|
Saudi vs Houthi Menghabiskan Rudal, Musuh Menghitung Keuntungan Rita Mf Jannah : Pengamat Internasional. |
HATIPENA, 11 Oktober 2026
|
Dalam perang regional,
pihak yang paling diuntungkan belum tentu pihak yang menembakkan rudal paling
banyak. Pada 6–7 Oktober terjadi
serangan di Riyadh dan Abha. Menurut otoritas penerbangan Saudi, serangan
terhadap King Khalid International Airport di Riyadh menewaskan satu warga
Sudan dan melukai delapan orang. Di Abha, dua perempuan,
masing-masing warga Maroko dan Aljazair, tewas, sementara 28 orang terluka.
Total awalnya tiga korban tewas dan 36 terluka. Kemudian 8 Oktober
terjadi srangan lanjutan di Riyadh merusak pesawat Saudia yang sedang
terparkir dan tidak membawa penumpang. Pada 9 Oktober, otoritas
Saudi melaporkan tiga warga Saudi tewas dalam serangan Kamis tersebut,
termasuk seorang pilot atau pegawai maskapai. Ini merupakan laporan
korban pada rangkaian serangan yang berbeda dari laporan awal 6–7 Oktober,
jadi angka korban tidak boleh dijumlahkan begitu saja. Lalu pada 7–9 Oktober,
konflik meluas. Houthi mengklaim menyerang bandara dan instalasi militer
menggunakan rudal balistik serta drone. Koalisi pimpinan Saudi
mengatakan telah menyerang lebih dari 80 lokasi militer Houthi. Pertempuran
juga berkaitan dengan perebutan wilayah di pesisir Laut Merah dan sekitar
Selat Bab el-Mandeb. Serangan dan korban
memang terkonfirmasi oleh otoritas Saudi, tetapi tidak semua klaim penggunaan
senjata, sasaran yang berhasil dihantam, dan kerusakan berasal dari verifikasi
independen. Klaim Houthi mengenai operasi militer tetap perlu dibedakan dari
informasi yang dikonfirmasi pihak lain. Riyadh dan Abha adalah
bandara sipil yang juga merupakan infrastruktur strategis. Serangan yang
membahayakan penerbangan sipil membawa risiko jauh melampaui kerusakan pada
satu terminal atau pesawat. Israel dan Sekutunya
Tidak Perlu Mengotori Tangan? Sebagai hipotesis tentang
keuntungan strategis hal ini masuk akal untuk diuji, namun sebagai kesimpulan
bahwa Israel sengaja merancang perang Saudi-Houthi, buktinya belum ada. Dalam ilmu strategi, ada
beberapa mekanisme yang mirip: A. Strategic attrition,
menguras lawan Jika dua pihak saling
menyerang, mereka harus mengeluarkan uang untuk rudal, drone, sistem
pencegat, bahan bakar, perbaikan infrastruktur, dan operasi militer. Negara yang tidak
terlibat langsung dalam pertukaran serangan bisa memperoleh keuntungan
relatif apabila pesaingnya menghabiskan sumber daya. Tetapi keuntungan itu
bergantung pada hasil akhir. Jika perang ikut mengganggu pasokan energi,
perdagangan, dan keamanan sekutu, pihak ketiga juga dapat menanggung
kerugian. B. Indirect strategy,
memanfaatkan konflik pihak lain Sebuah negara dapat
memperoleh keuntungan ketika lawannya terpaksa memindahkan perhatian dan
pasukan ke front lain. Dalam kasus ini, serangan
Houthi memaksa Saudi memperhatikan pertahanan udara, bandara, instalasi
energi, dan pesisir Laut Merah sekaligus. Reuters melaporkan bahwa
Saudi kembali mendukung operasi militer pemerintah Yaman untuk merebut
wilayah yang dikuasai Houthi, sementara AS memberikan dukungan intelijen.
(Reuters, 7 Oktober 2026) C. Strategic
overextension, terlalu banyak front Saudi harus menjaga
wilayah udara, fasilitas minyak, jalur pelayaran, kota-kota besar, dan
kepentingannya di Yaman. Jika ancaman meningkat
bersamaan, biaya untuk mempertahankan semuanya ikut naik. Namun, tekanan terhadap
Saudi tidak otomatis berarti Israel menjadi pemenang. Iran dan Houthi juga
menghadapi serangan balasan, kerusakan, dan biaya perang. (Reuters, 9 Oktober
2026) Inti ilmiahnya: konflik
dapat menciptakan keuntungan strategis tidak langsung tanpa pihak yang
memperoleh keuntungan itu harus menjadi dalang konflik. Kita harus memisahkan
benefit from conflict dari engineering the conflict. Saudi dan Houthi Bisa Saling
Menghancurkan Padahal Sama-sama di Dunia Arab? Karena identitas Arab
bukan satu kesatuan politik yang menghapus persaingan kekuasaan. Pertama, kita perlu
membedakan tiga lapisan konflik. Perang saudara Yaman: Houthi berperang
melawan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan
kelompok-kelompok bersenjata lain. Persaingan regional:
Saudi memandang pengaruh Houthi dan hubungan mereka dengan Iran sebagai
ancaman terhadap perbatasan dan kepentingan strategisnya. Konflik regional yang
lebih luas: perang AS-Israel dengan Iran dan gangguan di Hormuz memperbesar
nilai strategis Laut Merah serta Bab el-Mandeb. Houthi menguasai Sanaa
dan sebagian besar wilayah Yaman utara. Mereka memiliki kepentingan politik
serta militer sendiri, meskipun mendapat dukungan Iran dan memiliki
kepentingan yang beririsan dengan Tehran. Hubungan itu tidak berarti setiap
keputusan Houthi pasti diperintahkan langsung oleh Iran. (Reuters, 10
September 2026) Jadi, menyebut ini
sekadar “sesama saudara berantem” menangkap ironi kemanusiaannya, tetapi
belum menjelaskan mekanisme konfliknya. Yang bertabrakan adalah
kepentingan kekuasaan, keamanan, wilayah, dan jalur perdagangan. Identitas
bersama tidak otomatis mengalahkan semua kepentingan itu. Sasaran Strategis Lebih
Besar: Bab el-Mandeb Nah, ini bagian yang
membuat konflik Yaman jauh lebih penting daripada sekadar pertukaran rudal. Bab el-Mandeb adalah
jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Kapal yang
melintasi jalur ini dapat meneruskan perjalanan menuju Terusan Suez dan pasar
Eropa. Jika akses di Hormuz
terganggu, Bab el-Mandeb menjadi semakin penting sebagai jalur alternatif
untuk sebagian arus perdagangan dan energi. Tetapi jalur alternatif itu bukan
pengganti sempurna, karena rute, kapasitas, terminal, dan tujuan pengiriman
berbeda. Reuters melaporkan bahwa
kemajuan Houthi di pesisir Laut Merah pada September memperbesar kemampuan
mereka mengancam pelayaran, sementara Saudi berupaya merebut kembali wilayah
strategis tersebut. (Reuters, 13 September 2026) Sehingga ada dua titik
tekanan maritim yang harus diperhatikan: Hormuz: jalur keluar
utama bagi minyak dari kawasan Teluk Persia. Bab el-Mandeb: pintu
selatan Laut Merah yang penting bagi pelayaran antara Asia dan Eropa. Jika kedua jalur
menghadapi gangguan pada waktu yang sama, dampaknya dapat merembet ke ongkos
pengiriman, asuransi kapal, harga energi, dan inflasi. Dan di sinilah pihak
ketiga dapat memperoleh keuntungan atau mengalami kerugian, tergantung posisi
mereka sebagai produsen energi, importir, eksportir, atau kekuatan militer. Saudi Bisa Membeli Lebih
Banyak Senjata tetapi Tetap Tidak Memperoleh Keamanan Serangan di Riyadh
memperlihatkan bahwa pertahanan udara tidak menghilangkan seluruh risiko. Sistem pencegat dapat
menghancurkan rudal, tetapi serpihan, kesalahan identifikasi, atau proyektil
lain tetap bisa membahayakan fasilitas dan penduduk. Bahkan jika mayoritas
serangan berhasil digagalkan, biaya pertahanan tetap ada. Ini menghasilkan asimetri
biaya: Penyerang dapat
menggunakan senjata relatif murah untuk memaksa lawan mengaktifkan sistem
pertahanan yang mahal. Pihak yang bertahan harus
menjaga banyak sasaran sekaligus. Serangan yang tidak
mencapai sasaran utama pun dapat mengganggu penerbangan, menaikkan biaya
asuransi, dan menimbulkan kepanikan. Namun, kita tidak boleh
menyimpulkan bahwa setiap drone Houthi murah atau setiap pencegat Saudi mahal
dengan angka tertentu tanpa data sistem senjata yang digunakan. Yang dapat
kita simpulkan adalah adanya ketidakseimbangan biaya potensial dalam perang rudal
dan drone. Reuters melaporkan bahwa
serangan terbaru mengakibatkan pembatalan penerbangan dan merusak pesawat
Saudia, sementara koalisi Saudi menyatakan telah menghancurkan tiga platform
peluncur Houthi. (Reuters, 9 Oktober 2026) Artinya, biaya perang
bukan hanya nilai senjata yang ditembakkan. Biaya juga mencakup apa yang
harus dilakukan lawan untuk mencegah serangan berikutnya. Apakah ini Strategi Licik
Israel Menghancurkan Negara-negara Teluk dari Jauh? Kita perlu menguji hipotesis
itu dengan tiga pertanyaan: Pertama, apakah Israel
dapat memperoleh keuntungan dari konflik antarpihak regional? Secara teoritis, ya. Jika
negara-negara yang dianggap pesaing menghabiskan sumber daya dan perhatian
untuk konflik lain, keseimbangan kekuatan regional dapat berubah. Kedua, apakah ada bukti
bahwa Israel sengaja mengatur Houthi untuk menyerang Saudi, atau sengaja
merancang eskalasi ini agar negara-negara Teluk saling menghancurkan? Dalam laporan yang
tersedia hingga 9 Oktober, belum ada bukti publik yang menunjukkan adanya
operasi semacam itu. Laporan yang ada menghubungkan eskalasi dengan perang
regional, kemajuan teritorial Houthi, operasi Saudi di Yaman, dan perebutan
pengaruh serta jalur pelayaran. Itu tidak cukup untuk membuktikan Israel
merancang serangan Houthi. Ketiga, apakah Israel
atau AS otomatis diuntungkan jika Saudi dan Houthi terus berperang? Tidak otomatis. Gangguan
di Laut Merah dapat mengancam perdagangan global, mengganggu pasokan energi,
dan memperbesar risiko eskalasi yang melibatkan Iran. AS juga memberikan
dukungan intelijen kepada operasi Saudi, sehingga tidak tepat menyimpulkan
bahwa Washington sekadar duduk santai sambil membiarkan Saudi menanggung
semua biaya. (Reuters, 2 Oktober 2026) Dengan kata lain, strategi
mengambil keuntungan dari konflik itu mungkin; tuduhan bahwa konflik ini
sengaja dirancang oleh Israel adalah klaim berbeda yang membutuhkan bukti
berbeda. Ada satu pelajaran
geopolitik yang sangat nyata dari serangan Riyadh dan Abha, bahwa negara
tidak harus kehilangan seluruh wilayahnya untuk mengalami kerugian strategis
besar. Gangguan penerbangan,
biaya pertahanan udara, tekanan terhadap investasi, ancaman terhadap
fasilitas energi, dan ketidakpastian pelayaran dapat menguras sumber daya
tanpa pendudukan militer langsung. Namun, kita juga harus
melihat bahwa Houthi bukan sekadar alat pasif Iran, Saudi bukan sekadar
korban tanpa pilihan, dan Israel bukan otomatis dalang di balik setiap
konflik yang merugikan pesaingnya. Yang terlihat saat ini
adalah konflik berlapis: perang saudara Yaman, persaingan Saudi-Iran, dan
perang regional yang mengancam dua jalur pelayaran strategis. Dan ketika semua lapisan
itu bertemu, negara-negara bisa menghabiskan anggaran untuk saling menyerang,
mempertahankan diri, membalas serangan, dan memulihkan kerusakan, sementara
warga sipil membayar dengan nyawa, pengungsian, dan kehidupan yang terputus. Dalam perang regional,
pihak yang paling diuntungkan belum tentu pihak yang menembakkan rudal paling
banyak. Tetapi untuk menyebut siapa yang merancang permainan, kita tetap
membutuhkan bukti, bukan hanya melihat siapa yang mungkin mendapat
keuntungan. ● Sumber : https://hatipena.com/artikel-opini/saudi-vs-houthi-menghabiskan-rudal-musuh-menghitung-keuntungan/
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar