726 mdpl. Setidaknya
sejak 1814 Gunung Tambora tampak gelisah dengan mengeluarkan gemuruh dan
kepulan awan gelap. Kegelisahan raksasa itu tergambar dalam catatan seorang
naturalis dan diplomat Inggris, John Crawfurd, yang ikut dalam ekspedisi Sir
Thomas Stamford Raffles ke Sulawesi. Pelayaran mereka melintasi perairan
dekat Semenanjung Sanggar di pesisir utara Sumbawa. “Dari
kejauhan, awan abu yang dimuntahkannya menghitamkan salah satu sisi
cakrawala,” tulis Crawfurd dalam A Descriptive Dictionary of the Indian
Islands and Adjacent Countries. Saking pekatnya awan abu tersebut, dia
mengatakan sang kapten kapal mengiranya sebagai badai tropis sehingga segera
melipat layar sebelum abu mulai berjatuhan di geladak. Setahun
kemudian, pada 10 dan 11 April 1815, Tambora masuk catatan sejarah dunia
lewat letusan dahsyatnya. Crawfurd menuliskan suara dentuman sempat dianggap
dentuman meriam benteng atau pertempuran kapal laut. Gelegar gunung itu
terdengar hingga Ternate yang berjarak 1.500 kilometer di utara. Tak cuma
meruntuhkan atap bangunan, letusan Tambora juga melepaskan material vulkanis
dalam jumlah bagal. Para peneliti memperkirakan 30-50 kilometer kubik magma
keluar selama letusan berlangsung. Aliran piroklastik atau kerap disebut awan
panas berupa campuran gas panas, abu, batu apung, dan pecahan lava meluncur
deras dan cepat dari berbagai sisi gunung, menyapu daratan mencapai laut dan
mengubah garis pantai Semenanjung Sanggar. “Sekarang
Gunung Tambora tinggal sekitar 2.000 meter lebih atau kehilangan hampir
setengah ketinggiannya. Bisa dibilang sebagian besar tubuh gunung runtuh dan
terlempar saat letusan,” ujar Igan S. Sutawidjaja, peneliti dan ahli
vulkanologi senior di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, pada
Sabtu, 27 September 2026. Letusannya membentuk kaldera raksasa sekitar 6 x 7
kilometer dengan kedalaman lebih dari 1 kilometer. Awan
panas yang bergerak cepat inilah yang menjadi salah satu penyebab utama
jatuhnya banyak korban jiwa. Catatan pemerintah Hindia Belanda menyatakan
fenomena itu menyebabkan sedikitnya 10 ribu orang tewas dan 35 ribu rumah
hancur di Sumbawa. Di
sekitar Tambora, batu apung dan abu kasar jatuh menutupi daratan. Tapi
partikel abu yang lebih halus terbawa angin jauh dari sumbernya. Berbagai
catatan menunjukkan abu vulkanis bahkan mencapai Jawa bagian barat, lebih
dari 1.300 kilometer dari lokasi asalnya. Sebagian material lain jatuh ke
samudra. Tak
hanya itu, semburan vulkanis melontarkan lebih dari 60 juta ton sulfur
dioksida ke udara. Christoph C. Raible dkk dalam kajian Tambora “1815 as A
Test Case for High Impact Volcanic Eruptions: Earth System Effects”
menyebutkan letusan Tambora menyemburkan gas belerang begitu tinggi ke
lapisan atmosfer. Di atas sana, gas berubah menjadi partikel-partikel yang
sangat kecil, lantas menyebar luas seperti membentuk selimut di langit. Partikel-partikel
ini menghalangi sebagian sinar matahari mencapai permukaan bumi. Pada
puncaknya, pengaruh aerosol Tambora terhadap radiasi bumi diperkirakan
mencapai sekitar minus 5 watt per meter persegi. Akibatnya, suhu global turun
dan pola atmosfer ikut berubah. Panas yang diterima bumi berkurang dan suhu
pun turun. Pada
musim panas 1816, tekanan udara di sebagian besar kawasan Atlantik Utara dan
Eropa berada di bawah normal. Sistem tekanan rendah lebih sering muncul,
sementara aliran udara dari barat dan barat laut menuju Eropa menjadi lebih
kuat. Langit pun jadi lebih sering berawan. Pada
saat itu Eropa bagian barat dan Amerika Utara bagian timur mengalami periode
sporadis dengan hujan salju lebat dan embun beku yang mematikan hingga Juni,
Juli, dan Agustus. Peristiwa cuaca dingin itu memicu gagal panen dan
kelaparan di wilayah-wilayah tersebut. Karena itulah 1816 terkenal sebagai
“tahun tanpa musim panas”. Pengalaman hidup diselimuti awan kelam
berkepanjangan ikut dialami Mary Shelley yang “terperangkap” di vilanya di
dekat Danau Jenewa di Swiss dan melahirkan karya legendaris Frankenstein pada
1818. ● Sumber :
https://www.tempo.co/teroka/dampak-global-erupsi-gunung-tambora-2299708 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar