|
Hati Ngadirejo Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 13 Oktober 2026
"Anda kan
seperti saya: orang desa. Kok nama Anda Andrew? Dapat dari gereja?" tanya
saya.
"Saya
muslim, Pak," jawab Andrew.
Saya tertarik
menulis tentang Andrew setelah tahu dari Prof Dr Priyo Suprobo --mantan rektor
ITS yang sekarang menjabat ketua wali amanah perguruan tinggi teknologi
Surabaya itu.
Prof Probo
adalah salah satu promotor saat Andrew meraih gelar doktor ilmu komputer di ITS
dengan predikat summa cum laude, di usianya yang 29 tahun.
Ayahnya
meninggal saat Andre berusia 3 tahun. Ia tidak tahu di mana makam sang ayah.
Saat sudah remaja ia mendengar ayahnya tewas dalam kecelakaan lalu lintas
dengan status korban tak dikenal.
Andrew juga
diberi tahu bahwa ayahnya dulu bekerja sebagai tukang jahit di kota nan jauh di
Surabaya. Selebihnya Andrew tidak banyak tahu tentang ayahnya. Yang ia tahu
hanyalah ibunya: yang melahirkan dan mempertaruhkan hidupnyi untuk dirinya.
Sang ibu harus bekerja apa saja untuk membesarkannya. Termasuk bekerja sebagai
pemanjat pohon. Yakni pohon melinjo --memetik buahnya untuk dijadikan emping
melinjo kesukaan Anda.
Berarti sang
ibu juga sekaligus buruh kupas melinjo: mengupas kulit luarnya yang kupasannya
bisa untuk penyedap sayur asam. Kulit dalamnya juga harus dikupas dengan cara
dipukul pecah. Baru daging terdalam, yang berukuran sebesar mutiara di kalung
wanita kaya, dipenyet tipis. Dikeringkan. Digoreng.
Upahnya hanya
cukup untuk beli roti mari makanan Andrew saat bayi. Roti marinya pun harus
dihemat. "Satu bungkus harus cukup untuk satu minggu," ujar Andrew
mengenang cerita ibunya.
Melinjo hanya
berbuah setahun sekali. Pohonnya pun kian lama kian jarang. Setelah suaminyi
meninggal, sang ibu dapat cobaan lain lagi: Andrew sakit keras. Sangat keras.
Sampai dikira segera meninggal dunia. Masuk RS sampai satu bulan. Sang ibu
berusaha keras agar Andrew sembuh --sampai terlilit utang yang di luar
kemampuannyi untuk membayar.
Untuk membayar
utang itu akhirnya sang ibu merantau jauh: ke Taiwan. Jadi TKW. Di samping
untuk mencicil utang juga untuk biaya sekolah Andrew. Anak itu sendiri
dititipkan di kakak sang ibu --disebut bude. Atau su su dalam bahasa Mandarin.
Rumah bu de hanya 10 meter dari rumahnya.
"Waktu
saya sudah SMP ibu baru pulang dari Taiwan," ujar Andrew.
Sang ibu minta
Andrew melanjutkan sekolah. Biaya bisa dicari. Masuklah Andrew ke SMK Negeri
Ngadirejo. Andrew ambil jurusan komputer dan jaringan.
Sang ibu pun
bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Surabaya. Yakni di sebuah rumah di
kompleks Pakuwon Surabaya barat. Andrew harus terus sekolah. Harus sampai
sarjana.
Setamat SMK
Andrew mencari tempat kuliah. Kalau bisa di ITS. Agar cocok dengan jurusannya
di SMK dan dekat dengan tempat kerja ibunya. Andrew nggak berhasil tes masuk
ITS. Ke universitas lain juga gagal.
Sang ibu sangat
ingin anaknyi kuliah. Andrew pun dikirimi lagi uang. Kali ini Rp 500.000. Kata
sang ibu, itu uang terakhir yang dimiliki ibunya. Kalau dengan uang itu tidak
juga bisa diterima di perguruan tinggi mana pun ya sudah. Andrew harus cari
kerja. Cari uang. Untuk bisa kuliah.
Maka Andrew
belajar lebih keras. Siang malam. Ia tidak ingin mengecewakan harapan ibunya.
Akhirnya Andrew lulus tes untuk D3 di lingkungan ITS Surabaya. Tentu tidak bisa
tinggal bersama sang ibu. Ia tinggal di rumah kerabat keluarga dari Pacitan.
Sebagai lulusan
dari daerah pedalaman Andrew awalnya sulit mengejar nilai teman-teman D3-nya.
Rangkingnya di atas 10 besar. Ia belajar lebih keras. Sambil jadi tukang ojek
di Surabaya. Prestasi akademiknya naik. Ia lulus D3 cum laude. Bahkan yang
terbaik di antara lulusan seangkatannya.
Dengan prestasi
itu Andrew bisa melanjutkan kuliah D4 di PENS --Politeknik Elektro Negeri
Surabaya. Ia juga dapat pekerjaan paruh waktu di laboratorium universitas.
Kebetulan peralatan di lab itu tidak berfungsi. Rusak. Andrew diminta
memperbaikinya. Dalam tiga bulan lab itu kembali berfungsi.
Sebelum lulus
PENS, Andrew mendapat kabar buruk: ibunya sakit. Sakitnya berat: kanker. Sang
ibu berhenti bekerja. Juga memutuskan untuk pulang ke Ngadirejo --ingin
meninggal di sana. Andrew terpukul berat. Perasaannya sangat terganggu. Ia
ingin mendampingi dan merawat sang ibu. Tapi ibunya sendiri ngotot minta Andrew
menyelesaikan kuliah di Surabaya.
Maka sang ibu
tidak sempat melihat anak tunggalnya lulus sarjana. Padahal tidak lama lagi
kelulusan itu tiba. Lulusnya cum laude pula.
Sejak ibunya
meninggal itulah Andrew selalu mengantongi uang Rp500.000 di sakunya. Itulah
uang terakhir yang dimiliki sang ibu. Itulah lambang perjuangan seorang ibu.
Punya kebutuhan mendesak apa pun uang Rp500.000 itu tidak boleh diganggu.
Pun selama
Andrew mendapat beasiswa S-3 dari negara: yang diingat adalah ibunya. Ia harus
jadi doktor. Ia belajar sangat keras. Pembimbingnya mengarahkan Andrew untuk
melakukan penelitian terjadinya keretakan pada struktur beton. Andrew dapat
dukungan dari para kontraktor-gedung untuk mendapatkan objek penelitian.
Tersusunlah disertasi berjudul "Multiresolution Spanial Attention-U-net
(Mrsa-u-net): Model segmentasi retak untuk pemantauan kesehatan struktur
beton".
Andrew lulus
doktor dengan predikat summa cum laude --dengan saksi uang Rp500.000 tetap
menjaga sakunya. Itulah yang ia anggap mewakili kehadiran sang ibu di wisuda
doktor komputer ITS-nya.
Andrew begitu
sulit masuk ITS. Harus lewat D3 dan D4. Kini ia doktor summa cum laude ITS dan
menjadi dosen di situ.
"Jimat"
uang Rp500.000 itu kelihatnnya juga akan jadi syarat bagi calon pacar atau
istri Andrew. Sang calon harus punya komitmen untuk menjaga uang itu agar tetap
di situ.
"Kenapa
tidak segera menikah?"
"Saya
masih punya tanggungan keluarga," katanya.
"Anda kan
anak tunggal. Ayah-ibu sudah tidak ada. Keluarga yang mana lagi?"
"Saya
masih harus membantu anak bude. Bude itu yang dulu merawat saya waktu kecil.
Saya harus membantu anak bude," ujar Andrew.
Andrew doktor
summa cum laude ITS Surabaya. Hatinya masih tetap hati Ngadirejo. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/973205/hati-ngadirejo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar