|
Peran
Besar Dua Istri dalam Karier Politik Subandrio Intan Setiawanty
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026
|
· Hurustiati menjadi penyokong utama
karier Subandrio sejak masa pergerakan hingga menjadi orang kepercayaan
Sukarno. · Ia aktif mengenalkan budaya Indonesia
dalam setiap acara kedutaan dan panggung internasional. · Subandrio menikah lagi dengan Sri
Kusdiantinah setelah empat tahun Hurustiati meninggal. MALAM
menjelang pembukaan Sidang Parlemen Inggris pada 6 Maret 1950, Hurustiati
sibuk membuat bendera merah putih. Dia istri Subandrio, Duta Besar Republik
Indonesia pertama untuk Inggris. Rencananya bendera tersebut dipasang di
mobil yang membawa wakil Indonesia yang akan menghadiri pembukaan sidang. Adegan
itu dikenang Sudjatmoko, Kuasa Usaha Sementara Indonesia di London, dalam
buku Bunga Rampai Kenangan dalam Dinas Luar Negeri terbitan Departemen Luar
Negeri pada 1989. Saat itu Sudjatmoko menyewa mobil dan pakaian formal untuk
menghadiri pembukaan sidang. Pada
masa itu, Hurustiati berumur sekitar 33 tahun. “Ibu Soebandrio malam-malam
membikin bendera merah putih ukuran kecil dan membuat pancangan bendera dari
kawat supaya dapat dipasang di mobil tempat bendera berkibar,” tulis
Sudjatmoko. Hurustiati
aktif membantu suaminya dalam setiap kegiatan di kedutaan. Perempuan yang
kerap dipanggil Yu Tien itu ikut memperkenalkan Indonesia melalui berbagai
pertemuan, ceramah, dan acara kebudayaan. Sebuah majalah perempuan Indonesia
pada 1954 menggambarkan kebersamaan pasangan itu dengan kalimat, “Di mana ada
Mas Bandrio, di situ ada Yu Tien.” Kebersamaan
mereka bermula jauh sebelum cerita di London terjadi. Kepada Djono W. Oesman,
jurnalis yang berulang kali mewawancarai dan membantu menulis buku
biografinya, Subandrio bercerita tentang masa muda mereka. Ia dan Hurustiati
biasa bersepeda dan bepergian bersama. Ketika Djono bertanya apa yang membuat
Subandrio tertarik kepada Hurustiati, jawabannya adalah pemikirannya. “Ya,
saya naksir. Ibu (Hurustiati) itu orang cerdas,” tutur Djono menirukan ucapan
Subandrio pada Kamis, 3 September 2026. Djono
mengatakan Subandrio muda mulanya tak berpolitik. Namun, saat itu, justru
Hurustiati sedang bergairah pada pergerakan. Ia mengingat cerita tentang misi
Hurustiati menantang Subandrio sebagai kaum terpelajar agar ikut berjuang.
“Kamu jangan terkungkung di menara gading,” ujar Djono menirukan perkataan
Hurustiati. Ini yang
menjadi alasan pergaulan Hurustiati di kalangan pergerakan cukup luas. Ia
bahkan lebih dulu mengenal Sutan Sjahrir dan Sukarno ketimbang Subandrio. Hurustiati
sudah aktif melayani masyarakat sebelum mendampingi Subandrio sebagai
diplomat. Dalam artikel “Menjadi Istri Diplomat: Hurustiati Soebandrio dalam
Membentuk Citra Indonesia di Inggris 1947-1954”, sejarawan Universitas Gadjah
Mada, Ayu Wulandari, menulis bahwa Hurustiati bekerja sebagai dokter pada
masa awal kemerdekaan. Ia juga aktif dalam gerakan perempuan dan menjadi
anggota Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Pada
1946, Hurustiati bersama Soetiah dan Hamdani mewakili Kowani ke New Delhi,
India, untuk menggalang dukungan bagi Indonesia. “Bagi saya, justru dia yang
sangat penting dalam perjalanan, terutama karier politik Subandrio,” kata Ayu
pada Jumat, 4 September 2026. Ayu
berpandangan hubungan Hurustiati dengan Sukarno terjalin melalui kegiatan
gerakan perempuan sejak masa awal kemerdekaan. Pada masa berikutnya, kawan
politik Subandrio beralih dari Sutan Sjahrir menjadi Sukarno. Ayu belum
menemukan bukti konkret mengenai peran Hurustiati ihwal peralihan kedekatan
politik Subandrio dari Sutan Sjahrir kepada Sukarno. Djono W. Oesman pun
mengingat Subandrio pernah menyebut besarnya pengaruh sang istri saat memulai
komunikasi dengan Presiden Sukarno. Pada
1947, Subandrio mendapat tugas ke London untuk membuka Indonesian Information
Office, kantor yang mendahului perwakilan diplomatik resmi Indonesia di
Inggris. Dalam memoarnya, Subandrio mencatat penerimaannya atas penugasan itu
dengan ringkas: “Istri saya juga setuju.” Menurut Ayu, Hurustiati mendorong Subandrio
menerima penugasan tersebut. Hurustiati
meninggalkan pekerjaan sebagai dokter dan ikut ke Inggris. Di London, ia
melanjutkan studi antropologi di London School of Economics and Political
Science. Ia juga memberi ceramah tentang Indonesia, menghadiri pertemuan
diplomatik, berbicara di Islamic Cultural Centre, serta mengurus kegiatan
kebudayaan. Pada
akhir April 1952, Hurustiati menginisiasi pertunjukan kebudayaan di kantor
kedutaan di Grosvenor Square. Ia memainkan gamelan di hadapan para undangan.
Setahun kemudian, Malam Kesenian Indonesia menghadirkan lagu Sunda, kesenian
Tapanuli, serta tari piring dan serimpi di depan pejabat Inggris serta
diplomat asing. Hurustiati
juga menjadi penasihat sukarela kedutaan dalam pengenalan kebudayaan. Ayu
menemukan informasi bahwa Hurustiati ikut menyiapkan makanan dan membawa
sendiri piring kepada tamu. Dalam pidato Hari Kartini pada 1951, Hurustiati
menyebutkan salah satu pekerjaan perempuan Indonesia di Inggris adalah
“memberi penerangan di luar negeri tentang Indonesia dan kebudayaannya”. Di luar
kegiatan kedutaan, Hurustiati-Subandrio menjalani kehidupan yang harmonis.
Dari cerita keluarga yang dihimpun Ayu, Subandrio pernah diam-diam belajar
mengemudikan mobil kedutaan. Setelah ketahuan, ia mendapat “hukuman”
mengantar Hurustiati berbelanja setiap hari mengendarai mobil. Keduanya juga
suka memasak bersama, antara lain rawon, makanan kesukaan Subandrio. Dari
London, Subandrio kemudian menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet.
Catatan kegiatan Hurustiati di Moskow tak sebanyak di London. Namun Ayu
menemukan pola yang berlanjut. “Setelah itu sempat ke Soviet, banyak acara
kedutaan yang lahir justru atas inisiasi Hurustiati,” ujarnya. Menurut
Ayu, keduanya bergerak dalam satu visi dengan “sayap” berbeda. Subandrio
bergerak melalui diplomasi resmi, sementara Hurustiati lewat gerakan
perempuan, kesehatan, dan jaringan internasional. Namun
Hurustiati tak selalu menyetujui jabatan yang ditawarkan kepada suaminya.
Pada 13 Maret 1957, Presiden Sukarno memanggil Subandrio dan hendak
mengangkatnya menjadi perdana menteri. Subandrio menulis bahwa ia akan
menerima tawaran itu bila memperoleh dukungan penuh Partai Nasional
Indonesia. “Harus ditolak,” kata Hurustiati seperti dicatat Subandrio. Alasannya,
mereka baru sekitar setahun kembali ke Indonesia setelah lama berada di luar
negeri. Hurustiati menganggap Subandrio belum mampu memimpin kabinet. Subandrio
kemudian menjadi Menteri Luar Negeri pada 1957. Hurustiati pun terus
memainkan peran dalam perjalanan karier suaminya, termasuk ketika Perdana
Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev berkunjung ke Indonesia pada Februari
1960. Hurustiati
ikut menyambut Khrushchev dalam sebuah acara resepsi kesenian dan dansa.
Sukarno meminta dia bernyanyi. Hurustiati kemudian bernyanyi dalam bahasa
Rusia. “Bahkan dia berdansa dengan Khrushchev saat itu,” tutur penulis buku
Sukarno & Khrushchev: Beda Ideologi, Satu Hati, Sigit Aris Prasetyo. Sekembali
ke Indonesia, Hurustiati melanjutkan kegiatannya di organisasi perempuan. Ia
ikut dalam Konferensi Wanita Asia-Afrika di Kolombo, Sri Lanka, pada 1958,
menggalang dukungan pemerintah, dan mengurus delegasi Indonesia. Di sana ia
membicarakan antara lain kesetaraan perempuan, pemberantasan buta huruf,
kesehatan, dan family planning. Latar
belakang kedokteran membawa Hurustiati peduli pada persoalan kesehatan ibu
dan anak. Ia juga menjadi salah satu pendiri Perkumpulan Keluarga Berencana
Indonesia pada 23 Desember 1957. Peristiwa
1965 mengubah kehidupan Subandrio dan Hurustiati. Setelah Subandrio
ditangkap, ruang publik Hurustiati ikut menyempit. Ayu Wulandari menemukan
bahwa Hurustiati tak lagi menduduki posisi koordinator di Kowani. Belum jelas
apakah ia mengundurkan diri atau dikeluarkan. Jejak keterlibatannya dalam
kegiatan besar gerakan perempuan pun sulit ditemukan. Dalam
memoarnya, Subandrio menggambarkan perubahan kehidupan istrinya dengan satu
sebutan: dari istri pejabat tinggi negara, Hurustiati mendadak menjadi “istri
Durno”. Dalam kisah pewayangan, Durno merupakan tokoh antagonis yang licik
dan jahat. Duka
menyelimuti keluarga kecil Subandrio pada Februari 1974. Anak semata wayang
mereka, Budoyo, meninggal akibat serangan jantung. Duka Subandrio makin dalam
saat Hurustiati wafat dua bulan kemudian. “Sebulan sebelum saya lahir,” kata
Arnold Budoyo Subandrio, anak kedua Budoyo dan cucu Subandrio. Saat itu
Subandrio masih dalam terungku. Pada
saat wawancara, Djono W. Oesman mengatakan wajah Subandrio berubah murung
saat beralih ke cerita soal keluarga. “Mata dia berkaca-kaca,” ujarnya. Djono
melihat air mata itu akhirnya tumpah tatkala Subandrio bercerita tentang
istri dan anaknya. Kepada
Linda Djalil, wartawan Gatra yang menemuinya menjelang pembebasan pada 1995,
Subandrio menyebut kehilangan anak-istri sebagai pukulan terberat. “Saya mau
dipenjara kapan aja terserah, tapi ini anak sudah enggak ada, istri enggak
ada,” tutur Linda menirukan ucapan Subandrio. Pada 27
Juni 1978, Subandrio akhirnya kembali membangun rumah tangga dengan Sri
Kusdiantinah. Dian—sapaan Sri Kusdiantinah—bukan orang asing bagi Subandrio.
Bambang Supeno, suami pertama Dian yang sudah meninggal, masih sepupu
Subandrio. Keluarga Subandrio-Hurustiati dan Bambang-Dian juga telah lama
akrab. Menurut Dian, kedekatan kedua keluarga itu membuat kehadiran satu sama
lain sudah berlangsung jauh sebelum hubungan mereka berubah. Dalam
wawancara dengan Kompas pada 1987, Dian mengatakan Subandrio yang
menguatkannya setelah kematian sang suami. “Tuhan tidak akan meninggalkan
kita. Semua musibah ada hikmahnya,” ujar Dian kala itu. Perkawinan
itu tak mengubah status Subandrio sebagai narapidana di Lembaga
Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur. Djono W. Oesman pernah menemani Dian
saat berkunjung ke Cipinang. Dian membawa rawon. Saat itu Djono pun turut
makan. Linda
Djalil juga pernah mendampingi Dian datang ke Cipinang. Kala itu Dian datang
dengan tas kecil, rambutnya disasak tinggi. Ketika Subandrio muncul, keduanya
berpelukan. “Saya jatuh hati ke Bapak,” begitu pengakuan Dian kepada Linda. Di satu
sisi, Subandrio menghargai Dian karena ia masih peduli. “Saya sangat
menghormati Ibu Dian karena mau menikah di penjara,” kata Subandrio kepada
Djono. Meski
sudah menikah lagi, Subandrio tetap mengenang Hurustiati setiap waktu. Arnold
Budoyo Subandrio mengingat sang kakek kerap bercerita tentang Eyang
Tien—panggilan untuk Hurustiati—ketika bertandang ke penjara. Arnold
berdomisili di Amerika Serikat dan sudah menjadi warga negara di sana. Kepada
Arnold, Subandrio mengatakan Hurustiati adalah cinta pertama. “His only TRUE
LOVE,” tulis Arnold dalam suratnya kepada Tempo. ● Sumber :
https://www.tempo.co/tokoh/peran-dua-istri-subandrio-2298586 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar