|
Museum di Zaman AI: Sekelumit Kisah Masa
Depan Ali
M Sungkar :
Diplomat Indonesia yang sedang
bertugas di Amerika Serikat |
KOMPAS, 15 Oktober 2026
|
Beberapa hari menjelang Hari Museum Nasional, saya mendapat
kesempatan mengikuti sebuah percakapan menarik di San Francisco. Temanya
terdengar seperti sesuatu yang datang dari masa depan: museum di zaman AI.
Namun, percakapan itu ternyata bukan terutama tentang masa depan. Percakapan
justru berkisar pada salah satu institusi tertua yang kita miliki untuk
menjaga masa lampau, yaitu museum. Dalam forum yang diselenggarakan Swissnex San Francisco tersebut,
para praktisi museum, kurator, dan pemikir teknologi dari Amerika Serikat dan
Swiss membahas pertanyaan yang tampaknya sederhana. Ketika kecerdasan
artifisial (AI) semakin mampu mengerjakan banyak hal, pekerjaan apa yang
dapat kita serahkan kepada mesin, dan apa yang sebaiknya tetap menjadi
tanggung jawab manusia? Pertanyaan itu terasa semakin relevan bagi Indonesia yang akan
memperingati Hari Museum Nasional pada 12 Oktober ini. Tanggal tersebut
merujuk pada Musyawarah Museum Se-Indonesia I di Yogyakarta pada 12 Oktober
1962. Enam puluh empat tahun kemudian, tantangan permuseuman tentu
telah berkembang. Bagi Indonesia, dengan keberagaman budayanya yang luar
biasa, museum bukan sekadar tempat menyimpan benda dari masa silam. Museum
juga menjaga pengetahuan, ingatan, dan identitas budaya yang diwariskan
antargenerasi. Kini, di tengah perkembangan AI, muncul pertanyaan baru bagaimana
teknologi ini dapat membantu kita merawat dan membuka kekayaan budaya
tersebut, tanpa kehilangan makna yang menjadikannya berharga? Ketika koleksi dapat saling berkomunikasi Museum sesungguhnya merupakan tempat yang sangat menarik bagi
perkembangan AI. Selama puluhan, bahkan ratusan tahun, museum mengumpulkan
sesuatu yang sekarang sangat berharga dan relevan di zaman AI: data yang
telah diberi konteks. Sebuah benda koleksi bukan sekadar difoto dan diberi nomor. Ia
diteliti, diklasifikasikan, diberi keterangan mengenai asal-usul, bahan,
periode, pembuat, fungsi, sejarah kepemilikan, hingga hubungannya dengan
benda lain. Pekerjaan sunyi para kurator, konservator, arkeolog, sejarawan,
dan pustakawan selama beberapa generasi ternyata menghasilkan data
terstruktur dan informasi penjelasnya (metadata). Di sinilah AI membuka
kemungkinan baru. Koleksi yang selama ini tersimpan di ruang penyimpanan
dapat ditelusuri tidak hanya berdasarkan nomor inventaris atau kata kunci,
tetapi melalui hubungan yang sebelumnya sulit terlihat. Gianni Jetzer, Direktur Kunstmuseum St Gallen di Swiss,
memberikan contoh menarik. Menjelang peringatan 150 tahun museum yang
dipimpinnya, ia tengah mengembangkan proyek yang memanfaatkan AI untuk
menelusuri sekitar 350 laporan tahunan, 600 publikasi museum, ribuan arsip
surat kabar, serta basis data koleksi. Tujuannya bukan sekadar menyusun
kembali kronologi museum, melainkan menemukan pola, hubungan, dan bahkan
kekosongan dalam sejarah institusi yang selama ini luput dari perhatian. Bayangkan kemungkinan serupa diterapkan pada koleksi Indonesia.
Seseorang dapat menelusuri keterkaitan motif wastra dari Sumatera, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia timur dengan jalur perdagangan maritim
Asia pada abad ke-18 dan ke-19. AI membantu menghubungkan ribuan gambar,
catatan, katalog, dan arsip yang sebelumnya sulit diteliti secara bersamaan.
AI tidak menggantikan penelitian, tetapi dapat membuka jalan baru dan
memperluas cakupan yang bisa diteliti manusia. Museum tanpa dinding? Bayangkan seorang pelajar di Kupang yang ingin mempelajari arca
Singasari. Seorang mahasiswa di Makassar yang ingin meneliti batik pesisir
Jawa. Seorang perajin di Flores yang ingin membandingkan motif tenun dari
berbagai museum. Atau seorang peneliti Indonesia di luar negeri yang
membutuhkan akses kepada koleksi Nusantara. Jika koleksi telah didigitalisasi dan didokumentasikan dengan
baik, AI dapat menjadi pintu masuk yang jauh lebih mudah. Bahkan bahasa tidak
harus menjadi penghalang. Pengunjung suatu hari mungkin dapat berbicara
dengan sistem museum dalam bahasa Indonesia, atau bahasa daerah, dan bertanya
tentang sebuah benda sebagaimana ia bertanya kepada seorang pemandu. Benda
yang selama puluhan tahun hanya diketahui oleh segelintir kurator dapat
memperoleh kehidupan publik yang baru. Bagi Indonesia, dengan ribuan pulau dan keberagaman budaya yang
tersebar di seluruh Nusantara, kemungkinan ini sangat berarti. Akses terhadap
warisan budaya tidak lagi harus ditentukan oleh jarak geografis atau
kemampuan seseorang mengunjungi museum tertentu. Kemudahan itu sekaligus membawa persoalan baru. Ketika gambar,
deskripsi, dan data koleksi tersedia secara digital, informasi tersebut bukan
hanya dapat digunakan oleh pelajar dan peneliti. Ia juga dapat diserap oleh
mesin, digabungkan dengan jutaan sumber lain, dipotong dari konteksnya, lalu
digunakan untuk menghasilkan interpretasi baru. Dari sini muncul pertanyaan
yang lebih mendasar: siapa sebenarnya yang memiliki otoritas untuk menuturkan
kisah sebuah koleksi? Dari penjaga artefak menjadi penjaga konteks Selama ini kita sering membayangkan fungsi utama museum sebagai
penjaga artefak. Di zaman AI, barangkali museum akan semakin penting sebagai
penjaga konteks. Sebuah keris bukan hanya sebilah logam. Sebuah arca bukan sekadar
wujud tiga dimensi. Sebuah kain bukan hanya pola visual yang indah. Di
belakang benda-benda tersebut terdapat sejarah, kepercayaan, komunitas,
pengetahuan, hubungan kekuasaan, bahkan ingatan yang mungkin masih hidup. Mesin dapat mengenali bahwa dua motif terlihat serupa. Namun,
kemiripan visual tidak dengan sendirinya menjelaskan apakah keduanya memiliki
makna budaya yang sama. AI dapat menyusun sebuah deskripsi dalam sepersekian
detik. Namun, apakah deskripsi tersebut mengungkapkan kebenaran, atau justru
melanggengkan narasi tertentu? Apakah suara masyarakat asal koleksi ikut
hadir? Apakah narasi kolonial yang tersembunyi dalam katalog lawas tanpa
sengaja direproduksi sebagai ”kebenaran”? Sonja Thiel, kurator dan peneliti di Universitas California,
Berkeley, mengingatkan adanya risiko homogenisasi budaya, yakni penyeragaman
budaya akibat AI. Tidak semua pengetahuan manusia terdokumentasikan dalam
data, apalagi dalam bentuk yang dapat dibaca mesin. Peringatan ini sangat relevan bagi Indonesia. Banyak pengetahuan
budaya Nusantara hidup melalui tradisi lisan, praktik keseharian, ritual, dan
hubungan antargenerasi. Sebagian tidak pernah tercatat dalam katalog museum,
sementara sebagian lainnya mungkin hanya dipahami sepenuhnya oleh komunitas
yang mewarisinya. Ketika pengetahuan tersebut diolah oleh AI, ada risiko
bahwa kekayaan maknanya direduksi menjadi informasi yang seragam. Perkembangan AI tidak mengurangi pentingnya peran kurator. Mereka
tetap bertugas memastikan asal-usul, konteks, integritas, dan
pertanggungjawaban informasi. Lebih dari itu, museum perlu membuka ruang bagi
masyarakat asal koleksi untuk ikut menentukan bagaimana warisan budaya mereka
dipahami dan dituturkan. Ketika museum memasuki dunia AI Ada persoalan lain yang amat menarik: apa yang terjadi ketika
museum masuk ke dalam dunia AI? Semakin banyak orang memperoleh pengetahuan
bukan dengan membuka ensiklopedia atau situs museum, melainkan dengan
bertanya kepada sebuah chatbot. Dalam beberapa tahun mendatang, sangat
mungkin seseorang tidak lagi mencari ”arca Hindu-Buddha Nusantara” di laman
Museum Nasional, tetapi bertanya langsung kepada sebuah sistem AI. Jawaban mesin itu berasal dari mana? Apabila sumber digital
mengenai arca Hindu-Buddha Nusantara sedikit, tidak terstruktur, atau kalah
banyak dibandingkan sumber dari tempat lain, representasi kebudayaan
Indonesia dalam ekosistem AI juga dapat menjadi tidak lengkap, keliru, atau
berat sebelah. Karena itu, digitalisasi museum bukan sekadar proyek memotret
koleksi dan memasukkannya ke laman web. Ini dapat menjadi bagian dari kedaulatan pengetahuan bangsa.
Dokumentasi yang baik, terminologi yang tepat, penelitian yang dapat
ditelusuri, serta keterhubungan koleksi antarmuseum akan ikut menentukan
bagaimana kebudayaan Indonesia ditemukan dan dipahami, baik oleh manusia
maupun oleh mesin. Kepentingannya melampaui pengelolaan museum: ia menyangkut
mutu pengetahuan yang dapat diakses pelajar, guru, peneliti, dan masyarakat
luas. Bagi negara dengan keberagaman budaya sebesar Indonesia,
persoalan ini memiliki arti strategis. Jika kita tidak cukup aktif
mendokumentasikan dan menyediakan pengetahuan mengenai warisan budaya
sendiri, kita berisiko membiarkan representasi kebudayaan Indonesia dalam
dunia digital lebih banyak dibentuk oleh sumber dan perspektif pihak lain. Karena itu, penguatan dokumentasi koleksi, keterhubungan data
antarmuseum, dan keterlibatan komunitas asal bukan semata agenda teknis,
melainkan bagian dari upaya memastikan masyarakat dapat mengenali sejarah dan
kebudayaannya melalui sumber yang dapat dipercaya. Namun, membuka akses bukan berarti menyerahkan seluruh data tanpa
batas. Hak masyarakat asal koleksi, pengetahuan yang bersifat sakral, serta
integritas informasi tetap memerlukan perlindungan. Kedaulatan pengetahuan
bukan berarti menutup pengetahuan dari dunia, melainkan memastikan
keterbukaannya disertai konteks, hak, dan tanggung jawab. Jangan terburu-buru mengotomatisasikan semuanya Perkembangan global menunjukkan bahwa pertanyaan terpenting bukan
lagi apakah museum akan menggunakan AI. Jawabannya: sudah. Survei UNESCO dan
International Council of Museums (ICOM), yang hasilnya diumumkan pada
September 2026, menghimpun tanggapan lebih dari 400 museum di 90 negara.
Sebanyak 57 persen museum responden telah menggunakan AI, antara lain untuk
administrasi, komunikasi, penelitian dan dokumentasi, pengembangan pameran,
serta interaksi dengan pengunjung. Namun, 55 persen museum responden belum memiliki kebijakan,
strategi, atau pedoman internal mengenai AI. Hanya 17 persen yang melaporkan
telah menyediakan pelatihan AI bagi stafnya. Artinya, teknologi bergerak
lebih cepat daripada tata kelolanya. Claudia Schmuckli, Kepala Kurator Seni Modern dan Kontemporer di
Fine Arts Museums of San Francisco, menjelaskan bahwa museumnya tengah
mengembangkan kebijakan AI dengan menempatkan etika, transparansi, dan
pengawasan manusia sebagai prinsip utama. AI dapat membantu pekerjaan rutin
dan administratif. Namun, dalam pekerjaan kreatif dan penelitian ilmiah, tanggung
jawab atas kualitas dan integritas hasil akhirnya tetap berada pada manusia. Mesin
dapat menghasilkan jawaban, tetapi manusialah yang harus
mempertanggungjawabkannya. Ini pelajaran penting bagi Indonesia. Transformasi digital museum
jangan sampai diukur dari berapa banyak layar sentuh, realitas virtual, atau
aplikasi AI yang berhasil dipasang. Ukurannya adalah manfaat. Apakah koleksi
lebih mudah ditemukan dan para peneliti lebih leluasa menghubungkan koleksi
antarmuseum? Apakah anak muda semakin tertarik pada warisan budayanya,
sementara masyarakat asal koleksi mendapat ruang lebih besar untuk menuturkan
kisah mereka? Dan, pada akhirnya, apakah publik semakin percaya kepada
museum? Indonesia sebenarnya telah mulai bergerak ke arah ini. Museum
Nasional Indonesia, misalnya, telah menghadirkan pengalaman pameran digital
dan imersif. Tantangan berikutnya adalah memastikan transformasi tersebut
tidak berhenti pada penggunaan teknologi, tetapi benar-benar memperluas
akses, memperkaya pengetahuan, dan meningkatkan kualitas pengalaman
pengunjung. Kembali ke benda Ada paradoks terakhir yang menarik. Semakin mudah kita melihat
jutaan benda secara digital, mungkin benda asli justru menjadi semakin
berharga. Dalam diskusi di San Francisco, Gianni Jetzer melontarkan gagasan
yang hampir terdengar berlawanan dengan semangat zaman AI: sebuah ruang
museum bernama The Naked Room. Tidak ada label, teks penjelasan, kode QR,
atau perangkat digital. Hanya satu atau dua karya seni asli yang mengundang
pengunjung untuk berhenti, mengamati, dan merenung. Gagasan itu mengingatkan kita bahwa museum bukan semata-mata
tempat memperoleh informasi. Museum juga merupakan ruang untuk mengalami
perjumpaan secara langsung, menemukan makna, bahkan mengajukan pertanyaan
yang tidak selalu memiliki jawaban tunggal. Di dunia yang dipenuhi gambar sintetis, ketika foto, suara,
lukisan, bahkan artefak virtual dapat diciptakan mesin dalam hitungan detik,
berdiri beberapa puluh sentimeter dari benda yang benar-benar dibuat
seseorang ratusan atau ribuan tahun lalu menghadirkan pengalaman yang tak
tergantikan. Ada sesuatu pada kehadiran benda asli yang barangkali semakin
kita rindukan. Kita mengetahui bahwa benda itu pernah disentuh seseorang. Pernah
dipakai. Pernah dipuja. Pernah diperdagangkan. Pernah terkubur. Pernah
diselamatkan. Dan melalui perjalanan yang panjang, kini berada di hadapan
kita. AI mungkin dapat memberi tahu seribu satu fakta mengenai benda
tersebut, tetapi ia tidak dapat menggantikan perjumpaan langsung dengan benda
itu. Barangkali itulah salah satu kisah masa depan museum yang paling
menarik. Museum masa depan tidak harus memilih antara teknologi dan
kemanusiaan, antara digital dan fisik, atau antara algoritma dan kurator. Semakin pandai mesin menghasilkan jawaban, semakin penting museum
sebagai ruang yang mengajarkan kita untuk bertanya. Di tengah banjir
informasi sintetis, museum menjaga otentisitas, konteks, dan keberagaman
makna. Dan ketika semakin banyak pekerjaan dapat diotomatisasi, kita perlu
lebih cermat menentukan apa yang harus tetap menjadi tanggung jawab manusia. Enam puluh empat tahun setelah insan permuseuman Indonesia
berkumpul di Yogyakarta pada 12 Oktober 1962, Hari Museum Nasional menjadi
kesempatan untuk melihat kembali apa yang telah kita warisi, sekaligus
bertanya: museum seperti apa yang ingin kita wariskan? ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/museum-di-zaman-ai-sekelumit-kisah-masa-depan?open_from=Artikel_Opini_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar