Selasa, 20 Oktober 2026

 

Museum di Zaman AI: Sekelumit Kisah Masa Depan

Ali M Sungkar :  Diplomat Indonesia yang sedang bertugas di Amerika Serikat

KOMPAS, 15 Oktober 2026

 

 

                                                           

Beberapa hari menjelang Hari Museum Nasional, saya mendapat kesempatan mengikuti sebuah percakapan menarik di San Francisco. Temanya terdengar seperti sesuatu yang datang dari masa depan: museum di zaman AI. Namun, percakapan itu ternyata bukan terutama tentang masa depan. Percakapan justru berkisar pada salah satu institusi tertua yang kita miliki untuk menjaga masa lampau, yaitu museum.

 

Dalam forum yang diselenggarakan Swissnex San Francisco tersebut, para praktisi museum, kurator, dan pemikir teknologi dari Amerika Serikat dan Swiss membahas pertanyaan yang tampaknya sederhana. Ketika kecerdasan artifisial (AI) semakin mampu mengerjakan banyak hal, pekerjaan apa yang dapat kita serahkan kepada mesin, dan apa yang sebaiknya tetap menjadi tanggung jawab manusia?

 

Pertanyaan itu terasa semakin relevan bagi Indonesia yang akan memperingati Hari Museum Nasional pada 12 Oktober ini. Tanggal tersebut merujuk pada Musyawarah Museum Se-Indonesia I di Yogyakarta pada 12 Oktober 1962.

 

Enam puluh empat tahun kemudian, tantangan permuseuman tentu telah berkembang. Bagi Indonesia, dengan keberagaman budayanya yang luar biasa, museum bukan sekadar tempat menyimpan benda dari masa silam. Museum juga menjaga pengetahuan, ingatan, dan identitas budaya yang diwariskan antargenerasi.

 

Kini, di tengah perkembangan AI, muncul pertanyaan baru bagaimana teknologi ini dapat membantu kita merawat dan membuka kekayaan budaya tersebut, tanpa kehilangan makna yang menjadikannya berharga?

 

Ketika koleksi dapat saling berkomunikasi

 

Museum sesungguhnya merupakan tempat yang sangat menarik bagi perkembangan AI. Selama puluhan, bahkan ratusan tahun, museum mengumpulkan sesuatu yang sekarang sangat berharga dan relevan di zaman AI: data yang telah diberi konteks.

 

Sebuah benda koleksi bukan sekadar difoto dan diberi nomor. Ia diteliti, diklasifikasikan, diberi keterangan mengenai asal-usul, bahan, periode, pembuat, fungsi, sejarah kepemilikan, hingga hubungannya dengan benda lain.

 

Pekerjaan sunyi para kurator, konservator, arkeolog, sejarawan, dan pustakawan selama beberapa generasi ternyata menghasilkan data terstruktur dan informasi penjelasnya (metadata). Di sinilah AI membuka kemungkinan baru. Koleksi yang selama ini tersimpan di ruang penyimpanan dapat ditelusuri tidak hanya berdasarkan nomor inventaris atau kata kunci, tetapi melalui hubungan yang sebelumnya sulit terlihat.

 

Gianni Jetzer, Direktur Kunstmuseum St Gallen di Swiss, memberikan contoh menarik. Menjelang peringatan 150 tahun museum yang dipimpinnya, ia tengah mengembangkan proyek yang memanfaatkan AI untuk menelusuri sekitar 350 laporan tahunan, 600 publikasi museum, ribuan arsip surat kabar, serta basis data koleksi. Tujuannya bukan sekadar menyusun kembali kronologi museum, melainkan menemukan pola, hubungan, dan bahkan kekosongan dalam sejarah institusi yang selama ini luput dari perhatian.

 

Bayangkan kemungkinan serupa diterapkan pada koleksi Indonesia. Seseorang dapat menelusuri keterkaitan motif wastra dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia timur dengan jalur perdagangan maritim Asia pada abad ke-18 dan ke-19. AI membantu menghubungkan ribuan gambar, catatan, katalog, dan arsip yang sebelumnya sulit diteliti secara bersamaan. AI tidak menggantikan penelitian, tetapi dapat membuka jalan baru dan memperluas cakupan yang bisa diteliti manusia.

 

Museum tanpa dinding?

 

Bayangkan seorang pelajar di Kupang yang ingin mempelajari arca Singasari. Seorang mahasiswa di Makassar yang ingin meneliti batik pesisir Jawa. Seorang perajin di Flores yang ingin membandingkan motif tenun dari berbagai museum. Atau seorang peneliti Indonesia di luar negeri yang membutuhkan akses kepada koleksi Nusantara.

 

Jika koleksi telah didigitalisasi dan didokumentasikan dengan baik, AI dapat menjadi pintu masuk yang jauh lebih mudah. Bahkan bahasa tidak harus menjadi penghalang. Pengunjung suatu hari mungkin dapat berbicara dengan sistem museum dalam bahasa Indonesia, atau bahasa daerah, dan bertanya tentang sebuah benda sebagaimana ia bertanya kepada seorang pemandu. Benda yang selama puluhan tahun hanya diketahui oleh segelintir kurator dapat memperoleh kehidupan publik yang baru.

 

Bagi Indonesia, dengan ribuan pulau dan keberagaman budaya yang tersebar di seluruh Nusantara, kemungkinan ini sangat berarti. Akses terhadap warisan budaya tidak lagi harus ditentukan oleh jarak geografis atau kemampuan seseorang mengunjungi museum tertentu.

 

Kemudahan itu sekaligus membawa persoalan baru. Ketika gambar, deskripsi, dan data koleksi tersedia secara digital, informasi tersebut bukan hanya dapat digunakan oleh pelajar dan peneliti. Ia juga dapat diserap oleh mesin, digabungkan dengan jutaan sumber lain, dipotong dari konteksnya, lalu digunakan untuk menghasilkan interpretasi baru. Dari sini muncul pertanyaan yang lebih mendasar: siapa sebenarnya yang memiliki otoritas untuk menuturkan kisah sebuah koleksi?

 

Dari penjaga artefak menjadi penjaga konteks

 

Selama ini kita sering membayangkan fungsi utama museum sebagai penjaga artefak. Di zaman AI, barangkali museum akan semakin penting sebagai penjaga konteks.

 

Sebuah keris bukan hanya sebilah logam. Sebuah arca bukan sekadar wujud tiga dimensi. Sebuah kain bukan hanya pola visual yang indah. Di belakang benda-benda tersebut terdapat sejarah, kepercayaan, komunitas, pengetahuan, hubungan kekuasaan, bahkan ingatan yang mungkin masih hidup.

 

Mesin dapat mengenali bahwa dua motif terlihat serupa. Namun, kemiripan visual tidak dengan sendirinya menjelaskan apakah keduanya memiliki makna budaya yang sama. AI dapat menyusun sebuah deskripsi dalam sepersekian detik. Namun, apakah deskripsi tersebut mengungkapkan kebenaran, atau justru melanggengkan narasi tertentu? Apakah suara masyarakat asal koleksi ikut hadir? Apakah narasi kolonial yang tersembunyi dalam katalog lawas tanpa sengaja direproduksi sebagai ”kebenaran”?

 

Sonja Thiel, kurator dan peneliti di Universitas California, Berkeley, mengingatkan adanya risiko homogenisasi budaya, yakni penyeragaman budaya akibat AI. Tidak semua pengetahuan manusia terdokumentasikan dalam data, apalagi dalam bentuk yang dapat dibaca mesin.

 

Peringatan ini sangat relevan bagi Indonesia. Banyak pengetahuan budaya Nusantara hidup melalui tradisi lisan, praktik keseharian, ritual, dan hubungan antargenerasi. Sebagian tidak pernah tercatat dalam katalog museum, sementara sebagian lainnya mungkin hanya dipahami sepenuhnya oleh komunitas yang mewarisinya. Ketika pengetahuan tersebut diolah oleh AI, ada risiko bahwa kekayaan maknanya direduksi menjadi informasi yang seragam.

 

Perkembangan AI tidak mengurangi pentingnya peran kurator. Mereka tetap bertugas memastikan asal-usul, konteks, integritas, dan pertanggungjawaban informasi. Lebih dari itu, museum perlu membuka ruang bagi masyarakat asal koleksi untuk ikut menentukan bagaimana warisan budaya mereka dipahami dan dituturkan.

 

Ketika museum memasuki dunia AI

 

Ada persoalan lain yang amat menarik: apa yang terjadi ketika museum masuk ke dalam dunia AI? Semakin banyak orang memperoleh pengetahuan bukan dengan membuka ensiklopedia atau situs museum, melainkan dengan bertanya kepada sebuah chatbot. Dalam beberapa tahun mendatang, sangat mungkin seseorang tidak lagi mencari ”arca Hindu-Buddha Nusantara” di laman Museum Nasional, tetapi bertanya langsung kepada sebuah sistem AI.

 

Jawaban mesin itu berasal dari mana? Apabila sumber digital mengenai arca Hindu-Buddha Nusantara sedikit, tidak terstruktur, atau kalah banyak dibandingkan sumber dari tempat lain, representasi kebudayaan Indonesia dalam ekosistem AI juga dapat menjadi tidak lengkap, keliru, atau berat sebelah. Karena itu, digitalisasi museum bukan sekadar proyek memotret koleksi dan memasukkannya ke laman web.

 

Ini dapat menjadi bagian dari kedaulatan pengetahuan bangsa. Dokumentasi yang baik, terminologi yang tepat, penelitian yang dapat ditelusuri, serta keterhubungan koleksi antarmuseum akan ikut menentukan bagaimana kebudayaan Indonesia ditemukan dan dipahami, baik oleh manusia maupun oleh mesin. Kepentingannya melampaui pengelolaan museum: ia menyangkut mutu pengetahuan yang dapat diakses pelajar, guru, peneliti, dan masyarakat luas.

 

Bagi negara dengan keberagaman budaya sebesar Indonesia, persoalan ini memiliki arti strategis. Jika kita tidak cukup aktif mendokumentasikan dan menyediakan pengetahuan mengenai warisan budaya sendiri, kita berisiko membiarkan representasi kebudayaan Indonesia dalam dunia digital lebih banyak dibentuk oleh sumber dan perspektif pihak lain.

 

Karena itu, penguatan dokumentasi koleksi, keterhubungan data antarmuseum, dan keterlibatan komunitas asal bukan semata agenda teknis, melainkan bagian dari upaya memastikan masyarakat dapat mengenali sejarah dan kebudayaannya melalui sumber yang dapat dipercaya.

 

Namun, membuka akses bukan berarti menyerahkan seluruh data tanpa batas. Hak masyarakat asal koleksi, pengetahuan yang bersifat sakral, serta integritas informasi tetap memerlukan perlindungan. Kedaulatan pengetahuan bukan berarti menutup pengetahuan dari dunia, melainkan memastikan keterbukaannya disertai konteks, hak, dan tanggung jawab.

 

Jangan terburu-buru mengotomatisasikan semuanya

 

Perkembangan global menunjukkan bahwa pertanyaan terpenting bukan lagi apakah museum akan menggunakan AI. Jawabannya: sudah. Survei UNESCO dan International Council of Museums (ICOM), yang hasilnya diumumkan pada September 2026, menghimpun tanggapan lebih dari 400 museum di 90 negara. Sebanyak 57 persen museum responden telah menggunakan AI, antara lain untuk administrasi, komunikasi, penelitian dan dokumentasi, pengembangan pameran, serta interaksi dengan pengunjung.

 

Namun, 55 persen museum responden belum memiliki kebijakan, strategi, atau pedoman internal mengenai AI. Hanya 17 persen yang melaporkan telah menyediakan pelatihan AI bagi stafnya. Artinya, teknologi bergerak lebih cepat daripada tata kelolanya.

 

Claudia Schmuckli, Kepala Kurator Seni Modern dan Kontemporer di Fine Arts Museums of San Francisco, menjelaskan bahwa museumnya tengah mengembangkan kebijakan AI dengan menempatkan etika, transparansi, dan pengawasan manusia sebagai prinsip utama. AI dapat membantu pekerjaan rutin dan administratif.

 

Namun, dalam pekerjaan kreatif dan penelitian ilmiah, tanggung jawab atas kualitas dan integritas hasil akhirnya tetap berada pada manusia. Mesin dapat menghasilkan jawaban, tetapi manusialah yang harus mempertanggungjawabkannya.

 

Ini pelajaran penting bagi Indonesia. Transformasi digital museum jangan sampai diukur dari berapa banyak layar sentuh, realitas virtual, atau aplikasi AI yang berhasil dipasang. Ukurannya adalah manfaat. Apakah koleksi lebih mudah ditemukan dan para peneliti lebih leluasa menghubungkan koleksi antarmuseum? Apakah anak muda semakin tertarik pada warisan budayanya, sementara masyarakat asal koleksi mendapat ruang lebih besar untuk menuturkan kisah mereka? Dan, pada akhirnya, apakah publik semakin percaya kepada museum?

 

Indonesia sebenarnya telah mulai bergerak ke arah ini. Museum Nasional Indonesia, misalnya, telah menghadirkan pengalaman pameran digital dan imersif. Tantangan berikutnya adalah memastikan transformasi tersebut tidak berhenti pada penggunaan teknologi, tetapi benar-benar memperluas akses, memperkaya pengetahuan, dan meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung.

 

Kembali ke benda

 

Ada paradoks terakhir yang menarik. Semakin mudah kita melihat jutaan benda secara digital, mungkin benda asli justru menjadi semakin berharga. Dalam diskusi di San Francisco, Gianni Jetzer melontarkan gagasan yang hampir terdengar berlawanan dengan semangat zaman AI: sebuah ruang museum bernama The Naked Room. Tidak ada label, teks penjelasan, kode QR, atau perangkat digital. Hanya satu atau dua karya seni asli yang mengundang pengunjung untuk berhenti, mengamati, dan merenung.

 

Gagasan itu mengingatkan kita bahwa museum bukan semata-mata tempat memperoleh informasi. Museum juga merupakan ruang untuk mengalami perjumpaan secara langsung, menemukan makna, bahkan mengajukan pertanyaan yang tidak selalu memiliki jawaban tunggal.

 

Di dunia yang dipenuhi gambar sintetis, ketika foto, suara, lukisan, bahkan artefak virtual dapat diciptakan mesin dalam hitungan detik, berdiri beberapa puluh sentimeter dari benda yang benar-benar dibuat seseorang ratusan atau ribuan tahun lalu menghadirkan pengalaman yang tak tergantikan. Ada sesuatu pada kehadiran benda asli yang barangkali semakin kita rindukan.

 

Kita mengetahui bahwa benda itu pernah disentuh seseorang. Pernah dipakai. Pernah dipuja. Pernah diperdagangkan. Pernah terkubur. Pernah diselamatkan. Dan melalui perjalanan yang panjang, kini berada di hadapan kita. AI mungkin dapat memberi tahu seribu satu fakta mengenai benda tersebut, tetapi ia tidak dapat menggantikan perjumpaan langsung dengan benda itu.

 

Barangkali itulah salah satu kisah masa depan museum yang paling menarik. Museum masa depan tidak harus memilih antara teknologi dan kemanusiaan, antara digital dan fisik, atau antara algoritma dan kurator.

 

Semakin pandai mesin menghasilkan jawaban, semakin penting museum sebagai ruang yang mengajarkan kita untuk bertanya. Di tengah banjir informasi sintetis, museum menjaga otentisitas, konteks, dan keberagaman makna. Dan ketika semakin banyak pekerjaan dapat diotomatisasi, kita perlu lebih cermat menentukan apa yang harus tetap menjadi tanggung jawab manusia.

 

Enam puluh empat tahun setelah insan permuseuman Indonesia berkumpul di Yogyakarta pada 12 Oktober 1962, Hari Museum Nasional menjadi kesempatan untuk melihat kembali apa yang telah kita warisi, sekaligus bertanya: museum seperti apa yang ingin kita wariskan? ●

 

Sumber : https://www.kompas.id/artikel/museum-di-zaman-ai-sekelumit-kisah-masa-depan?open_from=Artikel_Opini_Page

Tidak ada komentar:

Posting Komentar