|
Beban
El Niño Beban APBN Kita Teuku Riefky :
Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan
di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI |
TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026
|
· Bank Indonesia mencatat gangguan cuaca
sebagai salah satu penyebab turunnya jumlah produksi pangan. · Kekeringan mengganggu masa tanam dan
produksi sehingga pasokan pangan berkurang dan harga naik. · El Niño menguji sesuatu yang lebih
mendasar ketimbang kemampuan pemerintah menjaga angka defisit. EL Niño
di depan mata. Ada kekhawatiran gelombang hawa panas dan kekeringan mengancam
keberlangsungan produksi pangan. Dalam konteks anggaran, El Niño tecermin
pada kenaikan harga beras, cabai, telur, dan daging ayam di pasar. Pada
akhirnya, El Niño bersalin rupa menjadi inflasi dan kebutuhan anggaran untuk
menjaga daya beli. Pada
September 2026, inflasi umum tercatat 3,28 persen. Yang mesti menjadi
perhatian adalah inflasi volatile food atau akibat harga pangan, yang telah
menembus 5,03 persen. Angka ini naik dari bulan sebelumnya, yang berada di
level 4,06 persen. Menurut Bank Indonesia, hal ini terjadi karena gangguan
cuaca yang menjadi salah satu penyebab turunnya jumlah produksi pangan.
Inilah bukti hadirnya El Niño, yang sebelum menjadi persoalan fiskal lebih
dulu terasa di keranjang belanja rumah tangga. Bebannya pun ternyata tidak
terbagi secara merata. Kabar
dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika membuat kita makin
khawatir. Menurut lembaga itu, El Niño berada dalam kategori sangat kuat dan
diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Awal musim hujan di sekitar 61 persen
wilayah Indonesia diprediksi mundur dari normal, sementara musim hujan pada
separuh wilayah diperkirakan lebih pendek. Walhasil, tekanan di sektor pangan
yang terjadi hari ini belum menjadi puncaknya. Di
sinilah El Niño tak sekadar menjadi persoalan cuaca. Ia menjadi ujian
terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ujiannya bukan sekadar
apakah defisit akan membesar. Ada pertanyaan yang lebih penting: apakah ruang
fiskal kita benar-benar tersedia ketika keadaan berubah atau hanya tampak
tersedia karena angka defisit belum menyentuh batasnya? APBN
2026 menetapkan belanja negara Rp 3.842,7 triliun dengan defisit Rp 689,1
triliun atau 2,68 persen produk domestik bruto (PDB). Hingga akhir Agustus
2026, angka defisit baru 0,93 persen PDB dan keseimbangan primer masih
surplus Rp 154 triliun. Namun ruang fiskal bukan sekadar jarak antara defisit
hari ini dan batas 3 persen PDB. Ruang fiskal adalah kemampuan pemerintah
mengubah pilihan ketika keadaan berubah. Sebagian
besar belanja dalam APBN sudah tersemat pada program prioritas, belanja
wajib, subsidi, transfer, pembayaran bunga, dan komitmen lain. Ketika risiko
baru seperti El Niño datang, persoalannya bukan lagi berapa rupiah yang
tersisa, melainkan juga berapa yang benar-benar dapat dipindahkan tanpa
menciptakan masalah baru. El Niño,
sekali lagi, bukan ancaman kosong. Gejala ini konkret dalam bentuk kekeringan
dan mundurnya musim hujan sehingga masa tanam dan produksi terganggu. Dampaknya
adalah pasokan berkurang, harga pangan naik, dan daya beli rumah tangga kian
melemah. Di titik ini, pemerintah harus masuk melalui pembangunan irigasi,
pelindungan produksi, pencadangan pangan, stabilisasi harga, pemberian
bantuan sosial, atau—bila diperlukan—impor. Artinya,
El Niño mengetuk APBN dari dua pintu sekaligus. Pintu pertama adalah biaya
untuk mencegah tingkat produksi jatuh. Pintu kedua adalah biaya untuk
melindungi masyarakat setelah harga pangan naik. Negara sudah pasti harus membayar.
Pilihannya adalah membayar lebih awal untuk memperkecil guncangan atau
membayar lebih mahal setelah guncangan bergerak dari sawah ke pasar lalu ke
meja makan. Pengalaman
pada 2023 menunjukkan fenomena itu. Ketika itu El Niño menekan tingkat
produksi padi dan cabai. Pemerintah meresponsnya dengan memberlakukan skema
Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan alias operasi pasar, bantuan pangan
beras, dan bantuan langsung tunai El Niño untuk menjaga pasokan serta daya
beli. Pelajaran saat itu adalah, makin lama guncangan dibiarkan berjalan,
makin mahal ongkos untuk menghentikannya. Karena
itu, kehati-hatian fiskal tidak sama dengan menjaga defisit sekecil mungkin.
Disiplin fiskal berarti menggunakan uang negara dengan hati-hati dan menjaga
utang tetap berkelanjutan. Jangan sampai APBN terlihat tertib di atas kertas
tapi kehilangan fungsi stabilisasinya saat guncangan datang. Tambahan
defisit bukan jawaban pertama. Reprioritisasi harus datang lebih dulu.
Belanja yang kurang mendesak harus dianulir, guna memberi jalan bagi
kebutuhan yang lebih mendesak. Pilihan politik yang dibuat ketika keadaan
normal harus berubah tatkala keadaan juga berubah. Dengan cara ini, ruang
fiskal benar-benar ada ketika risiko yang lebih besar muncul. Bila
setelah reprioritisasi kebutuhan masih besar, defisit dapat berfungsi sebagai
peredam guncangan. Defisit untuk menjaga produksi, pasokan, dan daya beli
berbeda kualitas dengan defisit yang sekadar mempertahankan belanja lama
meski keadaan berubah. Pertanyaannya bukan hanya seberapa besar defisit,
melainkan juga apa yang dibeli oleh setiap rupiah defisit. Kebijakan
moneter tetap mempunyai peran. Bank Indonesia perlu menjaga ekspektasi agar
kenaikan harga pangan tidak merembet menjadi inflasi yang lebih luas. Namun
sumber gangguan tidak dapat diatasi dengan kebijakan suku bunga. Hujan tidak
turun karena suku bunga berubah, panen tidak bertambah karena likuiditas
diperketat. Untuk meredam guncangan pasokan pangan, pekerjaan utama terletak
pada produksi, distribusi, cadangan, dan pelindungan daya beli. Pemerintah
memasuki masa El Niño ini dengan modal yang tidak kecil. Anggaran ketahanan
pangan 2026 mencapai Rp 164 triliun. Pada akhir Juni, stok cadangan beras
pemerintah yang dikelola Perusahaan Umum Bulog sekitar 5,4 juta ton sehingga
diklaim sebagai angka tertinggi sepanjang sejarah. Instrumen dan bantalan,
setidaknya di atas kertas, telah tersedia. Di
situlah ujian berikutnya. Kesiapan tidak diukur dari besarnya angka dalam
dokumen atau banyaknya beras di gudang. Kesiapan diukur dari seberapa cepat
keduanya berubah menjadi pelindungan sebelum harga naik. Memiliki anggaran
berbeda dengan kemampuan menggesernya. Memiliki stok berbeda dengan kemampuan
menyalurkannya pada waktu dan tempat yang tepat. Gudang
yang penuh belum tentu menandakan pasokan aman. Bahkan, untuk beras, stok
yang besar tidak otomatis membuat harga stabil. Efektivitas cadangan
bergantung pada lokasi, waktu pelepasan, distribusi, dan kemampuan menjangkau
wilayah yang kekurangan pasokan. Maka
ukuran kesiapan beberapa bulan ke depan bukan berapa banyak program yang
tercantum dalam APBN, melainkan apakah belanja negara mampu bergerak lebih
cepat daripada guncangan. Keterlambatan beberapa minggu dapat mengubah biaya
pencegahan menjadi biaya kompensasi. APBN
harus tiba di sawah sebelum inflasi tiba di pasar. Belanja untuk irigasi,
pemompaan, pelindungan produksi, penggunaan benih yang sesuai dengan kondisi
kering, serta distribusi perlu dipercepat di wilayah paling rentan. Cadangan
pangan harus dilepas berdasarkan informasi produksi, pasokan, dan harga,
bukan setelah kepanikan muncul. Jaring pengaman sosial harus siap diaktifkan
ketika kenaikan harga mulai memangkas tingkat konsumsi kelompok rentan. Impor
pun harus dilihat dengan logika yang sama. Ketahanan pangan bukan berarti
penolakan impor. Jika neraca pangan menunjukkan kekurangan yang sulit ditutup
dari produksi domestik, impor di awal bisa jadi lebih murah daripada membeli
ketika harga internasional sudah naik. Prinsip
upaya mengatasi dampak El Niño sebetulnya sederhana: jangan membayar dua
kali. Negara membayar pertama kali ketika terlambat mencegah penurunan jumlah
produksi. Negara membayar lagi ketika harus memadamkan dampaknya melalui
operasi pasar, bantuan sosial, subsidi, dan intervensi setelah harga
melonjak. Mitigasi secara waktu dapat mengurangi belanja pada esok hari. Pada
akhirnya, El Niño menguji sesuatu yang lebih mendasar daripada kemampuan
pemerintah menjaga angka defisit. Ia menguji apakah prioritas fiskal dapat
berubah secepat risiko yang dihadapi. Ada defisit yang lahir dari pilihan dan
ada defisit yang dipaksakan keadaan. Pemerintah masih dapat mengendalikan
yang pertama. El Niño membawa kemungkinan yang kedua. Jika
hampir semua ruang fiskal telah dikunci oleh pilihan sebelumnya, negara
kehilangan kemewahan untuk memilih ketika kondisi darurat datang. Karena itu,
ukuran ketahanan APBN bukan sekadar apakah angka defisit tetap 2,68 persen.
Ukurannya adalah apakah pemerintah masih mampu memindahkan sumber daya
sebelum El Niño mengirimkan tagihannya. Harap
diingat, cuaca berada di luar kendali pemerintah. Tapi dampaknya pada ekonomi
tidak sepenuhnya demikian. Musim kering tidak dapat dicegah APBN. Tapi apakah
kekeringan berubah menjadi krisis pangan adalah pilihan bagi para pemangku
kebijakan. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/dampak-el-ni-o-pada-defisit-apbn-2299741 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar