|
Tahun
Duka di Balik Bui Moh Khory Alfarizi : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026
|
· Subandrio kehilangan istri dan anak
semata wayangnya saat masih dipenjara. · Hingga kini keluarga Subandrio menutup
diri karena dituduh terlibat PKI. · Aset Subandrio nyaris tak bersisa
karena diambil setelah ia dipenjara. RUMAH
kelahiran Subandrio masih berdiri kokoh. Berdiri di atas lahan 1.500 meter
persegi, bangunan berkelir krem dan cokelat itu berada di Jalan Haji Agus
Salim, Kabupaten Malang, Jawa Timur. “Itu dulunya rumah dinas Wedana
Kepanjen,” kata Dyah Anggraeni Nugrahaning Aji alias Heni pada Senin, 14
September 2026. Heni
masih berkerabat dengan Subandrio. Perempuan yang lahir pada 1965 itu biasa
memanggil Subandrio dengan sebutan Om Ban. Subandrio muda pernah menumpang di
rumah kakek Heni. Saat ini Heni dan keluarga tinggal di dekat rumah tempat
Subandrio lahir. Sementara itu, rumah bersejarah tersebut sudah lama dijual. Ia
berkisah, setelah terjadi peristiwa G-30-S yang menyeret Partai Komunis
Indonesia atau PKI, rumah itu dan aset Subandrio lain disita dan dikuasai
negara atau pihak ketiga. Tapi rumah tempat Subandrio dibesarkan itu belum
dipugar. “Bangunan utamanya tetap dipertahankan,” ujar Heni. Kini
rumah itu beralih fungsi menjadi gudang logistik salah satu minimarket.
Pegawai gudang, Arif, menuturkan bahwa rumah itu dijadikan gudang sejak 2016.
“Orang-orang sekitar menyebut ini ‘Rumah Pak Jenderal’,” tutur Arif, 45
tahun. Subandrio
lahir di rumah itu pada 15 September 1914. Dalam buku Kesaksianku tentang
G-30-S Subandrio, ayah Subandrio, Koesadi, adalah Wedana Kepanjen. Sementara
itu, ibunya, Sapirah, ibu rumah tangga biasa. Subandrio adalah anak kedua
dari enam bersaudara. Mereka dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Guru
besar riset sejarah sosial politik pada Badan Riset dan Inovasi Nasional,
Asvi Warman Adam, mengatakan Subandrio memiliki kakak, Koestinah, dan empat
adik, yakni Koestijah, Koestisasi, Koestiani, dan Koestiari. Namun, setelah ibu
Subandrio meninggal, ayahnya menikah lagi dengan Safinah dan memiliki tujuh
anak. Mereka adalah Koestiami, Koestiati, Koestiana, Koesprapti, Koestiwulan,
Satrio, dan Koesprapto. Asvi
mencatat daftar keluarga tersebut ketika mewawancarai adik tiri Subandrio,
Koestiwulan, di Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada 2014. Saat itu Koestiwulan
berusia 80 tahun. Namun Koestiwulan tidak menjelaskan keberadaan keluarga
besarnya. “Kalau ditelusuri mungkin masih ada karena jumlahnya 13
bersaudara,” ujar Asvi. Ditemui
terpisah, anak Koestiwulan, Sayogo, membenarkan ihwal daftar adik dan kakak
Subandrio yang disampaikan Asvi. Menurut Sayogo, ibunya salah satu adik yang
paling dekat dengan Subandrio. Saat kecil, Sayogo sering mendengar ibunya dan
Subandrio berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Selain
tinggal di Kepanjen, kata Sayogo, kakeknya, Koesadi, pernah menetap di
Probolinggo, Jawa Timur. Namun rumah di sana sudah dijual. Bahkan kakeknya
meninggalkan surat wasiat tulisan tangan lengkap dengan satu per satu nama anaknya.
Namun Sayogo tidak ingat tahun pengurusan wasiat itu. “Kebetulan ibu saya
yang mengurus penjualan rumah itu,” tutur Sayogo. Masa
kecil Subandrio memang dihabiskan di Kepanjen. Dia mengenyam pendidikan dasar
di Sekolah Rakyat. Setelah lulus, Subandrio melanjutkan sekolah ke Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs atau MULO, setingkat sekolah menengah pertama.
Lalu dia melanjutkan ke jenjang sekolah menengah atas di Algemene Middelbare
School (AMS) Malang. Di AMS Malang hanya ada jurusan B atau Ilmu Pengetahuan
Alam. “Om Ban kalau bersekolah selalu naik kereta dari Stasiun Kepanjen ke
Malang,” ujar Heni. Setelah
itu, Subandrio menempuh sekolah kedokteran di Geneeskundige Hoogeschool te
Batavia (GHS) di Salemba, Jakarta Pusat, kini Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Dalam buku Perjuangan dan Pengabdian Mosaik Kenangan Prof. Dr.
Satrio (1916-1986), untuk persiapan sekolah di GHS, Subandrio datang ke rumah
dokter Abdulrachman Saleh, kakak Harun Saleh dan Aziz Saleh, di Gang
Abdulrazak Nomor 10, dekat Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat. Abdulrachman
adalah tokoh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara yang menjadi pahlawan
nasional. Subandrio
berhasil mengantongi gelar dokter setelah menempuh pendidikan tujuh tahun.
Dia melanjutkan sekolah menjadi dokter spesialis bedah. Namun, sebelum lulus,
Subandrio menikah dengan Hurustiati, yang juga mahasiswa di GHS, pada 26
September 1940. Usianya lebih muda tiga tahun dari Subandrio. Ketika
Subandrio lulus dari GHS, Hurustiati masih kuliah. Setahun kemudian, mereka
dikaruniai anak semata wayang: Budoyo. Setelah
berhasil menjadi dokter bedah, Subandrio sempat direkrut Centrale Burgerlijke
Ziekeninrichting atau CBZ Semarang (kini Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi)
dan CBZ Batavia (kini Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo).
Namun Subandrio memilih masuk dunia politik dan mundur dari rumah sakit. Dia
juga kerap terlibat dalam berbagai diskusi hingga bergabung dengan Partai
Sosialis Indonesia. Dari situlah kemudian ia menjadi pejabat dan orang dekat
Presiden Sukarno. Selama Subandrio menjadi pejabat, dia dan keluarganya
tinggal di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Alamat itu
masih ada hingga kini. Tapi bangunannya sudah menjadi dua lantai. Seorang
penjaga rumah mengatakan rumah itu milik seorang aktris 1990-an. Komisi
Pemberantasan Korupsi pernah menangkap suami artis itu pada 2016. Aset
Subandrio nyaris tak tersisa. Pada Maret 1966, Subandrio bersama para menteri
Kabinet Dwikora ditangkap karena dianggap sebagai loyalis Sukarno. Subandrio
dibawa ke sidang Mahkamah Militer Luar Biasa dan dijatuhi hukuman mati karena
dituduh terlibat G-30-S. Belakangan, hukuman Subandrio diubah menjadi penjara
seumur hidup. Pada
masa itu, istri Subandrio, Hurustiati, tinggal hanya berdua dengan anak
semata wayang mereka, Budoyo. Saat dewasa, Budoyo menikah dengan Anne Frida
Yohana Hanafiah-Sereh pada 1971. Saat itu Subandrio masih di dalam bui. Anne
adalah anak Jitzach Alexander Sereh, salah satu pemimpin awal Bank Indonesia
dan Presiden Direktur Danareksa pada 1970-an. Setahun kemudian, Budoyo
dikaruniai anak pertama, John Alexander Gurowo, yang punya panggilan Jonjon. Tahun
1974 menjadi masa berduka keluarga inti Subandrio. Pada Februari, Budoyo
meninggal karena serangan jantung. Dua bulan kemudian, ibunya, Hurustiati,
menyusul karena kanker. Anne waktu itu tengah hamil anak kedua. Lalu,
pada Mei 1974, Anne melahirkan anak keduanya, Arnold Budoyo Subandrio. “Tahun
1974 jadi salah satu ujian terberat keluarga kami, terutama ibu saya.
Kehidupan ibu saya berubah,” ujar Arnold dalam suratnya kepada Tempo pada
Jumat, 25 September 2026. Kehilangan
ayah dan nenek membuat John dan Arnold dibesarkan oleh kakek-nenek dari pihak
ibu. Sekitar empat tahun kemudian, Anne menikah lagi. Namun, kata Arnold,
ibunya masih mencintai sang ayah. Itu
terbukti karena Anne sering membicarakan Budoyo. Anne mendorong John dan
Arnold mengikuti kegiatan seperti les piano hingga bergabung dengan akademi
sepak bola. Sebab, Budoyo jago bermain piano dan senang bermain bola. “Ada
satu hal yang selalu saya perhatikan dari ibu saya, cintanya kepada mendiang
Ayah tak pernah berubah,” tutur Arnold. Arnold
kecil pernah mengunjungi Subandrio di penjara. Kala itu Subandrio kerap
bercerita tentang Budoyo yang sangat dia banggakan. Subandrio mengatakan
Budoyo pernah menempuh pendidikan di sekolah khusus pejabat diplomatik di
London, Inggris. Lalu
Budoyo melanjutkan kuliah di Trinity College Dublin, Irlandia. Budoyo juga
disebut pernah menjabat Presiden Persatuan Mahasiswa Indonesia di Inggris
Raya. Bahkan, dalam kunjungan Presiden Sukarno ke Irlandia, Budoyo mengatur
pertemuan Presiden dengan anggota Tentara Republik Irlandia di sebuah penjara
di Dublin. Arnold
saat ini bekerja di bidang properti di Amerika Serikat. Sementara itu, John
tinggal di Jakarta bersama pasangannya. Ibu mereka meninggal pada Juni 2001.
Kemudian ayah tiri mereka menyusul. Arnold memiliki adik tiri perempuan yang
kerap dikunjunginya sebulan sekali. Peristiwa
politik yang dialami Subandrio juga berdampak pada keluarga lain. Anak
Koestiwulan, Sayogo, mengaku bahwa ayahnya, M. Sukanto, dicopot dari jabatan
direktur di Badan Meteorologi dan Geofisika—kini Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG. Pencopotan itu dilakukan gara-gara
keluarganya adalah kerabat dekat Subandrio. Saat itu Sukanto dipindahkan ke
Departemen Perhubungan. Bukan
hanya itu, rumah keluarga Sayogo di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat, pernah
mendapat surat yang isinya meminta rumah dikosongkan. Sementara itu, ibunya
memperoleh perlakuan berbeda. Koestiwulan bekerja di PT Perusahaan Listrik
Negara (Persero) dan tidak mendapat perlakuan intimidatif. Di perusahaan
pelat merah itu, Koestiwulan justru berkarier hingga menjabat kepala di
bagian fasilitas dan pengadaan. “Bahkan teman-teman kuliahnya sudah tahu ibu
saya adik Subandrio,” kata Sayogo. Kala itu
ada juga sepupu Subandrio yang melamar pekerjaan di badan usaha milik negara.
Ia menjalani seleksi G-30-S. Ia lolos karena menutupi cerita tersebut.
“Keluarga kami tidak pernah mengakui apa pun terkait dengan G-30-S,” ujar
Sayogo. Bahkan, hingga saat ini, Sayogo tidak pernah lagi bertemu dengan
keluarga besarnya setelah Subandrio dituduh terlibat G-30-S. Sebagian besar
dari mereka telah memilih menutup diri. Dyah
Anggraeni Nugrahaning Aji alias Heni mengalami hal serupa. Kakaknya, Dyah
Setyorini Karunia Aji alias Rini, harus mengubah semua dokumen agar bisa
mendaftar menjadi pegawai negeri sipil. Padahal anggota keluarganya tidak ada
yang menjadi anggota PKI. Heni menuturkan bahwa Subandrio sengaja jarang
pulang ke Kepanjen untuk melindungi nama keluarganya. “Kami sudah kena
fitnah, sampai sekarang kami merasa sering diawasi,” tuturnya. Enam
tahun setelah kepergian Budoyo dan Hurustiati, Subandrio menikah dengan Sri
Kusdiantinah. Keduanya memiliki nasib yang sama. Dian—sapaan Sri
Kusdiantinah—kehilangan suaminya, Bambang Supeno, karena sakit. Subandrio
pernah tinggal bersama orang tua Bambang, Soewitardjo, yang masih memiliki
ikatan keluarga dengan ayah Subandrio. Keluarga Subandrio dan Dian sudah lama
saling kenal. Dikutip
dari koran Sinar Harapan edisi Ahad, 4 Oktober 1981, Dian memiliki empat anak
hasil pernikahannya dengan Bambang. Mereka adalah Adji, Bima, Indra, dan
Yoga. Bahkan Subandrio kerap memanggil salah satu anak Dian dengan sebutan
Doyo karena usianya yang mirip dengan anaknya, Budoyo. Setelah
29 tahun dibui, Subandrio dibebaskan pada 15 Agustus 1995. Subandrio dan Dian
kemudian menetap di rumah di Jalan H Jian Nomor 18, Cipete, Jakarta Selatan.
Ketika meninggal pada 3 Juli 2004, Subandrio disemayamkan di rumah tersebut.
Ketika itu Dian berusia 73 tahun. Tempo mendatangi alamat rumah tersebut pada
Jumat, 25 September 2026, tapi pemiliknya sudah bukan keluarga Subandrio.
“Rumah ini dibeli orang tua saya pada tahun 2000-an,” kata penghuni rumah
tersebut. ● Sumber :
https://www.tempo.co/tokoh/riwayat-keluarga-subandrio-2298583 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar