|
Bagaimana
Berita Erupsi Krakatau Menyebar ke Seluruh Dunia Aisha Shaidra : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026
|
· Letusan Gunung Krakatau pada 1883
menjadi bencana pertama yang diketahui dunia dalam waktu singkat berkat
jaringan telegraf. · Jaringan komunikasi yang menopang
kekuasaan kolonial Belanda justru mengubah bencana di Selat Sunda menjadi
fenomena global. · Krakatau menunjukkan bagaimana
teknologi komunikasi masa lalu menghubungkan masyarakat di berbagai belahan
dunia dalam satu pengalaman yang sama. RABU
dini hari, 23 Mei 1883, Tuan Schuit bergegas menulis laporan soal hasil
pemantauannya beberapa hari terakhir. Ia menggambarkan bagaimana Gunung
Krakatau yang tampak dari kawasan Anjer—nama lawas Anyer—menunjukkan letusan
dahsyat yang berlangsung sejak Ahad pagi dan gempa bumi berulang kali
mengguncang serta mengeluarkan hujan abu, kepulan asap, dan juga kobaran api.
Laporan itu turut memuat pengamatan pelaut yang melintasi Selat Sunda sehari
sebelumnya. “Kapten
Ross melaporkan dari Anjer bahwa pada 22 Mei ia sedang berlayar di dekat
First Point, Jawa, dan berusaha melihat Pulau Prinsen (kini Pulau Panaitan di
Pandeglang, Banten), tetapi ternyata pulau itu dikelilingi awan,” tulis
Schuit dalam laporannya, seperti yang Simon Winchester kutip dalam bukunya,
Krakatoa: The Day the World Exploded. Ross
menceritakan, begitu mendekati Krakatau—yang menjulang 813 meter di Selat
Sunda—ia melihat asap tebal dan abu menyelimuti bagian utara, sesekali
disertai api dan suara ledakan keras. Setelah menyusun laporan tersebut dalam
bahasa Inggris, Schuit menandainya dengan kata “URGENT”. Ia membawa lembar
pesan itu ke kantor pos dan telegraf Hindia Belanda di Anjer untuk segera
dikirim melalui jaringan telegraf menuju Batavia dan dilanjutkan ke London. Schuit
adalah perwakilan Society of Lloyd’s, pasar penanggung asuransi pelayaran
tertua di dunia. Ia juga pemilik Hotel Anjer di tepi pantai dekat dermaga.
Dari beranda hotelnya, Schuit bisa melihat Selat Sunda dan Krakatau lengkap
dengan teleskop kuningan besar memantau lalu lintas perairan nan sibuk itu. Dengan
teleskopnya, Schuit bisa membaca bendera sinyal kapal dan meneruskan pesan
kepada pemilik atau agen kapal. Dalam bukunya, Simon Winchester menuliskan,
salah satu sinyal yang biasa ia perhatikan adalah susunan tiga bendera
bertulisan “ZD2”, tanda meminta keberadaan kapal tersebut untuk dilaporkan ke
kantor pusat Lloyd’s di London. Petugas
jaga kantor pos dan telegraf mengubah tulisan tangan itu menjadi rangkaian
denyut sinyal morse di atas tombol ketuk kayu kuningan atau morse tapper.
Sinyal listrik tersebut melesat menyusuri kabel darat menuju Batavia. Di
kantor telegraf Batavia, pesan tersebut mereka pisah menjadi satu salinan
terkirim ke kantor lokal, sementara salinan lain diumpan ke kabel bawah laut
sepanjang 896 kilometer menuju Singapura. Dari
Singapura, pesan menempuh jalur Via Eastern, melintasi Teluk Benggala menuju
Madras, menyeberangi India ke Bombay, lalu menyusuri Laut Arab hingga Aden.
Dari sana, kabel melewati Terusan Suez, lalu menyeberangi Laut Tengah melalui
Malta dan Gibraltar, sebelum mencapai stasiun Porthcurno di Cornwall,
Inggris. Dari
Anjer, sinyal itu menempuh ribuan kilometer dan, dalam sekitar tiga jam, tiba
di Foreign Intelligence Office milik Lloyd’s di London. Catatan Lloyd’s
menunjukkan jaringan Batavia mengirim pesan itu pada pukul 03.47, 23 Mei
1883. Masih
dalam bukunya, Winchester menyebutkan kawat tembaga pembawa sinyal itu
terbungkus getah perca (Isonandra gutta), bahan kedap air yang diekspor dari
hutan-hutan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Menurut dia, tanpa getah dari
tanaman asli Indonesia itu, kabel bawah laut dunia ini tak akan mampu
bertahan dari korosi air laut. Esoknya,
pada 24 Mei 1883, kabar tersebut diwartakan di koran The Times di London.
Entah akibat kekeliruan pembacaan kode morse entah penyuntingan redaksi, kata
Krakatau atau Krakatan berubah menjadi “Krakatoa”. Lewat kantor berita
Reuters, kawat berita itu terdistribusi ke sejumlah surat kabar di Amerika,
Afrika Selatan, India, Prancis, dan Jerman. Untuk pertama kalinya, dunia
mengetahui nama gunung api di Selat Sunda tersebut. Sebelum
era Internet dan telepon, telegraf menjadi tulang punggung komunikasi dunia.
Jaringan kabel yang mendunia itu ibarat “Internet purba” yang memungkinkan
laporan Tuan Schuit dari Anyer bisa diterima di London hanya dalam hitungan
jam. Karena
itulah letusan Gunung Krakatau pada 26-27 Agustus 1883 dianggap sebagai
fenomena awal sekaligus tonggak globalisasi modern. Untuk pertama kali dalam
sejarah, masyarakat mengetahui dan merasakan kecemasan yang sama atas bencana
yang terjadi di belahan lain dunia. Sejarawan dan sosiolog menyebutnya
sebagai peristiwa media global pertama dunia. Bukan hanya dari kecepatan
penyampaian informasi, melainkan juga pembentukan jaringan informasi berskala
besar lewat kantor berita besar seperti Reuters. ••• DI
Hindia Belanda, penerapan utama telegraf tidak selalu untuk keperluan
komunikasi. Fons Borm, peneliti sejarah Belanda dan kandidat doktor di
Universiteit Utrecht, Belanda, menyebutkan, sejak pertama kali hadir di
Batavia, jaringan telegraf merupakan bagian dari infrastruktur kolonialisme.
“Fungsi paling penting telegraf pada 1883 adalah pengendalian wilayah
jajahan,” ujar Borm kepada Tempo pada Rabu, 30 September 2026. “Nilainya
terletak pada koordinasi dan pengendalian pemerintahan serta militer,” dia
menambahkan. Menurut
Borm, telegraf listrik telah hadir di Hindia Belanda pada 1856 melalui De
Gouvernements Telegraaf. Sejak kabel laut Batavia-Singapura tersedia pada
1870, perusahaan-perusahaan Eropa di Jawa mulai memanfaatkannya untuk
komunikasi bisnis di Asia dan dengan Eropa, terutama Belanda. “Surat
kabar di Jawa juga menggunakan telegraf, tapi arus berita tersebut diawasi
secara ketat oleh pemerintah kolonial,” kata Borm. Dia telah membukukan
tesisnya yang berjudul “De adoptie van de telegrafie in Nederland en
Nederlands-Indië, 1845-1914: politieke sturing en economische
betekenis”—artinya kurang-lebih “Adopsi Telegrafi di Belanda dan Hindia
Belanda, 1845-1914: Pengendalian Politik dan Makna Ekonomi”. “Namun
letusan Krakatau memperlihatkan jaringan yang menopang kekuasaan tersebut
juga memiliki titik-titik kerentanan,” katanya. Setelah letusan besar terjadi
pada Agustus 1883, kabel telegraf antara Jawa dan Sumatera hancur. Hal itu,
Borm melanjutkan, menyebabkan komunikasi jarak jauh dari Sumatera dan
sebaliknya terputus. “Pada 1883 terjadi penurunan lalu lintas telegram
internal Hindia Belanda sebesar 9 persen serta dari Batavia ke Singapura
sebesar 19 persen. Tentu saja, pasti ada dampaknya terhadap kegiatan bisnis,”
ujarnya. Kabel
telegraf hanya satu dari sekian banyak obyek yang hancur karena Krakatau.
Hotel Anjer, teleskop pemantau kapal, dan Tuan Schuit habis tersapu tsunami
yang menggulung kota pesisir itu sesaat setelah letusan besar pertama terjadi
pada 27 Agustus 1883. Dunia mengetahui kabar soal bencana Krakatau dalam
hitungan jam, tapi orang-orang di sekitarnya tidak punya waktu sebanyak itu
itu untuk menyelamatkan diri. ● Sumber :
https://www.tempo.co/teroka/peran-telegraf-erupsi-gunung-krakatau-2299707 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar