|
AS Akui Palestina Dua Tahun Lagi Fitriyan
Zamzami : Redaktur
Republika. |
REPUBLIKA, 10 Oktober 2026
|
Politikus Israel
mengembuskan desas-desus soal segera tibanya kemerdekaan Palestina menjelang
pemilu legislatif di entitas Zionis tersebut. Pemimpin oposisi Israel,
Avigdor Liberman, mengklaim bahwa Amerika Serikat akan mengakui negara
Palestina dalam waktu sekitar dua tahun mendatang, setelah masa jabatan
Presiden Donald Trump saat ini berakhir. Ketua partai Yisrael
Beytenu itu menyampaikan pernyataan tersebut di Universitas Reichman, seraya
mengatakan bahwa pengakuan itu akan mencakup seluruh wilayah Tepi Barat,
Lembah Yordan, Gaza, dan Yerusalem Timur. Liberman menyatakan bahwa
ia telah berbicara dengan para pejabat dari Departemen Luar Negeri AS dan
Dewan Keamanan Nasional pada awal pekan ini, dan mengatakan bahwa "semua
pihak, tanpa terkecuali, mendukung pengakuan negara Palestina." "Saya katakan dengan
keyakinan 200 persen, Amerika akan memimpin pengajuan resolusi di Dewan
Keamanan [Perserikatan Bangsa-Bangsa], dan Palestina akan menjadi sebuah
negara dalam segala arti kata yang sesungguhnya, serta menjadi anggota penuh
PBB," ujarnya dilansir the Jerusalem Post, Jumat. Sebagai anggota tetap
Dewan Keamanan PBB, persetujuan AS diperlukan untuk menjadikan Palestina
anggota penuh PBB yang artinya meneguhkan kedaulatannya di antara
bangsa-bangsa dunia. Pengakuan yang mencakup wilayah Tepi Barat, Lembah
Yordan, Gaza, dan Yerusalem Timur juga akan memukul Israel yang selama ini
mencaplok wilayah-wilayah tersebut. Ia juga menggambarkan
hasil tersebut sebagai "sesuatu yang hampir mustahil untuk
dibatalkan." Mantan menteri pertahanan itu menuduh Perdana Menteri
Benjamin Netanyahu mengetahui rencana langkah tersebut dan membiarkannya
terus berjalan. "Pendekatan keluarga
Netanyahu adalah jika Bibi bukan perdana menteri, maka biarlah negara ini
hancur," ujar Liberman, seraya mengklaim bahwa saat pengakuan itu
terjadi, Netanyahu "tidak akan lagi menjabat sebagai perdana
menteri." Ia menantang Netanyahu
untuk menuntutnya atas pernyataan tersebut, serta berjanji akan melepaskan
hak imunitas parlementernya jika hal itu benar-benar terjadi. Sebelumnya, The Jerusalem
Post melaporkan usulan Yisrael Beytenu terkait Tepi Barat dan Jalur Gaza,
yang mencakup penyerahan tanggung jawab atas ketertiban umum dan kehidupan
sehari-hari warga Palestina di Wilayah A dan B Tepi Barat kepada Yordania,
sementara Israel tetap memegang kendali atas kesinambungan wilayah dan
tanggung jawab keamanan. Rencana Yisrael Beytenu
juga menyerukan pembubaran Otoritas Palestina dan pembatalan Perjanjian Oslo. Hingga 2025, sebanyak 157
negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengakui Palestina
sebagai negara berdaulat. Dukungan terhadap Palestina tersebar luas di
berbagai kawasan, mulai dari Afrika, Asia, Timur Tengah, dan Amerika Latin,
hingga sejumlah negara Eropa. Pengakuan tersebut menjadi salah satu bentuk
dukungan diplomatik internasional terhadap hak rakyat Palestina untuk
memiliki negara sendiri. Dalam struktur PBB,
Palestina berstatus sebagai negara pengamat nonanggota permanen sejak 2012.
Status ini memungkinkan Palestina berpartisipasi dalam berbagai forum PBB,
tetapi tidak memiliki hak suara dalam pemungutan suara di Majelis Umum PBB.
Meski demikian, status tersebut menjadi pengakuan penting terhadap kedudukan
Palestina dalam diplomasi internasional. Gelombang pengakuan
terhadap Palestina menguat dalam dua tahun terakhir. Pada 2024, sejumlah
negara Eropa, termasuk Spanyol, Irlandia, Norwegia, Slovenia, dan Armenia,
secara resmi mengakui Palestina. Sejumlah negara Karibia juga mengambil
langkah serupa. Perkembangan ini berlanjut pada 2025 ketika Inggris,
Australia, Kanada, Portugal, dan Prancis menyatakan pengakuan terhadap
Palestina, menandai perubahan penting dalam peta diplomasi internasional. Namun, pengakuan terhadap
Palestina belum bersifat universal. Sejumlah negara besar, termasuk Amerika
Serikat, Jerman, Italia, dan Jepang, masih belum secara resmi mengakui
Palestina sebagai negara berdaulat. Korea Selatan juga termasuk negara yang
belum memberikan pengakuan formal. Perbedaan sikap tersebut menunjukkan bahwa
perjuangan diplomatik Palestina masih menghadapi tantangan, terutama dalam
mendorong negara-negara yang belum mengakui untuk mendukung pembentukan
negara Palestina melalui penyelesaian konflik yang adil dan berkelanjutan. Sementara, delegasi Hamas
telah bertolak ke Mesir untuk melakukan konsultasi mengenai dialog nasional
Palestina; diskusi tersebut diperkirakan akan berfokus pada upaya memajukan
rekonsiliasi, memperkecil perbedaan antar-faksi, serta menangani berbagai
persoalan yang dihadapi perjuangan Palestina. Delegasi ini dipimpin
oleh Zahir Jabarin, pemimpin Hamas di Tepi Barat. Ia didampingi oleh Hussam
Badran, kepala Kantor Hubungan Nasional gerakan tersebut, serta Ghazi Hamad,
anggota Biro Politik yang berbasis di Gaza. Konsultasi ini
berlangsung di tengah seruan kembali Hamas untuk mewujudkan strategi nasional
terpadu yang melibatkan seluruh rakyat Palestina. Gerakan tersebut menyatakan
bahwa strategi semacam itu diperlukan untuk menghadapi rencana-rencana
pemerintah Israel. Dalam diskusi tersebut,
delegasi membahas perbedaan antar-faksi serta berbagai hal yang diperlukan
dalam fase politik saat ini. Kunjungan ini menyusul
pernyataan Hamas dalam rangka memperingati tiga tahun Operasi Badai Al-Aqsa
yang dimulai pada 7 Oktober 2023. Hamas menggambarkan
operasi tersebut sebagai "tonggak sejarah yang penting dan mulia dalam
perjuangan yang terus berlangsung" serta menegaskan kembali pendiriannya
bahwa perlawanan merupakan hak yang sah hingga pendudukan berhasil dikalahkan
dan tanah serta situs-situs suci Palestina dibebaskan. Kelompok tersebut memuji
keteguhan dan pengorbanan rakyat Palestina, seraya menyatakan bahwa komitmen
mereka terhadap kebebasan dan pembebasan terus terjaga di tengah genosida
yang terjadi. Hamas menyatakan bahwa
pertempuran di Gaza mencerminkan "nilai-nilai kepahlawanan, keteguhan,
dan persatuan nasional" serta berhasil menarik perhatian dunia terhadap
tuntutan Palestina, setelah sekian lama isu ini diabaikan dan dunia justru
membiarkan kebijakan Israel terus berjalan. Hamas menuding pihak
penjajah berupaya melenyapkan perjuangan Palestina dan merampas hak rakyat
Palestina untuk menentukan nasib sendiri. Kelompok ini bertekad untuk terus
mengupayakan perumusan strategi nasional yang dapat menyatukan rakyat
Palestina dalam menghadapi kebijakan-kebijakan tersebut. ● Sumber : https://www.republika.id/posts/60558/as-akui-palestina-dua-tahun-lagi
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar