Minggu, 18 Oktober 2026

 

Bagaimana Berita Erupsi Krakatau Menyebar ke Seluruh Dunia

Aisha Shaidra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Letusan Gunung Krakatau pada 1883 menjadi bencana pertama yang diketahui dunia dalam waktu singkat berkat jaringan telegraf.

 

·      Jaringan komunikasi yang menopang kekuasaan kolonial Belanda justru mengubah bencana di Selat Sunda menjadi fenomena global.

 

·      Krakatau menunjukkan bagaimana teknologi komunikasi masa lalu menghubungkan masyarakat di berbagai belahan dunia dalam satu pengalaman yang sama.

 

RABU dini hari, 23 Mei 1883, Tuan Schuit bergegas menulis laporan soal hasil pemantauannya beberapa hari terakhir. Ia menggambarkan bagaimana Gunung Krakatau yang tampak dari kawasan Anjer—nama lawas Anyer—menunjukkan letusan dahsyat yang berlangsung sejak Ahad pagi dan gempa bumi berulang kali mengguncang serta mengeluarkan hujan abu, kepulan asap, dan juga kobaran api. Laporan itu turut memuat pengamatan pelaut yang melintasi Selat Sunda sehari sebelumnya.

 

“Kapten Ross melaporkan dari Anjer bahwa pada 22 Mei ia sedang berlayar di dekat First Point, Jawa, dan berusaha melihat Pulau Prinsen (kini Pulau Panaitan di Pandeglang, Banten), tetapi ternyata pulau itu dikelilingi awan,” tulis Schuit dalam laporannya, seperti yang Simon Winchester kutip dalam bukunya, Krakatoa: The Day the World Exploded.

 

Ross menceritakan, begitu mendekati Krakatau—yang menjulang 813 meter di Selat Sunda—ia melihat asap tebal dan abu menyelimuti bagian utara, sesekali disertai api dan suara ledakan keras. Setelah menyusun laporan tersebut dalam bahasa Inggris, Schuit menandainya dengan kata “URGENT”. Ia membawa lembar pesan itu ke kantor pos dan telegraf Hindia Belanda di Anjer untuk segera dikirim melalui jaringan telegraf menuju Batavia dan dilanjutkan ke London.

 

Schuit adalah perwakilan Society of Lloyd’s, pasar penanggung asuransi pelayaran tertua di dunia. Ia juga pemilik Hotel Anjer di tepi pantai dekat dermaga. Dari beranda hotelnya, Schuit bisa melihat Selat Sunda dan Krakatau lengkap dengan teleskop kuningan besar memantau lalu lintas perairan nan sibuk itu.

 

Dengan teleskopnya, Schuit bisa membaca bendera sinyal kapal dan meneruskan pesan kepada pemilik atau agen kapal. Dalam bukunya, Simon Winchester menuliskan, salah satu sinyal yang biasa ia perhatikan adalah susunan tiga bendera bertulisan “ZD2”, tanda meminta keberadaan kapal tersebut untuk dilaporkan ke kantor pusat Lloyd’s di London.

 

Petugas jaga kantor pos dan telegraf mengubah tulisan tangan itu menjadi rangkaian denyut sinyal morse di atas tombol ketuk kayu kuningan atau morse tapper. Sinyal listrik tersebut melesat menyusuri kabel darat menuju Batavia. Di kantor telegraf Batavia, pesan tersebut mereka pisah menjadi satu salinan terkirim ke kantor lokal, sementara salinan lain diumpan ke kabel bawah laut sepanjang 896 kilometer menuju Singapura.

 

Dari Singapura, pesan menempuh jalur Via Eastern, melintasi Teluk Benggala menuju Madras, menyeberangi India ke Bombay, lalu menyusuri Laut Arab hingga Aden. Dari sana, kabel melewati Terusan Suez, lalu menyeberangi Laut Tengah melalui Malta dan Gibraltar, sebelum mencapai stasiun Porthcurno di Cornwall, Inggris.

 

Dari Anjer, sinyal itu menempuh ribuan kilometer dan, dalam sekitar tiga jam, tiba di Foreign Intelligence Office milik Lloyd’s di London. Catatan Lloyd’s menunjukkan jaringan Batavia mengirim pesan itu pada pukul 03.47, 23 Mei 1883.

 

Masih dalam bukunya, Winchester menyebutkan kawat tembaga pembawa sinyal itu terbungkus getah perca (Isonandra gutta), bahan kedap air yang diekspor dari hutan-hutan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Menurut dia, tanpa getah dari tanaman asli Indonesia itu, kabel bawah laut dunia ini tak akan mampu bertahan dari korosi air laut.

 

Esoknya, pada 24 Mei 1883, kabar tersebut diwartakan di koran The Times di London. Entah akibat kekeliruan pembacaan kode morse entah penyuntingan redaksi, kata Krakatau atau Krakatan berubah menjadi “Krakatoa”. Lewat kantor berita Reuters, kawat berita itu terdistribusi ke sejumlah surat kabar di Amerika, Afrika Selatan, India, Prancis, dan Jerman. Untuk pertama kalinya, dunia mengetahui nama gunung api di Selat Sunda tersebut.

 

Sebelum era Internet dan telepon, telegraf menjadi tulang punggung komunikasi dunia. Jaringan kabel yang mendunia itu ibarat “Internet purba” yang memungkinkan laporan Tuan Schuit dari Anyer bisa diterima di London hanya dalam hitungan jam.

 

Karena itulah letusan Gunung Krakatau pada 26-27 Agustus 1883 dianggap sebagai fenomena awal sekaligus tonggak globalisasi modern. Untuk pertama kali dalam sejarah, masyarakat mengetahui dan merasakan kecemasan yang sama atas bencana yang terjadi di belahan lain dunia. Sejarawan dan sosiolog menyebutnya sebagai peristiwa media global pertama dunia. Bukan hanya dari kecepatan penyampaian informasi, melainkan juga pembentukan jaringan informasi berskala besar lewat kantor berita besar seperti Reuters.

 

•••

 

DI Hindia Belanda, penerapan utama telegraf tidak selalu untuk keperluan komunikasi. Fons Borm, peneliti sejarah Belanda dan kandidat doktor di Universiteit Utrecht, Belanda, menyebutkan, sejak pertama kali hadir di Batavia, jaringan telegraf merupakan bagian dari infrastruktur kolonialisme. “Fungsi paling penting telegraf pada 1883 adalah pengendalian wilayah jajahan,” ujar Borm kepada Tempo pada Rabu, 30 September 2026. “Nilainya terletak pada koordinasi dan pengendalian pemerintahan serta militer,” dia menambahkan.

 

Menurut Borm, telegraf listrik telah hadir di Hindia Belanda pada 1856 melalui De Gouvernements Telegraaf. Sejak kabel laut Batavia-Singapura tersedia pada 1870, perusahaan-perusahaan Eropa di Jawa mulai memanfaatkannya untuk komunikasi bisnis di Asia dan dengan Eropa, terutama Belanda.

 

“Surat kabar di Jawa juga menggunakan telegraf, tapi arus berita tersebut diawasi secara ketat oleh pemerintah kolonial,” kata Borm. Dia telah membukukan tesisnya yang berjudul “De adoptie van de telegrafie in Nederland en Nederlands-Indië, 1845-1914: politieke sturing en economische betekenis”—artinya kurang-lebih “Adopsi Telegrafi di Belanda dan Hindia Belanda, 1845-1914: Pengendalian Politik dan Makna Ekonomi”.

 

“Namun letusan Krakatau memperlihatkan jaringan yang menopang kekuasaan tersebut juga memiliki titik-titik kerentanan,” katanya. Setelah letusan besar terjadi pada Agustus 1883, kabel telegraf antara Jawa dan Sumatera hancur. Hal itu, Borm melanjutkan, menyebabkan komunikasi jarak jauh dari Sumatera dan sebaliknya terputus. “Pada 1883 terjadi penurunan lalu lintas telegram internal Hindia Belanda sebesar 9 persen serta dari Batavia ke Singapura sebesar 19 persen. Tentu saja, pasti ada dampaknya terhadap kegiatan bisnis,” ujarnya.

 

Kabel telegraf hanya satu dari sekian banyak obyek yang hancur karena Krakatau. Hotel Anjer, teleskop pemantau kapal, dan Tuan Schuit habis tersapu tsunami yang menggulung kota pesisir itu sesaat setelah letusan besar pertama terjadi pada 27 Agustus 1883. Dunia mengetahui kabar soal bencana Krakatau dalam hitungan jam, tapi orang-orang di sekitarnya tidak punya waktu sebanyak itu itu untuk menyelamatkan diri. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/teroka/peran-telegraf-erupsi-gunung-krakatau-2299707

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar